
Baru setengah jam memasak tiba - tiba pintu rumah lama diketuk oleh seseorang. Edward berjalan menuju pintu untuk membuka pintu. Saat Edward membuka pintu dia dikejutkan dengan sepupunya.
"Hai Edward!" sapa Max yang langsung memeluk Edward.
"Menyingkir kau! Jijik tahu!" Edward langsung mendorong Max.
"Hahaha... Bercanda saja Edward jangan menganggapnya terlalu serius, ngomong - ngomong apa kabar? Apakah kau sudah memiliki pasangan?" Max menepuk bahu Edward lalu masuk bersama menuju ruang tamu.
Papa Jack dan mama Kiana langsung menyambut Max dan mempersilakan duduk. Mereka berempat mulai membahas tentang masa - masa Edward dan Max masih bersama. Terdengar suara tawa canda sampai ke dapur.
Lily penasaran dengan suara tawa dan dia memutuskan untuk menengok sedikit. Dia sedikit kebingungan dengan pria lain yang duduk di sebelah suaminya. Edward melihat istrinya yang menengok hanya memberikan senyum saja. Lily langsung kembali ke dapur dan melanjutkan memasaknya.
Semua makanan dan minuman sudah siap tinggal hanya menyajikan saja. Tapi saat Lily akan mengambil salah sati piring di rak tiba - tiba saja ada tikus jalan di tangan Lily.
"Akhhh!!! Prang!!!" suara teriakan Lily disertai suara piring pecah.
Edward langsung berlari ke dapur untuk melihat kondisi istrinya diikuti oleh Max dan kedua orang tuanya. Di dapur Edward disambut dengan Lily ketakutan. Lily yang melihat Edward berlari memeluknya.
"Ada apa,baby? Apakah ada pencuri?" tanya Edward khawatir dengan kondisi istrinya yang ketakutan.
"He... Sayang... Ada tikus disana" jawab Lily yang menunjuk ke rak piring.
Edward yang hendak melihat tikus tersebut tapi ditahan oleh Lily yang semakin erat memeluknya. Dia pun memberi kode ke Max untuk melihatnya. Max berjalan ke rak tersebut tetapi dia tidak dapat menemukan tikus itu sama sekali.
"Edward! Sudah hilang tikusnya" ucap Max yang mengangkat kedua tangannya isyarat tidak ada hasil.
"Tadi ada disana sayang" Lily kembali menunjuk ke arah rak piring.
"Iya! Iya! Nanti aku suruh salah satu bodyguard untuk menyingkirkan tikus itu sekarang jangan takut,ya?" Edward mengelus rambut Lily untuk membuatnya tenang.
"Panggilkan pelayan untuk menyajikkan makanan dan bersihkan pecahan piring ini" perintah papa Jack kepada anak buahnya.
__ADS_1
Mereka berlima pergi menuju meja makan. Lily sudah kembali tenang dan Edward selalu siaga di sisi istrinya. Max masih penasaran dengan perempuan yang duduk di sebelah Edward yang juga memanggil Edward dengan sebutan sayang.
"Edward! Wanita ini siapamu?" tanya Max yang masih memfokuskan matanya ke Lily.
"Dia ini istriku, kami sudah menikah selama satu tahun. Pernikahan kami sengaja disembunyikan agar istriku merasa nyaman saat pergi ke kampus dan memang keinginan kami sendiri" jawab Edward menjelaskan pernikahannya dengan Lily.
Max sangat terkejut mendengar jawaban Edward. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Edward tapi dia melihat cincin yang melingkar di jari manis pasangan tersebut.
"Kenapa kau tidak mengundangku?! Paling tidak undang aku" ucap Max yang meminum segelas air.
"Mulutmu terlalu ember makanya aku tidak undang kau" jawab Edward dengan ketus.
Max langsung menatap julid Edward. Dua sepupu ini memang sangat dekat tapi memiliki aliran yang berbeda yang dimana Edward lebih fokus ke kerajaan bisnisnya dan Max lebih fokus ke bidang pendidikan.
"Ngomong - ngomong Edward... Istrimu cantik sekali siapa namanya" Max masih ingin bertanya yang berhubungan dengan Lily.
"Nama lengkapnya Lawrence Taniya Lily panggilannya Lily umurnya tahun ini adalah sembilan belas tahun,ada yang ingin kau tanyakan lagi" Edward tidak membiarkan Lily untuk menjawab pertanyaan Max.( Maaf ya kalau author sering ganti - ganti nama lengkap karakter masalahnya author lupa nama lengkapnya jadi author bikin lagi, maaf ya guys).
Edward hanya diam saja dan malas untuk menjawab pertanyaan Max. Lily menoleh ke arah Edward dengan wajah kesal. Dia tertawa kecil saat melihat ekspresi Edward yang tidak bersahabat saat menatap Max.
"Sudahlah kalian berdua! Ayo kita makan masakab buatan menantu kesayang keluarga Davis" ucap papa Jack yang memecah suasana yang akan berujung perkelahian tersebut.
Mereka berlima pun akhirnya memulai acara makan - makan. Max memakan makanan buatan Lily dengan sangat lahap seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga hari. Edward yang asyik suap - suapan dengan Lily mengabaikan kerakusan monster kelaparan di depannya. Pasangan suami istri yang baru satu tahun menikah itu terus menebar kemesraan dihadapan Max.
"Kalau mau mesra - mesraan jangan menghadapku dong! Aku tahu aku jomblo aku sadar diri kok Edward!" Max menusuk makanannya sebagai pelampiasan melihat kemesraan suami istri dihadapannya.
Sebelum Edward menanggapi keluhan Max yang dia lakukan terlebih dahulu adalah menci um bibir Lily barulah dia menanggapi keluhan sepupunya. Max sangat terkejut melihat adegan terduga dihadapannya sampai mulutnya menganga.
"Baguslah kalau kau sadar diri makanya pacari salah satu siswimu" Edward mengambil sendok berisi sayuran kemudian menyuapinya ke mulut istrinya.
Lily menerima suapan suaminya tapi dia sedikit penasaran dengan sosok Max. Masalahnya Lily belum pernah melihat sosok Max di denah silsilah keluarga Davis. Dengan nekatnya Lily bertanya kepada Max.
__ADS_1
"Kak Max... Kakak bekerja sebagai apa?".
"Aku bekerja sebagai dosen dan kedatanganku kemari untuk bekerja di salah kampus negri ini karena aku baru menyelesaikan studiku di negara A" jawab Max dengan tulus hati.
"Oh iya! Kebetulan kampusku dapat berita kemarin kalau ada dosen baru untuk mahasiswa baru katanya sih dua hari dosen tersebut akan mulai mengajar" celetuk Lily yang tiba - tiba mengingat berita di kampusnya.
Max kaget dengan perasaan senang sedangkan Edward kaget dengan perasaan panik. Edward memegangi kedua tangan istrinya lalu mengatakan,
"Baby! Pindah kampus aja,ya? Jangan sama si cecenguk ini nanti kamu tidak pintar kalau diajar sama orang ini".
Papa Jack dan mama Kiana terkejut mendengar ucapan anaknya yang meyakinkan istrinya untuk pindah kampus. Seharusnya Edward bersyukur karena orang menjaga Lily bertambah sehingga hal itu memudahkan pekerjaan Sean. Max tertawa melihat kepanikan Edward yang takut istrinya di curi.
"Hahaha... Tenanglah Edward! Aku tidak akan mengambil istrimu jadi tidak perlu khawatir" ucap Max yang masih tidak bisa menahan ucapan Edward tadi.
"Sayang... Aku bisa jaga diri kok jangan khawatir,ya? Nanti kalau kak Max menggangguku langsung aku menelponmu" Lily meyakinkan balik Edward untuk tidak perlu khawatir.
"Tapi baby... Tahu ah! Aku tidak mau makan lagi!" belum menyelesaikan omongannya Edward langsung ngambek kepada istrinya.
Lily mulai kebingungan dengan cara menormalkan kembali suaminya. Jika Edward sudah ngambek maka akan sangat susah untuk membujuknya dan Lily memutar otaknya berkali - kali.
"Mama sebaiknya kami pulang duluan dan aku minta maaf karena tidak bisa menikmati pesta ini sedikit lebih lama" ucap Lily yang berdiri dari bangku dan menarim tangan Edward.
"Pulang saja duluan! Aku tidak mau pulang!" jawab Edward yang menyembunyikan kedua tangannya di belakangnya.
"Ayolah sayang! Kita harus pulang untuk meredakan emosimu ini!" Lily kembali menarik Edward dengan paksa walaupun tenaganya tidak seberapa dengan milik Edward.
Lily masih berusaha keras untuk menarik suaminya agar beranjak dari bangku. Orang tua Edward hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah laku anaknya yang manja dan Max tidak bisa menahan tawanya.
HARI INI BONUS UPDATE
Makasi yang sudah mampir dan baca
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>