
Tangan Lola gemetar setelah membaca surat tersebut. Dia tidak menyangka kalau tindakannya akan mengakibatkan hal seperti ini. Lola harus kehilangan satu adik sepupunya karena ulah dia. Merasa frustasi dia berlari entah kemana asalkan tidak dilihat oleh siapapun.
............
Sore pun tiba yang sudah menunjukkan pukul setengah enam. Lily sudah menuntaskan semua kelasnya hari ini. Dia berjalan bersama Yuri menuju ruangan Max karena ada sang suami disana yang dimana dia sedang berbincang sebentar dengan Max.
Yuri menceritakan kegiatan hari ini kepada Lily begitu juga sebaliknya. Semakin hari mereka semakin dekat,mereka sudah seperti kakak adik dibandingkan teman kuliah.
Mereka pun telah sampai di depan ruangan Max. Yuri mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Siapa itu?" tanya Max dari dalam.
"Tebak kami siapa?" jawab Lily dan Yuri secara bersamaan.
Max langsung membukakan pintu untuk dua wanita tersebut. Lily berlari mencari sang suami yang sedang duduk di sofa. Yuri mengalungkan kedua tangannya di leher Max. Sebelum dilihat oleh orang lain, Max menutup pintu tersebut rapat - rapat.
Di dalam ruangan tersebut ada dua pasangan,dua!. Pasangan pertama adalah pasangan yang sudah menikah yang dimana sang suami sedang mengelus perut sang istri yang sedang berisi. Sedangkan pasangan kedua masih pacaran dan sedang bercum bu.
"Aku sangat merindukanmu,baby. Apa baby merindukanku juga ?" tanya Edward yang memangku Lily sambil mengelus perut istrinya.
"Aku sangat sangat sangat merindukanmu. Nanti sampai rumah mau cuddle seharian terus dielus perutku" jawab Lily yang memengangi tangan Edward yang mengelus perutnya.
Oke guys mari kita beralih ke pasangan yang baru pacaran.
"Apa kau lelah,Yeppie? Atau punya masalah selama pembelajaran?" tanya Max yang memeluk pinggang Yuri.
"Hari ini aku lumayan lelah tapi aku tidak memiliki masalah selama pembelajaran berlangsung,semuanya aman kok Maxiie" jawab Yuri yang mengecup bibir Max.
Kedua pasangan tersebut hanya fokus kepada dunia mereka masing - masing. Yuri tiba - tiba saja teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Lily.
"Lily! Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Yuri yang menoleh ke arah Lily.
"Boleh! Mau nanya apa?" jawab Lily yang sibuk dengan dunianya bersama Edward.
__ADS_1
"Apa kau bisa menceritakan kisahmu selama melewati lima ujian tersebut?".
Lily terdiam mendengar pertanyaan Yuri. Dia mengingat kembali dalam - dalam momen saat itu. Saat itu Lily harus berjuang mati - matian demi mendapatkan restu dari keluarga besar dan tanpa ditemani oleh Edward.
"Besok saja ya? Besok kan tanggal merah atau minggu saja? Masalahnya hari mulai malam" Karina merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Yuri tadi.
"Minggu aja mumpung libur kedua pasangan kita" Yuri tidak mau memaksa temannya tersebut untuk menceritakan perjuangannya.
"Oke kalau begitu! Hari minggu di rumahku aku mau ajak kalian acara makan - makan" Lily melebarkan tangannya saking senangnya.
Yuri mengiyakan ucapan Lily. Selesai membahas topik tadi kedua pasangan itu pulang ke rumah masing - masing.
...****************...
(Author langsung skip aja jadi hari minggu langsung,supaya para readers author gak jadi penasaran terus,hehehe...).
Hari minggu pagi Lily dan Edward tidur bersebalahan yang dimana keduanya masih bermalas - malasan. Lily hanya mengenakan linge ri berwarna putih dan Edward hanya menggunakan celana boxernya. Ibu hamil itu sengaja memakai pakaian tersebut karena dirinya merasa kepanasan tadi malam dan Edward mengizinkannya asalkan Lily tidur di dalam pelukannya kemudian ditutupi selimut.
"Pagi my baby,cup! Pagi Pinpin,cup!" sapa Edward kepada Lily yang mengecup dahi dan perut Lily.
Keduanya mendudukkan tubuh masing - masing lalu bersandar pada kepala ranjang. Tangan Edward mengelus perut bulat Lily.
"Aku mau mandi dulu sayang nanti yang lain pada datang" ucap Lily yang meminta izin kepada Edward.
"Siapa saja baby undang?" tanya Edward yang memeluk pinggang Lily dan melanjutkan mengusap perut Lily.
"Yuri,Max,Sean,dan kak Zeta" jawab Lily yang menyebutkan nama tamu undangan yang akan datang ke acaranya nanti.
"Hmmm... Okelah ayo kita mandi!" Edward beranjak dari kasur sambil menggendong Lily menuju kamar mandi.
Mereka berdua mulai membersihkan diri dan setelah itu berpakaian sekalian bersiap - siap. Lily meminta Edward menggunakan baju dengan warna yang sama dengan miliknya. Hari ini ibu hamil kita menggunakan baju warna abu dan bawahannya menggunakan celana kebesaran berwarna coklat muda. Edward menggunakan warna baju yang sama dengan Lily lalu dipadukan celana pendek hitam.
Mereka berdua menuju dapur untuk memulai persiapan acara mereka. Tapi Edward merasa ada yang aneh dengan persiapan yang dilakukan Lily,ia mengira sang istri akan mengeluarkan banyak peralatan dan bahan namun yang dikeluarkan hanyalah pisau dengan tiga mangkuk.
__ADS_1
"Ayo ke taman depan!" ajak Lily yang langsung menarik tangan suaminya menuju taman depan dengan membawa tiga mangkuk dan satu pisau.
Di taman depan,mereka berdua mendapati Sean yang baru datang dengan satu kantung plastik mangga muda. Lily langsung sangat senang bisa melihat barang yang dimintanya berhasil dibawakan oleh adik iparnya.
"Makasi Sean!" ucap Lily yang mengambil kantung plastik tersebut.
"Sama - sama kak" jawab Sean.
Kemudian Lily duduk diantara rerumputan di tamannya. Edward dan Sean mengikuti apa yang dilakukan Lily. Ibu hamil itu mulai mengupas kulit mangga lalu meminta Sean untuk mencuci mangga yang sudah dikupas. Sudah selesai dicuci oleh Sean,Lily meminta Ryan untuk memotong mangga tersebut panjang.
Semua persiapan sudah selesai dan mangga sudah dipotong sekarang saatnya untuk memakannya. Lily memberikan satu kepada Edward dan satu kepada Sean.
"Kalau begitu... Selamat makan!" ucap Lily yang memakan mangga muda tersebut tanpa peduli dengan rasanya.
"Hmmm... Enak sekali! Ayo kalian berdua makan mangganya" Lily kembali mengambil potongan mangga.
Edward dan Sean memandangi potongan tersebut lalu membayangkan bagaimana rasanya saat menyentuh lidah. Sean bergeser sedikit dari tempat duduknya kemudian membisikkan sesuatu kepada Edward,
"Kak! Apapun rasanya kakak harus bilang enak,ok?".
Edward hanya.mengangguk saja setelah mendengar bisikkan Sean. Mereka berdua memberanikan diri memakan potongan tersebut. Saat potongan tersebut sudah menyentuh lidah mereka seketika wajah mereka berubah kusu seperti orang keaseman. Sean terjatuh dari duduknya lalu menggeliat seperti cacing dan Edward menggunakan tangan kanannya untuk menompang tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Bagaimana ? Apa enak?" tanya Lily dengan excitednya.
"Hmmm... Enak sekali kak! Mantap!" jawab Sean walaupun wajahnya masih muka kemaseman..
"Bener kata Sean! Mangganya enak sekali" jawab Edward yang memberikan acungan jempol.
Di saat yang bersamaa juga Max,Yuri, dan Zeta datang. Mereka bertiga sedikit kebingingan dengan ekspresi mereka.
"Hm? Wahhh... Ada mangga muda! Aku minta ya Lily" ucap Max yang mengambil satu potong mangga.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=>>>>