
UNTUK PARA RIDERS AUTHOR MINTA MAAF UNTUK CHAPTER KEMARIN SEHARUSNYA SEKARANG AUTHOR DOUBLE UPDATE MALAH BILANG KEMARIN DOUBLE UPDATE. MAAF YA.
"Aku tidak menyangka istri kecilku sudah tumbuh dewasa sekarang dan dia berani membentak rekan timnya" batin Edward yang merasa kagum dengan sikap Lily.
Kembali ke pertandingan.
Dovan terpaksa harus digantikan oleh anggota yang lain. Lily membawa Dovan ke ruang rawat. Dovan membuat ekspresi kesal karena dirinya digantikan.
"Untuk apa aku digantikan coba?! Aku masih bisa bermain!" Dovan mengoceh kesal tentang hal yang tadi.
"Bodoh! Jika kau masih ingin bermain sebaiknya kau digantikan supaya kau tidak mati kejang - kejang di lapangan! Apa kau mengerti?! Dasar bodoh!" Lily menanggapi keluhan Dovan dan mengatai Dovan.
Lily melanjutkan mengompres bahu Dovan dengan sebungkus air es. Tapi Dovannya tidak mau diam seperti cacing kepanasan. Lily mencubit perut Dovan.
"Apa sih?! Kenapa tiba - tiba asal cubit aja?!".
"Hei seharusnya kamu bersyukur aku masih mau mengobatimu jika tidak aku biarkan saja kau mati di tengah lapangan!".
"Kalau begitu biarkan saja aku mati di lapangan tadi!".
"Apa kamu tidak sayang nyawamu?! Apa kamu tidak peduli pada karirmu kedepannya?! Dasar bego!".
Dovan terdiam mendengar ucapan Lily tadi. Memang bener ucapan Lily tadi dan harusnya Dovan bersyukur karena masih mau mengobatinya. Dovan pun bisa merasa bersalah atas ucapan dan tindakannya tadi.
"Sekarang kau baru sadar?! Bahwa masa depan itu penting?!" Lily menyemprot cooling spray(maaf author nggk tahu namanya apa) di bahu Dovan.
"Diam ah! Iya aku salah! Puas?!" Dovan sedikit gengsi untuk mengakui kesalahannya tapi dia tetap mengakuinya.
"Kalau dikasi tahu itu dengar makanya! Sudah tahu cedera masih maksain main! Besok patah tahu rasa!".
"Jangan ngomong gitu! Nanti beneran gimana?!".
"Salah sendiri lah! Hm sudah selesai" Lily sudah selesai memperban kembali bahu Dovan.
"Sekarang aku boleh main?".
"Tidak! Berapa kali aku harus memberitahumu?!".
Kali ini Lily sudah sangat kesal hingga akhirnya dia menjewer telinga Dovan. Lily menyeret Dovan keluar ruang rawat. Dovan melepas pegangan tangan Lily kemudian berjalan sendiri. Lily geleng - geleng kepala melihat sikap keras kepala Dovan. Hampir saja dia lupa kalau dia masih vc dengan sang suami. Lily mengangkat ponselnya kemudian menghadapkannya ke wajahnya.
__ADS_1
"Halo sayang? Apa kamu masih disana".
"Masih kok baby ini buktinya vc masih menyala, ada apa?".
"Aku kira kau mematikan vcnya tadi, kamu lagi kerja apa tidak mengganggu?".
"Santai saja baby aku bekerja sambil mendengar ocehan istriku tadi".
"Apa kau mendengarnya? Maaf ya tadi orang keras kepala itu memang bandel sekali".
"Tidak apa - apa, oh ya! Kau harus ke lapangan kan?".
"Astaga iya! Sayang biarkan vcnya,ya? Kita nonton sama - sama".
"Oke my baby".
Lily segera berlari kembali ke lapangan untuk melihat lanjutnya permainan. Saat Lily sudah masuk ke lapangan ternyata timnya sudah sangat ketinggalan jauh dari timnya Randy. Bahkan terlihat dari stamina para pemain sudah sangat kelelahan. Untungnya babak pertama sebentar lagi selesai.
Lily segera menghampiri pak pelatih untuk membahas strategi baru. Terpaksa pak pelatih harus mengubah strategi demi mengejar skor yang tertinggal.
Babak pertama selesai dan tim Sean sudah tertinggal tiga puluh poin. Lily memberikan handuk dan botol air kepada para pemain. Pak pelatih langsung memberitahu strategi barunya juga Lily memberitahu kelemahan para pemain musuh. Sean dan teman - temannya memperhatikan strategi yang dikatakan oleh sang pelatih.
Lima belas menit berlalu dua pemain tim kembali masuk ke lapangan. Terlihat dari penampilannya tim Sean sangat percaya diri sekali untuk mengembalikkan situasi.
Pertandingan kembali dimulai dan yang pertama mendapatkan bola adalah Jia. Dengan cepat Jia berlari kemudian mengumpan ke Sean. Setelah mendapatkan umpan Sean berlari memasuki garis shooting tapi ditahan oleh Randy.
"Sekarang kau mau bawa kemana bola itu?" tanya Randy yang menghadang Sean.
"Tentu saja ke temanku" jawab Sean yang mengumpan ke belakangnya dan ditangkap oleh Kevin.
Kevin masuk sedikit ke garis shooting kemudian menembak. Bola tersebut berhasil masuk ke ring. Sean mengejek Randy karena gagal menjaganya.
...
Pertandingan terus berlanjut hingga waktu menunjuk tujuh puluh delapan menit. Selisih skor tim Sean semakin menepis dan terus mengejar ketinggalan. Para penonton atau suporter semakin tegang dan berteriak histeris untuk menyemangati tim yang mereka dukung.
Dari dua tim tersebut sama sekali tidak ada yang ingin mengalah dan terus saling memberikan tekanan. Lily sangat serius melihat pergerakan musuh yang sangat semakin kuat saja tekanannya. Permainan Sean dan Randy semakin gila mereka terus bersaing satu sama lain untuk memenangkan pertandingan.
Waktu permainan sisa lima menit dan sekarang tim Sean yang memimpin. Randy sangat kesal melihat skor timnya selisih empat poin. Walaupun hampir mendekati akhir pertandingan mereka masih berjuang untuk kemenangan. Sean dan Randy berlomba banyak - banyakkan menembak bola ke ring. Di sisa satu menit terakhir Jia kesusahan untuk mengumpan karena semua rekan timnya dijaga. Jia mengambil keputusan nekat dengan mengumpan ke Kevin walaupun dijaga. Syukurlah umpannya berhasil ditangkap.
__ADS_1
Sekarang Kevin tinggal mencari celah untuk masuk. Kevin tiba - tiba mendapat ide dari anime yang dia tonton. Dia mengambil posisi shooting dan yang menjaganya terpancing jebakannya. Kevin mengumpan ke Henryi dengan posisi shooting. Henryi berhasil mendapatkannya kemudian melakukan meteor jump seperti yang dilakukan Kagami di anime Kuroko no Basket.
Henryi sudah berlatih lama ingin melakukan ini namun gagal terus. Tapi setelah Lily masuk gadis Lawrence tersebut yang mengajarkannya bagaimana melakukannya. Dalam beberapa menit Henryi berhasil melakukannya berkat Lily dan sekarang dia menggunakan teknik itu di pertandingan hari ini.
Waktu habis dan Henryi berhasil memasukkan bola ke ring. Semua penonton bersorak ria atas kemenangan tim Sean. Lily melompat bahagia melihat kemenangan timnya. Lily mengangkat ponselnya kemudian dia memberitahu Edward.
"Sayang! Timku menang!".
"Benarkah?! Selamat baby!".
"Itu benar! Aku sangat senang sekali! Ahahaha".
"Nanti malam kita rayakan,oke?".
"Iya sayangku! Love you honey".
"Love you more baby, jangan dimatiin dulu aku mau lihat selebrasi".
"Oke my ayang".
Para suporter turun ke lapangan kemudian bersorak ria bisa mendapatkan kemenangan. Yuri berlari ke arah Lily lalu memeluknya. Dua gadis tersebut saling berpelukan erat dan melompat - lompat. Tim Randy harus menerima kekalahannya walau sedikit tidak terima Randy harus menerimanya. Randy menghampiri Sean.
"Selamat atas kemenanganmu bro" ucap Randy yang mengulurkan tangannya.
"Terima kasih! Di pertandingan berikutnya ayo kita bermain lebih dari pada hari ini" jawab Sean yang membalas uluran tangan Randy dengan jabat tangan.
Dua tim berbaris rapi dan menunduk sebagai tanda terima kasih. Tim Sean kembali melanjutkan selebrasinya. Di sisi lain Randy menghampiri Lily.
"Hai Randy! Kau telah berjuang dengan sangat keras selama pertandingan" sapa Lily yang juga memuji kemampuan Randy.
"Hehe... Terima kasih. Selamat atas kemenangan timmu" Randy sedikit malu - malu saat membalas sapaan Lily.
"Apakah ada hal lain?" tanya Lily yang melihat Randy masih di dekatnya.
Randy menarik tangan Lily sehingga tubuh Lily bisa lebih dekat padanya. Kemudian Randy membisikkan sesuatu di telinga Lily.
"Kalau kamu sudah nikah kenapa tidak memberitahuku? Sudah lama tidak bertemu malah lupa mengundang sahabatnya".
NANTI LAGI GUYS SEKALI LAGI AUTHOR MINTA MAAF ATAS KESALAHAN KETIK KEMARIN YANG BLNG DOUBLE UPDATE. AUTHOR LUPA HARI KEMARIN MAAF GUYS.
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>