
Di ruang tamu, Edward menceritakan semua yang terjadi ruang rektor tadi. Lily berpikir jika memang ini adalah keputusan yang tepat maka, dia akan melakukannya.
"Bagaimana? Apakah kau sudah memikirkannya?" tanya Edward yang melihat raut wajah Lily yang serius.
"Sudah! Jawabanku adalah aku menerima kesepakatan tersebut nanti kau tinggal hubungi pak rektor saja" jawab Lily dengan penuh keyakinan.
Edward tersenyum melihat keyakinan sang istri. Dia meninggalkan istrinya sebentar untuk memberitahu keputusan ini kepada pak rektor.
Melihat suaminya yang pergi Lily berlari ke halaman depan. Lily melihat para pengawal Edward sudah membersihkan semua bekas kebakaran tadi. Tiba - tiba muncul sebuah ide jail di otak Lily.
Nona Lawrence tersebut mengambil selang air kemudian memasangkannya ke salah satu keran diluar. Dia arahkan selang tersebut ke salah satu pengawal lalu menyemprotnya dengan kekuatan air yang keras.
"Hahahaha... Rasakan kalian semua!" Lily tertawa keras saat berhasil menyemprot setiap pengawal yang ada disana.
Para pengawal Edward lari berhamburan kesana kemari untuk menghindari semprotan air. Sayangnya Lily tidak membiarkan satu pun pakaian pengawal kering. Lily menyemprot ke segala arah sambil tertawa.
Setelah selesai menghubungi pak rektor, Edward kembali ke ruang tamu. Tapi Edward tidak menemukan sang istri di ruang tamu padahal dia meninggalkannya cuman beberapa menit. Kemudian ia mendengar suara tawa sang istri dari luar. Edward segera menuju halaman depan dan mendapati istrinya bermain semprot - semprotan bersama para pengawalnya.
"Astaga nona Lawrence! Siapa yang melakukan ini?! Katakan!" tanya Edward yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lily.
Si pelakunya hanya tersenyum tidak bersalah. Bukannya mengakui kesalahannya Lily menyemprot Edward yang tepat mengenai kepalanya. Edward menahan serangan air tersebut dan berjalan mendekati Lily.
"Kesini kau ibu hamil nakal! Dapat!" Edward berjalan perlahan kemudian memeluk pinggang sang istri dan menggendongnya.
"Aduh sayang! Ngapain aku ditangkap?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Hahahaha..." setelah mengatakan tersebut Lily mengakhirinya dengan suara tawa yang renyah.
Mereka berdua tertawa bersama dengan selang air yang terus mengeluarkan air. Edward membawa Lily masuk untuk mengganti pakaian. Lily terus menolak diajak masuk karena dirinya masih ingin bermain air.
"Baby... Ayo masuk! Kita ganti pakaian! Kalau kamu tidak ganti yang ada nanti kamu masuk angin" ucap Edward yang terus menarik tangan Lily.
"Tidak mau! Pokoknya tidak mau! Mau main dulu!" bantah Lily yang mendudukan dirinya di rumput di halaman tersebut.
Edward yang melepas tarikannya dan membiarkan istrinya duduk. Tidak ada ide apapun keluar dari otak Edward sampai pada akhirnya dia melihat keran air yang masih menyala. Lily yang masih fokus menyemprot sana sini tanpa sepengatahuannya sama sekali Edward berjalan perlahan ke keran yang dipasangi selang. Edward mematikan keran tersebut kemudia lari dari sana.
Lily yang melihat tidak ada yang keluar dari selang segera mengecek keadaan keran. Benar saja kerannya dimatikan dan dia sudah mengetahui siapa pelakunya.
__ADS_1
"EDWARD!!!... KENAPA DIMATIIN?! AKU MAU MAIN! EDWARD!" teriak Lily yang menyebut namanya suaminya bukan dengan nama panggilan.
Edward hanya tertawa melihat kemarahan sang istri yang terlihat imut di matanya. Lily beranjak dari sana kemudian masuk ke rumahnya. Edward bisa melihat istrinya yang ngambek segera menyusul.
"Dimana istriku? Apakah dia disekitaran sini?" tanya Edward yang menoleh sana sini.
Mata Edward melihat Lily yang berjalan menuju kamar tidur. Edward berlari mengejar sang istri tidak lupa untuk membujuknya.
Di kamar tidur,Lily membuka semua pakaiannya tanpa dia sadari kalau Edward masuk saat dirinya membuka celananya. Lily langsung menarik selimut kemudian menutupi seluruh tubuhnya.
"Tidak perlu malu sayang aku sudah melihat semuanya jadi tidak perlu khawatir" Edward langsung memeluk Lily yang tanpa sehelai kain pun.
"Pergi sana! Ish ganggu aja!" Lily mendorong Edward untuk menjauh sekuat tenaganya.
"Jangan ngambek my baby... Nanti suaminya ini main sama siapa ? Apa kamu tidak khawatir?".
"Ini semua gara - gara kamu! Aku lagi main tiba - tiba aja kamu matiin kerannya! Pergi sana!".
"Baby aku minta maaf... Aku terpaksa melakukan hal itu karena demi kesehatanmu jika kau terus bermain air seperti tadi kau bisa sakit".
Lily berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Edward. Sedangkan sang suami hanya bisa menatap sang istri yang masih marah padanya. Edward harus memutar otaknya untuk membuat sang istri tidak marah padanya lagi.
"Oh iya! Kalau wanita lagi hamil pasti lagi ngidam makanan yang enak - enak dan agak masem sepertinya aku harus memesan makanan" batin Edward di dalam hatinya mengenai rencananya.
...****************...
Lima belas menit kemudian Lily keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh yang lebih bersih. Lily tidak melihat suaminya dimana pun. Mungkin dia sedang merenungkan kesalahannya tadi. Lily mula berpakaian dan menandanani dirinya.
Sesudah bersih - bersih diri Lily turun ke ruang tamu. Saat Lily berjalan di ruang tamu dia mencium aroma makanan yang harum. Tanpa basa basi Lily langsung menuju dapur untuk melihat makanan tersebut.
Di dapur, Lily melihat banyak sekali makanan yang beraneka macam. Tapi....... Matanya langsung lesu melihat kehadiran suaminya di ujung meja makan.
"Apa kau tidak suka? Ini enak loh".
"Aku masih marah padamu!".
__ADS_1
Lily tidak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat beraneka macam makanan. Edward sudah menduga kalau Lily akan tergiur dengan makanan ini.
"Baby~ aku minta maaf atas yang tadi besok kita berenang di kolam renang sungguhan,ya? Bukan seperti tadi" ucap Edward dengan ekspresi wajah yang memelas.
"Benarkah?! Kita akan berenang besok?!" tanya Lily dengan mata berbinar.
"Iya besok hari sabtu kita pergi berenang tapi kau harus memaafkan aku dulu,oke?".
"Oke kalau begitu! Boleh aku makan?".
"Tentu saja boleh".
Lily yang mendengar persetujuan dari suaminya langsung duduk di kursi kemudian memakan makanan yang di atas meja. Edward akhirnya bisa bernafas lega setelah istrinya tidak ngambek lagi. Tetapi saat Edward akan duduk di meja makan tiba - tiba dihalangi oleh Lily.
"Eit! Sayang tidak boleh ikut makan!" ucap Lily yang menggunakan tangannya menghentikan Edward.
"Kenapa? Aku ingin hanya menemanimu makan aku tidak ikut makan" jawab Edward yang mengangkat kedua tangannya.
"Tetap tidak boleh! Pinpin tidak mengizinkannya!" Lily tetap melanjutkannya makan sambil menahan suaminya.
"Siapa Pinpin?".
"Pinpin itu nama janin ini, aduh! Bagaimana kamu ini?".
"Ya... Aku tidak tahu baby makanya aku bertanya tadi".
"Mulai sekarang kita memanggil janin ini dengan nama Pinpin,oke?".
Edward hanya mengangguk iya agar istrinya senang. Dengan terpaksa Edward harus berdiri melihati Lily makan bersama Pinpin.
MAAF YA GUYS YG KMRN CUMAN SETENGAH AUTHOR TULIS SEKARANG AUTHOR SUDAH TULIS FULLNYA, SEKALI LAGI AUTHOR MINTA MAAF.
Terima kasih yang sudah mampir dan baca
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>
__ADS_1