
Danira dan Gavino telah berada didalam mobil. Mereka dalam perjalanan menujuh Bandara internasional Soekarno-Hatta. Sejak Masuk kedalam mobil, Danira hanya diam, pandangannya melihat keluar jendela, melihat rumah-rumah dan pepohonan yang mereka lewati. Gavino yang sedang menyetir kembali melirik Danira. Dia ingin sekali membuka obrolan, hanya saja dia bingung harus memulai dari mana. Gavino terus berpikir, pembahasan apa yang kira-kira menarik untuk dibahas. Tidak mungkin mengajaknya membahas masalah saham bukan. Pikir Gavino.
" Kenapa anda selalu melihat saya, apa ada yang ingin anda katakan ?". Tanya Danira tanpa mengalihkan pandangannya. Gavino tersentak, mendengar pertanyaan Danira.
" Iya....!! Eemm, kenapa sejak masuk kedalam mobil tadi, kau hanya diam saja. Apa kau tidak suka pergi bersama denganku ?".
" Tidak...saya tidak bilang begitu ". Ujar Danira.
" Lalu kenapa kau diam saja ?".
" Terus saya harus mengatakan apa ?, bukankah tidak ada yang perlu saya katakan ?".
"Ada yang harus kita bahas dan obrolkan ?". Ujar Gavino, Danira menoleh melihat suaminya yang tengah sibuk menyetir.
" Apa ....?".
" Tentang kita ?, tentang hubungan kita ?". Danira menautkan alisnya melihat Gavino bingung.
" Maksudnya ?". Tanya Danira.
" Apa kau masih marah padaku ?".
" Tidak ". Singkat Danira.
" Jika tidak, kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan ' Anda '?, bisakah kau memanggilku seperti tadi, saat ada orang lain didekat kita ?". Ujar Gavino, tak mau bila Danira masih memanggilnya seperti itu.
" Kenapa ?, apa panggilan saya sangat penting bagi anda ?". Danira bertanya balik, Gavino kembali diam, gengsi mengakuinya. Tak lama mobil yang membawa mereka sampai di bandara. Gavino dengan cepat turun dari dalam mobil, dan memutar ingin membukakan pintu untuk Danira. Namun dia kalah cepat karena Danira telah lebih dulu membuka pintu dan keluar.
Kenapa dia tak pernah memberiku kesempatan untuk terlihat peduli sih. Batin Gavino kesal.
Seorang pria berpakaian seperti petugas bandara menghampiri Danira dan Gavino.
" Selamat siang tuan, pesawat anda sudah siap ". Ujar pria itu memberitahu Gavino.
" Eemmm....!! Bawa barang-barang kami ". Perintah Gavino, sambil memberikan kunci mobilnya kepada pria itu.
" Baik tuan ". Ucap pria itu, lalu mengambil barang-barang Gavino dan Danira.
" Ayo...". Ajak Gavino pada Danira, Danira hanya mengangguk dan mengikuti langkah Gavino. Mereka berdua berjalan beriringan dan pastinya mereka menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang ada disana. Terutama Gavino, Dia yang mengenakan setelan jas dan kaca mata hitam bertengger diwajahnya, semakin memancarkan ketampanan Gavino. Semua mata para wanita terlihat berbinar-binar, penuh damba. Melihat itu, Danira diam, menundukkan pandangannya. Tak ingin melihat para wanita yang menganggumi suaminya.
Mereka berdua telah sampai dilandasan pacu, tangga untuk menaiki pesawat pribadi Gavino telah siap mereka pijaki. Gavino telah naik di tangga kedua, seketika dia berhenti dan berbalik. Membuat Danira yang akan naikpun ikut berhenti.
" Kenapa anda berhenti ?, apa ada yang tertinggal ?". Tanya Danira, Gavino menggeleng. Lalu mengulurkan tangannya kehadapan Danira. Melihat itu, Danira kembali dibuat bingung. Apa yang dia inginkan. pikir Danira.
Gavino masih tetap mengulur tangannya dihadapan Danira, masih menunggu Danira menyambut tangannya.
" Apa...!! apa anda membutuhkan sesuatu ?". Tanya Danira lagi, masih belum peka. Gavino mengela nafas, melihat ketidak pekaan istrinya, lalu Gavino mulai menggoyang-goyangkan tangannya. Danira diam sejenak, dan mulai mengerti apa yang diinginkan Gavino. Danira membuka tas selempangnya, mengambil sesuatu lalu menyerahkan benda itu ketangan Gavino. Gavino menautkan alisnya, melihat Danira memberikannya ponsel.
__ADS_1
" Kenapa kau memberikan aku ponselmu ?". Tanya Gavino bingung.
" Terus anda ingin apa, biasanya bila anda mengulurkan tangan seperti ini. Anda hanya ingin meminjam ponsel saya ". Jawab Danira polos, Gavino menarik tangannya dengan wajah cemberut. Dia benar-benar kesal dengan danira.
" Saya tidak butuh ini ". Ketus Gavino, mengembalikan ponsel Danira.
" Jika bukan ini anda ingin apa ?, tolong jangan main tebak-tebakan karena saya tidak bisa menebak apa yang anda inginkan. Bila anda tidak mengatakannya ".
" Cciiihhh... kau sungguh menyebalkan ". Ujar Gavino. Dia berbaik, kembali menaiki anak tangga, meninggalkan Danira yang masih melihatnya dengan tatapan bingung.
" Ada apa dengannya, kenapa dia terlihat sangat kesal ?". Gumam Danira, Dia benar-benar tidak tau apa maksud suaminya. Danira mengangkat kedua bahunya, mencebikkan bibirnya sedikit " Aneh ...!!" Pikirnya. Diapun ikut melangkah naik, menyusul suaminya.
" Selamat datang Nyonya ". Sapa seorang pramugari cantik dengan body aduhai kepada Danira, yang berdiri didepan pintu pesawat dengan tangan dikatup kedepan dada, sambil tersenyum ramah.
" Terima kasih ". Ujar Danira tak kalah sopannya.
" Tuan muda sudah menunggu anda disana Nyonya ". Tunjuk pramugari itu, Danira hanya mengangguk dan berjalan mengikuti arah yang diberitahu pramugari tadi. Danira sudah melihat Gavino yang telah duduk dikursinya sambil bermain handphone.
" Silahkan nyonya ". Ucap Seorang pramugari yang berada dibelakang Danira, meminta Danira duduk didepan Gavino. Gavino melirik Danira sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya dengan wajah datar. Dia masih sangat kesal karena Danira tak menyambut tangannya tadi. Niat hati ingin bersikap romantis, namun sayang sang istri tak peka. Tanpa diduga Danira malah memilih duduk di kursi kabin yang ada diseberang Gavino.
" Saya akan duduk disini saja ". Ujar Danira pada pramugari itu.
" Baik, silahkan ". Ujar pramugari dengan senyum ramah, setelah itu dia pergi meninggalkan sepasang suami istri itu. Gavino semakin kesal, karena Danira memilih duduk berjauhan darinya.
" Kenapa kau duduk disana ?". Tanya Gavino, melihat Danira tajam.
" Memangnya kenapa ?, apa tidak boleh saya duduk disini? ".
Mau apa dia. Batin Danira melihat Gavino melangkah mendekatinya. Tanpa aba-aba Gavino mengangkat tubuh danira dengan kedua tangan kekar miliknya, hal itu membuat Danira terkejut bukan main.
" Ma..mau aa..aapa anda ?". Tanya Danira terbata-bata.
" Ternyata kau sangat keras kepala juga ya, sudah ku bilang, duduk didekat ku. Kenapa kau masih membantah juga. Apa kau mau aku mengambil hakku sebagai suamimu disini hhhmmm ?".Mendengar ucapan Gavino, membuat Danira membulatkan matanya, tubuhnya gemetar mendengar ancaman dari suaminya.
" A.aapa...!!!Ja..jangan ". Ucap Danira dengan suara bergetar, Dia mulai merasa takut.
" Bila kau tidak mau, maka menurut lah, karena aku paling tidak suka dibantah. Paham !!!". Tekan Gavino, dengan nada pelan namun datar. Danira dengan cepat Menganggukkan kepalanya, dia tak ingin Gavino membuktikan ancamannya. Gavino mengeratkan dekapannya, lalu meletakkan Danira di kursi kabin tepat didepannya.
" Patuhlah, bila tidak aku akan membuktikan ucapanku tadi ". Acam Gavino berbisik, lalu mengelus kepala Danira lembut. Danira menelan ludahnya dengan susah payah. Gavino berjongkok, lalu memasangkan sabuk pengaman dipingang Danira, Danira hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih syok, dengan ancaman Gavino tadi. Melihat Danira hanya diam, Gavino tersenyum tipis.
Ternyata dia takut juga, lucu. Batin Gavino. Diapun kembali duduk dikursinya dan kembali bermain ponsel.
Ya Allah kenapa dia sangat mengerikan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam itu, Astaghfirullah. Gumam Danira dalam hati, Danira masih terus mengatur detakan jantungnya, dia benar-benar takut dengan ancaman Gavino.
Suara pramugari telah pemberitahuan bahwa pesawat akan lepas landas. Mereka diminta untuk mengencangkan sabuk pengamannya dan tetap duduk ditempat. Selama penerbangan berlangsung, sepasang suami istri itu hanya diam, tak ada yang berniat membuka suara. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing, Danira sesekali melihat Gavino yang fokus pada ponselnya. Dia memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
Danira melihat Jam diponselnya, waktu menunjukan pukul 12.45 siang, itu artinya waktu sudah memasuki solat Zhuhur, karena dia sedang didalam pesawat Danira memilih bertayamum mengganti air wudhu. Gavino terus mengamati apa yang Danira lakukan dari balik kaca mata hitamnya.
__ADS_1
Apa yang dia lakukan, mengapa dia melakukan gerakan seperti itu. Apa dia sedang berolahraga?. Batin Gavino, melihat Danira yang sedang melakukan gerakan solat dalam keadaan duduk. Sebenarnya, Danira bisa saja solat didalam kamar yang ada di pesawat itu. Hanya saja, dia masih kepikiran dengan ucapan suaminya tadi, jadi dia lebih memilih solat dikursinya. Danira telah menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan sambil mengucapkan salam, kemudian mengangkat tangannya, berdoa. Gavino terus saja memperhatikan apa yang dilakukan istrinya, dengan tangan sebelah kiri memaku dagunya.
" Kau sedang melakukan gerakan apa tadi ?". Tanya Gavino yang penasaran.
" Saya sedang melakukan gerakan solat, apa anda tidak tau ?". Ujar Danira, berbalik bertanya.
" Bukankah solat hanya dalam keadaan berdiri ?". Tanya Gavino lagi.
" Benar...Tapi jika dalam keadaan bepergian jauh atau dalam kendaraan diperbolehkan solat sambil duduk. Jika didalam pesawat terdapat ruangan yang memungkinkan untuk solat berdiri akan lebih baik, tapi jika tidak ada, maka tidak apa-apa solat dikursi penumpang ". Jelas Danira, Gavino mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia selalu terkesima bila mendengar Danira sedang menjelaskan tentang agama.
" Anda tidak solat ?". Tanya Danira pada Gavino.
" Tidak....!!".
" Kenapa ?".
" Saya tidak tau, dan tidak pernah solat ". Jawab Gavino jujur. Gavino memang beragama Islam, bahkan seluruh keluarga besarnya pun beragama yang sama. Hanya saja, dia tak pernah diajarkan tentang solat, Ayahnya hanya mendidiknya tentang bisnis dan bisnis sedari kecil. Hingga Gavino lupa bila ada kewajiban lain yang harus dia jalankan. Jawaban Gavino membuat Danira terperangah tak percaya.
" Sama sekali ...?". Tanya Danira masih tak percaya, Gavino menaikkan alisnya lalu mengangguk pelan.
" Kenapa anda tidak mencoba belajar ?".
" Untuk apa ?, bukankah dengan menyakini dan memeluk agamanya saja sudah cukup. Lagi pula aku sudah memiliki segalanya Jadi untuk apa lagi aku solat". Ujar gavino melipat kedua tangannya didepan dada. Danira menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Gavino.
" Menyakini dan memeluk agamaNYA saja tidak cukup, bila anda tidak menjalankan kewajiban anda. Kenikmatan dan kekayaan yang anda miliki saat ini bisa saja ini Istidraj. Allah melimpahkan segala kenikmatan duniawi kepada anda, tapi ketahuilah kenikmatan Istidraj ialah cobaan dari Allah SWT, yang mana terus-menerus memberikan kenikmatan yang melalaikan, hingga kenikmatan itu sendiri yang membinasakannya. Nauzubillah ".
" Dan juga, menurut salah satu ulama. Bila seorang suami tidak pernah mengerjakan solat barang sekali dalam hidupnya. Maka itu sama halnya dia telah menjatuhkan talak pada istrinya ". ( Menurut Alm. Syaikh Ali Jaber).
" Maaf bila anda tidak terima saya mengatakan ini. Saya tidak bermaksud menceramahi atau menggurui anda. Mungkin bagi anda saya hanya mengarang atau berkata omong kosong. Tapi ketahuilah, saya hanya memberi tahu yang baik bagi anda, saya tidak ingin suami saya dimurkai Allah, karena kesombongan dan menikmati kenikmatan dunia yang mana akan menjerumuskannya kedalam kesesatan dan kelalaian. Tegas Danira lagi. Bila telah menyangkut tentang kewajiban kepada Allah. Danira tak bisa mentolerir.
Gavino terdiam, dia hanya mendengarkan segala ucapan Danira. Dia tak lagi menyanggah atau memotong ucapan Danira seperti yang pernah dia lakukan sebelum-sebelumnya. Gavino mengalihkan pandangannya keluar jendela, Dia mulai memikirkan semua ucapan Danira. Apa lagi bagian ' Tak solat sama sekali, sama halnya menjatuhkan talak '. Setelah mengatakan hal itu, Danira kembali mengunci mulutnya, mengarahkan pandangannya keluar, dia melihat awan-awan putih yang membentang diluar sana.
Setelah menempuh penerbangan selama hampir 2 jam, akhirnya pesawat yang membawa mereka mendarat dengan selamat di bandara internasional Supadio, yang sebelumnya dikenal dengan nama Bandar Udara Sei Durian atau Bandar Udara Sungai Durian, Kalimantan Barat. Danira telah membuka sabuk pengamannya dan siap berdiri karena pesawat telah berhenti dengan sempurna. Tapi ada yang aneh, sang tuan muda masih duduk dengan tenang, tak ada niatan ingin turun. Mengetahui Danira tengah melihatnya, Gavino pun mengalihkan matanya kepada Danira.
" Kau turun saja dulu, nanti aku akan menyusul ". Ujar Gavino, dengan wajah datar dan suaranya terkesan dingin. Mendengar itu, Danira menautkan alisnya dalam.
Apa dia marah atau tersinggung atas ucapanku tadi. Batin Danira menerka-nerka.
" Aku tidak apa-apa, tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri disini. Jadi turunlah diluan, aku harus menghubungi seseorang terlebih dahulu". Jelas Gavino, yang kini nada suaranya tak sedingin tadi. Danira hanya mengangguk sekilas, lalu berjalan melewati Gavino.
Pasti dia ingin mengabarkan kekasihnya, bila dia telah sampai. Pikir Danira, entah mengapa dia merasa kesal memikirkan hal itu.
Danira berjalan perlahan, namun ada yang aneh dia tak melihat adanya pramugari yang biasanya berdiri didepan pintu saat masuk maupun keluar. Danira tak memperdulikan itu, dia terus berjalan dan mulai menuruni tangganya, tapi seketika mata Danira membesar, dia menutup mulutnya. Danira sangat terkejut melihat apa yang ada dihadapannya saat ini.
Danira berjalan perlahan menuruni anak tangga, mendekati orang-orang yang tengah berbaris. Dia mulai membaca satu persatu tulisan yang ada ditangan para pramugari, pilot dan petugas bandara lainnya.
..." DANIRA, TOLONG MAAFKAN AKU "....
__ADS_1
......................
...Bersambung........