Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Patahnya Hati Seorang Sahabat


__ADS_3

OKE GUYS MARI KITA LANJUT CERITANYA.


Lily terkejut mendengar bisikan tersebut. Darimana Randy bisa mengetahui kalau dirinya sudah menikah padahal tidak pernah dipublikasi. Lily menarik Randy kemudian berbisik,


"Darimana kau tahu aku sudah menikah ? Aku tidak pernah mempublikasinya padahal".


Randy mengangkat tangan Lily yang dimana cincin pernikahannya melingkar. Lily tertawa kecil melihat Randy mengangkat tangannya. Kemudian Lily menarik keluar lapangan Randy menuju luar gedung olahraga.


Di luar gedung , Lily melihat situasi barulah dia menunjukkan ponselnya yang masih melakukan video call dengan sang suami lalu mengarahkannya ke Randy. Lily memanggil sang suami untuk memperkenalkannya kepada Randy.


"Kenapa,baby? Hm? Siapa dia?" tanya Edward yang melihat sosok Randy.


"Dia sahabatku dulu yang pernah aku ceritain itu loh" jawab Lily yang bersemengat memperkenalkan Randy.


"Ohh... Si Randy itu, ya?".


"Iya! Yang itu! Lambaikan tanganmu sayang ".


Edward melambaikan tangannya dan Randy terlihat sangat terkejut saat melihat wajah Edward. Lily sudah menduga kalau reaksi Randy akan seperti itu.


"Lily... Apa dia benar suami?" tanya Randy yang sedikit ketakutan.


"Iya! Dia suamiku! Jangan takut Randy! Edward adalah orang baik" jawab Lily yang menenangkan Randy.


Reaksi Randy hanya mengangguk paham saja. Edward memang pernah mendengar Lily mempunyai sahabat karena Lily menceritakannya. Tapi dia tidak mempermasalahkannya juga Lily sudah menjadi istrinya jadi, Edward tidak terlalu berani mengekang Lily lagi. Dua sahabat itu memutuskan kembali ke dalam gedung olahraga dan Lily memberitahu Randy untuk tidak membocorkan rahasianya ini.


Di dalam gedung olahraga tim Randy sudah selesai berkemas dan siap untuk pulang. Randy berpamitan kepada semua anggota klub basket Dazzling Stars. Mereka pergi dari gedung tersebut dan klub basket merayakan kemenangannya.


"Semuanya dengar! Minta perhatiannya!" teriak Lily yang menarik perhatian semua anggota.


"Karena kita telah menang hari ini... Kapten kesayangan kita akan mentraktir kita di kantin!" ucap Lily yang asal sebut saja dan ucapannya tersebut tanpa Sean.


Semua anggota langsung kegirangan sampai melompat - lompat. Ada juga yang sedang mendiskusikan makanan apa yang akan dibeli.


"Tunggu dulu Lily! Kenapa kau mengatakan itu?! Aku tidak mengatakan itu sebelumnya!" Sean memprotes ucapan Lily.

__ADS_1


"Tidak ada penolakan! Pokoknya Sean harus mentraktir kita hari ini!" Lily tidak mengindahkan protes Sean sama sekali.


Sean hanya pasrah saja jika sang kakak ipar sudah mengatakan permintaannya. Tapi ada satu orang yang mendukung protes Sean yaitu Lola.


"Kenapa kau memasak sekali?! Dia ini seniormu! Kau itu masih mahasiswa junior! Mengertilah sedikit!" Lola juga tidak terima dengan ucapan Lily.


Lily menatap kosong Lola. Biasanya kalau orang diprotes maka akan memberikan tatapan tajam tidak dengan Lily yang memberikan tatapan kosong seperti mayat. Lola langsung ketakutan melihat tatapan Lily dan dia juga baru ingat kalau Lily adalah kakak ipar Sean.


"Lola jangan berkata seperti! Baiklah ayo semuanya kita makan di kantin" Sean yang kelihatan panik langsung menyetujui permintaan Lily.


Semuanya menghilang begitu saja setelah Jia berhasil mendapatkan kartu atm Sean. Yang masih di gedung olahraga hanyalah Sean,Lola, dan Lily. Lola menatap sang pacar yang langsung membuat keputusan begitu saja.


"Apa maksudmu sayang?! Kenapa kau menyetujuinya?! Lalu apa yang kau pakai nanti saat belanja" tanya Lola yang mengkhawatirkan keuangan Sean.


"Tidak perlu khawatir Lola! Ini bukan masalah besar nanti aku minta di kakakku lagi, ayo kita ke kantin!" jawab Sean yang merangkus bahu Lola tapi Lola langsung menyingkirkan tangan sang pacar.


"Kau itu harus melawan Lily! Dia hanya adik iparmu!".


"Bagaimana aku bisa melawan Lily?! Suaminya adalah kakakku! Jika terjadi sesuatu kepada Lily aku orang pertama yang dicari oleh kakakku! Apa kau tidak mengerti?!".


"Ya ampun Lola! Dia lebih berpengalaman dari pada kamu!".


"Kau mengejekku?! Apa aku tidak berpengalaman?! Katakan Sean!".


"Apa kau lupa Lily itu siapa?! Coba kau ingat Lola!".


Setelah mendengar ucapan Sean barulah Lola ingat kalau Lily adalah kakak iparnya Sean. Tapi menurut dia apa masalahnya jika membenarkan tindakan kakak iparnya? Sean sama sekali tidak salah jadi untuk apa perlu takut.


"Apa sekarang ingat,Lola?!".


"Iya aku ingat! Tapi apa masalahnya?! Dia hanya kakak iparmu! Dia orang luar juga!".


"Jaga ucapanmu Lola! Jangan menghina kak Lily!".


"Sekarang kau memanggil dia kakak?! Berapa kali kau sudah diperbudak oleh wanita lugu ini?!".

__ADS_1


"Dia itu lebih tua dari pada aku! Wajar saja aku memanggilnya kakak!".


"Tapi kau seorang senior di kampus ini!".


"Aku tidak peduli! Mau aku senior atau tidak aku tetap memanggil Lily sebagai kak Lily!".


"Rendah sekali harga dirimu Sean... Apa jangan - jangan kau jatuh cinta kepada dia?!".


"Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada kak Lily! Dia itu selalu aku anggap sebagai kakak perempuan!".


Lily sangat ketakutan melihat dan mendengar perdebatan Sean dan Lola. Sebab dialah jadi penyebab utamanya. Lily mundur ketakutan sampai terduduk. Sean yang melihat kakak iparnya ketakutan meninggalkan sang kekasih dan membantu Lily. Tapi saat hendak menyentuh Lily tiba - tiba Edward muncul begitu saja.


"Sean! Jangan kau berani sentuh kakak iparmu! Biar aku saja" Edward menghampiri Lily kemudian menggendongnya ala bridal.


"Kakak! Maafkan aku..." ucap Sean yang menundukkan kepalanya karena dilanda rasa bersalah.


"Tidak apa - apa lain kali kau harus lebih berhati - hati dan jangam sampai mama tahu tentang kelakuan pacarmu kepada menantu kesayangannya, aku pamit" jawab Edward yang meninggalkan gedung olahraga.


Sean berdiri terdiam melihat kakaknya pergi menggendong Lily. Sean berbalik melihat Lola yang masih merasa kesal. Lola tidak terima dirinya dicampakkan begitu saja oleh sang kekasih. Sean memutuskan pergi meninggalkan gedung olahraga untuk mendinginkan kepala.


...----------------...


Di sisi lain ada Randy sedang berada di gedung olahraga kampusnya. Randy sedang berlatih shooting sendirian. Tapi ada yang berbeda dari tampang Randy.


"Kenapa aku selalu terlambat?... Huhu... Apa salahku mencintai seorang nona muda Lawrence? uhuk! Huhuhu..." ucap Randy yang terisak menangis sambil menembak bola.


Tetesan air mata Randy terus keluar dari pupil matanya sampai membahasahi pipinya. Randy sama sekali tidak bisa menahan air matanya yang terus keluar. Ada perasaan sedih,frustasi,kesal,dan menyesal di dalam dada Randy yang kemudian dicampur aduk oleh kenyataan.


"AAAKHHHH!!! KENAPA?! KENAPA?! APA SALAHKU SEHINGGA AKU TERLAMBAT MENYAMPAIKAN PERASAAN INI?! AKH!" teriak Randy sebagai pelampiasan yang tidak dapat menyampaikan perasaannya kepada Lily.


Randy dan Lily memang adalah sahabat sejak masih anak - anak dan tidak mungkin di dalam persahabatan pria dan wanita tidak ada yang memiliki perasaan, hal itu pasti ada. Perasaan yang Randy pendam selama ini tidak dapat tersampaikan karena dirinya terlambat datang.


AUTHOR MENAMBAHKAN BEBERAPA BUMBU DI CHAPTER INI SEKARANG DAN SILAKAN MENIKMATI.


Terima kasih telah mampir dan baca love you♡~

__ADS_1


To be contiued\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2