Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Kelas Lily pun selesai dia segera keluar untuk mencari Yuri. Saat dia berlari keluar kelas tanpa sengaja dirinya menabrak seorang pria sampai menjatuhkan barang bawaan pria tersebut.


"Astaga! Maafkan aku! Ya ampun! Aku tidak sengaja menabrakmu!" ucap Lily yang meminta maaf dan membantu mengumpulkan barang bawaannya pria tersebut.


"Tidak apa - apa nona! Ini salahku nona!" jawab pria tersebut yang mengumpulkan barang bawaannya.


Lily memberikan barang yang dikumpulkan ke pria tersebut. Pria tersebut tersenyum saat melihat wajah Lily.


"Nona sangat cantik sekali" ucap pria tersebut yang melingkarkan rambut Lily di telinganya kemudian pergi meninggalkan Lily.


Lily terdiam ketika pria itu melakukan hal tersebut kepada dirinya. Tapi dia tidak memiliki waktu untuk hal itu, sekarang adalah untuk mencari Yuri.


Di belakang Lily tadi saat terjatuh Brian bisa melihat kejadian tersebut. Dia mengepal kedua tangannya dan raut wajahnya berubah menjadi ekspresi tidak menyenangkan. Tito dan Leo bisa melihat keadaan temannya yang sedang cemburu saat ini.


"Sudahlah Brian... Kalau kau ingin membalasnya kau harus bisa menaklukan dan mendapatkan hati Lily" ucap Tito yang menepuk bahu Brian.


"Itu benar Brian! Jangan melawan dia secara fisik lebih baik melawan dia dengan mendapatkan hati Lily" ujar Leo si paling wibu.


Tito dan Leo meninggalkan temannya itu sendirian yang masih dalam emosinya. Brian mengikuti kedua temannya itu dari belakang dengan ekspresi layaknya monster.


Lily cepat - cepat berjalan menuju taman kampus karena dia memiliki janji dengan Yuri disana. Kakinya melangkah sangat cepat untuk sampai kesana.


Di taman kampus Yuri duduk di bangku taman dengan menikmati jus jeruk kemasannya sambil membaca buku. Dia menanti kedatangan Lily.


"Yuri!" panggil Lily dari kejauhan yang mendekat ke bangku taman tempat Yuri duduk.


"Kenapa kau telat? Aku hampir dua puluh menit menunggumu" tanya Yuri yang kesal dengan keterlambatan Lily.


"Maafkan aku Yuri! Tadi pak dosen sedang memberikan kuis dan tugas rumah" jawab Lily yang duduk di sebelah Yuri.


"Ayo ceritakan tentang pria itu dong!" Yuri menutup dan meletakkan bukunya kemudian memasukkan ke dalam tas.


"Baiklah Yuri! Jadi..." saat Lily akan bercerita tiba - tiba tiga teman prianya datang menghampiri Lily.


"Lily!" panggil Brian.

__ADS_1


"Ada apa Brian? Kenapa kau kesini?" tanya Lily kepada Brian yang membawa sebuket bunga mawar.


"Maaf aku sedikit lancang padamu tapi aku ingin menyatakan perasaanku padamu" jawab Brian yang langsung menyodorkan sebuket bunga mawarnya ke arah Lily.


"Eh? Apa maksudmu?" Lily sedikit bingung dengan Brian yang tiba - tiba menyodorkan sebuket bunga padanya.


"Aku suka padamu! Maukah kamu jadi pacarku?" Brian langsung menyatakan perasaannya ke Lily.


Lily dan Yuri sangat terkejut dengan tindakan Brian yang tiba - tiba menyatakan perasaannya kepadanya. Yuri menutup mulut dengan tangannya untuk menaha tawanya. Lily bingung dia harus menjawab apa? Masalahnya Brian belum mengetahui rahasianya? Juga dia tidak ingin melukai perasaan Brian.


"Maaf saya tidak bisa menerimamu karena aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu" jawab Lily yang memilih untuk menolak Brian.


"Tidak apa - apa kau menolakku ribuan kali tapi aku akan berusaha mendapatkanmu sampai kamu berkata iya padaku walaupun kau menyuruhku untuk berhenti mengejarmu" Brian tetap menyodorkan buket bunganya.


"Ayolah Brian! Kita bisa melakukannya di lain kesempatan" ucap Leo yang sedikit bosan dengan tindakan Brian.


"Apa maksudmu ini Meilaila Spring Lily?!" tanya Edward kepada Lily yang dimana Lily lupa kalau dirinya sedang video call dengan sang suami tercinta.


"Astaga! Maafkan aku! Itu aku bisa jelaskan nanti" jawab Lily yang mengarahkan handphonenya ke hadapannya.


"Bagaimana kau akan menjelaskannya sayang?!" Edward terlihat sangat marah mendengar pernyataan perasaan tadi.


"Sayang! Arahkan handphonemu ke pria yang menyatakan perasaannya kepadamu" suruh Edward kepada Lily.


Lily mengubah arah kameranya menjadi kamera belakang. Edward melihat wajah Brian dan ada buket bunga mawar di tangannya.


"Hei kamu! Jauhi kekasihku! Dia itu sudah resmi dengan diriku!" Edward memberikan ancaman kepada Brian.


"Aku akan tetap mendekati Lily apa pun caranya!" Brian tetap tidak mundur untuk mendapatkan Lily.


"Sayang~... Kau ke perusahaan sekarang! Nanti supir jemput kamu!" ucap Edward kepada Lily.


"Tapi aku masih ada kelas nanti jam satu siang" Lily mengubah arah kameranya menjadi kamera depan.


"Pergi sekarang juga! Atau aku harus menjemputmu?".

__ADS_1


"Iya! Aku akan segera kesana!".


" Jangan matikan video callnya sayang!".


Lily terpaksa harus pergi untuk menenangkan sang suami. Yuri mengangguk paham dan mengizinkan Lily pergi menemui suaminya. Brian menahan tangan Lily saat akan pergi.


"Tunggu Lily! Jangan pergi!" ucap Brian yang menahan Lily.


"Aku harus pergi! Lepaskan aku Brian" ucap Lily yang meminta Brian melepaskan tangannya.


Brian menuruti permintaan sang pujaan hati. Lily pun pergi dari sana. Yuri berharap temannya itu bisa jalan dengan seperti biasanya.


Lily pun melihat supir suruhan Edward sudah di depan gerbang kampus. Segera ia masuk kesana agar sang suami tidak menunggu terlalu lama.


"Sayang hati - hati masuk mobilnya! Kejedot nanti" ucap Edward yang memperingatkan istrinya.


Dalam perjalanan Lily berusaha menenangkan Edward agar tidak terlalu marah saa sampai di perusahaan. Edward tampak lebih tenang setelah ditenangkan oleh Lily.


Si istri kecil sang direktur pun sampai di perusahaan. Lily langsung tanpa permisi tapi hal itu langsung ditahan oleh seorang pegawai wanita saat akan memasuki lift.


" Tunggu dulu nona! Anda tidak bisa karena anda bukan bekerja disini" ucap pegawai wanita tersebut yang menarik tangan Lily.


" Tapi saat ini saya sedang buru - buru karena pak direktur ingin bertemu saya" jawab Lily yang terlihat tergesa - gesa.


"Apakah anda memiliki janji dengan pak direktur?" tanya pegawai wanita tersebut yang mendorong Lily keluar lift dan pintu lift pun tertutup.


Lily hanya pasrah melihat dirinya di dorong keluar tapi ya sudah dia akan menunggu lift selanjutnya. Edward memanggil Lily dari video call yang masih menyala. Dia menanyakan kondisi sang istri yang di dorong tadi tapi Lily menjawab dirinya baik - baik saja . Edward pun bergerak menjemput sang istri yang berada di bawah.


Lily menunggu lift selanjutnya tapi tidak kunjung datang. Sampai ada satu lift yang terbuka dan dia melihat ada sang disana sambil menghadapkan handphone ke wajahnya.


"Sayang~..." Lily langsung memeluk Edward yang berada di lift.


"Ada apa denganmu?" tanya Edward yang langsung menggendong Lily dengan gaya bridal.


"Tadi ada pegawaimu yang mendorongku dan bikin kesalnya aku bisa merasakan kuku dia yang tajam mengenai lenganku" jawab Lily yang menangis di pelukan Edward.

__ADS_1


Makasi yang sudah baca dan jangan lupa kasih support


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2