Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Masalah di klub


__ADS_3

Hello guys


Author sudah kembali maaf ya lupa kabarin kalau dua hari lalu itu author ada acara di rumah author makanya belum bisa nulis karena saking sibuknya.


Sekali lagi author minta maaf


..........


Lily memandangi suaminya yang terdiam saja. Ibu hamil itu masih belum paham dengan ekspresi wajah sang suami karena yang penting saat ini adalah keinginannya dituruti itu saja.


"Sayang kamu kenapa? Kok cemeberut terus?" tanya Lily yang akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada sang suami.


"Tidak ada" jawab Edward singkat.


"Jangan bilang gitu sayang! Kamu sebenarnya kenapa?" Lily masih ingin tahu alasan sang suami membuat wajah marah.


"Dibilangin tidak ada ya tidak ada! Tahu ah! Aku mau minum dulu!" Edward beranjak dari sofa menuju dapur.


Lily masih bingung dengan alasan sang suami marah. Dia mengingat - ingat lagi tentang kejadian hari ini sampai pada akhirnya dia sadar kalau tadi dia menyebut kata "Brian". Tapi Lily berpikir kembali tentang Edward, kenapa Edward tahu Brian? Dari mana Edward tahu Brian?. Banyak pertanyaan terus muncul di kepala Lily namun dia masih bingung menemukan jawabannya.


Edward kembali dengan segelas air ditangannya. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Lily. Sati gelas air diteguk habis oleh Edward kemudian Lily kembali bertanya.


"Sayang,kamu cemburu,ya? Apa karena barusan aku mengatakan namanya dia?".


"Tidak! Jangan asal bicara Lily!".


"Katakan saja sayang! Jika kamu tidak suka ya tinggal bilang saja apa susahnya! Ya sudah aku tidak mau makan!".


"Baby! Kamu belum makan sama sekali! Makan dulu!".


"Aku tidak mau makan sebelum kamu berhenti cemberut!".


"Baby! Bagaimana aku tidak cemburu?! Kalau sama Sean saja tidak apa - apa tapi masalahnya sama Brian".

__ADS_1


"Jangan salahin aku dong! Yang pengen dimasakkin sama Brian bukan aku melainkan Pinpin".


"Meskipun begitu baby, aku cemburu melihat kau masakan si Brian itu".


"Kalau begitu aku tidak makan saja".


"Jangan begini baby!".


"Seharusnya kamu yang jangan begini! Aku lagi ngidam makanya minta ini itu".


"Iya aku tahu baby tapi bisa biasa - biasa aja sih?".


"Tanyakan kepada Pinpin".


"Ya sudah kalau begitu! Baby boleh makan masakan Brian asalkan aku yang suapin".


"Yeyyy!.... Makin sayang deh sama suami".


Lily bersorak ria kemudian memeluk Edward. Kedua tangan Edward melingkar di pinggang Lily dan mengelus perut sang istri. Mereka berdua menunggu pesanan makanan selama satu jam lebih. Lily mulai bosan menunggu tapi dia masih ingin memakan makanan buatan Sean. Edward sudah mengirim pesan chat kepada Sean agar untuk segera mengirim makanan tersebut dan jawaban Sean adalah "Iya otw". Pesan tersebut sudah dikirim sejak tiga puluh menit yang lalu tapi tidak kunjung datang.


"Sebentar lagi ya baby mungkin saja Sean terjebak macet" jawab Edward dengan alasan bohongnya.


Lily menyandarkan kepalanya di lengan kanan Edward. Wajah Lily tampak murung sekali karena saking tidak kuat menahan laparnya.


Untungnya tuhan memberkati pasangan suami istri tersebut karena yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Lily langsung saja bangkit dan berlari menuju pintu gerbang dengan Edward mengikuti sekaligus mengawasi sang istri.


"Sean!!!.... Mana makananku?!!!!......" teriak Lily dari kejauhan yang berlari mendekati mobil Sean.


"Ini kak!" jawab Sean yang membuka bagasi mobil.


Lily yang sudah berada di sebelah Sean langsung saja masuk ke bagasi. Sean terkejut melihat tindakan kakak iparnya yang masuk begitu saja. Edward hanya geleng - geleng kepala saja melihat tingkah istrinya.


"Kak! Keluarin dulu makanannya nanti makannya di ruang makan saja" ucap Sean yang berusaha menghentikan sang kakak ipar yang mau membuka bungkusan makanan.

__ADS_1


"Tidak mau! Maunya makan disini saja! Aku sudah lapar sekali" bantah Lily yang sudah selesai membuka bungkusan makanan dan mulai menyuap mulutnya.


Sean tidak bisa menolak keinginan ibu hamil satu ini. Lily makan dengan sangat lahap sekali. Makanan yang dibuat Sean sangat banyak dan Lily tidak mau membagi makanan tersebut kepada sang suami ataupun Sean.


Lily tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk memakan makanan tersebut hanya dalam dalam waktu Lily menit Lily sudah menghabiskan semua makanan tersebut. walaupun sudah menghabiskan makanan yang sangat banyak tapi rasa lapar Lily masih ada sehingga dia meminta sang suami untuk membelikan makanan lain.


"Sayang belikan jajan dong.... terserah yang penting jajan" pinta Lily yang mengelus perutnya.


"Cemilan masih ada di kulkas baby,sana ambil Sean!" jawab Edward yang menyuruh adiknya untuk mengambil beberapa cemilan di kulkas.


Sean segera menuruti perintah sang kakak. Lily bertepuk tangan ria dan Edward senyum melihat istrinya bahagia. Tidak perlu waktu lama Sean untuk mengambil beberapa cemilan tersebut. Kedua tangan Lily langsung merampas semua cemilan yang ada di tangan sean dan mulai memakannya sendirian. Edward hanya memperhatikan sang istri makan memakan cemilan dengan sangat ria nya dan Sean juga ikut senang melihat kakak iparnya.


...****************...


Keesokan harinya Lily sudah berada di kampus yang dimana saat ini dia bersama semua anggota club basket. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang tapi kenapa klub basket melakukan latihan di siang hari. Klub basket tidak terlihat seperti biasanya yang dimana biasanya mereka selalu dekat satu sama lain tapi kini terlihat saling menjauh. Lily dan Sean merasa khawatir dengan kondisi the mereka sekarang jika terus seperti ini yang ada mereka akan kalah di pertandingan yang akan dilaksanakan dua bulan lagi.


"Ada apa dengan mereka semua? kenapa mereka terlihat berusaha saling menjauh" tanya Lily yang kebingungan melihat semua anggota.


"Aku tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini kemaren masih baik-baik saja tapi saat aku pergi mengantar makanan atau lebih tepatnya memasak makanan untuk kakak aku tidak kembali lagi ke klub basket untuk meneruskan latihan jadi aku tidak tahu apa penyebabnya" jawab Sean yang juga kurang mengetahui apa penyebab kerenggangan tim mereka tersebut.


"Sekarang kita harus bagaimana? Masa iya kita biarin terus seperti ini" Lily tambaj pusing harus memikirkan solusi untuk masalahan ini.


"Kita tanya saja bagaimana kronologi kejadian mereka bisa renggang seperti ini" Sean berjalan menghampiri Henryi.


Sedangkan Lily berjalan menghampiri Dovan. Saat Lily di belakang Dovan tiba-tiba saja sih pemilik tubuh berputar dan tidak sengaja mengenai lengan kanan Lily. Untungnya Lily tidak sampai terjatuh.


"Astaga! Maafkan aku! Aku tidak melihatmu, apa kau baik - baik saja?" tanya Dovan yang kaget melihat keberadaan Lily di belakangnya.


"Ada apa dengan kalian sebuah? kenapa kalian semua berusaha menjauh satu sama lain? kalau kalian memiliki masalah sebaiknya cerita sama aku atau tidak sama Sean supaya masalah kalian cepat selesai dan tidak seperti ini" bukannya menjawab pertanya Dovan melainkan Lily melontarkan pertanyaan yang tertuju pada topik masalah timnya.


S s s


makasih yang sudah baca dan mampir love you

__ADS_1


to be continue\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>


__ADS_2