CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
98. Menikahi Ayu ?


__ADS_3

Setelah acara pengajian selesai, kini semua anggota keluarga telah berkumpul di halaman belakang, untuk makan malam bersama. Disana sudah ada beberapa meja makan Yang berukuran besar dan kursi-kursi tersusun rapi. Kemudian diatas meja sudah tertata berbagai macam menu, mulai dari makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup.


Disisi kanan, ditepatkan untuk anak-anak dan para menantu oma Laras, lalu disisi kiri khusus untuk semua para cucu dan cicit Oma Laras. Mereka telah duduk dikursi masing-masing, kecuali Ny. Calina, Tante Santi, Danira dan Gavino. Mereka masih bercengkrama menggoda Khalisa yang ada dalam gendongan Tante Santi, sambil berjalan menujuh meja mereka.


" Khalisa lucu sekali ya Lin ". Ujar Tante Santi, yang gemas dengan pipi chubby Khalisa.


" Tentu saja, dia kan cucu ku ". Ujar Ny. Calina, membanggakan diri.


" Iya aku tau...dia juga cucuku sekarang. Tapi aku lebih tidak sabar melihat kelahiran bayi-bayi Danira dan Gavino nanti, pasti akan lebih menggemaskan ". Ucap Tante Santi, sambil mencium pipi Khalisa. Ny. calina menoleh kebelakang, menaik-tururunkan alisnya pada Gavino.


"Tan, boleh aku bertanya sesuatu ?".


" Apa..?".


" Bisakah aku memiliki bayi dengan cara bersin atau menggosok-gosok teko saja?". Pertanyaan Gavino, sukses menghentikan langkah para ibu-ibu itu.


" Mengapa kau bertanya seperti itu ?". Tanya Tante Santi, yang merasa aneh dengan pertanyaan keponakannya.


" Yaa...sepertinya keinginan Tante dan mami sulit aku wujudkan ".


" Kenapa ?, apa kau sakit ?, mami akan telpon Dokter Richard sekarang, supaya dia cepat terbang kemari, memeriksa kesehatanmu ". Ujar Ny. calina cemas, lalu mengeluarkan ponselnya, mencari kontak dr. Richard.


" Haiss...!!!aku tidak sakit mi. Masalahnya hanya di cara pembuatannya saja yang tidak bisa ". Ketiga wanita itu menatap Gavino bingung.


" Apanya yang tidak bisa. Tinggal...


Pok


Pok


Pok


" Begitu, apanya yang sulit, apa perlu mami belikan filmnya untukmu ? ". Jelas Ny. Calina menepuk-nepuk telapak kanan dengan telapak kirinya. Tante Santi hanya tersenyum geli, sedangkan Gavino mencebikkan bibirnya kesal dengan tingkah konyol maminya.


" Cceekk...!! Jika hanya adengan seperti dalam film aku pun sudah tau, masalahnya aku tidak bisa menyentuh istriku. Jangankan untuk membuat bayi, melihat wajahnya saja aku tidak bisa ". Jelas Gavino, sambil melirik Danira yang ada disampingnya. Danira semakin menundukkan kepalanya.


Kenapa dia harus membahas masalah ini didepan para orang tua sih. Batin Danira geram, rasanya ingin sekali Danira menutup mulut suaminya dengan kaus kaki. Bila tak ingat itu berdosa, mungkin saat ini telah Danira lakukan.


Ny. Calina dan Tante Santi saling pandang, lalu....


HA..HA..HA..HA..HA...


" Jika itu masalahnya, berarti kau memang dalam masalah besar dan mami tidak bisa membantumu, karena hanya Danira yang bisa memberi keputusan, mau atau tidak disentuh oleh mu ". Ujar Ny. Calina, tertawa terbahak-bahak atas penderitaan yang tegah dialami putranya.


" Iya mamimu benar, tante pun tidak bisa ikut membantu. Ternyata nasib keponakan tampan Tante ini sangat menyedihkan ya ". Gelak Tante Santi saling bersautan dengan Ny. calina.


"Kau harus berkerja lebih keras, untuk menaklukkan hati istrimu. Jangan terlalu lama bertindak, nanti keburu direbut pria lain ". Bisik Tante Santi, menggoda Gavino. Setelah mengatakan itu, Ny. calina dan kakaknya pergi meninggalkan pasangan suami istri yang mematung di tempat mereka.


PUK**


" Mas apa-apa sih, kenapa harus mengatakan hal seperti itu kepada mami dan Tante. Itu sangat memalukan ". Kesal Danira, memukul pelan punggung suaminya.


" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, memangnya ada yang salah ?, Bukankah kita tidak boleh berbohong ?". Ujar Gavino santai.

__ADS_1


" Iya, tapi bukan berarti mas bisa membahas masalah seperti itu. Iihhh....Mas Gavino menyebalkan ". Kesal Danira, berjalan meninggalkan Gavino sendiri.


" Kenapa dia terlihat kesal sekali ? Aku tidak mengatakan hal yang aneh, kenapa dia jadi marah ". Gumam Gavino, bingung melihat Danira yang pergi begitu saja. Gavino mulai melangkah menyusul istrinya, berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya.


Melihat kehadiran Gavino, semua yang ada dimeja para cucu menjadi hening, yang tadinya ramai tiba-tiba diam seketika. Gavino duduk dikursi khusus bagi cucu tertua, dimanapun keberadaannya, dia tetap menjadi pusat perhatian.


Hari ini Oma Laras sangat bahagia, karena anak-anak dan cucu cicitnya bisa berkumpul. Meski sikembar tidak bisa hadir karena kuliah di luar negri, tapi Oma Laras tak kecewa, karena sebelum acara dimulai tadi, mereka telah melakukan panggilan video call.


...Suamiku, lihatlah. Hari ini semua anak dan cucu cicit kita berkumpul memperingati hari dimana kau pulang kepangkuan sang Khaliq. Mereka semua mendoakan mu....


...Suamiku, apa kau tau, hari ini aku sangat bahagia, karena cucu tertua kita Gavino bisa ikut bergabung bersama yang lain, bahkan dia telah menikah dengan wanita yang sangat baik....


...Dia cucu menantu kita, namanya Danira. Dia bukan hanya cantik rupa, tapi juga hati dan kesalehannya. Dia wanita yang sangat tepat untuk mendampingi Gavino, yang keras bagai batu seperti dirimu dulu....


...Ya Tuhan, bila ajalku udah dekat, dan Engkau akan segera membawaku kembali kepangkuan mu, maka aku sudah ikhlas. Karena kekhawatiranku telah sirna, Gavinoku telah menemukan istri yang mampu menjaga dan membimbingnya dijalanMU. Jika memang waktuku didunia ini telah habis, maka aku memohon persatukanlah lagi aku bersama Suamiku dikeabadianMU....


Batin Oma, seakan sedang berbicara kepada almarhum suaminya. Dia tersenyum bahagia, melihat keakraban yang sedang dia saksikan dihadapannya.


*


Danira mulai menyendokkan nasi kedalam piring Gavino, lalu meletakkan lauk dan sayuran tanpa menanyakan apa yang Gavino inginkan, karena Danira masih sangat kesal pada suaminya. Merasa cukup, dia meletakkan piring yang telah terisi didepan gavino. Gavino terus mengikuti garak gerik Danira, dengan tangan terlipat di depan dadanya.


Danira telah menyuapkan makanan kedalam mulutnya, namun saat suapan kedua ingin masuk, Gavino mengangkat piring Danira lalu menukarnya dengan piring makanan miliknya.


" Kenapa ditukar ?". Tanya Danira bingung, dengan apa yang dilakukan Gavino.


" Apa kau ingin membuatku menjadi gendut, dengan memberikan makanan sebanyak ini hhmm?".


" Tapi bukannya tadi mas bilang sangat lapar ?".


" Bagaimana aku bisa bermimpi, bila tidur saja belum ".


" Mana aku tau kau sudah tidur atau belum, aku kan tidak bisa melihat matamu sedang terpejam atau terbuka ". Sindir gavino, merebut sendok yang ada ditangan Danira, lalu memasukkan makanan mengunakan sendok itu kedalam mulutnya.


" Kenapa mas mengambil sendokku juga, itu kan sudah aku pakai ".


" Memangnya kenapa jika aku memakai sendok bekas mulutmu, apa tidak boleh, atau kau ada penyakit rabies ?". Ujar Gavino, terus saja menganggu Danira yang semakin terlihat kesal padanya. Gavino tersenyum tipis, dan momen itu tak luput dari mata para sepupu Gavino yang ada di satu meja bersama dengannya.


Mereka ingin sekali menyapa dan berbicara dengan Gavino, namun urung karena takut dengan sikap dingin dan kekejaman mulut Gavino, yang sering berkata ketus dan arogan. Mereka hanya bisa melihat Gavino secara diam-diam.


*


Tante Sinta menendang kaki suaminya, lalu memberi kode melalui tatapan matanya. Om Anton menghela nafas pelas, lalu mengangguk.


" Hekhem...Bagaimana kabar perusahaanmu Vin, lancar-lancar saja bukan ?". Ucap Om Anton, berbasa-basi memulai obrolan dengan Gavino. Gavino bergeming, dia terus saja menyantap makanannya tanpa memperdulikan pertanyaan dari omnya itu. Danira menyentuh lengan Gavino pelan. Gavino menghela, meletakkan sendok dan garpunya.


" Jika seorang Gavino yang memegang sebuah perusahan, sudah pasti semuanya akan lancar dan baik-baik saja ". Ujar Gavino tanpa melihat lawan bicaranya, lalu menegak segelas air putih yang ada ditangannya. Danira memejam matanya, mendengar jawaban arogan sang suami.


" Ya syukur lah, kalau begitu ". Ucap Om Anton, mengangguk-angguk tanda mengerti. Tante Sinta kembali menendang suaminya, memberi kode untuk bertanya lagi.


" Apa ?".


" Cekk...kau bodoh sekali. Langsung saja, pada intinya ". Bisik Tante Sinta, geram dengan kelambanan sang suami.

__ADS_1


" Tidak, aku akan mencari orang lain saja ". Bisik om Anton, mendengar jawaban suaminya, membuat Tante Sinta memelototkan matanya kesal.


" Vino ". Panggil Tante Sinta ramah, om Anton menyentuh paha istrinya, ingin menghentikan apa yang akan Tante Sinta katakan.


" Tante dengar Perusahaanmu makin maju dan berkembang sangat pesat. Kau sungguh hebat, Tante sangat bangga padamu ". Ucapnya tanpa memperdulikan cueknya Gavino yang tak sedikitpun melihat kearah Tante Sinta.


" Vino bolehkah Tante meminta pertolonganmu ?".


" Mah sudah, jangan buat malu. Lihat semua orang tegah menatap kita sekarang ". Bisik om Anton lagi, meminta untuk istrinya berhenti berbicara. Namun Tante Sinta tak memperdulikan itu semua, dia akan melancarkan rencana yang telah dia susun. Dia yakin bila dia menyampaikan maksudnya dihadapan keluarga besar, Gavino tak akan sanggup menolak keinginannya. pikir Tante Sinta.


Gavino tak menjawab, dia terus saja diam dengan pandangan tertujuh pada Danira. Melihat itu Tante Sinta merasa kesal, karena Gavino tak memberikan respon apapun, dia seakan berbicara sendiri. Tapi dia tetap berusaha tersenyum.


" Vino, bisakah kau memberikan bantuan untuk perusahaan om mu yang sedang dalam masalah ?, Tante yakin kau sudah mendengarnya bukan, Tante har.....".


" Sinta....apa kau bisa, tidak membahas tentang bisnis sekarang ?, apa kau tidak ingat ini acara apa ?". Ujar Ny. Calina, yang sedari tadi sudah menahan agar tak membuat keributan dengan adik iparnya ini.


" Tentu saja aku ingat mbak, memangnya aku mengatakan apa ?, aku hanya mencoba meminta pertolongan kepada keponakan terhebatku ini, apa ada yang salah ?". Ucapnya santai, tanpa perduli dengan tatapan Oma Laras yang sedari tadi melihatnya.


" Tapi kan kau bisa membahas tentang ini setelah acara selesai. Kau benar.....".


" Sudahlah mi, biarkan Tante Sinta bicara. Mungkin setelah itu dia akan diam ". Ucap Gavino dingin, lalu melirik Tante Sinta yang tersenyum senang padanya.


" Tante katakan lah, apa yang ingin Tante sampaikan ".


" Begini Vin, kamu kan atau sendiri perusahaan om mu sedang tidak baik-baik saja. Tante harap kamu bisa memberikan suntikan dana untuk perusahaan om mu, supaya bisa stabil lagi ".


" Eemmm...hanya itu ?". Ucap Gavino, sambil memainkan ponselnya.


" Ada lagi ".


" Mah, sudah ". Ucap Om Anton, masih berusaha menghentikan istrinya. Dia tau apa yang ingin istrinya sampaikan.


" Diam, aku belum selesai, kau cukup duduk tenang dan mendengarkan saja ". Ketusnya, menghempaskan tangan suaminya yang ada dibawah meja.


" Jadi begini Vin, sebenarnya Tante meminta pertolonganmu bukan sekedar cuma-cuma saja. Tante ingin menjalin hubungan yang lebih dari ini. Eemmm...!!! maksud Tante, Tante ingin kamu menikahi Ayu. Ya anggap saja itu untuk lebih memperkuat hubungan keluarga kita ". Ucapan Tante Sinta, tentu saja mengejutkan semua orang, terutama Oma Laras, Ny. calina, Gavino apa lagi Danira. Dia langsung mengangkat pandangannya melihat Tante Sinta lalu beralih pada Gavino.


" Cukup Sinta, apa maksudmu berkata seperti ini. Apa kau lupa, bila Gavino telah memiliki istri, dan juga Gavino dan Ayu mereka saudara, tidak boleh menikah. Apa kau sudah gila HAH...?". Sungut Ny. calina yang sudah tak bisa mentolerirnya lagi.


" Tentu saja aku tau, Gavino memang sudah memiliki istri. Tapi bukankah dia tak pernah mencintai istrinya, jadi untuk apa dia terus bertahan dengan pernikahan tanpa cinta, apa lagi dengan wanita yang bukan harapannya, wanita yang sudah memiliki anak dari pria lain. Itu sangat memalukan ".


" Lagi pula, Gavino dan Ayu hanya saudara sepupu tiri, mereka tidak terikat ikatan darah sama sekali. Jadi sah-sah saja bila mereka menikah, bukan begitu Bu ?". Ucap Tante Sinta, meminta pendapat Oma Laras, yang sedari tadi hanya duduk diam, melihat menantu dan anakkanya berdebat.


" Aku juga tidak masalah bila Gavino tak ingin menceraikan istrinya, tak apa bagiku, bila ayu menjadi istri yang kedua. Yang penting Gavino bisa bersikap adil kepada ayu, aku yakin, anakku ayu pun akan setujuh dengan usulan ku ini ". Ucap Tante Sinta penuh keyakinan.


" Kau memang gila Sinta, kau sudah tidak waras. Anton, lebih baik, kau bawa istrimu kerumah sakit jiwa untuk dirawat, dia benar-benar sakit ". Ucap Ny. calina, Yang tak habis fikir, bagaimana bisa adik iparnya ini ingin menggadaikan putri kandungnya hanya untuk uang dan harta.


Gavino masih memilih diam, meski wajahnya sudah tak setenang tadi, matanya sudah menampakkan kemarahan, rahangnya mengeras, tangannya telah mengepal membentuk tinju. Gavino ingin sekali menyela ucapan mami dan tantenya itu, tapi lagi-lagi Gavino dihentikan oleh tangan Danira, yang menyentuh lututnya dibawah meja.


Apapun yang dikatakan keluarga mami nanti tentang aku, aku mohon mas Gavin tetap diam dan tenang. Tolong jaga perasaan Oma, ini malam miliknya, tolong jangan buat keributan. Itulah pesan Danira, ketika mereka sebelum keluar dari dalam kamar. Gavino memejamkan matanya, mencoba meredam amarah yang siap meledak.


Tak jauh dari sana, seorang gadis yang sedari tadi telah berdiri dibalik tembok, mendengar semua perdebatan yang tengah terjadi. Dia tersenyum bahagia, ketika mendengar sang ibu meminta, sang pria pujaan untuk menikah dengan dirinya. Dia berjingkrak kesenangan.


" Akankah mimpiku menjadi Nyata ?".

__ADS_1


......................


...Bersambung........


__ADS_2