
Latihan telah selesai dan semuanya berjalan lancar kecuali Lily yang masih tampak cemberut. Dovan dan Jia merasa bersalah telah mengejeknya tadi. Mereka berdua menghampiri Lily yang sedang membereskan barang - barangnya.
"Lily" panggil Jia.
"Kenapa Jia? Apa kalian perlu sesuatu?" tanya Lily dengan lembut.
"Kami berdua minta maaf karena sudah menertawakanmu tadi, maafkan kami ya" jawab Dovan yang menundukkan kepalanya.
"Tidak apa - apa kok! Aku saja yang terlalu terbawa perasaan" Lily menggendong tasnya di pundaknya dan hendak beranjak pergi.
"Tunggu! Biarkan kami berdua yang membawakan tasmu sebagai permintaan maaf kami" Dovan menahan Lily yang akan pergi.
Lily menyerahkan tasnya dan yang membawa tasnya adalah Dovan. Lily berjalan pergi meninggalkan gedung olahraga ditemani dua pengawalnya.
Di depan gerbang kampus sudah ada Edward yang menunggunya. Edward yang hendak memeluk sang istri tapi sayangnya langsung ditepis. Dovan memberikan tas Lily kepada Edward.
"Terima kasih" Edward segera masuk ke mobilnya.
"Apa mereka akan baik - baik saja?" tanya Jia yang kebingungan dengan sikap Lily yang dingin.
"Aku tidak tahu yang jelas ini adalah prahara rumah tangga, pulang yuk!" jawab Dovan yang mengajak Jia pulang.
Mobil Edward melaju menuju kediamannya. Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara keduanya karena masih dalam perang dingin. Edward ingin mengajak Lily bicara tapi dia takut kalau jawaban Lily sangat dingin. Bagaimana pun Edward harus menyelesaikan masalah ini dan tidak boleh terus berlarut.
__ADS_1
"Baby~.... Aku minta maaf ya soal yang tadi" ucap Edward dengan nada bicara lemah.
"Tidak!" jawab Lily dengan ketus.
"Jangan ngambek terus baby! Kasihan Pinpin loh" Edward tetap berusaha menghilangkan rasa marah di dalam hati istrinya.
Lily buang muka ke arah kaca mobil. Edward harus ekstra sabar dan memikirkan banyak akal. Mobil Edward melaju ke salah satu parkiran mall dan Edward mematikan mobilnya. Selanjutnya dia menghadap Lily sambil memegang kedua tangannya.
"Baby jangan marah lagi,ya? Tadi itu beneran aku lagi ada rapat penting jadi tidak bisa ditinggalkan" Edward menci um punggung telapak tangan Lily.
"Terserah! Sudah!... Ayo kita pulang! Aku lapar" Lily menarik kedua tangannya.
"Baby mau makan apa? Biar aku cariin".
"Aku mau makan pudding tapi ada coklat meleleh di atasnya terus harus buatan sendiri sama aku pengen salad buah dengan coklat meleleh juga".
Edward kembali menjalankan mobilnya untuk membeli bahan - bahan makanan yang diminta. Lily tersenyum sedikit tetapi sebenarnya dia masih ada yang dia inginkan namun dia takut untuk memintanya.
Selama perjalanan Lily terdiam sambil merenungi keinginannya. Edward melirik sedikit ke arah istrinya yang terdiam.
"Baby kenapa? Apa baby tidak enak badan?" tanya Edward yang membelokkan mobilnya ke arah parkiran supermarket.
"Ah?! Tidak, baby baik - baik saja kok hehehe...." jawab Lily dengan sedikit panik.
__ADS_1
"Katakan baby, baby kenapa?" Edward menghentikan mobilnya yang sudah terparkir rapi.
"Ehmmm.... Baby mau makan chiki - chiki yang bungkus itu tapi ditambah dengan selai nanas, baby boleh mam itu?" Lily akhirnya mengatakan keinginan dia.
"Tentu saja boleh baby nanti saat kita belanja di dalam baby boleh ambil semua barang atau makanan yang baby inginkan, dah ayo kita turun" Edward mengelus kepala istrinya agar merasa lebih nyaman.
Lily tersenyum cerah mendengar jawaban sang suami. Tangan Lily membuka pintu mobil kemudian segera keluar dan Edward segera mengikuti sang istrinya masuk ke supermarket.
Di dalam supermarket, Lily mengambil troli berukuran besar tapi Edward langsung mengambil alihnya. Pasangan suami istri mulai belanja kebutuhan mereka. Lily mengajak suaminya ke lorong chiki. Saat disana Lily mengambil banyak chiki dan selai nanas.
Setelah berbelanja selama setengah jam lebih barulah pasangan suami istri itu membayar di kasir. Total belanjaan mereka berdua sebesar tujuh ratus lima puluh dua.
Di parkiran mobil, Edward memindahkan semua barang belanjaan ke bagasi mobil. Lily sangat senang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Edward menutup bagasi kemudian membukakan pintu untuk sang istri. Sesudah Lily masuk barulah Edward masuk.
Mobil mulai berjalan menuju kediaman Edward. Selama di jalan, Lily sibuk memakan chiki yang dia beli. Edward melarang dia meminum minuman yang berasa atau yang berwarna karena Lily sudah memakan chiki terus ditambah minuman berasa tentu saja itu tidak baik. Jadi sebagai gantinya Edward memberikan air putih saja agar lebih aman.
"Sayang! Buka mulut, aaa" Lily hendak menyuapi suaminya.
Edward membuka mulutnya dan memakan chiki yang dicampur selai nanas itu. Saat sudah di dalam mulut Edward merasa jajan tersebut tidak enak tapi bagi sang istri itu sangat enak.
"Ini lagi sayang,aaa" Edward dengan terpaksa memakan kembali jajan yang tidak enak itu demi sang istri.
Lily sangat senang melihat suaminya memakan chiki tersebut. Selama perjalanan Edward harus memakan chiki yang tidak enak itu demi sang istri tapi saat sudah sampai di rumah bukannya berhenti malah semakin banyak menyuapi chiki - chikian.
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>