Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Saling maaf - maafan


__ADS_3

Sesampai di rumah, Edward tidak mau bicara dengan Lily walaupun sang istri berusaha membujuknya. Lily terus mengejar Edward yang sedang ngambek. Tanpa sengaja Lily tersandung karpet dan untungnya dia terjatuh di salah satu sofa.


"Aduhh... Sayang~... Perutku sakit" ucap Lily yang memegangi perutnya dan meminta tolong kepada Edward.


Sayangnya Edward tidak menoleh sama sekali dan terus berjalan menuju ruang baca. Lily sangat sedih melihat suaminya yang pergi dan tidak membantunya. Tangan Lily terus memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Lily yang tidak kuat menahan rasa sakit itu sampai terduduk di lantai.


"Aduhh... Sakit sekali perutku... padahal hanya terjatuh di spon sofanya bukan tempat meletakkan tangan, huhuhu... Sayang perutku sakit sekali" Lily terus merintih kesakitan hingga dia mengeluarkan air matanya.


Di ruang tamu tidak ada orang satu pun yang membuat Lily kesusahan untuk meminta tolong. Edward yang tidak melihat istrinya tidak mengikutinya lagi memutuskan untuk kembali ke ruang tamu.


Saat di ruang tamu, Edward langsung berlari menghampiri istrinya yang keeakitan. Edward menggendong pelan istrinya yang kemudian dia bawa ke kamar tidur. Terlihat sangat jelas di wajah Edward kalau dia sangat panik sampai - sampai memanggil dokter pribadinya.


"Semuanya baik - baik saja tuan Edward hanya sedikit benturan saja sebaiknya nona Lily berhati - hati" ucap dokter tersebut yang mengucapkan kondisi Lily sehabis pemeriksaan.


"Lalu kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?! Apakah itu termasuk baik - baik saja?!" tanya Edward yang belum merasa lega mendengar jawaban dokter tersebut.


"Benturannya sedikit keras tadi makanya dia bisa merasa kesakitan seperti tadi dan menurut simpulan saya kayaknya sebentar lagi nona Lily akan berisi" dokter tersebut memberikan sedikit alasan yang lebih jelas untuk menenangkan Edward.


Setelah mendengar itu semua Edward merasa lega. Edward mengelus pelan perut Lily agar menghilangkan rasa sakitnya. Kata dokter kalau Lily sebentar lagi akan hamil tapi Edward tidak berani untuk terlalu berharap dan hanya selalu berdoa agar mereka segera diberi momongan. Lily memegang tangan Edward yang mengelus perutnya.


"Sayang... Jangan marah lagi,ya? Kalau kamu pengen aku pindah kampus maka aku akan menurutinya" ucap Lily dengan nada suara lemah.


"Tidak perlu baby karena aku ngambek sekarang dirimu terkena masalah,maafkan aku" Edward kembali melanjutkan mengelus perut Lily.


"Ini bukan salahmu sayang! Ini salahku karena tidak berhati - hati" Lily menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis di depan suaminya.


"Baby ini bukan salahmu! Ini semua salahku karena tidak menjagamu dengan hati - hati,maafkan aku".


"Bukan sayang! Ini salahku".


"Tidak baby! Semua ini salahku!".

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu sayang semua ini salahku yang juga menyebabkanmu bad mood".


"Sudah aku katakan dari tadi kalau masalah ini salahku".


Edward dan Lily menatap satu sama lain. Mereka sudah mengakui kesalahan masing - masing. Lily melebarkan tangannya yang sebagai tanda minta dipeluk. Dengan senang hati Edward mengabulkan keinginan sang istri.


Karena sudah larut malam pasangan suami istri ini memutuskan untuk beristirahat dengan cara tidur. Edward mengecup pelan dahi Lily yang sudah tertidur kemudian barulah dia ikut masuk ke dunia mimpi.


...****************...


Pagi harinya sekitaran pukul sembilan Lily sudah bersama Yuri di tempat nongkrong favorit mereka yaitu kantin. Lily menceritakan semua kejadian dia kemarin kepada Yuri. Dengan seksama Yuri mendengar cerita temannya tersebut.


"Jadi seperti itu Yuri..." Lily yang baru saja selesai menceritakan kejadian dia kemarin mengenai Edward yang ngambek.


"Ohhhh... Ish! Sumpah kalian imut sekali tahu! Aku iri dengarnya!" kaki Yuri menendang - nendang mendengar cerita Lily.


"Makanya cari pasangan! Itu saja susah" Lily kembali meminum jus stroberinya.


"Entahlah! Oh ya Yuri! Aku dengar katanya akan ada dosen baru untuk mahasiswa baru, apa itu benar?" Lily langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Itu benar! Yang aku dengar kalau dosen baru itu seorang pria tampan yang baru menyelesaikan studinya di luar negri" Yuri menjelaskan sedikit tentang dosen baru tersebut.


"Apa kau tahu namanya siapa? Apa kau juga tahu sedikit lagi tentang dosen tersebut?".


"Kalau namanya aku belum pernah dengar tapi yang jelas dia akan mengajar di kampus ini mungkin besok atau lusa".


"Wyuhh... Syukurlah".


"Ada apa denganmu? Kenapa kau penasaran sekali dengan dosen baru itu? Kau harus ingat kau itu sudah punya jadi milik orang".


"Tentu saja aku ingat! Tanpa kau mengingatkannya aku selalu ingat. Aku sengaja menanyakan hal itu karena yang pertama adalah yang aku dengar dari keluarga suamiku kalau sepupu suamiku akan mengajar di suatu kampus yang bersamaan dengan hari mengajar dosen baru itu. Yang kedua adalah jika sepupu suamiku mengajar disini maka aku harus pindah kampus".

__ADS_1


Yuri sangat terkejut mendengar perkataan Lily. Mereka baru beberapa hari berteman dan masa salah temannya harus pergi. Lily dan Yuri sedikit merenungi permasalahan tersebut.


"Lily! Bagaimana kalau tidak usah memberitahu suamimu mengenai dosen tersebut? Ini ide yang bagus" usul Yuri untuk menghindari temannya pindah kampus.


"Entahlah... Biarkan saja! Kalau memang benar sepupu suamiku yang mengajar disini aku akan mengusahakan diri untuk menjaga jarak" Lily sudah pasrah dengan keputusan dia.


Secara tiba - tiba..


"Lily!" Tito mengejutkan Lily dari belakang dengaj cara menepuk bahunya.


Lily langsung menoleh ke belakang untuk melihat tiga temannya. Tito melamabaikan tangannya kepada dua teman wanitanya tersebut. Leo duduk di sebelah Yuri dan Leo. Tito dan Leo sengaja memilih duduk di sebelah Yuri karena ingin memberikan Brian ruang untuk proses pendekatannya. Brian duduk di sebelah Lily tapi sayangnya Lily langsung bergeser sedikit untuk menjaga jarak.


"Ayolah Lily! Tidak apa - apa duduk berdekatan dengan Brian lagipula kalian itu teman" ucap Tito yang sedikit menggoda Lily.


"Tidak terima kasih! Aku sudah memiliki pasangan dan aku akan tetap menjaga jarak dimana pun" Lily menanggapi ucapan Tito dengan tegas.


Lily mengetahui maksud Tito dan Leo yang sengaja membiarkan Brian duduk di sebelahnya. Brian yang bisa melihat rasa tidak nyaman dari Lilt memutuskan untuk bergeser sedikit.


"Oh ya girls! Weekend ini kalian ada acara tidak ?" tanya Tito kepada dua teman wanitanya.


"Kalau aku tidak sih... Kenapa?" jawab Yuri denga santainya.


"Aku ada acara jalan - jalan sama pasanganku jadi aku tidak bisa" jawab Lily yang langsung memberikan jawaban yang tersirat untuk menolak ajakan Tito.


"Ya ampun Lily! Ayo kita jalan - jalan berlima! Jangan sama kekasihmu terus, apa tidak bosan?" Tito masih berusaha untuk mendapat jawaban iya dari Lily.


"Tidak bisa! Aku juga tidak bosan sama sekali, ada masalah?".


MAAF AUTHOR NGGK UPDATE KMRN KARENA TIBA - TIBA AJA KEPALA AUTHOR PUSING MAAF BANGET YA PARA READERS NANTI AKU KASI BONUS DEH


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>

__ADS_1


__ADS_2