Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Mangga muda dan kedondong


__ADS_3

Dua wanita itu sangat terkejut melihat tindakan yang dilakukan oleh Lily. Sean dan Dovan berpura - pura melihat laut saja karena tidak ingin terlibat. Edward menggendong Lily seperti koala lalu melempar barang belanjaannya ke arah Sean. Tautan mereka belum lepas sama sekali sampai pada akhirnya dua wanita itu memutuskan pergi karena merasa muak melihatnya.


Lily mendorong tubuh Edward karena dirinya sudah kehabisan nafas. Edward menjilat bibirnya bekas tautan tadi.


"Pintar sekali istriku ini" puji Edward yang menggesek - gesekkan hidungnya di hidung Lily.


"Sudahlah! Duduk dong sayang nanti pegel kakimu" jawab Lily yang memukul pelan pundak Edward.


Sang suami menuruti permintaan istrinya. Lily balik kanan sehingga dirinya bisa bersandar di da da bidang Edward. Kedua tangan Edward mengelus perut Lily. Sean dan Dovan yang ada disana langsung berlari ke laut dan nyemplung.


Edward mengambil tas plastik yang dia lempar tadi. Dibuka tutup botol air mineral kemudian memberikannya kepada Lily selanjutnya membuka penutup cup ice cream tiga rasa tadi. Saat Edward memberikan ice cream tersebut Lily langsung menolaknya.


"Kenapa? Tidak nafsu makan ice cream? Ini enak loh" tanya Edward yang masih menodongkan ice cream tersebut.


"Aku tidak mau! Aku maunya mochi" jawab Lily yang tetap menolak makanan penutup tersebut.


"Mochi? Mau mochi apa?".


"Mochi stroberi terus di dalamnya ada coklat".


"Oke aku pesankan sekarang".


"Tunggu! Tapi nanti yang suapin mochi adalah Dovan sama Jia".


"Kok mereka berdua? Kenapa tidak sama aku saja?".

__ADS_1


"Aku maunya mereka kan kamu juga sudah membelikan aku mochi".


"Okelah! Tapi disuapin saja kan?".


"Iya sayangku tercinta".


"Oke! Mau apalagi?".


"Aku mau mangga muda sama kedondong".


Edward seketika membeku mendengar permintaan sang istri. Dia tahu ke arah mana larinya permintaan sang istri tapi dia berusaha tenang karena dia tahu kalau saat ini istrinya sedang ngidam.


"Mau berapa mangga sama kedondongnya?".


"Tunggu ya aku pesenin".


"Oke sayangku! Makasi, love you♡".


"Sama - sama my baby,love you too♡".


Edward langsung memesankan makanan yang diminta sang istri melalui aplikasi belanja. Pesanan mereka mungkin baru datang sekitar sepuluh menit lagi karena tempatnya yang tidak jauh dari pantai.


Beberapa menit kemudian kurir yang mengantar makanan datang. Edward sudah membayarnya secara online. Dibawanya tiga benda tersebut ke dekat Lily yang duduk di tikar. Lily bertepuk tangan ria melihat apa yang diminta datang. Sean mengupas kulit mangga dan kedondong sedangkan Dovan dan Jia sibuk menyuapi ibu hamil itu dengan mochi. Edward hanya tersenyum saja melihat kebahagiaannya terlihat bahagia.


"Nih kak! Sudah dikupas sekaligus sudah dicuci" ucap Sean yang memberikan mangkuk yang berisi mangga dan kedondong yang sudah dikupas sekaligus dicuci.

__ADS_1


"Makan!" Lily menodongkan potongan mangga muda ke arah Edward.


"Kok aku yang makan baby? Kan baby yang minta tadi" tanya Edward yang ketakutan melihat rupa mangga tersebut.


"Kata Pinpin potongan pertama harus dimakan sama ayahnya itu juga berarti anakmu jenis kelamin laki - laki" jawab Lily.


Dengan terpaksa Edward memakan potongan mangga tersebut dari tangan sang istri. Saat sudah sampai di lidah tiba - tiba saja wajahnya berubah menjadi jelek dan tubuhnya menekuk ke depan berusaha menahan rasa asam mangga tersebut. Dovan dan Jia tertawa saja melihat wajah Edward yang kemaseman tetapi secara tiba - tiba Lily menyumpal mulut dua temannya dengan kedondong. Wajah Dovan dan Jia sontak langsung berubah ditambah dua lubang hidungnya membesar.


Sean dan Edward menertawakan ekspresi wajah Dovan. Jia yang lumayan biasa memakan kedondong jadi bisa menahan rasa asamnya tapi tidak dengan Dovan yang masih merasakan rasa asamnya.


"Wahhh... Ada apa ini? Pesta ya?" tanya Max yang menggandeng tangan Yuri.


Ekspresi wajah Yuri tiba - tiba berubah saat melihat makanan apa yang dimakan Lily. Tidak dengan Max yang tampak bahagia melihat dua makanan asam tersebut.


"Boleh minta Lily?" tanya Max yang seolah - olah berbicara dengan anak kecil.


"Boleh! Nih!" jawab Lily yang memberikan potongan mangga muda kepada Max kemudian lanjut menyesap mangga mudanya.


Max memakan mangga tersebut dengan santainya tanpa ada ekspresi wajah yang berubah. Dovan dan Jia heran melihat kehebatan dosennya yang bisa menahan rasa asam tersebut.


Kemudian dipotongan mangga kedua Lily kembali memberikannya kepada Max. Tapi saat masuk di dalam mulut tiba - tiba saja ekspresi wajah Max berubah yang membuat mahasiswanya dan sepupunya tertawa.


"Kok asin?! Peuh! Peuh!" tanya Max yang masih merasa keasinan.


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2