
Keesokan harinya Lily dan Yuri sedang berada di kantin kampus mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai rencana. Yuri sedang membeli minuman tanpa tertuga sepupunya datang dengan membawa gengnya.
"Wah... Wah... Wah... Ternyata ada si lemah dan si culun sedang beli minuman, apakah kamu punya uang untuk membeli minuman?" tanya sepupunya yang sambil mengeluarkan kartu kreditnya.
"Astaga! Aku lupa membawa uang! Kebetulan kau ada disini! Bibi dua minuman ini dia yang bayar" Yuri memulai rencananya untuk berpura - pura menjadi orang lupa membawa uang.
"Baiklah nak! Heh kamu cewek centil! mana bayarnya" bibi kantin langsung meminta bayaran minuman kepada sepupunya
"Apa maksudmu Yuri?! Kenapa aku yang harus membayar minumanmu?!" tanya sepupu Yuri yang mempertanyakan kelakuan Yuri.
"Hm? Bukankah Biancanya bilang "apakah kamu punya uang untuk membeli minuman?" Kan aku sudah bilang aku lupa membawa uang dan kebetulan kau ada disini jadi kau saja yang bayar" jawab Yuri yang langsung pergi ke tempat Lily duduk.
Sepupu Yuri yang bernama Bianca adalah orang yang selalu iri kepada Yuri. Iri hati itu disebabkan Bianca dilahirkan dari keluarga yang sederhana sedangkan Yuri lahir dari keluarga kaya raya. Penyeban Bianca harus hidup sederhana adalah ayahnya yang hampir membunuh ayahnya sendiri.
Dikarenakan tindakan ayahnya Bianca keluarganya tidak mendapatkan sepeser uang pun. Ayah Bianca masih memiliki dendam kepada ayahnya Yuri. Ayah dan anak sama - sama memiliki dendam terhadap keluarga yang sama.
Bianca mengepal kedua tangannya kemudian bergerak maju hendak memukul Yuri. Tapi hal tersebut berhasil ditahan oleh Lily. Bianca menatap tajam Lily begitu juga Lily menatap kembali Bianca.
"Siapa kamu?! Minggir kamu!" Bianca melayangkan tangannya yang satunya ke arah Lily.
"Sebaiknya kamu yang pergi! Dasar wanita aneh!" Lily menangkap tangan Bianca yang hendak mengenainya kemudian memutar tubuh Bianca dan meletakkan kedua tangan Bianca di punggungnya.
"Aduh...duh... Lepaskan aku wanita kurang ajar!" Bianca merintih kesakitan yang tangannya dibawa ke punggungnya.
"Baiklah!" Lily melepas kedua tangan Bianca kemudian menendang punggung Bianca sampai si pemilik tubuh terjatuh.
Bianca jadi bahan tertawaan semua orang yang ada di kantin. Semua orang di kantin menertawakan keangkuhan Bianca bahkan ada yang merekam kejadian memalukan tersebut. Bianca yang merasa malu langsung berlari menjauh dari kantin meninggalkan gengnya.
"Apakah kau tidak apa - apa Yuri?" tanya Lily kepada Yuri mengenai kondisinya.
"Aku tidak apa - apa! Ayo kita kembali ke meja!" jawab Yuri yang juga mengajak Lily kembali duduk di mejanya.
Mereka berdua menikmati minuman yang dibayar oleh gengnya Bianca. Yuri tertawa melihat video tentang kejadian tadi. Lily sibuk membaca buku jurusannya karena katanya ada kuis nanti.
"Lily kau sangat hebat! apakah kamu akan langsung menguploud video ini?" tanya Yuri yang juga memuji kemampuan Lily.
"Soal itu nanti saja tunggu kejadian memalukan selanjutnya" jawab Lily yang mengangkat lembaran bukunya.
Yuri lanjut menonton video tersebut dan tiba - tiba saja ponsel Lily berdering. Kebetulan yang tidak terduga adalah Yuri menonton video Bianca menggunakan ponsel Lily. Yuri terkejut melihat panggilan masuk dengan nama orang "my husband♡~".
__ADS_1
"Lily ada panggilan masuk" Yuri memberikan kembali ponsel Lily kepada pemilik sebenarnya.
Lily mengambil ponselnya,dia juga terkejut yang menelponnya adalah Edward. Dia khawatir kalau Yuri membaca nama yang tertera pada panggilan ponselnya.
"Sebentar ya" Lily meminta izin kepada Yuri dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo my sweetie~…" sapa Edward dengan nada bicara manja.
"Halo sayang! Kenapa tiba - tiba menelponku?" tanya Lily yang mengecilkan suaranya.
"Aku kangen~... Pekerjaan disini terlalu banyak, kapan kamu pulang?".
"Ya ampun sayang! Bekerjalah dengan giat dan semangat! Suamiku pasti bisa".
"Kapan kamu pulang?".
"Kayaknya sekitar jam setengah tiga sore deh, kenapa?".
"Main ke kantor,ya ? Jadi penyemangatku karena ada rapat penting nanti dan aku harus memenangkan rapat ini".
"Baiklah! Nanti aku kesana".
"Love you too♡~..." panggilan telepon suami dan istri itu pun berakhir.
Lily meletakkan ponselnya di atas kemudian melihat Yuri yang kebingungan dan terlihat sangat penasaran terhadap sesuatu. Yuri menyipitkan matanya lalu bertanya kepada Lily mengenai nama yang tertera di panggilan masuk tadi.
"Begini Lily... aku memang tidak berhak ikut campur atas hubunganmu dengan nama orang tadi tapi aku penasaran dengan orang itu, siapa dia?".
"Ehm... Aku ingin kau berjanji jangan beritahu siapapun" Lily meminta Yuri untuk berjanji.
"Aku janji! Tenang saja!" Yuri mengangkat tangan kanannya sebagai tanda janjinya.
"Dia itu suamiku" jawab Lily atas pertanyaan Yuri tadi.
"Apa?! Yang benar Lily?!" Yuri sangat terkejut mendengar jawaban Lily.
"itu benar" Lily mengambil ponselnya kemudian menunjukkan foto pernikahannya dengan Edward.
"Ya ampun... Aku tidak menyangka kalau temanku ini akan menikah secepat ini, apa kau dijodohkan?" Yuri kembali mempertanyakan perihal suami Lily.
__ADS_1
"Aku tidak dijodohkan sama sekali! Aku dan dia menikah karena keinginan sendiri dan juga kami pernah berpacaran selama satu tahun" jawab Lily.
"Tunggu dulu! Kau menikah umur berapa?".
"Sembilan belas tahun dan pacaran sama dia dari umur delapan belas tahun".
"Astaga! ya tuhan! Aku tidak bisa menikmati makanan resepsi pernikahan dong".
"Ya ampun kau ini! Jangan berlebihan seperti itu! Besok kau menikah kan dapat juga".
"Sama siapa memangnya ? Yang mau sama aku saja tidak ada".
"Jangan ngomong begitu Yuri! Suatu saat kau pasti mendapatkannya".
"Makasi telah memberikanku semangat. Oh ya! Ngomong - ngomong suamimu ganteng sekali, berapa umurnya?".
"Umurnya sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun".
"Astaga! Sugar daddy dong!".
"Eh bukan! Bukan sugar daddy lagi melainkan sugar husband".
"Hahahaha... Ada - ada saja kau Lily, ayo kita masuk kelas nanti telat! Soal rahasiamu yang ini akan aku rahasiakan untuk selamanya".
"Terima kasih Yuri! Ya sudah ayo!" Lily dan Yuri memutuskan masuk ke kelas masing - masing setelah perbincangan mereka.
Yuri sangat bersyukur bisa memiliki teman seperti Lily. Selain cantik Lily juga orang yang baik dan cerdas. Yuri berharap temannya tersebut dalam pernikahannya selalu langgeng.
Lily dan Yuri harus berpisah dulu karena memiliki kelas yang berbeda. Di kelas Lily sudah disambut dengan kehadiran tiga teman cowoknya.
"Hai kalian semua!" sapa Lily kepada tiga temannya kemudian duduk di bangkunya.
"Pagi nona cantik!" Tito menjawab sapaan Lily dengan senyum gigi putih indah.
"Pagi Lily" Leo melambaikan tangannya kepada Lily.
Untuk teman yang satunya tidak menjawab karena sedang badmood dan itu terlihat jelas dari wajahnya. Dua temannya itu memberikan kode kepada Lily untuk menghiraukan Brian. Lily memahami kode itu dan melanjutkan membaca bukunya.
Makasi yang sudah mampir
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>