
Setelah satu jam setengah jam me- time,Yuri pun bangkit dari pelukan Max. Sayangnya sang kekasih tidak mengizinkan Yuri bangkit, dia menarik kembali tubuh Yuri ke dalam pelukannya.
"Aduh.... Pak Max ini! Ayolah pak! Sudah cukup me - timenya sebentar lagi aku ada kelas dosen kil ***" Yuri mendorong tubuh Max.
"Nanti saat istirahat main kesini lagi,oke?" Max memandang Yuri dengan muka bantal.
"Hahaha... Ada apa dengan wajah bapak? Hahaha kelihatan lucu" Yuri mentertawakan muka bantal Max yang terlihat lucu.
"Sudahlah jangan tertawa! Sana pergi ke kelas!" Max mendorong tubuh Yuri kemudian kembali ke meja kerjanya.
"Ada yang marah nih! Pak Max! Pak Max! Jangan marah! Jangan marah dong sayang!" Yuri memegang lengan kekar Max lalu mengayun - ayunkannya.
"Sudahlah! Pergi ke kelasmu nanti kau dimarahi!" Max tidak mau menatap wajah Yuri.
"Aku tidak akan pergi ke kelas sebelum pak Max berhenti marah!".
"Aku tidak marah sama sekali! Sudahlah Yuri!".
"Pak Max! Lihatlah kesini!".
Max pun pasrah dia menoleh ke Yuri dan "cup".....
Yuri mendaratkan satu ciu man di bi bir Max. Setelah itu Yuri kabur dari ruangan itu. Max tersenyum miring sambil menyentuh bibirnya.
Yuri segera keluar dari ruangan tersebut sebelum dilihat oleh orang lain. Kaki Yuri berlari menuju kelasnya. Yuri tersenyum lebar mengingat tindakannya.
...----------------...
Jam istirahat pun telah dimulai semua mahasiswa dan mahasiswi mulai menjernihkan otaknya di berbagai tempat di kampus. Tidak dengan mahasiswi yang satu ini yaitu Yuri. Mahasiswi ini lupa untuk mencari temannya yang lagi hamil dan lebih memilih mencari pacar dosennya.
Tangan Yuri mengetuk pintu ruangan Max. Yuri menunggu jawaban sedangkan orang - orang yanh lewat menatap sinis Yuri. Tapi itu bukan jadi masalah untuk Yuri.
Pintu terbuka dan suweettt....
Dengan cepat Yuri ditarik masuk ke ruangan tersebut. Max memeluk erat Yuri lalu memberikan ciu man kupu - kupu di wajah Yuri. Pasangan baru jadian tersebut memandang satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Sampai pada akhirnya semua keromantisan mereka buyarr karena ponsel Yuri berdering. Yuri mengambil ponselnya yang ada di saku tasnya dan penyebab ponselnya berdering adalah panggilan telepon dari Lily masuk.
"Halo Lily! Ada apa?".
"Halo Yuri! Kamu dimana? Kenapa kamu tidak menjemputku?".
"Astaga! Maafkan aku Lily! Aku tadi ada sedikit urusan makanya aku lupa, sebentar lagi aku sampai disana dan tetaplah diam di kelas".
"Oke Yuri! Cepatlah! Aku mulai lapar"
"Iya! Iya!".
Yuri mematikan panggilan telepon dan kembali fokus kepada pria yang ada dihadapannya. Max memberi kode kepada Yuri untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Tadi Lily menelponku untuk mencarinya di kelas sepertinya aku harus segera kesana" ucap Yuri yang memberi Max penjelasan.
"Kenapa kau harus mencari Lily ke kelas? Biarkan saja dia yang kesini" Max mempererat pelukannya.
"Tidak bisa! Lily masih hamil dan ada banyak bahaya disana" Lily mendorong tubuh Max.
"Pasti perintah Edward".
"Darimana kau tahu?".
"Sederhana saja. Lily adalah istri Edward dan Edward adalah suami Lily".
"Oh iya! Aku pergi dulu,ya?".
"Aku belum puas".
"Nanti saja! Saat di rumah Lily".
"Rumah Lily? Untuk apa kau ke rumah Lily?".
"Aku mau menginap sekalian belajar masak kepada kakak iparku".
"Hmmm... Ternyata sudah mengetahui taktik keluarga Davis. Silakan kau bersenang - senang dengan Lily dan ingat untuk mengabariku".
"Kau harus ikut! Sebagai tukang icip pasti itu diperlukan".
"Nanti Edward akan marah kalau aku main ke rumahnya".
"Baiklah! Nanti aku kesana saat pulang kuliah".
"Yeayyyy... Makasi sayangku! I love you".
"I love you too my honey".
Yuri memberikan kecupan di pipi Max kemudian berlari keluar ruangan. Max tidak menyangka kalay Yuri akan semanis ini bahkan manisnya melebihi madu.
Dengan cepat Yuri berlari ke kelas Lily. Yuri sangat bahagia bisa menaklukan putra dari keluarga Davis meskipun bukan dari keluarga utama langsung.
Akhirnya Yuri sampai di kelas Lily. Yuri memanggil Lily dari pintu kelas. Lily segera menghampiri Yuri dengan perlahan.
"Kelamanaan kau ini! Kemana saja kau?!" tanya Lily yang terlihat kesal.
"Hehehe.... maafkan aku! Tadi aku sedikit sibuk" jawab Yuri yang tidak mengatakan hal sebenarnya.
"Sudahlah! Ayo ke kantin!".
Dua perempuan itu berseru ceria kemudian berjalan ke kantin sambil mengayunkan gandengan tangan mereka. Walaupun mereka berteman hanya berdua saja tapi hubungan mereka itu sangat erat dan tidak ada gangguan sama sekali.
__ADS_1
Mereka pun sampai di kantin. Sebelum duduk mereka memesan makanannya untuk diantarkan di meja yang akan mereka tempati nanti. Yuri melihat satu meja kosong di dekat anak - anak kluh basket tetapi meja itu langsung diisi oleh Bianca and the gangs. Raut wajah Yuri langsung berubah melihat ekspresi wajah Bianca.
Yuri menarik Lily untuk mencari meja yang lain. Lily melihat satu meja kosong dan segera mengajak Yuri duduk disana. Untungnya mereka mendapatkan meja tersebut.
"Untung kita dapat" ucap Yuri.
"Iya dah! Oh iya Yuri! Bagaimana hubunganmu dengan pak Max ? Apa sudah memiliki kemajuan" Lily langsung mengganti topik pembicaraan.
"Hubunganku dengan pak Max sudah mengalami peningkatan yang sangat pesat".
"Apa itu?! Katakanlah! Aku penasaran".
"Aku sudah jadi dengan pak Max".
"Hah?! Yang benar?! Cepat sekali! Tapi bagaimana bisa?".
"Semuanya terjadi saat kita di kolam renang kemarin dan yang memulai duluan adalah pak Max. Dia yang nembak dan tentu saja aku terima".
"Widihhh... Keren! Selamat ya".
"Hahaha... Biasalah! Namanya juga Yuri, huh!".
"Hahahaha... Lucu sekali rupa ekspresi wajahmu".
"Hihi.... Ngomong - ngomong Lily bagaimana kalau aku mengajak pak Max ke rumahmu nanti? Dia akan jadi tukang icipnya".
"Dia boleh saja main ke rumah asalkan sudah izin sama Edward".
"Nanti aku beritahu dia dan makanan apa yang akan kita buat nanti".
"Kau mau belajar membuat soup?".
"Soup? Hmm... Pasti enak! Boleh deh! Apa kau sudah memiliki bahan - bahannya?".
"Tenang saja! Di kediaman Edward dan Lily semua bahan sudah lengkap".
"Wihhh... Keren! Keren!".
"Apa kau minta izin sama ayahmu sekarang atau nanti?".
"Saat makanan kita tiba nanti aku kirim pesan chat kepada ayahku".
"Okelah! Sekarang saatnya minum susu hamil".
Lily mengeluarkan botol minum susunya dengan tema gambar bunga - bunga. Yuri merasa senang melihat wajah Lily saat minum susu. Menurut pandangan Yuri saat Lily sedang minum adalah dia sangat imut,seperti anak kecil,menggemaskan,dan aku suka. Lily meminta Yuri untuk memfoto dirinya sebagai dokumentasi dirinya kepada Edward.
MAKASI YANG TELAH MAMPIR DAN BACA
__ADS_1
Author minta maaf sebesar - besarnya karena tiba - tiba mengalami perubahan jadwal update secara tiba - tiba hal tersebut dikarenakan author memiliki beberapa laporan yang harus dikerjakan terima kasih semuanya.
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>