
Jam sepuluh pagi Lily sudah berada di kampus dan hari ini dia harus izin dua kelas pelajaran karena ada latihan khusus untuk timnya nanti. Sebelum dia berangkat kampus tadi Lily mengalami ngidam lagi yaitu yang dimana dia ingin sarapan bubur ayam tapi harus Sean yang memasak. Ya sudah Edward langsung menghubungi Sean untuk memasak bubur ayam.
Kembali lagi pada cerita Lily yang lagi sibuk di kelas. Kelas Lily hari ini adalah kelasnya Max. Pak Dosen tampan itu bukannya memberikan pelajaran kepada siswanya melainkan dia tebar pesona di ruang kelas sampai ada salah satu mahasiswi pingsan karena ketampanannya. Sedangkan Lily berusaha menahan rasa mualnya saat melihat Max tebar pesona.
"Baiklah semuanya buka buku paket kalian halaman empat puluh sembilan" ucap Max yang mengambil buku paket.
Korban ketampanan pak Max bertambah menjadi dua mahasiswi. Lily semakin tidak kuat menahan rasa mualnya. Menurut dia selama ini dia tidak pernah mengalami morning sickness selama kehamilannya dan ini adalah pertama kalinya.
"Pak Max! Saya mau bertanya" ucap salah satu mahasiswi.
"Kenapa?" Max mempersilakan mahasiswinya tersebut.
"Pak Max sudah punya pacar belum? Karena menurut analisis saya ketika seseorang sudah mempunyai pasangan maka, orang tersebut akan mempercantik diri atau mempertampan diri agar pasangannya tidak beralih ke hati yang lain" tanya mahasiswi tersebut dengan sedikit memberikan wink kepada Max.
"Masalah asmara saya memang memiliki seorang pasangan. Wanita yang saya ajak pacaran adalah seorang mahasiswi juga" jawab Max yang sengaja mempublikasi hubungannya.
Para mahasiswi tersebut langsung berteriak histeris tapi ada juga yang menangid sebab kesempatan untuk mendapatkan dosennya sudah hilang. Max kembali melanjutkan penjelasannya dan membiarkan para mahasiswi tersebut bersenang - senang di dunia mereka sendiri.
Jam pelajaran Max sudah selesai. Lily langsung berjalan secepat mungkin ke toilet. Kebetulan hari ini jadwal kelasnya hanya sampai jam tiga sore.
Sean yang sudah menunggu Lily dari tadi di depan kelasnya tanpa sengaja melihat Lily yang jalan secepat kilat keluar dari kelas. Dia langsung mengikuti Lily sebelum keberadaannya hilang karena kerumunan.
Lily yang sudah sampai di toilet wanita langsung masuk ke salah satu bilik toilet. Wanita itu langsung berusaha memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar sama sekali.
"Hah... Hah... Hah... Ueekkk... Aku pusing sekali... Astaga!" batin Lily yang tersungkur duduk di toilet.
__ADS_1
Sean semakin khawatir karena Lily belum keluar selama lima belas menit. Di saat yang bersamaan pula Yuri melewati toilet dan langsung ditahan oleh Sean.
"Yuri! Bisa aku minta tolong tidak?" ucap Sean yang memegang tangan Yuri.
"Boleh! Minta tolong apa memangnya?" Yuri berhenti sebentar.
"Bisa tidak kau melihat keadaan Lily di dalam toilet?" tanya Sean.
"Bisa! Tunggu sebentar " jawab Yuri yang langsung masuk ke toilet wanita.
Yuri melihat sekitar dalam toilet. Dia memeriksa setiap bilik toilet hingga sampai pada bilik paling ujung belakang. Yuri sangat terkejut melihat keadaan temannya yang terduduk di dalam bilik sambil memijat pelipisnya.
"Lily! Ada apa dengan dirimu?! Kenapa kondisimu seperti ini?!" tanya Yuri yang berjongkok dihadapan Lily.
Namun yang ditanya tidak bisa menjawab karena saking pusing kepalanya. Yuri memapah temannya tersebut tapi saat sudah mulai berdiri lagi - lagi Lily merasakan mualnya. Tangan Yuri memijat leher belakang Lily.
Di sekitaran lorong menuju UKS,banyak mahasiswa dan mahasiswi yang membicarakan kedekatan Sean dengan Lily. Max memberikan tatapan tajam kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang membicarakan adik iparnya.
Di UKS, morning sickness Lily sudah mulai mereda dan sudah mulai menerima minuman yang ada. Yuri memijat lengan Lily agar merasa lebih nyaman. Max segera menghubungi sepupunya.
"Halo Edward!".
"Halo Max! Ada apa?".
"Istrimu sakit! Cepat kesini".
__ADS_1
"Lima menit lagi aku sampai".
"Oghey!".
Max memberitahu Lily kalau sang suami akan segera sampai. Lily merasa kesal karena suaminya sangat lama datang mengunjunginya. Sean pergi menuju gerbang sekolah untuk menjemput kakaknya.
"Ada apa denganmu Lily? Kenapa saat jam pelajaran tadi minta izin saja?" tanya Max yang menarik bangku kemudian duduk di sebelah Yuri.
"Aku tidak mau mengganggu proses belajar saja" jawab Lily yang masih lemah.
"Tadi kau ada jam di kelasnya Lily?" tanya Yuri yang menoleh ke arah Max.
"Iya! Aku ada jam di kelasnya Lily tapi dia kelihatan baik - baik saja tadi saat di kelas, apa mungkin penyebabnya karena aku terlalu tebar pesona?" jawab Max yang menjelaskan sedikit situasi di kelas tadi.
Yuri hanya mengangguk paham saja. Beberapa menit kemudian Edward datang dengan beberapa cemilan ringan. Edward melempar tas belanjaannya kepada Max lalu memeluk istrinya.
"Baby kenapa? Bagian mana yang sakit?" tanya Edward yang terlihat sangat khawatir.
"Semua badanku sakit... Huhu... Mau dipeyuk lagi..." jawab Lily dengan air matanya yang mulai menggenang.
Edward menuruti permintaan istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam situasi masing - masing dan tangan Edward turun ke perut Lily. Dielus pelan perut Lily supaya morning sicknessnya hilang. Lily menenggalamkan wajahnya di leher Edward.
Max membagi cemilan yang dia dapat tadi kepada Yuri dan Sean. Mereka bertiga membiarkan pasangan suami istri itu pada dunia mereka sendiri.
SEGINI DULU GUYSS MAAF YA
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>