Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Tim Yohan


__ADS_3

Hello anything


Author is back dan author minta maaf karena jarang update sehingga jadwal updatenya jadi berantakan


Sekali lagi author minta maaf


....


Dovan melirik ke arah Kevin dan Lily mulai paham siapa saja yang berkelahi. Tapi tetap saja Lily meminta penjelasan yang lebih jelas.


"Bilang saja alasannya! Atau kronologi masalah kalian!" ucap Lily yang ada sedikit penekanan nada.


"Dia tuh yang duluan!" jawab Dovan yang menunjuk ke arah Kevin.


"Heh! Kok aku yang disalahin?! Kan yang salah anda bukan saya!" balas Kevin yang tidak mau disalahkan.


"Woi! Yang salah itu kamu! Bukan saya!" Dovan berjalan maju mendekati Kevin dengan gaya mengajak berkelahi.


Lily dan Jia langsung menahan Dovan dengan cara memegang kedua tangannya. Kevin juga ingin ikut bergerak tapi sudah ditahan terlebih dahulu oleh Henryi dan Sean. Keduanya terlihat sangat marah satu sama.


"Dovan! Jangan berkelahi disini! Nanti kita akan kedatangan tamu! Jangan Dovan!" ucap Lily yang memegang tangan kiri Dovan.


"Itu benar Dovan! Jangan berkelahi! Tidak baik!" ucap Jia yang memegangi tangan kanan Dovan.


"Maju sini! Kau kira aku tidak berani?! Maju sini!" tantang Kevin dengan beraninya yang dimana dari tadi kakinya gemetaran.


"PLAK! Heh! Jangan sok - sok an kelahi sama Dovan! Yang ada kau babak belur melawan dia! Sudah! Sudah! Sekarang semuanya berkumpul sedangkan untuk Kevin dan Dovan berdiri di sebelahku" Sean menjitak dahi Kevin kemudian meminta semuanya berkumpul.


Semua anggota berkumpul termasuk dua anggotanya yang sedang terlibat konflik. Saat Sean akan memulai berbicara tiba - tiba saja Gray masuk dengan mengatakan,


"Kapten! Tim basket kampus Blues sudah tiba".


Sean tidak menyangka kalau tim teman latihannya akan datang secepat ini ditambah lagi masalah Dovan dan Kevin belum terselesaikan. Lily sudah tahu kalau timnya akan datang hari ini tapi dia belum mengetahui dari kampus mana.

__ADS_1


Ternyata tim kampus Blues merupakan tim dari Yohan. Lily sangat melihat kehadiran Yohan diantara orang - orang tersebut. Kaki Lily melangkah mundur sehingga sejajar dengan Dovan kemudian kedua tangan Lily memegangi tangan kanan Dovan. Yang dipegangi sedikit kebingungan tapi dia melihat sorot mata Lily yang mengarah kepada sang kapten lawan.


Lily masih takut dengan Yohan karena gara - gara dia Edward menjadi salah paham dan hampir merusak rumah tangganya. Dovan menyembunyikan tubuh Lily menggunakan tubuhnya kemudian memegang kedua tangan di belakang badannya.


"Wahhh.... Lama tidak bertemu bro!" sapa Sean kepada Yohan kemudian memberikan tos ciri khas mereka.


"Lama juga tidak bertemu Sean, bagaimana kabarmu? Sehat?" jawab Yohan yang menepuk pelan lengan kanan Sean.


"Sehat kok! Bagaimana denganmu? Apakah kau sudag siap dengan latihan ini?".


"Aku juga sehat kok dan aku sudag sangat siap melakukan latihan denganmu".


"Hahaha.... Ya sudah kalau begitu aku perkenalkan timku dulu, pertama dari si ace kami bernama Dovan, kemudian point guard andalan tim yaitu Jia,center kita bernama Henryi,dan tukang shoot paling hebat adalah Kevin".


Yohan mengangguk paham mendengar Sean memperkenalkan timnya dan dia belum menyadari keberadaan Lily sama sekali. Tim Sean sedikit planga plongo melihat ukuran tubuh dari tim lawan yang dimana paling tinggi di tim Sea adalah Henryi dengan tinggi seratus sembilan puluh empat sedangkan di tim Yohan rata - rata seratus sembilan puluh ke atas.


Semua anggota tim Yohan memasuki gedung olahraga tersebut. Beberapanya tertawa melihat ukuran tinggi badan yang akan menjadi teman latihan mereka. Tapi ada salah satu melangkah mendekati Dovan kemudian menyentil dahinya.


"Seratus delapan puluh tujuh" jawab Dovan dengan tatapan sinis.


"Hei,hei,hei..... Hati - hati dengan pandanganmu itu dan siapa di belakangmu itu?" orang tersebut menengok ke belakang Dovan.


"Dia adalah manajer kami jadi sebaiknya kau jangan menyentuhnya sedikit pun" Dovan menghalangi tangannya guna menutupi Lily.


"Woh! Woh! Lihat dirimu! Hahaha...." sekarang bukan hanya orang tersebut yang ikut menertawakan Dovan melainkan teman - temannya juga.


Dovan tidak malu sama sekali dirinya ditertawakan seperti itu yang penting Lily aman sekarang. Yohan memanggil semua anggotanya untuk berkumpul di sebelah dia.


"Ehmm... Sean maafkan aku karena ulah anggotaku. Mari aku perkenalkan anggota timku,yang mengejek Dovan tadi bernama Livo, point guardku bernama Rocky, centerku Wiyo, dan tukang shooting bernama Zion" ucap Yohan yang sekaligus memperkenalkan tim intinya.


"Tidak apa - apa Yohan! Mungkin Dovan juga menganggapnya hanya sebagai candaan biasa,hehe..." jawab Sean dengan rasa canggung.


"Terima kasih! Baiklah mari kita mulai pemanasan dulu baru kita latihan" Yohan memberikan arahan kepada amggota timnya untuk meletakkan semua barang bawaannya tepat di sebelah kursi panjang.

__ADS_1


Pemanasan pun dimulai dengan dipimpin oleh dua kapten sedangkan dua pelatih sedang pergi ke suatu tempat yang author juga tidak ketahui. Lily duduk di kursi panjang sambil mendata setiap pemain. Untungnya pakaian yang Lily gunakan hari ini mampu menutupi perut bulatnya.


Mata Yohan terus tertuju pada Lily yang semakin menarik setiap harinya. Sean merasa curiga dengan pandangan yang Yohan berikan kepada Lily.


Selesai melakukan pemanasan barulah kedua tim itu melakukan latihan seperti dribble,shooting,lay up,dan lain - lainnya. Livo memegang bola kemudian melemparnya tepat ke arah Dovan. Tapi bola tersebut berhasil ditangkap walaupun dari belakang.


"Untuk apa kau melempar bola dari belakang? Kenapa tidak dari depan saja? Mungkin saja akan lebih kuat" tanya Dovan yang melempar kembali bola tersebut.


"Ugh! Sepertinya kau menantangku,ya? Bagaimana kalau kita by one" jawab Livo yang menangkap bola walaupun tepat mengenai perutnya.


"Oke! Sean! Siapkan lapangan! Sebentar lagi aku mau by one" Dovan memanggil Sean untuk menyiapkan lapangan.


Sean hanya menuruti kemauan ace timnya tersebut. Semua sudah disiapkan dan sekarang tinggal melakukan tip off. Yang menjadi wasit kali ini adalah Henryi karena dialah yang paling bijak.


Bola dilempar ke atas yang menandakan permainan sudah dimulai. Keduanya melompat tapi lompatan yang paling tinggi adalah Dovan. Livo sangat terkejut melihat kemampuan melompat yang dilakukan oleh Dovan.


Setelah bola berada di tangan Dovan dengan segera Livo berusaha merebut bola tersebut tapi tidak berhasil. Dengan sangat terpaksa Livo melakukan cara curang yaitu dengan mendorong Dovan. Sayangnya usaha dia gagal lagi karena Dovan sudah tahu muslihat manusia itu sehingga dia bisa menghindar. Dovan langsung mengakhirinya dengan melakukan shooting three poin.


"Cuman segitu kemampuanmu tiang listrik?" tanya Dovan dengan senyum miring.


"Cih! Awas saja kau!" jawab Livo dengan cepat kembali mengambil bola.


Lily tiba - tiba teringat dengan adegan barusan yang dimana Dovan menghindar. Tapi saat dia meletakkan tangan kirinya di kursi, dia merasakan ada sebuah buku yang ternyata itu merupakan sebuah majalah. Tetapi majalah tersebut bukan majalah biasa melainkan majalah olahraga terkenal yang meliput pemain - pemain terkenal dari seluruh negri dengan kemampuan luar biasa.


Saat baru membuka halaman pertama Lily dikejutkan dengan foto Dovan di halaman pertama. Lily terlihat sangat bahagia melihat foto Dovan dan baru dia ingat kalau dirinya pernah menonton pertandingan basket internasional untuk tim muda. Di saat itu juga ada Dovan ikut bermain dengan pemain termuda. Karena Dovan negara C berhasil mendapatkan juara pertama. Bukan hanya tahun saat dia masih muda tapi sampai sekarang juga Dovan sering dipanggil untuk ikut bermain.


"Ada Dovan! Sean lihat!" Lily menarik - narik tangan Sean.


"Oh... Majalah itu. Majalah itu sudah empat bulan yang lalu namun untuk musim ini masih belum dirilis tapi Dovan sudah melalukan pemotretan" Sean menoleh ke arah halaman majalah tersebut.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2