
Sudah satu Minggu sejak menerima surat undangan dari kerajaan, hari ini surat serupa pun datang kembali. Dua orang utusan dari kekeratonan kembali menemui Danira, memberitahu bila raja mereka ingin segera bertemu. Setelah kepergian kedua orang tersebut, Danira berdiri ditengah ruang kerjanya, memandang lukisan sang ayah yang tampak gagah didinding ruangan itu.
Tidak ada yang tau apa yang ada dalam pikiran Danira saat ini, dia melirik kembali dua undangan yang tergulung diatas meja kerjanya. Entah mengapa Danira Engan sekali membuka ataupun membacanya.
Pikiran Danira kian bertambah, karena sebelum kedua pria utusan kekeratonan datang. Dinda, istri Aryo datang bersama putri kecilnya bersimpu memohon pertolongan Danira. Dia bahkan sampai memeluk kaki Danira erat, Menangis tersedu-seduh terus meminta agar Danira mau membujuk Gavino melepaskan suaminya, yang berada dalam tahanan Gavino. Tentu saja hal itu membuat Danira terkejut, apa benar menghilangnya Aryo ada hubungannya dengan suaminya. Pikir Danira.
^^^" Tante yang baik, tolong lepasin papa. Bila Tante mau menghukum, hukum saja Naya, jangan papa...hiks...hiks..hiks ". Permintaan gadis kecil dengan linangan air mata, selalu berputar-putar di kepala Danira. Rasa sesak memenuhi rongga dada Danira, melihat wajah Naya, Danira sekilas melihat wajah bayi lucunya khalisa.^^^
Disaat Danira tegah berperang dengan pikirannya, pintu ruangan itu terbuka. Sarah muncul dari balik pintu.
" Permisi nona, ada yang ingin bertemu dengan anda ".
" Siapa ..?". Tanya Danira tanpa melihat Sarah. Dia tetap fokus melihat lukisan ayahnya.
" Nona Stevani !!". Danira mengerutkan dahinya, dia cukup terkejut mendengar nama yang baru saja Sarah sebutkan. Mau apa dia kemari. pikir Danira.
" Persilahkan dia masuk ". Ujar Danira, dan diangguki oleh Sarah.
Tak lama Seorang wanita cantik nan seksi pun masuk. Danira dapat mendengar suara kepakan heels yang menyentuh marmer.
" Selamat siang Nyonya muda Pradiksa ". Sapanya dengan suara khasnya yang serak-serak basah. Danira memutar tubuhnya melihat kearah lawan bicaranya.
" Selamat siang juga, nona Stevani ". Jawab Danira ramah. Danira memperhatikan penampilan Stevani yang tak berubah dari terakhir mereka bertemu sekitar 6 bulan yang lalu, wanita ini tetap cantik dan selalu mengenakan pakaian minim tentunya. Stevani tersenyum, melewati Danira begitu saja, lalu duduk di kursi yang ada didepan meja kerja Danira, tanpa dipersilahkan oleh yang punya. Danira hanya memperhatikan apa yang Stevani lakukan.
"Wooww...kantormu bagus juga, aku tak menyangka bila wanita rendahan sepertimu bisa memiliki semua ini, aku pikir berita yang beredar hanya omong kosong, ternyata...kau cukup menarik..!!!". Stevani berbicara dengan angkuh, sambil menyilangkan kaki, hingga menampakkan paha mulusnya.
" Alhamdulillah...terima kasih atas sanjungan nona Stevani ". Ujar Danira, sambil berjalan lalu duduk di kursi kebesarannya. Kini mereka berdua sudah duduk saling berhadapan.
" Ngomong-ngomong apa yang membawa anda datang kemari, apa ada hal penting sehingga anda memiliki waktu luang datang kesini ?". Tanya Danira, dia sudah mengira kedatangan Stevani pasti ada maksud tertentu. Stevani tersenyum mendengar pertanyaan Danira.
" Tidak ada, aku hanya ingin melihat perusahaan wanita penggoda yang telah merebut kekasihku ".
" Mantan kekasih ". Sela Danira.
" Aku tidak pernah merasa hubungan kami berakhir, karena sampai kapanpun di akan selalu menjadi kekasihku...aaahhh tidak!!!, sebentar lagi akan menjadi suamiku ". Ucap Stevani, bernada yakin penuh percaya diri. Danira tersenyum mendengar ucapan Stevani.
" Kau tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk meninggalkannya ataupun menceraikannya. Kau akan tetap pada posisimu sebagai istri pertama, dan aku sudah siap berbagi suami denganmu, aku tidak keberatan sama sekali untuk itu ". Danira sedikit tercengang mendengar penuturan gila Stevani, seharusnya yang mengatakan keberatan atau tidak itu dirinya, bukan Stevani. Danira melipat tangannya didepan dada, melihat ekspresi tenang di wajah Stevani, yang biasanya bila bertemu dengan Danira, dia akan berubah menjadi wanita pemarah, namun kali ini tampak berbeda.
__ADS_1
" Sepertinya anda sangat yakin sekali bila suami SAYA akan menikahi anda ?". Tekan Danira, memperjelas bila dia lah wanita Gavino.
" Tentu....!!!!dia pernah berjanji akan menikahi aku, Bahkan berkali-kali membujukku untuk menikah, namun sayangnya saat itu aku belum siap, tapi kini aku telah siap menyandang status sebagai nyonya pradiksa. Dan kau harus bisa merelakan itu terjadi. Dan juga aku sangat yakin bila kau tau sejauh mana hubungan kami terjalin bukan ?". Stevani tersenyum sinis, mengejek pada Danira. Danira paham maksud dari kata-kata Stevani.
" Selama apapun hubungan kalian, sejauh apapun Jalinan yang telah kalian berdua lakukan, itu tidak akan menutup fakta bila saya lah pemenangnya, tetap saya yang menjadi istri sah Dimata hukum, agama dan keluarga ". Ujar Danira santai nan tegas, membuat senyuman di wajah Stevani berubah mengkerut. Masam.
" Ccihh...kau bangga sekali menikmati tubuh pria bekas wanita lain, apa kau tidak merasa jijik menikah dengan pria yang sudah sering melakukan hubungan **** sebelum menikah!!!. Atau Kau ingin tau, sudah seberapa sering kami melakukannya hhmm ?!! ". Stevani terus berusaha meracuni pikiran Danira, menabur sepihan kaca kedalam hati Danira, berharap Danira akan marah lalu membenci Gavino. Dia akan membuat Danira sendiri yang menyerah tanpa harus mengancamnya.
Danira mengepal tangannya, debaran di dada mulai tak menentu mendengar pengakuan mantan kekasih sang suami. Bohong bila Danira tidak terbakar api cemburu, buktinya wajah Danira telah memerah, panas. Rasanya ingin sekali danira menjambak bahan menampar wanita yang ada didepannya. Namun dengan cepat Danira menguasai dirinya, agar tidak termakan oleh hasutan setan yang menjelma menjadi manusia dihadapannya ini.
" Mengapa anda sangat bangga bisa ditiduri suami saya tanpa dinikahi, seharusnya anda merasa malu dan jijik pada diri anda sendiri. Mengapa mau di jama oleh pria yang belum halal untuk anda, apa sebegitu murahannya harga diri anda sebagai seorang wanita ".
" Biar saya beri tahu, seorang pria yang benar-benar tulus mencintai wanitanya, dia tidak akan mau merusak kesucian wanitanya sebelum adanya benang suci yang menyatukan mereka. KECUALI bila si wanita juga memasang badan tanpa rasa takut dan malu ketika disentuh ".
Dam**
Niat hati ingin membuat Danira terbakar api amarah, malah kini telinga dan hati Stevani yang kepanasan mendengar ucapan Danira. Dia merasa sangat terhina dan direndahkan.
Sial....wanita ini, beraninya dia memprovokasi aku. Gumam Stevani dalam hati, Geram.
" KAU....!!!".
" CIHH...Munafik, apa kau yakin bila saat kalian berhubungan badan, suamimu hanya memikirkan mu, atau dia malah membayangkan tubuhku...!!". Stevani tersenyum miring. Dia belum menyerah, dia masih terus berusaha menjatuhkan mental Danira.
" Apapun yang ada dalam pikiran suami saya, itu hak dia. Namun saya tetap merasa kasihan pada anda, sebegitu nya anda menggilai suami saya, padahal pria lajang masih banyak di luaran sana".
" Apa pria-pria yang sering menemani malam-malam anda stoknya sudah habis...uupppsss maaf !!! ". Danira menutup mulutnya, pura-pura keceplosan. Stevani membesarkan matanya mendengar kata terakhir Danira.
" BERANINYA KAU...!!". Stevani ingin menampar Danira, namun dia kalah cepat karena Danira dengan sigap mencekal pergelangan tangan Stevani. Danira menatap Stevani tajam, memegang pergelangan tangan Stevani kencang.
" Jangan pernah bermain kasar dengan saya, karena saya tidak suka. Jangan mencoba memprovokasi saya, karena itu hanya akan sia-sia. Jika anda ingin menggoda suami saya, silahkan. Bila suami saya tergoda maka dia akan saya lepaskan ". Ucap Danira datar dan dingin, Stevani mampu merasakan atmosfer lain dalam diri Danira, Dia bisa melihat perubahan sikap Danira yang tadinya lembut berubah sangat tegas. Danira melempar tangan Stevani kasar.
" Akkhh....!!!". Ringis Stevani, memegang pergelangan tangannya yang terasa berdenyut, sakit.
" Kau sombong juga rupanya. Jangan terlalu percaya dengan ucapan Gavino, mungkin sekarang dia menyanjungmu, mengucapkan kata-kata indah dan romantis padamu, tapi lihat saja nanti, saat dia bosan dengan tubuhmu. Dia akan pergi lalu membuangmu seperti sampah".
" Seperti diri anda saat ini ?, Apa anda juga menganggap diri anda sampah yang telah dibuang oleh suami saya ?". Wajah Stevani sudah merah padam, lagi-lagi dia ingin menyerang Danira, dia ingin menarik kain yang menutupi wajah Danira, sayangnya di kembali gagal. Danira berhasil mengunci tangan Stevani hingga terlipat kebalik punggungnya, kini posisi mereka saling berdiri, dengan Danira menahan tangan stevani, Danira berdiri tepat dibelakang tubuh ramping Stevani. Hal itu membuat Stevani kembali meringis, sulit bergerak.
__ADS_1
" Lepaskan aku sialan...Kau memang wanita kurang ajar. Beraninya kau melakukan ini padaku ". Pekik Stevani, sedikit meronta, ingin melepaskan tangannya. Namun tenaga Danira terlalu kuat menahan Stevani, hingga berkali-kali terdengar suara ringisan dari bibirnya.
" Saya tidak bermaksud menyakiti anda, saya hanya berusaha melindungi diri saya sendiri. Bukankah sudah saya katakan, bila saya tidak suka bermain kasar, tapi anda selalu menyerang saya...!!".
" Saya ingin memberi sedikit masukan kepada anda, mulailah perbaiki penampilan anda, saya tau keyakinan kita berbeda, tapi setidaknya jangan terlalu mempertontonkan lekuk tubuh anda dengan suka rela dihadapan mata-mata pria. Karena sangat disayangkan sekali, bila anda membukanya secara cuma-cuma. Bila anda ingin bersedekah, setidaknya dengan cara lain, jangan bersedekah dengan memamerkan paha dan juga dada anda yang berharga. Jangan mau kalah sama ayam potong yang ada dipasaran sana ". Bisik Danira, lalu melepaskan kuncian nya, kemudian kembali duduk di kursinya.
Stevani semakin panas, dia benar-benar emosi menghadapi Danira, yang semakin merendahkannya.
" Beraninya kau menyamai aku dengan ayam hah ?, lihat saja akan aku buat kau menyesali perkataan mu hari ini padaku. Akan aku rebut kembali apa yang menjadi milikku. Gavino, posisimu semuanya itu milikku....". Pekik Stevani, lalu menyambar tas branded nya diatas meja. Berlalu pergi dari ruangan Danira dengan kobaran api amarah yang semakin menyala. Danira menarik nafasnya dalam, memejamkan matanya sejenak.
DRETZZ
DRETZZ
Danira melirik ponselnya yang bergetar, menandakan ada pesan masuk. Danira mengambil, lalu membukanya.
...Suami : Sayang, sepertinya malam ini aku akan telat pulang, karena banyak sekali pekerjaan. Tidak apa-apa kan ?...
Danira hanya membaca pesan suaminya, dengan sorot mata sangat dingin, tanpa ada niat membalas. Entahlah perasaan Danira sedang tak baik-baik saja. Meski dia berusaha menepis semua ucapan Stevani, namun ada salah satu yang melekat dalam benaknya. Ponsel Danira kembali bergetar.
...Suami : Sayang, kenapa tidak membalas pesanku ?...
Pasti saat ini Gavino tegah kalang kabut melihat tak adanya pesan balasan dari Danira, apalagi dia tau pesannya hanya dibaca saja.
...Suami : Sayang ?, kenapa pesanku hanya dibaca ?...
...Suami : Sayang...?...
...Suami : SAYANG.....??????...
...Danira : Iya...., tidak apa-apa!!!". Balas Danira singkat....
Danira menekan tombol interkom, tak lama sarah pun masuk.
" Anda memanggil saya nona ?".
" Sarah.., bisakah kau membantu aku ?".
__ADS_1
......................
...Bersambung........