
Keesokan harinya Lily mengalami ngidam biasanya yaitu malas masuk kuliah. Edward sudah berusaha membujuk sang istri namun hasilnya sama saja.
"Aku tidak mau kuliah! Maunya jalan - jalan,duduk di rumah,dan ke tempat - tempat lainnya yang intinya aku tidak mau pergi ke kampus" bentak Lily yang duduk di lantai kamar tidur seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Jangan begini baby kan mau Pinpin jadi anak yang pinter tapi baby malas masuk kuliah seperti ini,bagaimana anak kita bisa pintar?" tanya Edward yang berjongkok dihadapan Lily.
"Nanti kita panggilin guru les dan suruh mereka ajarkan anak kita sampai pintar" jawab Lily dengan julidnya.
Edward berusaha bersabar karena ini adalah masa paling susah bagi dia. Kedua tangan Edward menggenggam kedua tangan Lily lalu mengatakan,
"Bagaimana kalau baby ikut ke kantor saja?".
"Tidak mau! Disana membosankan aku mau ke kantor kak Hazel saja".
Oke kalau ini Edward sudah kehabisan ide. Kalau Hazel ketemu Lily yang ada nantinya Hazel tidak menyukainya dan berusaha menjauh.
"Jangan kesana,ya? Nanti baby bosan disana" bujuk Edward.
"Pokoknya mau kesana! Mau kesana! Baby tidak bakal bosan disana nanti ada kak Zeta temenin aku" Lily tetap ingin kesana apapun caranya.
"Ya udah deh.... Sekarang baby siap - siap dulu ya" Edward membantu Lily berdiri.
Lily langsung naik ke atas untuk bersiap. Edward geleng - geleng kepala melihat ngidam istrinya yang semakin kelihatan.
Lily sudah selesai bersiap dan segera menuju mobil Edward. Tangan Lily membuka pintu kemudian segera masuk dan memakai seatblet. Mobil Edward melaju menuju perusahaan Lawrence. Lily tampak bahagia sekali saat diajak ke perusahaan keluarganya.
Sebelumnya Edward sudah menghubungi Zeta kalau adiknya akan kesana. Zeta menerima kehadiran adiknya dan tidak sabar untuk bermain bersama.
Mereka pun telah sampai di gedung perusahaan Lawrence. Lily langsung keluar begitu saja tanpa menunggu Edward. Di dalam sudah ada yang menyambut Lily kemudian meminta Lily untuk mengikutinya.
Pegawai tersebut telah mengantarkan dua tamunya ke ruangan direktur. Lily mengetuk pintu dan masuk dengan penuh kebahagiaan.
"Kak Hazel! Kak Zeta! Aku datang!" sapa Lily dengan melebarkan kedua tangannya.
"Lily! Sini peluk kak Zeta dulu!" Zeta menghampiri adiknya lalu memeluknya.
__ADS_1
Hazel terkejut melihat kedatangan adiknya bersama Edward. Zeta tidak ada memberitahu Hazel karena yang jelas Hazel pasti akan menolak kedatangan Lily dan Edward.
"Kak Hazel tidak mau peluk aku?" tanya Lily yang melepas pelukannya.
"Tidak" jawab Hazel dengan dinginnya dan lebih memilih fokus ke laptopnya.
"Ayolah kak! Sebentar saja kasihan ponakan kita ini" bujuk Zeta yang sebenarnya tahu kalauHazel tidak mau tapi ini demi Lily.
Dengan terpaksa Hazel bangkit dari kursinya kemudian mendekati sang adik. Lily langsung memeluk tubuh besar Hazel tapi dia tidak mendapatkan balasan pelukan dari Hazel.
"Sudah?" tanya Hazel malas.
"Kak Hazel.... Aku mau puding susu" jawab Lily dengan wajah imut.
"Zeta!" panggil Hazel yang memberikan kode kepada Zeta.
Tanpa basa basi Zeta langsung berangkat untuk membelikan puding susu. Hazel mengajak sang adik untuk duduk di sofa tapi Edward tidak.
"Baby, aku kerja dulu ya? Nanti siang aku kesini lagi terus kita makan siang sama - sama" pamit Edward yang hendak melangkah pergi.
Hazel memutar bola matanya dengan malas setelah melihat pemandangan tersebut. Edward mencium perut Lily lalu beralih ke dahi dan bi bir. Setelah mendapatkan kis s Edward beranjak pergi dari ruangan tersebut meninggalkan sang istri bersama kakak pertamanya.
Lily kembali ke sofa tempat dia duduk tadi. Hazel kembali ke kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kak Hazel~....".
"Kenapa? Mau apa?".
"Anu... Itu.... Lily mau pinjam jas kak Hazel boleh?".
"Buat apa? Lily kedinginan? Atau kakak matiin aja acnya ya?".
"Bukan! Lily mau pakai cium - cium aja soalnya tadi saat Lily peluk kakak, Lily cium aroma jas kakak wangi sekali jadi Lily suka sekali".
Hazel melepas jas miliknya lalu melemparnya kepada Lily. Ibu hamil itu langsung memeluknya dan menghirup dalam - dalam aroma tubuh sang kakak. Hazel melirik sedikit ke arah adiknya yang tampak sangat bahagia memeluk jasnya dan tanpa terduga sama sekali Hazel tersenyum melihat adiknya.
__ADS_1
Tok.... Tok.... Tok....
"Hai bro! Jadi tidak hari ini kita pergi ke tempat balapan? Eh? Siapa dia?" tanya seorang pria yang merupakan teman Hazel.
"Sepertinya tidak bisa karena aku memiliki banyak pekerjaan dan aku harus menjaga adikku disini" jawab Hazel yang kembali fokus ke laptopnya.
"Ayolah! Nanti kan ada Zeta yang menjaga adikmu, tunggu! Dia adikmu?" orang tersebut berjalan mendekati Hazel kemudian merangkul bahunya.
"Iya! Kenapa memangnya?" Hazel berusaha tenang karena dia tahu kalau temannya tersebut memiliki mulut yang sedikit kasar.
"Ohhh... Kok aku tidak pernah lihat, ngomong - ngomong adikmu cantik juga ya. Buat aku aja ya?" teman Hazel menatap Lily dengan tatapan menggoda.
"Tidak!" jawab Hazel singkat,jelas,dan ketus.
"Pelit kau ini!".
"Pokoknya tidak! Kalau kau berani menyentuhnya sedikit pub aku hancurkan perusahaanmu".
Teman Hazel mengangkat kedua tangannya dan berjalan menjauh dari Hazel. Dia tidak pernah melihat temannya seperti ini. Hazel meninggalkan pekerjaan sebentar dan lebih memutuskan duduk di sebelah adiknya.
"Kak! Aku kembali dengan banyak puding susu dan ini ada milk tea untuk adikku yang tercinta, eh ada Peter" Zeta kembali dengan satu kantung plastik berisi apa yang diminta Lily dan dia terkejut melihat kehadiran temannya Hazel atau lebih tepatnya Peter.
"Hai Zeta! Tadinya aku kesini mau mengajak kakakmu balapan tapi dia lebih memilih tinggal bersama adiknya" ucap Peter yang mengeluarkan side eye nya.
"Yoh kak Hazel balapan? Kenapa aku tidak tahu? Nanti kalau kakek tahu bagaimana?" tanya Lily yang kebingungan mendengar ucapan Peter.
"Keluar kau dari sini! Dan katakan pada yang lainnya kalau aku tidak jadi pergi! Sana!" usir Hazel yang tampak sangat kesal.
Peter akhirnya pergi dengan perasaan kesal. Dia meninggalkan ruangan tersebut dengan membanting pintu sangat keras. Lily terkejut mendengar suara bantingan tersebut.
"Nih makan dulu" Zeta duduk di sebelah Lily kemudian membukakan satu bungkus puding untuk adiknya.
Zeta sengaja melakukan itu agar mengalihkan situasi tadi. Hazel masih menatapi pintu yang dibanting tadi dengan raut wajah sangat kesal.
Makasi yang sudah mampir dan baca
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>