
"Kau benar Lily! Ini tidak bisa dibiarkan".
Mereka berdua mulai mendiskusikan cara agar teman - temannya agar dapat fokus latihan kembali. Ditambah mereka sepertinya sudah menemukan titik terangnya.
Keesokannya di kampus Dazzling Stars, tepatnya pada pukul dua siang anak - anak klub basket sudah berkumpul terutama yang bergabung dalam band. Tim band mereka masih tampak kurang fokus tapi tidak separah kemarin. Juga sepertinya mereka kedatangan tamu.
"Semuanya mohon perhatian sebentar! Kita kedatangan tamu! Dan ayo berkumpul!" Lily memanggil amggota bandnya agar segera mendekat.
Anggota band berkumpul dihadapan Lily. Mereka tidak pernah melihat sosok pria yang berdiri di sebelah Lily tapi dilihat wajahnya pria itu memiliki sedikit kemiripan dengan Lily.
"Baiklah semuanya! Karena sudah berkumpul sekarang aku perkenalkan mentor yang akan membantu kita selama latihan band, dia adalah kakakku namanya Zeta" Lily memperkenalkan kakak keduanya yang akan menjadi mentor sementara.
"Hai semuanya! Senang bertemu kalian semua" sapa Zeta kepada yang lain.
"Wahhh.... Pantas saja mirip ternyata kakaknya" Jia menepuk bahu Dovan.
"Kalau sudah tahu jawabannya ya jangan bahuku dijadikan korban dong masalahnya bahuku sudah pernah jadi pasien" Dovan mengelus pelan bahunya yang cedera tersebut.
Zeta sangat senang bisa menjadi mentor untuk band adiknya. Dia pun mulai menerangkan tentang dasar - dasar menjadi band. Dalam penjelasannya, Zeta menyisipkan kata "jika ingin band kalian tampil sempurna yang paling pertama itu adalah kekompakan,kemistri, dan kerja sama".
Anggota band mendengarkan dengan seksama dan mulai memahami kekurangan mereka. Zeta meminta agar mereka mulai mencoba latihan bersama. Mereka pun mulai memainkan alat musik mereka tapi Dovan belum ikut bernyanyi. Zeta sudah menemukan kekurang mereka.
Dia pun memberikan arahan harus seperti apa,bagian ini harus bagaimana, dan nada ini harus tepat. Setelah beberapa kali percobaan akhirnya mereka mulai menjadi satu.
"Bagus! Terus tingkatkan seperti ini maka perlahan - lahan kalian akan menjadi satu kesatuan yang sempurna" Zeta memuji kemampuan band klub basket Dazzling Stars.
Lily tersenyum melihat kemampuan timnya. Tanpa sengaja mata Lily tertuju pintu gedung olahraga dan mendapati suaminya memasuki gedung.
"Sayang!" Lily berlari ke arah Edward.
"Hati - hati baby" Edward menangkap Lily kemudian menggendongnya.
__ADS_1
Seketika orang - orang yang ada disana menjadi nyamuk bagi pasangan suami istri tersebut. Dovan berpura - pura fokus pada kertas berisikan lirik sedangkan yang lain berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan pemandangan tersebut.
"Kapan kamu datang? Barusan? Mana yang aku minta?" Lily melontarkan banyak sehingga membuat Edward men ci um bi bir karena saking gemasnya.
"Iya barusan aku sampai dan aku sudah membawakan apa yang baby minta" Edward mengangkat tangannya yang memegang tas plastik berisikan berbagai cemilan dan minuman.
Lily bertepuk tangan ria kemudian turun dari gendongan Edward. Dia menarik tangan suaminya agar lalu segera duduk di bangku panjang. Tangan Lily mengambil tas plastik tersebut kemudian memulai memakan cemilannya.
"Sudahlah! Ayo lanjutkan latihan kalian dan jangan terfokus pada ibu hamil ini" Zeta mulai mengarahkan kembali anak - anak band tersebut.
Band tersebut kembali lagi berlatih tapi kali ini Dovan ikut bernyanyi. Perlahan - lahan mereka mulai menyatu dan Dovan mampu mengikuti instrumen. Zeta kagum melihat kemampuan yang dimiliki para pemain basket tersebut.
Setelah satu jam lebih berlatih akhirnya band tersebut bisa menjadi satu. Mereka memutuskan untuk berhenti berlatih dan beralih ke latihan basket mereka karena sekitar satu bulan lagi mereka ada pertandingan tingkat nasional.
Dovan dan Jia duduk saling bersandar sedangkan yang lainnya hanya duduk di dekat kursi panjang. Lily memberikan minuman yang dia punya kepada yang lain.
"Makasi bumil yang cantik" ucap Jia yang menerima minuman yang diberikan Lily.
"Terima kasih Lily" Dovan juga menerima minuman.
Setelah beberapa menit beristirahat mereka memulai latihan basket. Zeta berpamitan kepada yang lainnya dan memberikan semangat agar bisa menampilkan penampilan yang sempurna. Semuanya menunduk hormat lalu mengatakan terima kasih. Lily yang masih menempel kepada Edward hanya melambaikan tangan saja.
"Sayang~.... Aku laper..." ucap Lily dengan wajah imut mengembung.
"Ini kan ada jajan, baby mau yang lain? Baby mau makan apa?" Edward mengelus kepala Lily.
"Mau makan bakso, nasi goreng tapi yang pedes" Lily kembali dengan wajah imutnya ditambah dia mendusel di lengan Edward.
"Baiklah tunggu disini ya" Edward yang hendak beranjak ditahan oleh Lily.
"Mau ikut".
__ADS_1
"Jangan baby! Kamu masih ada latihan masa mau ninggalin timmu?".
"Biarin aja! Mereka bisa latihan sendiri lagipula ada Sean sama Dovan".
Edward mengangkat alis sebelah yang pertanda memberikan kode kepada Sean. Adiknya membalas dengan anggukan kepala.
"Ya sudah kalau begitu" Edward menggenggam tangan Lily kemudian mengajaknya pergi ke kantin untuk membeli apa yang diminta Lily.
Ibu hamil sangat senang saat diajak ke kantin. Sean hanya geleng - geleng kepala saat melihat kegemasan kakak iparnya. Mereka tetap melanjutkan latihan walaupun tanpa Lily.
Dalam perjalanan menuju kantin, Edward melihat suasana kampus yang begitu ramai yang mengingatkan dirinya di masa - masa dia kuliah dulu. Lalu suasana nostalgia dia hilang ketika melihat wajah Max. Dosen populer itu sepertinya sedang memeriksa sesuatu yang terjadi pada mahasiswinya di sebelah sana.
"Kak Max kenapa ya? Dia kelihatan sangat sibuk" tanya Lily yang juga memperhatikan Max.
"Aku juga tidak tahu, sudahlah jangan fokus ke dosen menyebalkan itu! Ayo ke kantin!" Edward berjalan lebih cepat kemudian Lily hanya bisa mengikuti dari belakang.
Sesampainya di kantin, Lily duduk di salah satu meja sambil menunggu Edward memesan makanan. Saat sedang menunggu suaminya, Lily melihat Max dan Yuri yang berjalan bersebelahan. Mereka berdua harus terlihat seperti dosen dan mahasiswi biasa tapi Max sangat ingin menggenggam tangan Yuri.
"Heyyy!!! Yuri! Sebelah sini!" Yuri menoleh ke arah sumber suara yang merupakan Lily yang memanggilnya.
Yuri mengatakan kepada Max kalau dia mau menghampiri Lily. Max memberikan izin kemudian berjalan ke meja yang ditempati Lily.
"Hai! Bagaimana ulanganmu? Apakah berjalan lancar?" tanya Yuri yang duduk dihadapan Lily.
"Tentu saja berjalan lancar tapi aku belum tahu hasilnya" jawab Lily.
"Hmmm.... Sama siapa kau disini? Sendirian?".
"Sama tuuu...." Lily memajukan mulutnya ke arah Edward tempat memesan makanan.
Yuri mengangguk paham. Dua gadis mulai berbicara tentang keseharian mereka selama beberapa hari belakangan ini. Edward melihat Max yang berdiri di sebelahnya. Max terkejut melihat ekspresi Edward yang terlihat seperti suami yang menunggu istrinya belanja di pasar.
__ADS_1
Makasi yang mampir dan baca
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>