Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Permintaan Maaf Brian


__ADS_3

Keesokan paginya Lily kembali pergi kuliah bersama Yuri tapi dalam pengawasan Sean. Lily masih sedikit takut dirinya akan kejar lagi oleh Brian untungnya sekarang ad Sean yang mengawasi dan Yuri membantu melindungi Lily. Yuri mengantar Lily sampai kelasnya dengan selamat karena ini merupakan perintah dari Sean.


"Lily! Jika Brian bertanya tentang kejadian dua hari yang lalu jawab saja "Aku tidak ingin membahas itu! Juga aku sudah memiliki kekasih dan itu bukan urusanmu!",apa kau mengerti?" Yuri memberikan pemahaman jika Brian berani mendekati atau bertanya kepada Lily.


Tuan putri Lily mengangguk paham dengan ucapan Yuri tersebut. Yuri menunggu Lily masuk ke kelasnya sampai benar - benar dia sudah berada di ruang kelasnya. Melihat Lily sudah berada di ruang kelasnya Yuri melambaikan tangan kepada Lily kemudian pergi dari sana. Lily sedikit lega ketika ada Yuri atau Sean di sisinya tapi untuk di kelas dia harus berjuang sendiri.


Lily melihat tiga pria tersebut datang dengan mata Brian tertuju padanya. Brian berjalan cepat menghampiri Lily kemudian menanyakan hal yang terjadi dua hari lalu.


"Lily! Jelaskan kejadian dua hari yang lalu! Apa maksdumu mengenai kekasih? Apa kau tidak ingin menjelaskannya?".


"Aku tidak ingin membahas itu! Aku memang benar memiliki kekasih dan itu bukan urusanmu,mengerti?" jawab Lily yang melakukan hal seperti dikatakan oleh Yuri tadi.


"Apa maksudmu?! Apa aku sebagai teman tidak bisa mengetahuinya?!" Brian masih belum puas dengan jawaban Lily dan bertanya lagi.


"Itu urusanku! Mau aku punya kekasih atau tidak itu urusan pribadiku dan jika seseorang memiliki rahasia tersendiri terserah mereka untuk bercerita kepada teman atau keluarga" Lily kembali menjawab pertanyaan Brian dengan cara lebih tegas.


Brian merasa kesal mendengar jawaban Lily dan dia memutuskan untuk ke tempat duduknya. Leo dan Tito tidak pernah menyangka kalau temannya akan kalah bicara oleh seorang wanita. Tito melewati Lily dengan senyuman begitu juga dengan Leo. Lily membalas senyuman Leo dan Tito sebagai tanda sopan santunnya. Mahasiswa dan mahasiswi yang ada di ruangan kelas itu harus menunggu beberapa menit untuk dosennya datang.


...****************...


Di gedung perusahaan Edward, sang direktur sedang menikmati secangkir kopi dan bersandar di kursi kebanggaannya dengan setumpuk kertas di mejanya. Setumpuk kertas itu Edward perlu menandatangi dan membaca jika ada yang minta persetujuannya. Edward sedikit pening melihat tumpukan kertas tersebut tapi ya sudahlah namanya pekerjaan sebagai direktur sudah resiko.


"Tok... Tok... Tok... Edward! Ibu masuk!" suara wanita paruh baya mengetuk pintu ruangan Edward kemudian masuk ke ruangan tersebut.


"Ya ampun nak! Kenapa banyak sekali pekerjaanmu?! Lihat kertas - kertas ini! Astaga! Kemana dua asistenmu?" tanya wanita paruh baya tersebut yang ternyata merupakan ibu Kiana

__ADS_1


"Ibu! Ini sudah resikoku! Aku kan sebagai pewaris perusahaan ini harus bersedia menerima resiko ini" jawab Edward yang melepas pekerjaannya sebentar untuk memeluk ibunya.


"Dimana asistenmu? Kenapa mereka membiarkan kau bekerja sendirian?" Ibu Liana mendudukkan tubuhnya di sofa sambil mempertanyakan asisten Edward.


"Mereka juga banyak pekerjaan di ruangannya jadi,tidak mungkin mereka meninggalkan pekerjaan yang disana demi pekerjaan yang disini lagipula aku bisa sendiri" jawab Edward yang menjelaskan situasi asistennya.


Ibu Liana hanya geleng - geleng kepala mendengar jawaban anaknya. Edward melihat tangan kirinya yang terpasang jam tangan mewah yang menunjukkan pukul sebelas siang.


"Kenapa ibu kesini? Apa ada hal penting?" tanya Edward yang mempertanyakan kedatangan ibu Kiana.


"Jadi begini Edward... Teman - teman ibu terus bertanya kapan kau menikah tapi mereka kan tidak mengetahui kalau kau sudah menikah. Ibu hanya bertanya sampai kapan kalian menyembunyikan hubungan ini? Masalahnya banyak orang di luar sana tidak mengetahui rahaisiamu ini" tanya ibu Kiana yang menceritakan alasan kedatangan dia kemari.


"Tunggu Lily lulus kuliah dulu baru kita publish hubungan ini. Jika sekarang kita publikasi hubungan ini nanti Lily yang merasa tidak nyaman di kampus ,semua temannya pasti menanganggap Lily masuk kampus jalur suaminya itu hal yang tidak aku inginkan" jawab Edward yang menjelaskan alasan dirinya tidak ingin mempublikasi hubungan dia dengan Lily.


"Kau ada benarnya juga... Tapi semisal Lily hamil duluan saat di tengah semester,bagaimana?".


"Ahh!!!... Ibu ingin sekali menjadi nenek dan menggendong cucu ibu!".


"Sudahlah bu! Jangan kegirangan begitu! Lily baru saja mulai kuliahnya tidak mungkin dia akan izin hamil di awal kuliahnya nanti saat pertengahan mungkin".


"Terserah apa katamu yang penting ibu bisa menjadi nenek suatu hari nanti".


"Kalau ibu jadi nenek berarti teman - teman ibu harus memanggil ibu dengan sebutan yang lebih tua dong?".


"Enak saja! Ibu tetap dipanggil dengan nama ibu yaitu Liana".

__ADS_1


"Terserah ibu saja! Tapi jangan menekan Lily untuk meminta cucu dia itu masih harus fokus pada kuliahnya".


"Iya anakku♡~...".


Ibu Kiana sangat kegirangan saat membayangkan bagaimana dirinya menggendong cucunya nanti. Edward yang melihat ibunya melompat - lompat kegirangan hanya geleng - geleng kepala dan kembali pada pekerjaannya.


Di saat yang bersamaan pula Lily sedang memperhatikan dosennya yang sedang menjelaskan materi hari ini. Brian yang bukannya fokus ke penjelasan dosennya melainkan pandangannya fokus ke arah sang pujaan hati. Matanya sama sekali tidak bisa teralihkan oleh apa pun hanya fokus kepada Lily sampai jam pelajaran selesai.


Kelas pun selesai dengan segera Lily keluar dari ruangan tersebut untuk menghindari Brian dengan banyak pertanyaannya. Lily mempercepat langkah yang hampir sampai pada pintu keluar tapi sayangnya, tangannya ditarik oleh Brian sampai membuat Lily terbentur dada bidang Brian. Brian memegang dagu Lily lalu menghadapkannya ke wajahnya. Lily sangat berharap Yuri atau Sean datang menolongnya.


"Lily! Aku mohon jangan lari lagi! Aku minta maaf atas tindakanku kemarin! Jujur aku mengaku salah! Tolong maafkan aku!" ucap Brian yang meminta maaf kepada Lily atas perbuatannya kemarin.


Lily sedikit terkejut dengan ucapan Brian yang mengakui kesalahannya. Brian menatap Lily sangat dalam dan Lily bisa membaca kesungguhan Brian dari tatapannya.


"Dengarkan aku Lily! Aku sadar atas kesalahanku kemarin dan aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi! Aku bersumpah!" Brian kembali mengucapkan permohonan maafnya kepada Lily.


"Kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi?" tanya Lily yang menanyakan kebenaran ucapan Brian dan melepaskan pegangan tangan di dagunya.


"Iya aku berjanji!" jawab Brian dengan nada bicara bersungguh - sungguh.


"Baiklah! Kau harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi!" Lily menerima penerimaan maaf Brian dan memberi peringatan kepada Brian.


Brian sangat senang mendengar jawaban Lily yang menerima permintaan maafnya. Tito dan Leo tersenyum melihat temannya tersebut kembali bahagia atas telah mengakui kesalahannya.


Makasi yang sudah baca dan jangan lupa kasi support :) .

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2