
Kembali lagi ke sisi Lily yang sibuk memperhatikan Sean memotong buah. Tapi ada sedikit masalah dalam proses pemotongan buah.
"Bukan begitu Sean! Apelnya harus berbentuk dadu! Pisangnya berbentuk dadu juga" pinta si ibu hamil yang sibuk memberikan arahan kepada sang adik ipar.
"Iya kak! Iya! Sabar dulu! Ini aku lagi potongin!" jawab Sean yang menuruti permintaan kakak iparnya.
"Ishhh!!! Kenapa tidak ada jelinya?! Tidak enak kalau tidak ada jelinya" oke mulai lagi rengekan ibu hamil.
"Kita tidak punya jeli! Dimana kita akan mendapatkan jeli,kak? Pagi - pagi buta seperti ini mana ada yang menjual jeli" Sean berusaha memberikan pengertian kepada Lily.
"Itu di minimarket ada! Minimarket buka DUA PULUH EMPAT JAM! Beli sana!".
"Kakak tidak ikut?".
"Ikut~...".
"Pakai jaket dulu sana sama pakai celana panjang yang hangat".
"Harus pakai yang hangat - hangat?".
"Iya! Kalau tidak pakai nanti tidak jadi pergi".
Lily bergegas menuju ke kamarnya untuk memakai pakaian yang diperintahkan Sean. Saat Lily membuka pintu kamar, dia mendapati Max sedang mengukung Yuri. Tangan Lily menutup matanya lalu berjalan perlahan menuju lemari pakaian. Selesai mengambil semua pakaian yang diperlukan Lily kembali turun ke dapur.
Max hanya bisa tersenyum saja melihat Yuri. Sedangkan Yuri langsung menampar wajah Max dan mendorong tubuhnya sampai terjatuh.
Di bawah Lily sedang memakai pakaiannya. Sean juga sudah selesai memakai jaketnya tapi.....
"Apa yang kakak pakai?" tanya Sean yang sedikit heran melihat penampilan Lily.
"Ini jaket yang sering aku pakai kalau keluar dan ini adalah celana hangatku. Bagus bukan?" jawab Lily yang memutar tubuhnya.
"Iya bagus! Bagus! Sekarang ayo kita pergi ke minimarket!" Sean menggandeng tangan Lily kemudian berjalan menuju minimarket dekat kediaman Edward.
Di perjalanan, Lily mengayun - ayunkan tangannya yang dipegang Sean. Lily sangat senang bisa jalan - jalan malam bersama Sean ditambah dia juga sudah mengirim foto kepada Edward kalau dirinya sedang jalan - jalan malam.
"Kak".
"Kenapa?".
"Apa kakak tidak capek? Maksudku apa kakak tidak capek dengan agenda kakak setiap hari yang harus pergi kuliah,terus jadi manager klub basket di sore hari, dan mengerjakan tugas di malam?".
"Tidak kok! Kakak malahan sangat senang sekali! Jika kakak di rumah terus kakak merasa bosan dan para pengawal itu tidak bisa diajak bermain".
"Hmmm... Usia kandungan kakak berapa?".
__ADS_1
"Baru sepuluh minggu".
"Berarti dua bulan lebih dua minggu dong?".
"Benar sekali! Nanti saat hari Edward pulang disana juga jadwal aku check up".
"Ohh... Apa kakak tidak mau mengecek jenis kelaminnya?".
"Tidak mau! Kakak mau tuhan itu kasis surprise kepada kakak".
"Haha... Kakak ternyata keren juga".
"Iya dong! Hehe...".
Tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah sampai di minimarket. Lily bisa merasakan dinginnya AC minimarket. Sean yang menyadari hal tersebut langsung menggenggam erat tangan kakak iparnya.
Mereka mencari cemilan jeli untuk dijadikan campuran salad buah. Yang pertama kali menyadari keberadaan jeli adalah Lily. Ibu hamil itu menepuk - nepuk bahu Sean lalu menunjukkan arah rak berisi jeli.
Sean langsung mengambil beberapa bungkus jeli lalu segera membayarnya di kasir. Namun tanpa Sean sadari, Lily melihat freezer ice cream. Sontak saja Lily berhenti berjalan dan beralih ke ice cream.
"Kak?! Kak!" Sean segera menyusul Lily.
"Sean! Aku mau ice cream!" ucap Lily yang menunjuk - nunjuk ke freezer.
"Ishhh!... Aku mau ice cream pokoknya! Apa kau tega membiarkan keponakanmu yang ada di dalam perutku ini ileran?!" bukannya menuruti bujukan Sean melainkan Lily melawannya.
"Dibilangin jangan kak! Nanti sakit perut kakak bagaimana?! Kasihan Pinpin loh".
"Pokoknya mau ice cream! Kalau kau tidak membelikanku maka, aku akan diam disini sampai paman Sean mau membelikanku!".
Sean menepuk jidat setelah mendengar ucapan Lily. Dia harus memutar otaknya dua kali agar sang kakak ipar mau dibujuk pulang. Ping! Muncul sebuah bohlam lampu di kepala Sean.
"Ya sudah kalau begitu kita beli saja ice creamnya dari pada Pinpin ileran besok - besoknya" ucap Sean yang mengizinkan sang kakak ipar untuk membeli ice cream.
"Yeayyyy!!!..." seru Lily yang langsung mengambil satu ice cream yang berukuran besar.
Sean hanya tersenyum jahat saat membayar di kasir. Sedangkan Lily matanya berbinar - binar tidak sabar untuk menyantap ice cream. Selesai membayar mereka berdua kemudian kembali ke kediaman Edward. Sean membawa barang belanjaan dengan senyuman jahat.
Sesampai di kediaman Edward, Sean melanjutkan kegiatan membuat salad buahnya dan Lily duduk manis di sofa sambil menonton film kartun. Sean yang sudah selesai membuat salad melakukan kegiatan lain yaitu mencairkan ice cream atau lebih tepatnya mengurangi suhu dingin di ice cream tersebut. Dia memindah ice cream ke wadah yang anti panas lalu memasukkannya ke microwave dan diatur selama delapan menit.
Selesai mengatur suhu dan waktu microwave, Seab berjalan membawa dua mangkuk salad ke meja di dekat sofa. Lily langsung berseru ria melihat yang dibawa Sean. Tangan kanan Sean memberikan satu mangkuk kepada Lily lalu satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Kau juga makan salad?".
"Iya! Kenapa kak?".
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan susunya?".
"Tenang saja aku sudah membeli susu kental manis sasetan tadi, sekarang makanlah kalau tidak Pinpin akan ileran".
Lily mengangguk lalu menyantap salad buahnya. Ibu hamil itu sangat senang bisa merasakan kenikmatan salad buah buatan adik iparnya. Sean melirik sedikit ke arah dapur untuk memastikan microwavenya.
Sean melanjutkan memakan salad buahnya agar tidak dicurigai oleh kakak iparnya kalau dia sedang melelahkan ice creamnya. Dia terpaksa melakukan itu agar perut sang kakak ipar tidak terlalu sakit, misal saja hari ini masih siang hari Sean pasti akan memberikan tanpa melelahkannya.
Selesai memakan salad buah, Lily langsung meminta ice cream miliknya. Sean menumpuk mangkuk bekas salad buah tadi kemudian membawanya ke dapur. Di dapur, Sean meletakkan begitu saja di wastafel. Kemudian Sean mengambil mangkuk yang ada di dalam microwave. Senyum jahat Sean terpancar kembali melihat ice cream tersebut.
"Ini ice creamnya bumil cantik" ucap Sean yang meletakkan mangkuk ice cream di meja.
"Wahhh... Makasi adik ipar ganteng" jawab Lily yang matanya langsung berbinar.
Lily pun mulai memakan ice cream tersebut dan Sean berpura - pura sibuk dengan ponselnya. Ibu hamil itu merasakan hal aneh saat dia mencicipi ice creamnya.
"Sean! Kenapa ice creamnya cair?! Perasaan tadi masih dingin!" tanya Lily yang protes mengenai ice creamnya.
"Mungkin aku lupa menaruhnya di freezer...?" jawab Sean yang berpura - pura tidak tahu.
"Ishhh!!!... Sean ini! Aku tidak mau makan!" Lily melempar sendok ice creamnya.
"Ya sudah kalau kakak tidak mau kalau begitu aku saja yang makan" Sean meletakkan ponselnya lalu menarik mangkuk ice cream Lily.
"Ahhh!... Jangan dong! Aku masih mau makan!".
"Tadi katanya tidak mau".
"Aku tidak mau yang cair maunya yang dingin masih berbentuk".
"Ya sudah kalau begitu yang cair ini milikku".
"Tidak! Ini tetap milikku! Bekukan dulu".
"Tidak! Aku tidak mau perut kakak kenapa - napa, ingat kak! Kakak itu masih hamil jadi tidak baik untuk memakan ice cream yang dingin di pagi hari jika saja saat ini siang hari aku langsung memberikannya".
Lily merasa sedikit bersalah telah menyalahkan Sean. Dia pun akhirnya memakan ice cream cair tersebut. Sean akhirnya mulai memahami ibu hamil yang banyan maunya itu.
AUTHOR MINTA MAAF ATAD KETERLAMBATAN UPDATENYA YA GUYS...
MAAFKAN AUTHOR SERING UPDATE MALAM - MALAM PADAHAL MAKSUD AUTHOR UPDATE MALAM SUPAYA LEBIH SANTAI PARA MEMBACANYA DI MALAM HARI GITU SAJA SEKALI LAGI AUTHOR MINTA MAAF
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>
__ADS_1