Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Ketemu si Kembar


__ADS_3

Lily memiliki jadwal yang sangat padat tanpa ada jadwal istirahat. Seharusnya jam sebelas siang menjadi waktu dia beristirahat tapi dia mengganti jadwalnya demi klub basketnya. Lily mengganti jadwal kelasnya karena ada latihan pagi dan sore nanti. Walaupun begitu melakukannya dengan baik tanpa ada teguran dari dosen.


Nona Lawrence tersebut kelas terakhirnya berakhir jam empat sore. Untungnya kelas terakhirnya adalah dosen tercinta kita yaitu pak Max. Lily terlihat sangat fokus selama jam kelas berlangsung. Namun ada sesuatu aneh yang terjadi pada pak Max yaitu dia mengakhiri kelasnya setengah jam lebih awal. Semuanya bertanya - tanya dengan tindakan pak Max.


"Pak Max! Kenapa kelas berakhir cepat sekali? Kami masih ingin mendengar penjelasan bapak dengan suara yang deep itu" tanya seorang mahasiswi yang juga sedikit menggombali Max.


"Hahaha... Sebenarnya saya memiliki jadwal meeting dengan teman saya jadi sengaja mengakhiri kelas lebih awal. Ya... Dari pada kelasnya kelas kosong ya saya masuk sebentar beri pembahasan saja lumayan waktu kalian jadi tidak sia - sia. Ya sudah semuanya saya tutup kelas hari ini! Kalian boleh keluar" jadwal Max yang menutup bukunya kemudian pergi meninggalkan kelas.


Lily segera mengemasi barang - barangnya untuk segera sampai ke lapangan outdor. Tapi tiba - tiba dia ditahan oleh Brian dan dua temannya.


"Kau mau kemana,Lily? Apa tidak mau ke kantin dulu?" tanya Brian yang melihat Lily sangat terburu - buru.


"Maaf aku tidak bisa! Aku harus segera ke lapangan basket sekarang! Jika kalian ingin menonton silakan saja aku pergi dulu,bye!" jawab Lily yang berjalan dengan terburu - buru.


Brian memberi kode ke dua temannya untuk mengikuti Lily. Mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke lapangan basket juga. Namun, Brian mendapat pesan chat dari sang ibu kalau dia disuruh pulang karena ada tuan Hazel yang bertamu ke rumahnya. Terpaksa dua temannya ikut pulang juga.


...****************...


Lily yang sudah di lapangan menyiapkan peralatannya lalu duduk sebentar. Bumil tersebut sangat lelah dengan kegiatan kampusnya hari ini. Dia melihat sekeliling dan belum ada yang datang sama sekali.


"WOI AWAS!" teriak seorang pria yang memperingati Lily jika ada bola yang akan mengenainya.

__ADS_1


Lily menoleh ke sumber suara dan mendapati Sean yang menangkap bola basket yang akan mengenai wajah Lily. Sean melempar kembali bola tersebut ke pemilik bola. Tapi ada keanehan dari orang yang melempar bola tadi. Orang yang melempar bola tadi menghilang entah kemana.


"Kak Lily! Kemana orang yang tadi? Apa kakak melihatnya?" tanya Sean yang melihat sekeliling mencari keberadaan orang tersebut.


"Aku tidak tahu dan aku tidak melihatnya pergi" jawab Lily yang ikut mencari keberadaan orang tersebut.


"Woiii!!! Sebelah sini!" tiba - tiba muncul suara pria dari sisi kanan lapangan.


Sean langsung melempar bola basket tersebut ke orang yang berteriak tadi. Orang tersebut tersenyum melihat Sean dan Lily. Kemudian muncul secara tidak terduga orang lain dengan wajah yang sama dengan orang yang memegang bola. Lily menyipitkan matanya dan terkejut mengingat siapa dua orang tersebut.


"Kak Hiko! Kak Hino! Astaga lama tidak bertemu!" sapa Lily yang kepada dua orang tersebut yang ternyata ada kakak sepupunya.


"Kau lama menyadari kami Lily! Apa kau sudah lupa kepada kami? Mentang - mentang bertahun - tahun kita tidak bertemu kau langsung tidak ingat kami" Hiko menghampiri Lily yang duduk di kursi pinggir lapangan.


Hiko dan Lily hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah Hino. Bukannya menuruti sang kembaran Hiko memutuskan duduk di sebelah Lily dan sedikit menyinggung tentang masa lalu mereka saat masih kecil.


"Lama tidak bertemu Lily! Bagaimana kabarmu?".


"Aku baik kak, kakak bagaimana?".


"Aku baik juga tapi tidak dengan ayah dan ibu".

__ADS_1


"Ada apa dengan paman dan bibi? Apa mereka berkelahi lagi?".


"Iya! Itu semua gara - gara warisan. Kakek dari pihak ibukku ingin mewariskan kekayaanya kepada cucunya yang lain dan itu membuat mereka marah. Ayah merasa tidak terima karena dua anaknya tidak mendapat sedikit warisan dan ibu hanya memikirkan kekayaan saja bukan kebahagiaan kami".


"Apa kakak tidak mau warisan? Lumayan loh ".


"Hehehe... Tapi menurutku percuma saja karena jika kakek memberikan perusahaannya kepada kita berdua yang ada tidak ada perkembangan sama sekali. Kau tahu kan kalau kita berdua kurang paham di bidang bisnis".


"Iya juga sih... Tapi apa salahnya mencoba ? Kan kakak bisa saja belajar".


"Tidak bisa! Percuma, dulu kakak pernah mencobanya namun kakak tidak paham sama sekali,hehehe...".


"Kak Hiko... ".


Lily merasa kasihan terhadap kakak sepupunya tersebut yang dimana tidak bisa menjadi andalan keluarga. Hiko dan Hino sudah menggeluti dunia basket sejak usai lima tahun berkat sang paman yang merupakan pelatih tim basket. Si kembar ini belajar banyak dari sang paman dan mengembangkan teknik - teknik baru. Sayangnya orang tua Hiko dan Hino tidak menyetujui dua anaknya menjadi pebasket. Kalau dipikir - pikir menjadi pebasket memiliki pemasukan yang besar apabila memiliki skill yang bagus.


Hino juga ikut duduk di sebelah Lily. Si bungsu tersebut juga ikut nimbrung di perbincangan mereka.


"Ada apa ini? Apa yang kalian bahas?" tanya Hino mengenai topik pembicaraan.


"Tidak ada! Hanya berbicara tentang kabar masing - masing" jawab Hiko yang mengalihkan topik.

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2