CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
139. Tak akan berubah


__ADS_3

Setelah keduanya selesai menyantap makan malam romantis sederhana yang disiapkan Danira untuk perayaan anniversary pernikahan mereka yang pertama. Gavino meminta ijin kepada Danira untuk membersihkan dirinya sebentar, karena Gavino sudah merasa tidak nyaman dengan pakaian yang telah dia kenakan seharian ini.


Danira duduk di kursi ayunan berwarna coklat tua, yang terbuat dari kayu jati, punggungnya sengaja disandarkan sandaran kursi ayun, kepalanya mendongak keatas, dengan mata terpejam. Sambil menunggu suaminya kembali, Danira menikmati semilir angin malam yang bertiup, menerpa wajahnya.


Meski Danira tampak tenang, namun dalam hati dan benaknya berkecamuk tak menentu, rasa bimbang dan ragu untuk memberitahu sesuatu pada Gavino.


Haruskah aku memberi tahu mas Gavin ?, tapi bagaimana bila dia tak bisa menerimanya ?, bagaimana bila mas Gavin malah mencampakkan aku ?, Ya Allah....sesungguhnya aku tak ingin merahasiakan ini dari suamiku, tapi bagaimana bila dia tak bisa menerima kondisiku seperti ini. Batin Danira, takut.


Setelah 20 menit, Gavino telah kembali naik keatas Rooftop, untuk menemui istrinya lagi. Dia terlihat lebih segar dengan pakaian santainya. Gavino memilih berdiri sejenak, memandang wajah istrinya yang tampak jauh lebih indah saat cahaya rembulan mengenai wajah Danira. Gavino tersenyum, dalam hati terus berucap syukur adan mengangumi kecantikan istrinya yang tiada tara, entah mengapa hati Gavino selalu menghangat meski hanya memandang wajah istrinya. Diam-diam Gavino mengeluarkan ponselnya, seperti biasa Gavino akan mengambil gambar Danira, menambah koleksi kedalam galery ponselnya, yang telah dipenuhi dengan foto-foto Danira.


" Apa mas akan berdiri disana saja, dan terus memotret ku secara diam-diam ?". Suara Danira mengangetkan Gavino, Dia mengalihkan pandangannya, melihat kearah suara merdu yang selalu berhasil menggoda keimanan Gavino, kemudian menyimpan ponselnya lalu mendekati Danira.


" Sepertinya aku ketahuan kali ini ". Gurau Gavino, sambil melingkarkan kain seperti selendang panjang berwarna maroon, tebal kebagian tubuh Danira yang terbuka. Danira tersenyum, lalu membuka matanya, sehingga Metra mereka berdua saling bertemu. Meski telah menikah selama 1 tahun, namun bila sedang ditatap Danira seperti ini, jantung Gavino tak bisa diam, selalu berdebar-debar seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


" Terima kasih mas ". Ucap Danira, membenarkan selendang yang diberikan Gavino.


" Apa kau sudah kedinginan ?, bagaimana bila kita masuk saja sekarang ?, apa lagi pakaianmu terlalu terbuka seperti ini, meski aku menyukainya, tapi aku lebih takut bila kau masuk angin ". Ujar Gavino, sedikit menggoda Danira, dia memegang wajah istrinya yang terasa sangat dingin.


" Aku masih ingin disini, sebentar lagi ya mas ". Gavino tak menjawab, dia hanya ikut duduk disamping Danira. Danira menyenderkan kepalanya di bahu kekar sang suami, Gavino membalas dengan merangkul pundak Danira. Gavino menggerakkan kaki jenjangnya, agar ayunan yang mereka duduki bergerak santai ke depan dan ke belakang.


" Mas ?".


" Hhmmm?".


" Aku ingin memberi tahu sesuatu padamu !!".


" Apa itu ?". Tanya Gavino penasaran.


Danira mengeluarkan amplop berwarna putih, yang ada di bawah dudukannya, di bagian depan amplop itu tertulis nama sebuah rumah sakit ternama ' Muara Bunda Hospital '.


" Apa ini ?". Tanya Gavino, menerima pemberian Danira.


" Dua hari yang lalu, saat aku ke rumah sakit untuk melakukan check up rutin, tanpa sengaja aku melewati ruang Obgyn, aku penasaran mengapa sampai saat ini aku belum kunjung hamil dan ingin memastikan bila rahimku baik-baik saja. Jadi aku meminta Sarah untuk mendaftarkan aku, dan itu hasilnya mas ". Gavino menarik tangannya dari pundak Danira, lalu membuka amplop putih yang masih tersegel itu, kemudian dia membacanya. Gavino mengerutkan dahinya, tak mengerti bahasa medis yang tertera disana.


" Ini maksudnya apa ?, aku tidak mengerti ".Danira diam sejenak, melihat mimik wajah Gavino yang tampak penasaran, menunggu jawaban darinya. Danira terlihat ragu ingin menjelaskannya pada gavino, tapi suaminya harus tahu, dia tak boleh menyembunyikan hal ini. pikir Danira.


" Menurut hasil dari pemeriksaan yang telah aku lakukan, penyebab aku sampai sekarang belum hamil karena sel telur yang aku miliki itu kecil dan sedikit, maka kemungkinan aku bisa memiliki anak itu sangat tipis ". Danira menjelaskan garis besarnya pada Gavino dengan nada lirih, dia menunduk. Hati Danira benar-benar sakit menyampaikan kenyataan yang baru dia ketahui ini, dia merasa telah menghancurkan harapan suaminya.


" Aku dinyatakan mengalami polycystic ovary syndrome mas, karena kelainan Horman inilah yang menyebabkan aku datang bulan tidak teratur, dan faktor utama sampai saat ini aku belum juga kunjung hamil ". Jelas Danira lagi.


Danira memang sejak dulu memiliki siklus haid yang tidak teratur, Kadang Danira tidak mengalami haid sampai lebih dari 3 bulan, namun Danira menyepelekannya, menurutnya selama dia tidak melakukan hubungan ****, dan hal-hal aneh lainnya, Dia tidak perlu takut dan tidak ambil pusing. Namun saat mengetahui hasil pemeriksaannya beberapa hari yang lalu, perkataan dokter membuat Danira kepikiran, cemas dan khawatir, Danira menyalahkan dirinya sendiri, mengapa dia tak memeriksa kondisi rahimnya sejak lama. Padahal sejak Danira pindah ke Jakarta dan bertemu dengan Sarah, Danira telah terjadwal untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, namun Danira selalu menolak bila akan diperiksa tentang kesuburan.


Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan gangguan hormon pada wanita akibat kadar hormon androgen yang berlebih.


Kondisi ini ditandai dengan banyaknya kista pada ovarium, siklus menstruasi tidak teratur, dan resistensi insulin.

__ADS_1


PCOS umumnya menjadi penyebab sel telur kecil dan wanita susah hamil.


Ucapan Danira membuat Gavino terpaku melihat kertas ditangannya dengan tatapan nanar, bingung sekaligus terkejut mendengar penjelasan sang istri. Rasa tak percaya bercampur sedih masuk kedalam dada Gavino, dia tak mengeluarkan perkataan apapun, dia gamang masih berusaha mengurai setiap kata-kata Danira. Berharap apa yang baru dia dengar hanya kesalahan, tapi......


Melihat Gavino hanya diam, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas hasil pemeriksaannya, membuat Danira semakin merasa bersalah, kecewa pada dirinya sendiri, dia semakin menundukkan kepalanya.


" Mas maafkan aku....besar kemungkinan mas Gavin tidak bisa memiliki anak karena kondisiku seperti ini, maaf mas....aku.....!!!". Lirih Danira, sambil memilin jari-jarinya. Gavino menarik pandangannya, melihat Danira. Seketika kesadarannya kembali saat mendengar suara lembut istrinya yang mulai bergetar.


Tidak...ini bukan kesalahan istriku, aku tidak boleh berfikir yang buruk-buruk seperti ini. Dia tetap wanita paling sempurna dalam hidupku, meski tanpa kehadiran anak sekalipun. Batin Gavino, mencoba menyadarkan dirinya dari berita yang tak terduga ini. Gavino mencoba tersenyum, namun terlihat aneh dan kaku.


" Heiii....mengapa minta maaf ini bukan salahmu, itu hanya kemungkinan, bukan berarti tidak bisa. Lagi pula ini hanya prediksi dokter, dia manusia, bukan tuhan. Apa istriku yang Sholehah ini sudah berputus asa, dan tidak mempercayai kuasa Allah ?". Gavino merobek hasil pemeriksaan Danira, dia tak ingin istrinya terlalu terpaku dengan diagnosa dokter itu. Danira mengangkat pandangannya, melihat kearah sang suami, yang terlihat memaksakan tersenyum padanya.


" Bukan begitu mas, aku sangat percaya atas kuasa dan Rahmat Allah. Aku hanya tidak ingin bila nanti mas terlalu berharap padaku, lalu kecewa karena aku tak kunjung hamil, aku yakin mas sangat menginginkan pewaris, apa lagi mami. Beliau sudah sangat menginginkan cucu dari mu, sedangkan aku.....!! aku bahkan tidak tau, kapan aku dapat mengandung, karena riwayat dari keluargaku yang sulit memiliki keturunan, ditambah dengan kondisiku yang seperti ini". Jelas Danira, menatap mata sang suami. Gavino menangkup wajah wanita yang sangat dicintainya ini, yang terlihat mulai memerah, dengan mata yang telah berkaca-kaca.


" Sayang....jangan bicara seperti itu. Memang benar aku menginginkan anak darimu, sangat malah. Bohong, bila aku berkata tidak. Tapi bagiku, memilikimu jauh lebih penting, tujuan kita menikah bukan saya sebatas ingin memiliki keturunan bukan ?, aku menikahi mu karena benar-benar mencintaimu, menerima segala kekuranganmu, terlepas dari segala proses awal mula kita bersama ".


" Bagiku hidup dan menua bersama denganmu adalah impian terbesarku, bila nanti Allah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki anak itu adalah bonus. Jangan Bebani dirimu hanya karena belum mengandung, karena aku tidak mempermasalahkan hal itu ".


" Tapi mas, mami sudah sangat menginginkan cucu dari mu, aku bisa melihat betapa berharapnya dia pada kita?".


" Mami pasti akan mengerti sayang, apa lagi sekarang mami memiliki khalisa.


Coba lihat, apa kita boleh membawa cucu kesayangannya itu tinggal bersama kita ?, tidak kan. Bahkan khalisa selalu dibawa-bawa kemanapun mami pergi, bahkan liburan keluar negri pun khalisa selalu turut serta bersama mami, itu artinya apa ?, mami tidak terlalu mempermasalahkan bila sampai saat ini kita belum memiliki anak, mami tidak sekolot orang tua zaman dahulu ". Jelas Gavino, Danira diam. Memang benar apa yang dikatakan suaminya, Semenjak khalisa tinggal bersama Ny. Calina, mertuanya itu tidak pernah merasa kesepian lagi, bahkan Ny. calina hanya mengirimkan foto-foto lucu khalisa saja, namun Danira tak boleh membawa khalisa tinggal lagi bersama dengannya.


" Sayang....!! aku tidak pernah mempermasalahkan kau bisa memberiku anak atau tidak, yang penting kau selalu bersama denganku. Bukankah kau sendiri yang memberi tahu aku, bila Jodoh, Rejeki dan maut telah dituliskan sebelum kita dilahirkan ke dunia, mengapa kita harus risau akan hal itu. Anak memang penting dalam rumah tangga, tapi bila Allah belum menakdirkan untuk kita, ya tidak apa-apa. Yang terpenting kita selalu berusaha dan berdoa ".


" Mas iiih....aku sedang tidak ingin bercanda, aku tidak ingin mas kecewa nantinya, lalu mas mencari wanita lain ". Cicit Danira.


TUK*


" Aaakkkhhh..." Gavino menjentik kening Danira, tidak suka dengan ucapan sang istri.


" Jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi, aku tidak suka, tidak akan pernah ada wanita lain ". Ketus Gavino.


" Habisnya mas bercanda terus ". Ujar Danira, sambil mengelus keningnya.


" Yang bercanda siapa sayang ?, aku sangat serius, memang kita harus usaha lebih keras lagi, seperti lebih sering melakukannya. Bila biasanya 3 kali sehari, kita ubah manjadi 12 kali sehari, bagaimana ?". Danira membelalakkan matanya, mendengar ucapan aneh Gavino, lalu Danira mendaratkan cubitan kecil diperut sang suami.


"Aawwww......!!!". Pekik Gavino memegang perutnya yang terasa perih, akibat cubitan Danira.


" Mas mesum..".


" Mesum dengan istri sendiri itu wajib sayang, bahkan pahalanya sangat besar ".


" Siapa yang bilang ?".

__ADS_1


" Aku...apa kau tidak mendengarnya, barusan aku yang mengatakannya, bukan ?". Danira mengerutkan bibirnya, malas mendengar suaminya yang mulai mengaktifkan mode mesum akut, bila telah membahas hal seperti ini, Danira sudah bisa menebak kemana mereka akan berakhir malam ini.


" Mas aku serius....!!!, bagaimana bila aku tak pernah bisa memberikanmu anak, apa mas yakin akan tetap seperti ini padaku ?, apa mas yakin kata-kata tidak apa-apa masih terus berlaku ?".


" Jadi istriku yang cantik ini, meragukan aku hhmmm?". Gavino mengelus pipi mulus Danira lembut. Danira mengangguk pelan.


" Karena kau juga manusia biasa mas, tidak ada yang bisa menebak hati seseorang esok hari. Karena sifat manusia pada umumnya mudah berubah ". Cicit Danira pelan. Danira takut rasa cinta Gavino untuknya akan menghilang karen tidak ada kehadiran buah hati diantara mereka, apa lagi perkataan Stevani siang tadi masih terus berputar-putar dikepalanya. Mendengar kata-kata keraguan Danira, tanpa aba-aba Gavino menarik tubuh Danira, masuk kedalam pelukannya.


" Sayang...!! aku tidak memaksamu untuk percaya, tapi aku akan membuktikannya ". Danira mendongakkan kepalanya keatas melihat wajah Gavino, yang kini ikut menunduk melihat Danira.


" Sekarang kita hidup di zaman moderen, bahkan ilmu kedokteran sudah canggih. Bila kau benar-benar ingin mengandung, maka akan aku lakukan segala cara untuk mewujudkannya, aku akan cari pengobatan terbaik di seluruh penjuru dunia sekalipun. Apapun hasilnya, hubungan kita tidak akan ada yang berubah. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun ". Ujar Gavino, terus mencoba menenangkan hati istrinya, yang masih terlihat gelisah dan merasa bersalah sendiri. Meski Danira menampilkan ekspresi sebiasa mungkin, namun Gavino dapat melihat kesedihan dari mata istrinya. Danira tersenyum kecil, lalu memeluk Gavino. Menempelkan kepalanya di dada Gavino, tempat paling hangat dan nyaman baginya.


" Mas.....??".


" Hhmmm?".


" Aku ingin bertanya sesuatu...!!".


" Apa ?".


" Apa mas Gavin pernah......!!". Danira terdiam, ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Dia ingin sekali menanyakan apa benar yang Stevani katakan padanya tadi siang, namun Danira memilih mengurungkan niatnya, tak ingin membahas tentang pertemuannya dengan mantan kekasih suaminya tadi.


" Tidak jadi ". Gavino menautkan alisnya, bingung bercampur kesal mendengar Danira menggantungkan ucapannya.


" Kau ingin bertanya apa ?".


" Tidak jadi mas ".


" Cckkkk....kau menyebalkan, ini kepalang tanggung, aku sudah sangat penasaran ". kesal Gavino, mengerucutkan bibirnya, lucu.


" Ha..ha..ha..ha....ini tidak penting mas, makanya aku urungkan saja ". Kikik Danira, lucu melihat ekspresi Gavino yang merajuk padanya.


Sebenarnya Gavino sudah tau apa yang ingin Danira tanyakan, karena saat didalam kamar, sebelum membersihkan dirinya, Gavino menghubungi Bayu. Mencecar Bayu dengan banyak pertanyaan, akhirnya Bayu menceritakan semuanya pada Gavino, Bayu juga mengatakan bila dia dilarang Danira untuk mengatakannya siapa saja yang menemuinya siang tadi kepada Gavino. Gavino yakin, pertanyaan Danira ada hubungannya dengan Stevani.


Melihat istrinya sudah kembali ceria, Gavino mendekatkan wajahnya pada wajah Danira, lalu.


CUP**


Gavino mengecup bibir Danira lama, berubah menjadi Mel*matnya lembut penuh perasaan. Membuat Danira terbuai hingga terpejam. Gavino menghentikan ciumannya, melihat kelopak mata dihiasi bulu mata lentik yang mulai terbuka, menampakkan bola mata biru yang selalu menghipnotisnya.


" Aku tak perduli kau bisa memberiku anak atau tidak, perasaanku padamu tak akan pernah berubah. Kau bisa pegang kata-kataku. Hari ini, esok, lusa dan selamanya. Hanya Danira wanita yang aku cintai sampai mati, ini bukan sebuah buaian, tapi ini sebuah kepastian ". Ucap Gavino, mengelus bibir Danira, dengan mata tak beralih saling tatap. Ungkapan itu membuat hati Danira menghangat sekaligus terharu, meski rasa takut dan keraguan masih menyelimuti hati Danira, namun dia berusaha untuk percaya.


Semoga ucapanmu benar mas, semoga Allah menjaga hatimu untukku. Semoga Allah senantiasa menjaga pandanganmu dari godaan wanita diluar sana. Karena hanya Allah yang mampu menjagamu dikala jauh dariku. Semoga Allah memberikan kita kepercayaan secepatnya. Aamiin. Batin Danira.


......................

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2