Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Siap - siap berangkat ambil jadwal


__ADS_3

Tidak ada jawaban yang disebrang sana. Lily menoleh kembali kepada Edward dengan kode "apakah kita harus menjawabnya lagi?". Edward menggelengkan kepalanya dan meminta untuk segera mematikan panggilan tersebut.


"EDWARD! BERANI SEKALI KAU SELINGKUH DARIKU! AKU AKAN MENGADUKAN HAL INI KEPADA AYAH!" bentak Nika yang muncul secara tiba - tiba.


"Sayang~... ah~... Siapa... Siapa wanita itu?~... Akh!" ucap Lily yang kembali memulai aktingnya.


"Biarkan saja saja baby... Wanita itu adalah orang gila kemarin baru keluar dari rumah sakit jiwa,sini biar aku ci um" jawab Edward yang sungguhan menci um bibir Lily.


"Awas kau Edward! Besok aku akan terbang ke negara C, lihat saja!" Nika langsung mematikan panggilan selesai mengoceh marah - marah.


Lily tidak terlihat cemburu sama sekali tidak dengan Edward yang tampak sangat kesal. Edward menidurkan kepalanya di paha Lily kemudian mengungkapkan kekesalannya kepada Lily melalui perbincangan berikut.


"Darimana wanita itu mendapatkan nomorku? Aku tidak pernah memberikanku nomorku kepada siapa pun selama aku disana. Untuk menghubungi kami saja melalui asisten kami" ucap Edward memanyunkan bibirnya.


"Mungkin dari asistenmu dia mendapatkannya?" jawab Lily yang mengelus kepala Edward.


"Iya juga ya... Besok aku akan tanyakan kepada dia, kalau memang benar dia maka aku potong gaji dia sebesar tiga puluh persen".


"Hahaha... Jangan banyak - banyak dipotongnya kasihan asistenmu nanti tidak ada biaya untuk kebutuhan sehari - hari dia".


"Biarin saja! Biar tahu rasa dia! Oh ya baby! Kenapa kau tidak cemburu sama sekali? Padahal dia pelakor".


"Kenapa aku harus cemburu jika suamiku saja tidak menginginkan wanita gila itu malahan dia menginginkan istrinya sendiri ? Aku tidak takut sama sekali, sayangku saja sudah menolaknya saja jadi aku tidak perlu khawatir".


"Kau benar juga! Aku benci sekali sama dia! Wanita cacingan! Tidak jelas pokoknya!".


"Jaga bicaramu sayang! Sekarang kau berbicara berhadapan langsung dengan Pinpin".


"Astaga! Maafkan ayah ya nak? Ayah hanya melampiaskan rasa kesal ayah saja".


"Hehehe... Kita tidur yuk! Aku sudah ngantuk".

__ADS_1


"Hayuk! Sini aku gendong!".


Edward bangkit dari paha Lily kemudian merentangkan tangannya yang pertanda dirinya siap untuk menggendong. Lily beranjak dari sofa kemudian tubuhnya digendong Edward dengan gaya bridal menuju kamar tidur.


Di dalam kamar, keduanya bersiap - siap untuk tidur. Sebelum tidur mereka melakukan ritual tidur mereka yaitu saling memberikan ciu man di dahi satu sama lain barulah mereka tidur. Setelah melakukan ritual malam sekarang mereka sudah masuk ke dunia mimpi.


...****************...


Keesokan harinya Lily sudah berada di kampus dan sedang melakukan rapat antar anggota klub basket di gedung olahraga. Sean saat ini sedang menunggu dua pemain andalan mereka yaitu Dovan dan Kevin. Kalau Dovan biasa datang terlambat karena rumahnya dekat dengan kampus sedangkan Kevin harus datang pagi - pagi sebab rumahnya memiliki jarak yang jauh dengan kampus.


"Lama sekali dua orang itu! Jia! Kenapa kau tidak berangkat samaan tadi sama Dovan?" tanya Sean yang sudah kehabisan kesabarannya.


"Aku sudah mengajaknya Sean tapi dia bilang "ah... Nanti saja lagipula aku tidak akan terlambat" itu dibilang" jawab Jia yang sibuk bermain ciluk ba dengan Pinpin.


"Kenapa tidak cari saja ke rumahnya? Kan dekat kampus rumahnya Dovan" usul Lily sambil memakan biskuit khusus ibu hamil yang diberikan Kevin.


"Kelamaan! Kita tunggu tiga menit lagi kalau dia tidak datang maka, kita langsung datangi rumah dia" Sean melipat kedua lengannya di depan dada.


Tidak lama kemudian datanglah Kevin dengan nafas terengah - engah. Kevin berjalan menuju Sean lalu duduk sebentar di bangku panjang yang ditempati Lily dan Jia.


"Kenapa telat?" tanya Sean dengan ketusnya.


"Ban mobil bocor sama bensin habis,heehh... Lelahnya! Maafkan aku semuanya karena aku datang terlambat" jawab Kevin yang juga meminta maaf kepada semua anggota.


Semuanya hanya mengangguk saja. Sekarang tinggal menunggu Dovan yang rumahnya si paling dekat tapi selalu datang terlambat. Sean terlihat sudah sangat tidak sabaran karena kenapa? Karena hari ini adalah pengumuman babak kualifikasi pertandingan tim basket antar kampus dan institut. Itulah penyebab Sean sangat marah kepada Dovan.


Lima menit kemudian si Dovan belum datang sama sekali. Lily sudah bosan duduk sambil makan biskuit di bangku panjang begitu juga dengan anggota yang lain. Akhirnya yang dinanti pun tiba dengan wajah babak belur.


"Heloo!... Maaf aku datang terlambat! Aduh!" ucap Dovan yang menyentuh bibirnya yang terluka.


"Kemana saja? Itu wajah kenapa lagi? Kelahi sama anak klub sepak bola?" tanya Sean yang langsung menyeret kerah baju Dovan.

__ADS_1


"Iya pak! Tadi saya mau berangkat kampus terus ketemu mereka di gedung fakultas kedokteran lalu mereka memukuli saya habis - habisan sampai seperti ini" jawab Dovan yang menjelaskan alasan dia terlambat.


Sekarang semua anggota sudah terkumpul dan Sean memulai rapat penting hari ini. Kali ini Sean membahas tentang pertandingan antar kampus dan institut yang akan diadakan dua bulan lagi. Lily terkejut mendengar penentuan jadwal pertandingan tersebut. Hari ini keluarnya jadwal pertandingan babak kualifikasi.


"Nanti aku,Lily,dan Jia akan pergi ke gedung olahraga nasional yang berada di jalan cbb dan untuk kalian semua berlatih lah sebaik mungkin kecuali kau,Dovan. Sekitar pukul sepuluh pagi kami akam berangkat dan sekarang menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima,yang ikut ayo persiapkan apa saja yang ingin dibawa" ucap Sean yang mengumumkan topik rapat hari ini.


Dovan dan Kevin mengangkat tangan dan Sean menanggapinya,


"Kevin duluan".


"Siapa yang memimpin latihan selama kau disana?" tanya Kevin.


"Henryi yang memimpin, sekarang Dovan!" jawab Sean yang beralih ke Dovan.


"Kenapa Jia yang ikut? Kenapa tidak aku saja?" tanya Dovan dengan wajah cemberutnya.


"Memangnya aku mau mengajakmu tapi kaunya terlalu lama ya jadi Jia yang terpilih" jawab Sean yang sudah selesai bersiap - siap.


Tiga orang yang akan pergi ke gedung olahraga sudah selesai bersiap - siap. Mereka bertiga berpamitan pergi. Dovan membanting bola basket sebagai pelampiasan kekesalannya namun bola itu memantul kembali mengenai wajah Dovan. Kevin dan Henryi tertawa melihat tingkah Dovan.


Sean mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan sudah berada di dekat gerbang. Jia membukakan pintu mobil untuk Lily.


"Terima kasih Jia" ucap Lily dengan sopan.


"Sama - sama,hehehe..." jawab Jia yang langsung masuk ke mobil melalui pintu yang lain.


Semua sudah masuk sekarang tinggal berangkat. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Perjalanan hanya sebentar karena palingan menghabiskan waktu sekitar sembilan atau sepuluh menit.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2