
Lily sudah sampai di kelasnya. Brian yang melihat ada sedikit perubahan dengan tubuh Lily. Menurut pandangan Brian, Lily bertambah sedikit berisi.
"Lily! Kenapa tubuhmu sedikit berisi" tanya Brian yang terus memperhatikan tubuh Lily.
"Hm? Aku makan banyak akhir - akhir ini makanya terlihat gemuk" jawab Lily yang duduk di kurisnya lalu menghadap depan.
Brian hanya mengangguk paham saja. Lily melihat ke bawah dan mendapati pahanya semakin membesar. Ibu hamil itu langsung merasa insercure melihat bentuk tubuhnya.
Tidak lama kemudian dosen pengajar hari ini datang. Lily mengalami kurang fokus selama proses pembelajaran karena terbayang pertanyaan Brian tadi. Dimulai dari terlambat mendengar penjelasan dosen, terlambat mencatat penjelasan dosen dan hal lainnya.
Jam pelajaran pertama selesai kemudian dilanjutkan dengan jam pelajaran kedua. Lily mulai fokus kembali seperti biasa. Dia sudah menyadari kesalahan dia tadi saat jam pertama. Dalam pikiran Lily, dia berpikir untuk apa aku insecure? Ini adalah tubuhku! Asalkan tubuh sehat dan tidak kaku sama sekali menurutku itu cukup lagipula aku sedang hamil jadi wajar saja aku bertambah gemuk nanti saat sudah lahiran aku akan mulai membentuk badanku kembali. (Sedikit pesan author aja: jangan insecure! Terserah bentuk badan kalian seperti apa yang penting sehat dan kalian bermanfaat untuk masyarakat luas. Kalian hanya boleh insecure saat kalian tidak berguna untuk diri kalian sendiri dan masyarakat,sekian terima kasih).
...****************...
Tiga jam pelajaran Lily akhirnya selesai tersisa hanya dua jam pelajaran saja. Lily memutuskan mencari Yuri di kelasnya. Saat Lily berjalan di kelas fakultas seni lukis dia melihat banyak lukisan di dalam kelas itu. Tapi matanya tertuju pada satu gadis cantik yang rambutnya terkuncir. Lily memberanikan diri memasuki kelas tersebut.
Gadis cantik tersebut sedang sibuk melukis wajah seorang wanita tapi dia tidak dapat menemukan inspirasi apapun. Sampai pada waktunya dirinya dikagetkan oleh kehadiran Lily.
"Permisi! Apa yang sedang kau lukis?" tanya Lily yang tiba - tiba muncul di belakang gadis tersebut.
"Hah?! Astaga! Siapa kau? Kenapa kau masuk kesini?" gadis tersebut terkejut dan menoleh ke belakang.
"Halo! Aku Lily, anak fakultas akuntasi baru semester satu. Kalau kamu siapa?" Lily melambaikan tangannya kepada gadis tersebut.
"Halo juga! Namaku Yuan, anak fakultas seni lukis semester dua. Salam kenal Lily" gadis cantik yang bernama Yuan itu mengulurkan tangannya kepada Lily.
"Salam kenal juga Yuan! Apa yang kau lukis? Kenapa masih kosong?" Lily menjabat tangan Yuan lalu kembali ke pertanyaan awalnya.
"Aku mau melukis wajah seorang wanita tapi aku belum menemukan idenya sama sekali" jawab Yuan yang melihat kanvas kosongnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau lukis aku saja? Aku juga cantik loh" Lily menawarkan dirinya sendiri untuk dilukis.
"Hm? Tunggu sebentar! Aku harus menemukan inspirasi di dalam dirimu" Yuan memperhatikan setiap sudut tubuh Lily.
Yuan terus memperhatikan Lily secara seksama. Perlahan - lahan Yuan merasakan ada ide yang muncul di kepalanya. Pada akhirnya pom! Bohlam lampu muncul di otak Yuan.
"Aku dapat! Lily, kau duduk disana! Lalu menghadap samping dan pegang bunga ini. Bergayalah bagaikan model" Yuan memberikan instruksi kepada Lily.
"Seperti ini? Apa ini sudah bagus?" Lily mulai berpose layaknya model profesional.
Yuan mengacungkan jempolnya. Ponsel Yuan mempotret Lily lalu mulai melukis Lily melalui ponselnya. Lily berhenti berpose dan mendekati Yuan.
"Kenapa kau tidak menyuruhku diam disana? Malahan memprotetku bukannya kau mau melukisku? Astaga bagus sekali hasil fotomu" tanya Lily yang juga terpukau melihat hasil foto dirinya.
"Aku lebih suka begini karena aku tidak ingin model lukisku kelelahan. Zaman sekarang sudah canggih jadi kau harus memanfaatkan media yang ada seperti yang aku lakukan sekarang" jawab Yuan yang sibuk mencampur warna lalu melukisnya.
"Sama - sama Lily".
"Oh ya! Ngomong - ngomong apa kau tidak terganggu mengajakmu berbicara seperti ini?".
"Tidak sama sekali! Malahan aku merasa lebih rileks. Lily apa marga keluargamu?".
"Marga keluarga adalah Lawrence,kalau kau?".
"Kau putri dari keluarga Lawrence?! Putri satu - satunya itu?!".
"Iya... Kenapa?".
"Aku tidak menyangka kalau tuan putri Lawrence akan menjadi temanku".
__ADS_1
"Jangan membuatku malu begitu! Aku hanya menjadi tuan putri saat di rumah dan di depan media sementara untuk di masyarakat aku hanya perempuan biasa. Marga keluargamu apa Yuan?".
"Kalau aku Heinsten, kau tahu kan keluarga Heinsten".
"Aku tahu! Keluarga yang menghasilkan seluruh keturunannya adalah seniman baik di bidang musik, fashion, seni lukis,kosmetik, dan film itu ya?".
"Iya kau benar sekali! Aku berasal dari keluarga yang bergerak di bidang fashion".
"Wahh... Aku paling suka pakai produk fashion Heinsten! Nyaman sekali dipakai".
"Sudah aku duga kau menyukai produk keluarga Heinsten, kita teman mulai sekarang kan?".
"Teman! Aku akan perkenalkan kau nanti sama temanku yang lagi satu".
"Oke! Tapi dia tidak marah kan kalau kau punya teman seperti diriku?".
"Tidak sama sekali! Kita ke kantin dulu yuk! Besok lanjutin".
"Ayo! Kebetulan aku lagi lapar nanti aku lanjutkan di rumah".
Yuan meletakkan alat lukis,memasukkan ponselnya di tas dan berjalan bersama Lily menuju kantin. Yuri yang berjalan menuju kelas Lily karena dirinya sudah terlambat mencari Lily. Tapi di tengah jalan Yuri menemukan Lily berjalan bersama gadis lain.
"Lily!" panggil Yuri dari jauh sambil melambaikan tangannya.
Lily menarik tangan Yuan untuk mendekati Yuri. Si ibu hamil langsung memperkenalkan Yuan kepada Yuri. Dengan cepat mereka langsung menjadi teman.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>
__ADS_1