
Mari kita lanjutkan video call Edward dan Lily kemarin.
"Kenapa Max ada disana?! Padahal aku sudah melarangnya!".
^^^"Kenapa kau melarangnya? Biarkan saja dia menginap disini hitung - hitung ada yang menjagaku dan Yuri".^^^
"Aku tahu baby tapi...".
^^^"Tapi kenapa? Sudahlah biarkan saja lagipula ada Yuri disini jadi jangan khawatir".^^^
"Iya! Iya! Aku tidak marah lagi".
"Baby sudah makan?".
^^^"Belum! Yuri masih masak katanya Yuri ingin belajar masak jadi aku ajarkan dia walaupun hanya dengan memberi arahan tapi hasil memasak dia sudah bagus".^^^
"Namun masakan yang paling enak adalah istriku sendiri".
^^^"Hahaha... Ada - ada saja kau ini".^^^
"Sekali - kali gombal sedikit".
"Biarkan video callnya terus menyala".
^^^"Oke sayang".^^^
Lily mengubah mode kameranya menjadi kamera belakang. Dia arahkan ponselnya ke seluruh ruangan termasuk ke kedua kakaknya. Hazel dan Zeta melambaikan tangannya kepada Edward begitu juga dengan sebaliknya.
"Lily dan yang lainnya makan malam sudah siap!" panggil Yuri yang membawa makan malam dibantu juga dengan Max.
Yuri meletakkan semua hasil makanannya di atas meja dan Max meletakkan baskom nasi di sebelah lauk pauk tadi. Semuanya langsung mengambil posisi duduk.
Max dan Yuri duduk bersebelahan sedangkan Lily duduk diantara dua kakaknya. Sebelum makan ingat baca dulu guyss. Sesudah baca doa mereka langsung memakan makan malam buatan Yuri.
Hazel dan Zeta terkejut dengan rasa masakan Yuri yang lezat padahal baru pertama kali mencoba. Yuri sangat senang mendengar pujian Hazel dan Zeta. Max juga memuji makanan buatan sang pacar. Sementara Lily tidak mau makan karena tidak ada yang menyuapinya.
^^^"Sayang~".^^^
"Kenapa,baby? Kok belum makan?".
^^^"Tidak ada yang suapin aku".^^^
"Astaga~ kasihan sekali istriku ini".
"Minta sama kak Hazel sana!".
__ADS_1
Lily menoleh ke arah Hazeh dengan wajah imut. Hazel memahami maksud dari wajah Lily. Tangan Hazel mengambil sendok lalu menyendok sup dan disuap ke mulut adik perempuannya. Lily sangat senang bisa disuapi oleh sang kakak.
"Bagaimana? Sudah disuapinya?" tanya Edward melalui video call.
^^^"Sudah! Hehehe...".^^^
Mulut Lily mengembung saat mengunyah. Yuri tertawa kecil melihat mulut Lily. Hazel kembali menyuapi Lily.
"Hahaha... Lucu sekali wajahmu Lily, sepertinya Pinpin akan menjadi tupai saat dia akan makan" ucap Yuri yang melanjutkan makan malamnya.
"Tidak apa - apa anakku akan menjadi tupai saat makan itu artinya dia akan menjadi anak yang imut sama seperti ibunya" jawab Lily yang kegirangan.
Mereka berempat kembali melanjutkan makan malamnya. Hazel tetap menyuapi Lily sampai sup di mangkuknya habis.
...----------------...
Selesai makan, Yuri dan Max yang mencuci alat makan di sisi lain Hazel dan Zeta sedang berusaha membujuk adiknya supaya mau minum susu hamilnya. Tapi Lily tidak mau minum kecuali susunya dibuatin oleh Sean. Lily merengek meminta agar Sean membuatkannya susu hamil.
Karena tidak ada pilihan lain Edward menelpon sang adik agar membuatkan kakak iparnya susu hamil. Untung Sean mengiyakan permintaan sang kakak dan sekarang dia dalam perjalanan.
"Aku tidak mau minum! Itu tidak enak! Pokoknya harus Sean yang buat kalau tidak aku tidak mau minum!" pinta Lily yang duduk di sofa sambil merengek.
"Ayolah Lily! Ayo minum dulu ya? Kelamaan kalau menunggu Sean" bujuk Zeta dengan sisa tenaga terakhirnya.
"Tidak mau! Aku maunya Sean yang buatin!" Lily menolak bujukan kakaknya tersebut.
"Tinggal minum saja! Apa bedanya buatan Sean dengan buatan kak Zeta?! Kenapa kau susah sekali dibujuk hah?! Minum atau tidak?!" bentak Hazel yang sudah habis kesabarannya.
Lily terdiam mendengar bentakan sang kakak. Yuri terkejut mendengar bentakan Hazel. Segera Yuri menghampiri Lily dan memeluknya.
"Hek...mmmm.... Huuaaaa.... Kak Hazel membentakku... Huaaa....." Lily menangis setelah mendengar bentakan sang kakak.
"Tenang ya Lily? Ingat kau lagi hamil tidak boleh terlalu emosi,oke?" Yuri memegang dagu Lily dan berusaha menenangkannya.
Bukannya tenang Lily tiba - tiba sesak nafas dan memegang perutnya. Yuri sangat panik melihat Lily yang kesakitan.
"Maxxie! Lily kenapa?! Panggilkan dokter! Cepat Maxxie! Tenang ya Lily! Tenang" Yuri membantu Lily untuk mengatur nafasnya.
Hazel yang melihat adiknya sesak nafas langsung merasa bersalah membentak adiknya. Zeta segera membantu Yuri untuk menenangkan adiknya. Max langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Davis.
"Sebentar lagi dia akan sampai mungkin sekitar empat atau lima menit. Untung rumah dokter itu di dekat sini" ucap Max yang mengambil ponsel Lily yang masih tersambung video call dengan Edward.
"Aku mau Edward... Huhu... Mana Edward?..." tanya Lily yang melihat Max mengambil ponselnya.
"Iya aku kasih lihat Edward tapi tenang dulu. Tenang dulu oke?" Max berusaha menenangkan Lily barulah dia memberikan ponsel Lily.
__ADS_1
Mari kita lanjutkan dengan panggilan video call Edward dan Lily.
^^^"Sayang~".^^^
"Baby kenapa? Kenapa baby bisa menangis? Kalau baby nangis nanti Pinpin ikut sedih".
^^^"Kak Hazel membentakku karena aku tidak mau minum susu".^^^
"Kenapa baby tidak mau minum? Tidak enak?".
^^^"Baby maunya Sean yang buatin susu baby".^^^
"Sudah nelpon Sean?".
^^^"Sudah".^^^
"Kalau sudah tunggu Sean datang dan suruh dia buatin setelah itu babya harus minum,ya?".
^^^"Iya! Nanti baby minum".^^^
"Sekarang tenang ya, perutnya sakit tidak? Atau merasa kram?".
^^^"Sakit sedikit".^^^
"Nanti Sean datang suruh dia elus perut baby ya".
^^^"Iya sayang".^^^
Edward dan Lily terus melakukan pembicaraannya. Yuri merasa sedikit tenang melihat temannya tidak sesak nafas lagi. Max menatap tajam ke arah Hazel. Zeta juga merasa bersalah telah memaksa adiknya.
Akhirnya yang ditunggu - tunggu pun datang. Sean masuk bersama dokter yang dipanggil. Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Lily dan Sean berlari ke dapur untuk membuat susu Lily.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter mengatakan kalau kondisi Lily baik - baik saja. Yuri dan Max merasa lega mendengarnya. Selesai melakukan pemeriksaan dokter tersebut memberitahu Yuri dan Max agar Lily tidak terlalu terbawa emosi dan banyak pikiran karena itu bisa mempengaruhi kondisi janin. Dokter tersebut pun pergi.
Sean berjalan mendekati Lily dengan segelas susu di tangannya. Sean membantu Lily meminum susunya lalu dia mengelus perut kakak iparnya.
"Sudah tenang sekarang? Apa masih sakit?" tanya Sean yang memegangi gelas susu Lily.
"Sudah! Sudah mendingan kok! Mau dielus terus" jawab Lily yang memegangi tangan Sean yang berada di perutnya.
"Iya aku elus terus sekarang kakak tenang ya" Sean kembali memberikan susu kepada Lily.
a b c d e
NANTI DOUBLE UPDATE YA GUYSSS
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>