Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Ketua Panitia Ospek


__ADS_3

Hari itu Sean memberitahu kakak iparnya kalau tanggal acaranya akan ditentukan sekitar dua minggu lagi. Lily juga memberitahu kegelisahannya kepada Sean mengenai putranya.


Sean sebenarnya juga ragu untuk memberitahukan Lily mengenai hal ini. Tapi karena ini adalah perintah rektor maka,dia tidak bisa membantah.


Akhirnya dengan terpaksa Lily menerima tugas tersebut dan memutuskan untuk menitipkannya di kantor Edward. Lily belum membicarakan hal ini kepada Edward namun dia berharap agar suaminya mau menerima idenya ini.


••••••••••••TIME SKIP••••••••••


Tanggal acara sudah ditentukan dan dilaksanakan pada tanggal tujuh Agustus. Syukur itu tinggal satu bulan lagi jadi Lily bisa mengajarkan suaminya tentang merawat balita.


Edward memperhatikan dan mendengarkan baik - baik setiap penjelasan istrinya. Pasangan suami istri ini sudah memutuskan merawat sang anak secara bergiliran. Edward menjaganya dari pagi sampai istrinya selesai dengan tugas kuliahnya lalu Lily melanjutkannya di malam hari.


Edward memahami betul bagaimana sibuknya mengurus anak ospek. Dulu dia pernah menjadi panitia untuk mengurus ospek sebab itu dia tahu.


Tiga minggu sudah berlalu dan baby Luke sudah melihat dunia yang luas. Baby Luke memiliki mata yang cantik sama seperti ibunya tapi Lily yakin kalau tatapannya akan sama seperti ayahnya.


Hari ini baby Luke sedang berjemur bersama dengan sang ayah. Di sisi lain Lily sedang memasak sarapan untuk dua orang tersayangnya.


"Sayang! Sarapannya sudah siap! Cepet masuk!" panggil Lily yang berada di dapur.


"Iya baby! Ayo kita masuk nak! Kita makan dulu" jawab Edward yang kegemasan melihat putranya.


Di dapur,dua orang dewasa tersebut makan dengan hikmat. Untungnya saat ini baby Luke tidak rewel sama sekali selama orang tuanya makan.


"Oh iya sayang! Nanti jadi kamu bawa baby Luke ke kantorkan?" tanya Lily yang menyuapi suaminya.


"Iya jadi! Apa saja yang perlu aku bawa? Apa menurutmu ini tidak terlalu awal membawa dia keluar? Masalahnya dia baru berumur tiga minggu" jawab Edward dengan pertanyaan untuk meyakinkan kembali keputusan istrinya.


"Aku yakin sayang hari ini aku harus ke kampus sebentar untuk menghadiri rapat panitia ya... palingan sampai jam sembilan atau sepuluh lah habis rapat baru aku ke kantor" Lily kembali menegaskan keputusannya.


"Oke kalau begitu! Bagaimana kalau dia lapar?".


"Nanti sebelum kita berangkat aku kasi dia susu dulu sampai dia kenyang nah biasanya setelah dia mimi susu baby Luke bakal tidur dan tidurnya lumayan lama sih".


"Okelah kalau begitu,baby rapatnya jam berapa?".


"Nanti sekitar setengah sembilan".


"Aku antar ya?".


"Makasi sayangku".


Edward hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya. Mereka berdua sudah selesai sarapan. Edward yang mencuci piring dan Lily sedang memberi mimi susu.


"Nanti baby Luke jangan nakal pas di kantor ya? Soalnya ayah lagi sibuk kerja" ucap Lily yang duduk di sofa sambil menyu sui.


Baby Luke hanya memandang ibunya sambil menyedot su sunya. Lily tertawa melihat cara memandang baby Luke.


Edward sudah selesai mencuci piring. Dia ke kamarnya untuk mengambil tas lalu kembali lagi.


Lily juga sudah menyiapkan barang - barangnya juga dengan keperluan yang perlu dibawa Edward nanti. Baby Luke masih belum kenyang meminum asi ibunya.


Edward memperhatikan istrinya yang masih sibuk dengan baby Luke. Lily masih duduk di sofa dengan dua tas beda isiannya di atas meja.


"Baby! Apa baby Luke sudah selesai mimi susu?" tanya Edward yang merapikan sedikit dasinya.


"Belum nih kayaknya bakal lama" jawab Lily yang menoleh ke arah anaknya.


"Santai saja baby lagipula ini masih jam tujuh dua puluh tunggu dia sampai kenyang saja" Edward langsung duduk di sebelah istrinya lalu merangkulnya.


"Maaf ya sayang jadinya lama nunggu baby Luke selesai susu" Lily bersandar pada da da bidang suaminya.


"Jangan minta maaf baby! Anak kita perlu banyak nutrisi jadi tidak perlu khawatir".


"Hehehe... makin sayang deh sama suamiku".


Lily hanya tertawa saja melihat wajah suaminya. Edward mengelus kepala istrinya dan sesekali memperhatikan baby Luke.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian akhirnya baby Luke sudah selesai. Lily merasa pegal di bagian lengan setelah menggendong anaknya. Edward langsung mengambil alih baby Luke dan berjalan menuju mobil dengan diikuti oleh istrinya di belakang.


Semuanya sudah masuk dan mobil Edward melaju menuju kampus Dazzling Stars. Lily berusaha menidurkan baby Luke selama perjalanan.


Tidak lama kemudian mereka sampai di kampus juga baby Luke sudah tertidur pulas. Lily meletakkan baby Luke di belakang dengan kasur kecilnya.


"Aku pergi bentar ya sayang aku usahakan segera kembali" ucap Lily yang menci um telapak tangan suaminya lalu beralih ke bi bir.


"Jaga dirimu baby" jawab Edward yang langsung pindah ke kursi belakang tempat putranya.


"Nanti siapa yang menyetir?".


"Ada saja".


Lily hanya mengangguk paham lalu keluar dari mobil. Sopir baru Edward masuk dan dia merupakan temannya Lily.


Edward memperhatikan baik - baik putranya tersebut dan meminta sang sopir untuk berhati - hati mengendarai mobilnya. Si sopir sangat jelas paham maksud tuannya.


Kembali lagi ke Lily yang telah sekian lama tidak ke kampus lagi. Lily terkejut dengan berbagai macam perubahan yang terjadi padahal hanya tidak masuk selama enam bulan tapi sudah ada banyak perubahan.


Di ujung sana Lily bisa melihat Sean yang memanggilnya. Lily langsung berlari menghampiri Sean.


"Ayo cepat masuk! Kalau tidak kita akan dimarahi rektor" ucap Sean yang langsung menarik tangan kakak iparnya.


"Kan rapatnya dimulai sekitar lima belas menit lagi tapi kenapa terburu - buru?" jawab Lily yang kebingungan.


"Aku juga tidak tahu! Rektor ini tidak jelas".


Lily hanya menuruti ke arah mana dirinya ditarik. Mereka berdua sudah sampai di ruang rapat. Ada beberapa anggota lain yang sudah datang dan tersisa dua orang lagi belum datang.


Lily terkejut melihat beberapa anggota lain yang merupakan kakak tingkatnya. Tapi dirinya diberikan posisi setinggi ini dalam kegiatan ospek ini. Sebenarnya Lily tidak suka dirinya dianggap sebagai bantuan orang belakang. Dia ingin mendapatkan hasil dengan usaha dia sendiri.


"Baiklah kita tinggal tunggu lagi satu saja" ucap rektor yang juga ada disana.


"Kemana sih ketua baru ini?! Kok lama sekali?! Dia niat atau tidak sih jadi ketua?!" celetuk seorang wanita senior.


"Tahu nih! Padahal masih baru langsung ditunjuk jadi ketua saja" saut seorang pria terhadap ucapan wanita tadi.


"Kalau kalian tidak suka dengan keputusan saya lebih baik kalian keluar saja dari acara ini" rektor langsung angkat bicara setelah mendengar ucapan dua mahasiswa mahasiswinya.


"Maaf saya terlambat! Tadi saya mendapat sedikit masalah saat akan kesini" akhirnya yang ditunggu datang juga.


"Baiklah mari kita mulai rapatanya dan diminta para pengurus utama untuk memperkenalkan diri" ucap rektor yang memberikan izin memulai rapat.


"Baiklah! Dimulai dari saya, perkenalkan nama saya Vrendrik Johan Arthur biasa dipanggil Arthur. Saya merasa terhormat ditunjuk sebagai ketua panitia ospek dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melancarkan kegiatan ospek ini,sekian terima kasih" ucap mahasiswa yang menjadi ketua panitia.


"Selanjutnya silakan wakil ketua".


"Perkenalkan nama saya Lawrence Lily Taniya biasa dipanggil Lily dan berasal dari fakultas akuntansi. Saya merasa sangat bersyukur ditunjuk sebagai wakil ketua panitia ospek dan sebagai wakil saya berusaha membantu sang ketua untuk melancarkan kegiatan ini,terima kasih" ucap Lily yang mendapat giliran memperkenalkan diri.


Kemudian berlanjut ke anggota - anggota lainnya. Ada beberapa anggota tidak menyukai Arthur dan Lily sebagai ketua dan wakil ketua. Namun begitu Lily tetap ingin melanjutkan tugasnya.


Rapat pun dimulai. Ketua dan wakil ketua memperhatikan dan mendengarkan baik - baik setiap penjelasan dari rektor. Mereka berdua tidak teralihkan sama sekali dengan suasana yang membicarakan mereka.


Setengah jam kemudian rapat sudah usai dan semua anggota diizinkan pulang. Banyak anggota lain yang sengaja menyenggol Lily untuk mempermalukannya. Tapi semua usaha mereka sia - sia.


Edward memperhatikan baik - baik putranya tersebut dan meminta sang sopir untuk berhati - hati mengendarai mobilnya. Si sopir sangat jelas paham maksud tuannya.


Kembali lagi ke Lily yang telah sekian lama tidak ke kampus lagi. Lily terkejut dengan berbagai macam perubahan yang terjadi padahal hanya tidak masuk selama enam bulan tapi sudah ada banyak perubahan.


Di ujung sana Lily bisa melihat Sean yang memanggilnya. Lily langsung berlari menghampiri Sean.


"Ayo cepat masuk! Kalau tidak kita akan dimarahi rektor" ucap Sean yang langsung menarik tangan kakak iparnya.


"Kan rapatnya dimulai sekitar lima belas menit lagi tapi kenapa terburu - buru?" jawab Lily yang kebingungan.


"Aku juga tidak tahu! Rektor ini tidak jelas".

__ADS_1


Lily hanya menuruti ke arah mana dirinya ditarik. Mereka berdua sudah sampai di ruang rapat. Ada beberapa anggota lain yang sudah datang dan tersisa dua orang lagi belum datang.


Lily terkejut melihat beberapa anggota lain yang merupakan kakak tingkatnya. Tapi dirinya diberikan posisi setinggi ini dalam kegiatan ospek ini. Sebenarnya Lily tidak suka dirinya dianggap sebagai bantuan orang belakang. Dia ingin mendapatkan hasil dengan usaha dia sendiri.


"Baiklah kita tinggal tunggu lagi satu saja" ucap rektor yang juga ada disana.


"Kemana sih ketua baru ini?! Kok lama sekali?! Dia niat atau tidak sih jadi ketua?!" celetuk seorang wanita senior.


"Tahu nih! Padahal masih baru langsung ditunjuk jadi ketua saja" saut seorang pria terhadap ucapan wanita tadi.


"Kalau kalian tidak suka dengan keputusan saya lebih baik kalian keluar saja dari acara ini" rektor langsung angkat bicara setelah mendengar ucapan dua mahasiswa mahasiswinya.


"Maaf saya terlambat! Tadi saya mendapat sedikit masalah saat akan kesini" akhirnya yang ditunggu datang juga.


"Baiklah mari kita mulai rapatanya dan diminta para pengurus utama untuk memperkenalkan diri" ucap rektor yang memberikan izin memulai rapat.


"Baiklah! Dimulai dari saya, perkenalkan nama saya Vrendrik Johan Arthur biasa dipanggil Arthur. Saya merasa terhormat ditunjuk sebagai ketua panitia ospek dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melancarkan kegiatan ospek ini,sekian terima kasih" ucap mahasiswa yang menjadi ketua panitia.


"Selanjutnya silakan wakil ketua".


"Perkenalkan nama saya Lawrence Lily Taniya biasa dipanggil Lily dan berasal dari fakultas akuntansi. Saya merasa sangat bersyukur ditunjuk sebagai wakil ketua panitia ospek dan sebagai wakil saya berusaha membantu sang ketua untuk melancarkan kegiatan ini,terima kasih" ucap Lily yang mendapat giliran memperkenalkan diri.


Kemudian berlanjut ke anggota - anggota lainnya. Ada beberapa anggota tidak menyukai Arthur dan Lily sebagai ketua dan wakil ketua. Namun begitu Lily tetap ingin melanjutkan tugasnya.


Rapat pun dimulai. Ketua dan wakil ketua memperhatikan dan mendengarkan baik - baik setiap penjelasan dari rektor. Mereka berdua tidak teralihkan sama sekali dengan suasana yang membicarakan mereka.


Setengah jam kemudian rapat sudah usai dan semua anggota diizinkan pulang. Banyak anggota lain yang sengaja menyenggol Lily untuk mempermalukannya. Tapi semua usaha mereka sia - sia.


Lily berhasil keluar dari kerumunan orang - orang yang iri terhadapnya. Tapi tiba - tiba saja Johan menghampirinya.


"Tunggu Lily! Tunggu!" panggil Johan.


"Kenapa Johan? Perlu sesuatu?" tanya Lily yang berhenti sebentar.


"Bolehkah aku minta nomormu? Karena siapa tahu aku memerlukan saran atau pendapatmu mengenai ide - ide yang aku miliki" jawab Johan yang mengeluarkan ponselnya.


Lily langsung mengetik nomornya di ponsel Johan. Setelah mendapatkan nomornya Lily, Johan menunduk terima kasih kemudian pergi. Lily sebenarnya belum mendapatkan ide untuk kegiatan ospek ini jadi dengan dirinya sudah memberikan nomornya kepada Johan memudahkan menyalurkan ide.


Kaki Lily terus melangkah menuju gerbang kampus. Saat sudah sampai di depan gerbang tiba - tiba saja ada segerombalan anak perempuan menghampirinya. Lily sedikit bingung dengan para perempuan tersebut.


"Heh! Jangan kau pikir kau sudah menjadi wakil ketua kau bisa mendapatkan Johan! Pria itu tidak akan sudi bersamamu!" ucap salah satu perempuan yang kelihatan seperti ketua geng.


"Benar sekali! Penampilanmu seperti ini tidak akan pantas bersandang dengan Johan!" saut perempuan yang lainnya.


"Jadi jangan berharap bisa mendapatkan Johan! Jangan harap!" dan perempuan yang satunya.


Lily sedikit kebingungan dengan ucapan para wanita tadi. Siapa juga yang mau sama Johan? Kenapa mereka menyuruhku menjauh? Apa salahnya?, seperti itulah gambaran pertanyaan di pikiran Lily.


Sudah selesai melancarkan ancamannya para wanita itu berlalu pergi. Di saat yang bersamaan pula mobil Sean sudah berada di depan gerbang.


"Ayo naik kak!".


Lily langsung masuk ke mobil Sean. Kendaraan roda empat itu langsung melaju menuju kantor perusahaan The David's. Dalam perjalanan Lily memikirkan maksud ucapan para wanita tadi.


"Hm? Kakak kenapa? Seperti memikirkan sesuatu" tanya Sean yang melirik ke arah kakak iparnya.


"Tadi aku diberi ancaman sama beberapa wanita,mereka bilang jangan dekati Johan lah tidak pantas untuk Johan lah dan segala macam. Sebenarnya siapa sih itu Johan? Kenapa dia berpengaruh sekali?" jawab Lily yang menirukan gaya wanita tadi bicara.


"Ohhh... Johan, dia itu mahasiswa yang paling diinginkan oleh para wanita setelah para tim kita. Johan ini anak fakultas teknik kalau tidak salah baru semester tiga dia dan dia ikut klub voli setahuku sih" Sean menjelaskan sedikit tentang si Johan.


"Ohhh... seberpengaruh itu dia?".


"Berpengaruh sekali,biasa orang pintar. Oh iya kak! Kemarin pas kenaikan semester itu kakak mendapat peringkat pertama untuk seluruh fakultas kampus dan si Johan ini nomor dua".


"Pintar juga tuh anak".


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>


__ADS_2