
Morning Sickness Lily sudah mendingan dan Edward bisa kembali bekerja. Namun Edward berpesan kepada Sean Dan Max agar mengabar dirinya jika terjadi apa - apa dengan istrinya.
Max kembali melanjutkan kegiatan mengajarnya di kelas berikutnya dan Yuri kembali ke kelasnya. Sean dan Lily pergi menuju gedung olahraga. Lily terlihat tampak lesu sekali tapi Sean membantu kakak iparnya berjalan dengan cara memapahnya.
Di gedung olahraga sudah ada beberapa pemain yang lain datang. Henryi,Kevin,dan Jia terkejut melihat keadaan manajer mereka. Sean membantu Lily berjalan menuju bangku panjang.
"Ada apa denganmu Lily? Kenapa kau terlihat sangat lesu?" tanya Jia yang melihat dari atas sampai bawah keadaan Lily.
Yang ditanya hanya malas menjawab. Henryi memperhatikan sebentar dan dia sudah menemukan jawabannya.
"Menurutku Lily mengalami morning sickness. Morning sickness adalah gejala awal yang dialami ibu hamil dalam waktu kehamilan muda biasanya gejalanya seperti mual,pusing, dan kurang nafsu makan". Henryi membantu Lily untuk menjawab pertanyaan Jia.
Kevin dan Jia mengangguk paham. Di saat yang bersamaan pula Dovan datang dengan bola basket barunya. Niatnya mau pamer tapi yang lain hanya fokus kepada keadaan Lily.
"Hei semuanya! Ada apa ini? Eh? Lily sakit,ya?" Dovan menghampiri Lily.
Semuanya menoleh ke arah Lily dengan tatapan jengkel. Dovan hanya memiringkan kepalanya saat ditatap. Sean akhirnya mengumpulkan semua anggotanya untuk bersiap - siap memulai latihan instensif.
Lily mengeluarkan semua peralatannya. Sean memimpin latihan timnya. Di pintu masuk gedung olahraga ada seseorang yang mengintip di pintu. Seseorang tersebut memperhatikan latihan timnya Sean tersebut. Dovan yang menguap tanpa sengaja memutar kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati seseorang tersebut.
"Woi! Siapa disana?!" tanya Dovan yang berlari ke arah pintu masuk.
Orang tersebut langsung kabur tapi Dovan dan Jia langsung mengejar orang tersebut. Sean menghentikan sebentar latihannya dan mengikuti dua anggotanya yang mengejar orang tersebut.
Dovan dan Jia berlari semakin dekat dengan seseorang tersebut. Orang tersebut menggunakan hoodie hitam dan masker hitam. Kecepatan lari orang tersebut semakin cepat tapi Dovan adalah mahasiswa yang cerdas. Dovan melepas sepatunya lalu melemparnya yang mengarah ke kepala. Sepatu Dovan mengenai bagian kepala belakang orang tersebut tapi tidak menghentikan orang tersebut.
Karena merasa geram Jia mengambil rating kayu yang berukuran besar. Jia menambah kecepatan berlarinya lalu melempar ke bagian punggung orang tersebut. Bukannya mengenai bagian punggung melainkan rating tersebut mengenai kaki orang tersebut sehingga membuat orang tersebut tersandung.
Jia langsung memegang kedua tangan orang tersebut kemudian membawanya ke belakang. Dovan juga membantu Jia memegangi tangan orang tersebut.
Sean melihat dua pasukannya berhasil menangkap orang tersebut. Mereka bertiga kembali ke gedung olahraga dengan membawa orang tersebut.
__ADS_1
Di gedung olahraga, Sean membuka masker orang tersebut. Semuanya terkejut melihat wajah dari orang tersebut. Orang tersebut merupakan kakak sepupu Lola.
"Jiret? Kenapa kau memata - matai kami?" tanya Sean yang meremas masker yang digunakan kakak sepupu Lola yang bernama Jiret.
"Lepaskan aku Sean! Lepaskan!" jawab Jiret yang meronta - ronta yang ingin melepaskan diri yang dimana kedua tangannya terikat tali.
"Jawab dulu pertanyaanku! Untuk apa kau memata - matai kami?!" bentak Sean yang jengkel melihat Jiret.
"Aku ingin balas dendam! Lola jadi depresi sekarang! Semua ini gara - gara wanita itu! Gara - gara dia,Lola menjadi depresi dan kau lebih membela dia dari pada kekasihmu sendiri!" Jiret menjawab ucapan Sean dengan bentakan juga.
"Lily tidak ada hubungannya! Semua itu gara - gara Lola sendiri! Jiret katakan pada dia untuk tidak menyalahkan Lily terus kalau tidak dia akan dalam bahaya! Ingat kata - kataku ini!".
"Lihat? Kau terus membela wanita itu! Mana yang lebih penting Lola atau wanita itu?!".
"Aku lebih baik memilih Lily! Karena dia yang selalu memberiku support dan kasih sayang seorang kakak! Biar aku katakan saja Lola itu baperan, tidak mau disalahkan padahal itu kesalahannya sendiri dan aku hanya ingin membenarkan dia saja! Dan lagi satu setelah lulus kuliah aku ingin menikahi Lola dan aku sudah memperkenalkan Lola kepada keluargaku terus saat kelulusan aku mau mengajak dia ke keluarga utama!".
Jiret terdiam mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Sean akan berbicara hal seperti itu dihadapan anggota timnya. Sean terlihat tampak kesal sekali.
"Iya! Iya! Aku puas!" Jiret menjawabnya dengan lantang.
Sean melepas ceki kan leher Jiret. Dia memerintahkan kedua anggotanya agar melepas ikatan tangannya. Lily tampak ketakutan dan merasa ketakutan. Jiret pergi dari sana dengan diakhiri membanting pintu gedung olahraga.
Sean mengangkat rambutnya lalu memijat sebentar pelipisnya. Jia berusaha menenangkan Lily yang dimana dia sangat ketakutan sampai tangannya gemetar.
"Lily tenang ya... Kalau Lily takut nanti janin di dalam perutmu juga ikut ketakutan. Masalah Sean tidak ada hubungannya denganmu sama sekali jadi,jangan takut,ya?" ucap Jia yang mengusap punggung Lily.
"Tapi Sean putus gara - gara aku.... Aku harus bagaimana?" tanya Lily yang memegang kedua tangan Jia.
"Tidak perlu takut kak! Hal seperti ini aku harus bicarakan kepada papa dan mama. Kakak hanya perlu tenang saja dan urus rumah tangga kakak" jawab Sean yang ikut menenangkan kakak iparnya.
Perlahan - lahan Lily mulai tenang dan berhasil keluar dari ketakutannya. Lily mulai berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Sean ada benarnya, ini adalah masalah Sean dengan Lola dan tidak ada hubungannya dengannya dirinya. Jadi dia membiarkan Sean agar mengurusi masalah dia sendiri.
__ADS_1
Latihan kembali dilanjutkan walaupun Sean sedang dalam keadaan tidak tenang. Beberapa menit kemudian pak pelatih datang dan mendapati anak - anak buahnya sedang berlatih. Porsi latihan ini bernama porsi latihan menuju perlombaan dan latihannya jauh lebih berat tiga kali lipat. Tapi Lily menyarankan rekan - rekannya agar tidak memaksakan diri.
...****************...
Mari kita beralih ke perusahaan Davis yang dimana direkturnya sedang sibuk dengan tumpukan kertas dihadapannya. Edward harus menunda sebentar pekerjaannya tadi karena sang istri. Namun sekarang dia bisa melanjutkannya.
Dua asisten Edward juga ikut membantu bossnya tersebut dalam mengurusi berkas - berkas. Suasana kerja Edward harus terganggu karena wanita gila itu datang lagi.
"Halo pak Edward! Saya bawa makan siang untukmu" ucap Nika yang membuka pintu ruangan Edward dan dia membawa bungkus plastik berisi kotak makan di tangan kanannya.
Edward memilih diam dan mengabaikan wanita gila tersebut. Nika berjalan mendekat ke meja kerja Edward lalu meletakkan kotak makan tersebut di atas meja dan sedikit menggoyang - goyangkan tubuhnya.
"PLAK! PLAK! PERGI KAU DARI SINI!" bentak Edward yang tidak segan - segan menampar wajah Nika.
"Kenapa harus pergi?! Aku sangat mencintaimu! Aku rela menjadi yang kedua!" jawab Nika yang memegangi salah satu pipinya.
"Di keluargaku jika salah satu anggota keluarga sudah menikah dia tidak boleh melakukan poligami dan perselingkuhan apalagi perceraian! Aku bilang pergi dari sini! Pergi! Kalau tidak aku akan meminta bantuan keluarga istriku!" Edward yang awalnya duduk kini berdiri dan menatap tajam Nika.
"Kau itu lemah ternyata! Cuman bisa mengandalkan keluarga istrimu saja! Dasar lemah!" Nika menggeplak meja tersebut.
"Dengar baik - baik ini wanita sia lan! Aku dan istriku saling mencintai! Saling menyayangi! Saling peduli! Lebih baik kau pergi! Juga aku tidak pernah selalu mengandalkan kekuatan keluarga istriku! Aku tahu derajat istriku lebih tinggi dari pada diriku sebab itu aku membangun kerajaan bisnisku lebih besar lagi agar istriku tidak merasa malu sama sekali! Aku hanya meminta bantuan keluarga istriku itu cuman sekali yang dimana saat aku berurusan dengan organisasi mafia! Sekarang adalah yang kedua kalinya! Aku akan menghancurkan bisnis ayahmu dan kau akan hidup terlantar!".
Nika terdiam mendengar perkataan Edward yang sangat serius tersebut. Dia tidak menyangka kalau ada seorang pria yang berani berbicara seperti itu apalagi mengakui derajatnya sendiri.
Tanpa disadari oleh Edward dan Nika ternyata ada Hazel yang berdiri di ambang pintun. Hazel berjalan masuk pelan. Edward sudah tahu kalau dirinya akan dimarahi oleh Hazel.
"PLAKK!... PERGI KAU WANITA MENJIJIKAN!" bentak Hazel ditambah mendaratkan satu tamparan di salah satu pipi Nika.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>
__ADS_1