
"Heh! Aku tidak mau main sama mereka! Tiga orang itu aneh, ketuanya terobsesi denganmu,trus satunya tukang gosip dan satunya lagi wibu, iuhhh!" Yuri langsung merinding membayangkan dirinya bermain dengan tiga orang tersebut.
Lily menghiraukan temannya dan lebih fokus menghubungi suaminya. Yuri sudah menduga kalau reaksi Lily akan seperti ini.
MARI KITA DENGARKAN PERBINCANGAN EDWARD DAN LILY MELALUI SAMBUNGAN TELEPON.
"Halo baby! Ada apa?".
"Halo sayang! Nanti saat perjalanan pulang bisa tidak antar ke apotek dulu".
"Baby sakit?".
"Aku telat haid selama dua bulan".
"Aku ke kampusmu sekarang".
"Eh? Untuk apa? Jam pulang masih tiga jam lagi".
"Izin saja dulu nanti aku suruh Sean untuk melakukannya, tidak ada bantahan lagi sekarang juga aku kesana".
"Ya sudah kalau begitu hati - hati sayangku,love you♡~...".
"Iya my baby,love you more♡~...".
PERBINCANGAN SELESAI KEMBALI KE LILY DAN YURI.
Lily memasukkan ponselnya di tas dan kembali melihat temannya. Yuri membua wajah masam selama Lily telponan tadi.
"Sudah selesai?".
"Sudah!".
"Apa katanya?".
"Sebentar lagi dia akan menjemputku semua minuman aku yang bayar".
__ADS_1
"Ya sudah Lily hati - hati dan semoga hasilnya bagus".
"Aku pergi dulu Yuri!".
Lily pergi dari cafe setelah membayar pesanan Yuri. Dia berjalan menyebrangi jalan raya dan berdiri di gerbang kampus.
Kevin dan Dovan yang sedang berjalan menuju gedung olahraga tidak sengaja matanya melihat Lily yang berdiri di dekat gerbang kampus. Dovan memantulkan bolanya sekali kemudian berlari mendekati wanita tersebut. Kevin sangat terkejut melihat temannya yang tiba - tiba pergi terpaksa harus mengikuti dari belakang.
"Lily! Woiii!!!" panggil Dovan yang berlari mendekatinya dengan Kevin mengikutinya dari belakang.
Yang dipanggil langsung menoleh ke sumber suara. Dovan berhenti tepat di depan Lily dan hampir menabraknya.
"Maafkan aku Lily,hehe..." ucap Dovan yang cengengesan.
"Tidak apa - apa kok! Apa kalian tidak latihan?" Lily langsung mengalihkan topik pembicaraannya.
"Kami memangnya mau ke gedung olahraga tapi kami melihatmu makanya kami menghampirimu" Dovan langsung menjelaskan alasannya menghampiri Lily.
"Kami? Aku tidak ada niatan untuk menghampir Lily tapi kau saja yang asal saja lari ke Lily dan aku hanya mengikutimu" saut Kevin yang membenarkan sedikit penjelasan Dovan.
"Kalian sebaiknya pergi latihan sana! Kalau tidak kalian akan kena marah Sean" ucap Lily yang menyuruh dua teman klubnya pergi.
"Males ah! Akhir - akhir ini Sean sering sekali marah - marah" jawab Dovan dengan nada bicara malas.
"Benar banget itu! Sean sering sekali marah walaupun dengan alasan kecil" sambung Kevin.
"Iya juga sih! Mungkin saja lagi berantem sama Lola" Lily mulai memikirkan apa penyebab utama Sean sering marah.
Tidak berselang lama mobil Edward telah sampai. Lily yang melihat hal tersebut langsung berpamitan kepada Dovan dan Kevin. Mereka berdua sedikit bingung dengan tingkah Lily.
"Halo sayangku!" Lily yang sudah masuk duduk di bangku depan sambil memasang sabuk pengaman.
"Hai baby! Akhirnya kau sadar juga" Edward kembali menjalankan mobilnya.
"Kau sudah menyadarinya?".
__ADS_1
"Dari dulu sih tapi saat itu aku tidak berani terlalu berharap, apakah kau pernah merasakan morning sick?".
"Jarang sih paling cuman tiap pagi aja sebelum kamu bangun".
"Sering muntah? Pusing? Perut rasanya tidak enak?".
"Kalau itu selalu tiap pagi rasanya sangat tidak enak".
"Kenapa tidak bilang,baby? Kan aku bisa menyiapkan apa yang kau butuhkan".
"Tidak apa - apa sayang aku bisa sendiri kok dan tidak terlalu parah".
Edward pasrah saja dengan jawaban istrinya dan fokus ke jalanan. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali dari keduanya. Edward yang sibuk dengan kemudinya dan Lily sibuk melihat pemandangan dari luar kaca mobil.
...----------------...
Setelah beberapa menit mereka pun sampai di apotek. Lily langsung membeli sepuluh alat test pack. Edward berdoa agar mendapatkan hasil yang bagus.
Lily kembali ke mobil secepat mungkin dan memasukkan bungkusan test pack di saku celananya. Edward langsung tancap gas sesudah sang istri masuk.
"Nanti kita lakukan tesnya dan ingat jangan terlalu banyak berharap kalau tidak hasilnya akan mengecewakanmu" ucap Edward yang memperingatkan istrinya.
Lily mengangguk paham dan mengepal kedua telapak tangannya. Edward mulai khawatir jika kehamilan istrinya sudah di atas satu bulan maka, waktu yang dimiliki sang istri untuk pergi ke kampus hanya beberapa hari.
...****************...
Mereka pun sampai di kediaman. Lily langsung berlari masuk ke kamar mandi yang berada di kamar tidurnya. Edward mengikutinya dari belakang dengan jalan sedikit santai.
Edward yang duduk di atas ranjang tidurnya menunggu selama dua puluh menit lebih tapi dia tidak kunjung mendapatkan apa pun. Akhirnya Lily keluar dengan kedua tangannya di belakang dan memegang sesuatu.
"Bagaimana hasilnya? Kau terlihat murung baby? Ada apa? Katakanlah!".
MAKASI YANG TELAH MAMPIR DAN BACA
Hari ini sedikit dulu ya guys thank you.
__ADS_1
To be contibued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>