
Lola menoleh saat Sean memanggilnya.
"Kenapa?".
"Aku suka sama kak Lola! Aku cinta sama kak Lola! Maukah kak Lola menjadi pacarku?" Sean menyatakan perasaan kepada Lola dengan suara lantang sampai menggema di gedung olahraga.
Lola sangat kaget mendengar ucapan Sean. Dia bingung harus menjawab apa dan kebetulan saat ini Lola juga memiliki perasaan kepada juniornya tersebut. Tapi dalam pikiran Lola "Akhh... Ya sudahlah! Mumpung crush nembak aku lebih baik terima aja".
"Iya aku mau! aku juga suka padamu" jawab Lola yang menerima ajakan pacaran Sean.
"Hah?! Beneran kak?! " Sean masih tidak percaya dengan jawaban Lola.
"Iya beneran! Ya sudah pulang sana! Nanti dimarah sama orang tuamu" Lola berdiri di ambang pintu.
Sean sangat senang bisa mendapatkan Lola sampai dia melompat kegirangan. Dia membereskan barang - barangnya kemudian berlari keluar gedung. Sejak hari itu Sean dan Lola menjadi pacar. Walaupun tim basket kampus Sean kalah tapi dia bisa berhasil memenangkan hati sang pujaan hati yang sekarang menjadi pacarnya.
Setelah mereka menjadi sepasang kekasih banyak keajaiban terjadi di kehidupan Sean. Seperti pemain andalan tidak memiliki banyak kendala saat akan bertanding, kakaknya telah damai dengan kelompok mafia, tim basketnya selalu menang di setiap pertandingan dan yang paling membahagiakan adalah Lily diizinkan keluar rumah juga dapat melanjutkan pendidikannya. Sean sangat bersyukur memiliki Lola di dalam hidupnya begitu juga dengan Lola yang sangat bahagia yang dimana crush dia selama ini bisa menjadi pacarnya.
Cerita tentang bagaimana Sean dan Lola bisa pacaran selesai. Kembali ke cerita selanjutnya.
...****************...
Masih di kantin kampus, semua mahasiswa disana langsung kegirangan setelah melihat akan ada pertandingan basket. Lima orang tersebut juga mendapat kabar tersebut melalui media sekolah. Pertandingan tersebut adalah pertandingan persahabatan yang akan diselenggarakan dua hari lagi pada sore hari. Lily yang membaca nama pemain yang akan bermain lusa dan dia sangat senang bisa melihat nama iparnya ada disana.
"Wahhh... Pemain tim kita ganteng semua" ucap Yuri yang terpukau dengan penampilan dari pemain basket kampusnya.
"Ya namanya laki - laki pasti ganteng" Tito menanggapi ucapan Yuri tadi.
"Tapi ganteng yang ini berbeda tahu! " Yuri membalas omongan Tito tadi.
"Sudahlah kalian berdua! Tidak ada gunanya kalian berdebat terus seperti ini" sebelum perdebatan dimulai Brian sudah menghentikkannya.
"Yuri! Ayo kita nonton pertandingan ini!" ajak Lily kepada Yuri.
"Ayo! syukurnya pertandingannya jam lima dan tidak ada jam kelas apapun aku disana" jawab Yuri yang menerima ajakan Lily.
__ADS_1
Dua gadis tersebut sangat bersemangat menantikan pertandingan tersebut. Tidak dengan tiga pria dihadapan mereka yang terlihat biasa saja. Saat Lily sedang membaca biodata nama pemain inti tiba - tiba saja ada bola basket yang hampir mengenai dia dan untungnya ditangkap oleh Brian.
"Astaga! Maafkan aku nona! Aku tidak tahu bolanya akan mengarah kepadamu" ucap seseorang yang meminta maaf kepada Lily yang ternyata dia juga adalah pemain tim inti.
"Kamu Kevin,kan? Aku baca tentang dirimu di media sekolah" tanya Lily kepada orang yang melempar bola tadi yang bernama Kevin.
"Iya aku Kevin! Woah! Kabarnya cepat menyebar ternyata" jawab Kevin yang terkejut melihat kabar pertandingan di ponselnya.
Di meja kantin tempat Sean dan Lola duduk sudah ada pemain lain yang bergabung. Sean memanggil Kevin dari kejauhan. Kevin mengambil bola tersebut kemudian membungkuk sebagai tanda minta maaf. Lalu Kevin menghampiri timnya.
"Ya ampun itu ternyata tim basket! Ganteng buangeetttsssss" Yuri sangat terkagum - kagum melihat ketampanan setiap pemain.
Empat temannya yang lain juga ikut memperhatikan. Lily terfokus ke satu pemain yang ia rasa pernah temui.
"Aku seperti pernah melihat pemain yang itu" ucap Lily yang membicarakan pemain yang memiliki imaje orang berwibawa.
"Memangnya dimana kau pernah bertemu dengan dia?" tanya Brian kepada Lily yang sedikit curiga.
"Aku pernah menabrak dia rasaku lalu dia melingkarkan rambutku yang turun di telingaku" jawab Lily yang menceritakan kejadian sebelumnya.
Setelah memandang tim basket mereka berlima memutuskan untuk kembali ke kelas masing - masing karena jam pelajaran hampir dimulai. Lily pergi bersama tiga teman prianya.
SEGINI DULU GUYSSS BESOK LANJUT LAGI
*Eits! Kalian salah mengira yang author maksud adalah besok revisi.
Sekarang saatnya menambah cerita kemarin. Selamat membaca*.
...****************...
Selesai jam kelas selesai Lily dan Yuri berjalan bersama menuju taman kampus. Yuri sudah tidak ada kelas lagi dan Lily masih memiliki dua kelas lagi. Yuri menceritakan tentag dosen yang sangat killer kepada Lily.
"Eh? Yang benar? Hanya karena itu saja?" tanya Lily yang masih pada topik pembicaraan mengenai dosennya Yuri.
"Iya! Cuman gara - gara telat dua menit dosen tersebut marah besar padahal dia juga sering terlambat" jawab Yuri yang melanjutkan cerita dosennya.
__ADS_1
"Astaga... Biarkan saja! Kita mau musuhan sama dosen itu sama dengan mencari mati".
"Kau benar! Makanya sebelum kelas dimulai aku sudah di kelas lima belas menit sebelum dimulai".
"Untung kau selamat".
Lily dan Yuri melanjutkan membaca buku mereka masing - masing setelah bergosip tentang dosen killer Yuri. Saat mereka sedang duduk di bangku taman dekat pohon tiba - tiba saja ada seorang pria jatuh dari pohon tersebut. Lily dan Yuri sontak kaget dan menjauh dari bangku taman.
"Aduhh... Duh... sakitnya" rintih pria tersebut yang memegangi pinggangnya.
"Permisi! Apa kau baik - baik saja?" tanya Lily yang menghampiri pria tersebut.
"Ehm? Aku baik - baik saja! Ngomong - ngomong kamu cantik sekali" jawab pria tersebut yang juga memuji penampilan Lily.
"Terima kasih" Lily mundur sedikit dan membantu pria tersebut berdiri.
"Dovan! Woi! Ayo latihan!" teriak Sean dari kejauhan memanggil pria yang bersama Lily yang bernama Dovan.
"Iya sebentar!" Dovan mengambil barang - barangnya yang ada di bawah pohon kemudian berlari ke Sean.
"Lily! Kau juga ikut!"ternyata bukan cuman Dovan saja yang diajak Sean juga mengajak Lily.
Lily mengangguk dan menarik tangan Yuri lalu berlari ke iparnya tersebut. Sean mengajak dua gadis tersebut ke gedung olahraga. Yuri sangat bersemangat saat diajak dan sangat penasaran dengan wajah - wajah tampan pemain basket.
Mereka pun sampai di gedung olahraga. Sean membuka pintu dan mengucapkan salam begitu juga dengan Dovan. Lily dan Yuri sedikit kebingungan dengan apa yang mereka harus lakukan.
"Semuanya! Kemari sebentar! Aku memiliki pengumuman!" Sean mengumpulkan semua anggota eskulnya.
Sean menarik tangan Lily lalu berdiri dihadapan anggotanya. Lily sedikit malu saat dilihat oleh yang lain.
"Semuanya kenalkan dia adalah Lily! Manajer baru kita !" ucap Sean yang menjadikan Lily sebagai manajer tanpa persetujuan Lily sekali pun.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>
__ADS_1