Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Rencana belajar masak di rumah Lily


__ADS_3

AUTHOR INGIN MENGATAKAN MINTA MAAF ATAS TIDAK UPDATE CHPATER KEMARIN KARENA REVIEW MANGATOON KELAMAAN. SEBAGAI GANTINYA AUTHOR BAKAL MELAKUKAN CRAZY UPDATE SEKIAN TERIMA KASIH.


Pagi pun tiba yang dimana burung - burung berkicauan, tupai mulai mencari makanan,dan matahari semakin bersinar. Tapi ada masalah terjadi kediaman Edward. Masalahnya adalah Edward harus pergi ke negara J selama lima hari dan Lily tidak mengizinkan suaminya pergi.


"Tidak... Huhu.... Aku tidak mau kamu pergi pokoknya! Aku lagi hamil sayang masa aku ditinggal? Sayangku tidak boleh pergi!" ucap Lily yang menangis di atas kasur.


"Tapi aku harus pergi baby karena aku pekerjaan penting disana" jawab Edward yang menyiapkan semua keperluannya.


"Tidak! Tidak! Tidak mau pokoknya! Sayangku harus diam di rumah tidak boleh pergi! Huaaaa...." Lily masih menangisi tentang agenda Edward.


"Ayolah baby! Jangan menangis seperti ini! Ini proyek besar disana makanya aku harus pergi" Edward sudah selesai menyiapkan semua keperluannya di dalam koper.


"Sayang... Aku tidak mau kamu pergi! Nanti aku kesepian... Sepentingan apa sih proyekmu itu? Apa jangan - jangan kamu selingkuh? Huhuhu...." Lily langsung memeluk Edward yang menghampiri dirinya.


"Aku tidak selingkuh baby! Memang benar ada proyek besar disana lagipula aku tidak pergi sendirian aku perginya sama papa,tidak apa - apa kan?" Edward mengelus punggung Lily untuk menenangkannya.


"Huaaa... Hiks... Kamu boleh pergi dengan syarat kamu harus tetap chatting dan video call sama aku,itu harus!" Lily perlahan - lahan menerima agenda suaminya.


"Iya baby! Aku akan chatting dan video call sama kamu saat aku disana nanti" Edward memberikan kecupan ringan kening dan menghapus air Lily.


Edward merasa tidak nyaman meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Jadi,Edward mengizinkan Lily mengajak Yuri menginap di kediamannya selama dia pergi. Lily merasa sedikit lega karena ada temannya bermain.


Keduanya pergi ke bawah untuk sarapan bersama. Lily terlihat tidak bersemangat saat sarapan. Dia memainkan makanannya kesana kemari.


"Baby! Jangan dimainin makanannya! Ayo dimakan itu!" ucap Edward yang memperingati istrinya.


Lily hanya mengangguk saja. Dia memakan sarapannya dengan tidak bersemangat. Edward mulai mengkhawatirkan kondisi istrinya tersebut.


Selesai sarapan mereka berdua sudah bersiap - siap untuk berangkat ke bandara. Lily masih kelihatan lemas walaupun di dalam mobil. Edward memberikan gelas minuman yang biasa Lily bawa.


"Jangan lemas begitu baby! Nanti kan ada Yuri yang menemanimu jadi jangan lemas begini,ya?" Edward berusaha memberikan semangat kepada istrinya.


"Aku tidak mau kuliah!" ucap Lily secara spontan.


"Kenapa tidak mau sekolah? Kemarin sudah tidak pergi kuliah masa sekarang tidak pergi" tanya Edward mengenai ucapan istrinya.

__ADS_1


"Males saja,boleh ya?" jawab Lily yang masih lemas.


"Tidak boleh! Harus pergi kuliah! Supaya baby tidak bosan di rumah terus dan Pinpin ikut senang nanti" Edward membenarkan tas Lily yang turun.


Lily hanya mengangguk kemudian masuk ke mobil. Edward bisa memahami perasaan Lily sekarang. Pasti bagi Lily sangat berat ditinggal suaminya keluar kota yang dimana kondisi dia lagi hamil. Tapi ya sudahlah namanya kerjaan.


Selama perjalanan mood Lily mulai naik setelah meminum susu hamilnya. Lily tampak bahagia meminum susunya. Rasa khawatir Edward mulai hilang sedikit demi sedikit.


Mobil Edward berhenti di depan kampus. Edward mencium kening lalu turun ke bi bir Lily. Merasa tidak rela ditinggal pergi Lily memeluk suaminya sebelum dia berangkat ke bandara. Edward membukakan pintu untuk Lily. Setelah itu mobil Edward kembali melaju menuju bandara.


Lily berjalan masuk ke kampusnya dengan perasaan sedih. Yuri yang melihat Lily berjalan sendirian segera menghampiri.


"Lily! Hei! Ada apa denganmu? Kau kelihatan sedih" tanya Yuri yang khawatir dengan kondisi Lily.


"Yuri... Hummm... Edward pergi ke negara J selama lima hari dan aku ditinggal sendirian" jawab Lily dengan wajah sedihnya.


"Kasihannya Lilyku... Cini peyuk dulu!" Yuri merentangkan tangannya dan disambut pelukan hangat oleh Lily.


Yuri menepuk pelan punggung Lily agar merasa lebih tenang. Selesai berpelukan Yuri mengantar Lily ke kelasnya. Selama perjalanan menuju kelas,Lily memberitahu Yuri mengenai izin yang diberikan Edward.


"Benarkah?! Asyik! Aku harus memberitahu ayahku terlebih dahulu" Yuri merasa senang mendengar ucapan Lily.


"Baguslah! Nanti saat kau pulang aku akan mengantarmu pulang kemudian nanti kau minta izin sama ayahmu setelah dapat izin baru kita berangkat ke rumahku" ujar Lily yang menjelaskan rencana saat mereka akan pulang nanti.


"Itu bagus! Nanti aku minta izin sama ayahku" Yuri dan Lily saling memberikan tos setelah memikirkan rencana tersebut.


Keduanya kembali fokus ke berjalan menuju kelas. Yuri tampak bahagia yang dimana akhirnya dia bisa bermain ke rumah temannya.


Mereka pun akhirnya sampai di kelas. Yuri melambaikan tangannya kepada Lily lalu berjalan meninggalkan kelas. Lily juga melambaikan tangannya kepada Yuri.


...****************...


Yuri berjalan menuju kelasnya tapi tiba - tiba tubuhnya ditarik memasuki satu ruangan. Mata Yuri melihat sekeliling untuk mencari siapa pelaku sebenarnya. Dia mendapati Max sedang duduk dj kursi kerjanya.


"Apa pak Max yang menarikku?" tanya Yuri yang menghampiri Max.

__ADS_1


"Itu benar! Aku saat ini sedang stress jadi aku perlu booster energiku yaitu dirimu,Yuri" jawab Max yang berdiri kemudian menyentuh wajah Yuri.


"Apa yang kau mau sayangku?♡~" Yuri memengang tangan Max.


"Aku mau pelukan dari tubuhmu" Max mengitari mejanya untuk tidaj menyisakan jarak diantara dirinya dan Yuri.


"Silakan saja pak!" Yuri meretangkan tangannya dan siap untuk dipeluk.


Max tersenyum miring melihat tindakan Yuri. Dia menarik tangan Yuri kemudian Max mendudukkan tubuhnya di sofa dan Yuri duduk dipangkuan dosen tampannya itu. Yuri mengalungkan kedua tangannya di leher Max.


Diluar dugaan Yuri ternyata Max benar - benar memerlukan pelukan. Max memeluk tubuh Yuri dan Yuri bisa merasakan rasa lelah tersampaikan ke dirinya. Yuri juga memeluk tubuh Max agar bisa menjadi penyembuh penat sang kekasih.


"Terima kasih Yuri! Aku sangat menyukainya" ucap Max yang mulai terasa nyaman di dalam pelukan Yuri.


"Tidak perlu berterima kasih pak kan saya pacar pak Max" jawab Yuri yang meletakkan dagunya di pundak Max.


"Hehehe... Kau benar! Kau bolos satu kelas dulu tidak apa - apa,kan? Nanti aku yang ngomong sama dosen kelasmu sekarang" Edward benar - benar terbenam di pelukan Yuri.


"Tidak apa - apa kok pak! Asalkan pak Max yang memberitahu dosen kelasku maka tidak masalah".


"Hmm.. Baiklah!".


"Pak Max! Nanti aku mau menginap di rumah Lily,tidak apa - apa kan?".


"Untuk apa kau menginap di rumah Edward?".


"Aku ingin belajar masak secara langsung bersama Lily dan Lily memberitahuku tadi kalau Edward sedang keluar negri".


"Boleh kok kau menginap disana tapi tidurnya jangan kelamaan ,? ya sayang".


"Iya sayangku yang tercinta".


Max memberikan kecupan di kening Yuri kemudian menikmati me - time bersama kekasihnya. Yuri sangat menikmai suasana saat ini dan dia berharap suasa seperti ini akan selalu muncul di masa depan.


MAKASI YANG TELAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2