
Suara Airport announcement silih berganti memberi pengumuman kepada para calon penumpang. Suasana di Bandar Udara Soekarno-Hatta terlihat ramai, orang-orang berlalu lalang dengan sibuknya. Ada yang sambil menarik koper, ada yang mendorong kursi roda orang tuanya, ada anak-anak yang berlari kesana kemari, Ada pasangan muda-mudi, dan masih banyak lagi. Danira hanya mengamati dari dinding kaca ruang VIP, hari ini Danira akan terbang ke Semarang untuk menghadiri acara peresmian kator cabangnya yang disana, sebenarnya Danira tidak ingin pergi namun dia tak sampai hati mengecewakan Sarah yang telah susah payah menyiapkan semua ini untuknya.
Danira duduk dengan tenang didalam ruangan itu, ada rasa tak nyaman dalam hati Danira, karena dia pergi tanpa meminta izin dari suaminya. akhir-akhir ini hubungannya dengan Gavino makin merenggang, sejak datangnya Doni waktu itu, Gavino semakin dingin kepada Danira. Bahkan sudah 1 Minggu ini mereka tidak bertegur sapa, seakan-akan Gavino menghindari Danira, bahkan kemarin malam Gavino tak pulang ke Penthouses mereka.
Hemmhhuhh...
Danira menghela nafas berat, menerka-nerka ada apa dengan suaminya. Apakah dia ada berbuat salah tapi Danira tak menemukan jawabannya.
Bukankah dia sendiri yang bilang aku bebas kemana saja, dia tak akan perduli. Anggap saja dia telah mengijinkanku. Danira berperang dengan batinnya sendiri.
" Nona, pesawat anda telah siap. Kita berangkat sekarang". Sarah menghampiri, dan Danira tersadar dari lamunannya. Danira hanya mengangguk lalu berdiri, mengendong Khalisa.
Pukul 10 pagi, pesawat yang membawa Danira telah Landing dengan selamat di Bandar Udara Internasional Jendral Ahmad Yani - Semarang, Mereka hanya melakukan perjalanan selama 1j,15m. Sekarang Danira sudah berada didalam kamar hotel berbintang lima, karena acara peresmiannya jam 2 siang, jadi Sarah memutuskan untuk Danira dan Khalisa beristirahat terlebih dahulu.
" Nona, anda istrirahat saja dulu disini. Nanti sebelum jam 2 saya akan datang menjemput anda. Karena ada beberapa hal yang harus saya persiapkan dulu". Ujar Sarah memberi tahu.
" Baiklah, terima kasih rah". Jawab Danira, sambil m nepuk-nepuk punggung Khalisa yang tidur.
" jika anda butuh sesuatu hubungi saya segera nona, atau ada apa-apa anda bisa langsung menekan tombol ini".
" Iya...iya rah, kamu tidak perlu terlalu khawatir begitu. Insyaallah aku akan baik-baik saja". Danira menjawab sambil tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Sarah. Sepeninggalan Sarah, Danira berdiri diambang balkon kamarnya, melihat pemandangan Yang ada diluar. Indah, angin sepoi-sepoi meniup-niup membuat kerudung yang Danira kenakan melayang-layang. Danira melihat ponselnya, dia ingin menghubungi Gavino, tapi sayangnya Dia tak memiliki nomor ponsel suaminya.
"Hhmmm...sudahlah, mungkin dia sedang bersama dengan kekasihnya". gumam Danira, menduga-duga. Danira masuk, lalu berbaring disamping Khalisa.
Danira terbangun, merasakan adanya suara yang memanggil-manggil nanya berulang kali, Danira membuka matanya, melihat Sarah telah berdiri tepat disampingnya, Danira bangun lalu bersandar mengumpulkan kesadaran yang masih melayang.
" Sudah jam berapa rah ?". tanya Danira sambil menutup mulutnya karena menguap.
" Jam 1.30 Nona".
Danira melihat kesisi ranjang mencari Khalisa, yang sudah tak nampak disana.
" Loh...Khalisa kemana?". tanya Danira mulai panik.
" Khalisa ada didepan tv nona, dia sedang menonton kartun kesukaannya. Saat saya masuk, dia telah duduk diatas ranjang sambil menganggu anda yang masih tidur". jelas Sarah. Danira bernafas lega, mendengar ucapan Sarah.
" Ya sudah, saya siap-siap dulu, kamu tolong jaga Khalisa sebentar ya". pinta Danira, sambil berlalu pergi masuk kekamar mandi. Danira telah siap dengan penampilannya, dimenggunakan pakaian sederhana berwarna coklat susu, mereka berangkat meninggalkan hotel lalu asuk kedalam mobil menujuh tempat acara yang sebentar lagi akan dimulai. Dan disinilah mereka sekarang, didalam aula gedung perkantoran 6 lantai yang sudah ditata sedemikian rupa dengan kursi dan meja berjejer rapi. Para tamu undangan telah tiba, dan mulai memasuki aula tersebut, Danira telah duduk disudut tegah tempat yang telah disiapkan Sarah, supaya Danira tak terlalu mencolok. Banyak orang-orang yang melihatnya aneh dan tak suka dengan penampilan danira, tapi mereka lebih memilih tak memperdulikan Danira, acuh. Acara telah dimulai, Sarah telah mewakilkan Danira memotong pita peresmian, dan semua tamu bertepuk tangan dengan meriah. Tak jauh dari tempatnya, Mata Danira menangkap sosok pria yang dia kenal sedang asik berbincang dengan tamu yang lain, saat semuanya tegah asik menikmati hidangan Danira berjalan menghampiri pria itu.
__ADS_1
" Assalamualaikum". salam Sarah kepada pria yang masih memunggunginya, pria itu berbalik melihat Danira dari atas sampai bawah. Danira menyunggingkan senyum dibalik cadarnya.
" Waallaikumsalam, siapa ya ? apa saya mengenal anda ?". tanya pria itu sopan, Dia tak bisa menebak siapa wanita yang ada dihadapannya ini. para pria yang ada didekat mereka mulai berbisik-bisik.
" Saya Danira, apa mas David masih kenal saya. Adik dari kak Shena, wanita yang dulu anda tolong". Ujar Danira memberi tahu. David tampak berfikir sejenak, kemudian tersenyum lebar.
" Ya..ya aku ingat, ya Allah akhirnya kita bisa bertemu lagi, bagaimana kabarmu ?, dan ini...". Tanya David, sambil menunjuk Khalisa bingung.
" Alhamdulillah baik dan sehat mas, iya...ini bayi yang dulu mas David dan mbak Sofia bantu". David tersenyum bahagia melihat Khalisa.
" Kita kesana saja ngobrolnya, disini terlalu berisik". ajak David, menepi keluar tempat yang tak terlalu ramai. Danira mengikuti langkah David mereka berdiri didepan pintu perkantoran itu.
" Boleh saya menggendongnya ?".
" Tentu...". Danira menyerahkan Khalisa kepada David, Khalisa tak memberontak, dia tersenyum senang kepada David.
" Ya Allah, kamu sudah besar sekali ya nak". ujar David sambil mencium pipi gembul Khalisa.
" Bagamana kabar Mbak Sofia mas ?, apa dia sudah melahirkan ?". tanya Danira.
" Alhamdulillah sudah dek, bulan lalu dan bayi kami laki-laki". Jawab David dengan binar kebahagiaan dimatanya.
" Aamiin...makasih doanya dek Nira".
" Kok kamu bisa ada disini dek ?.
" Itu, ...saya diajak teman mas, katanya persemian kator cabang mereka". Bohong Danira. " Apa mas David kerja disini ?".
" Tidak...saya tidak kerja disini, tapi saya kerja di cabang bagian Surabaya".
" Oh gtu, menjabat sebagai apa dicabang sana mas ?". Danira memastikan, pasalnya dicabang Surabaya sering kali terjadi masalah karyawan curang.
" Disana saya sebagai manager pemasaran dek". Danira mengangguk-anggukkan kepalanya, mereka masih terus berbincang kadang sesekali tertawa.
Dari jauh, mata elang dengan bola mata hitam kelam malihat mereka tajam, wajahnya memerah dan tangannya mengepal membentuk tinju, Dia emosi.
...****************...
__ADS_1
Danira telah kembali kehotel tempat Dia menginap terlebih dahulu, besok pagi dia baru akan kembali kejakarta. Danira berjalan melewati koridor hotel hanya dengan Khalisa, karena Sarah tidak bisa meninggalkan acara dan para tamu yang belum bubar.
Danira berhenti didepan pintu kamarnya, dan ingin menempelkan kartu, namun suara dari belakang mengejutkan Danira.
" Jadi ini dirimu yang sebenarnya ?". Suara bariton itu membuat Danira berbalik, dia mengenal siapa pria pemilik suara itu.
" Anda ?". Danira terkejut melihat Gavino ada dihadapannya.
" Kenapa...!! kau terkejut melihat aku ada disini ?, Cciihh sudah ku duga sejak awal, bahwa kau tak sepolos dan sesuci penampilanmu ini". Gavino mulai melemparkan hinaan, Danira yang mendengar ucapan Gavino bingung.
" Apa maksud anda ?".
" Tidak perlu berpura-pura seperti itu, apa kau datang kesini karena ada panggilan dari pelanggan mu atau kau datang kesini untuk menggoda para laki-laki. Pantas saja kau tak menerima kartu pemberianku, ternyata seperti ini pekerjaanmu. Munafik". Gavino meluapkan semua kekesalannya, dia makin membenci Danira. Mendengar fitnahan-fitnahan yang lontarkan suaminya, membuat mata Danira memanas, tanpa aba-aba air matanya mengalir, hatinya sakit.
" Apa pria tadi ayah dari bayimu itu, mengapa kau tak memintanya untuk menikahi mu ?, apa dia pria telah beristri ?, ciihh kau menjijikkan sekali. Ternyata kau memang memiliki bakat menjadi simpan ya?". Ketus Gavino, melihat Danira dengan tatapan jijik.
Apa dia melihat aku dan mas David tadi, ya Allah teganya Dia memfitnahku sekeji ini. batin Danira.
" Apa memang begini caramu mencari uang, menjajalkan tubuh busukmu itu kehadapan para pria ".
" Tutup mulut anda...!!, jika anda tidak tau apa-apa lebih baik diam. Bukankah Anda melihatnya tadi bukan, mengapa anda tidak mencari tau dulu kebenarannya, baru mengeluarkan tuduhan murahan seperti ini."
" sebelum anda memfitnah saya, berkacalah kepada diri anda sendiri. Apakah anda sudah sebaik itu ?, Terkadang apa yang kita lihat, belum tentu kejadiannya seperti yang kita duga".
" Lagipula, jika memang pria itu adalah ayah Khalisa mengapa anda terlihat sangat marah ?, bukankah Anda sendiri yang mengatakan kita berdua hanya orang asing, mengapa sekarang anda terlihat seperti peduli ?". Skak mat, Gavino seakan mati dengan balasan Danira.
Benar juga, mengapa aku sangat tidak suka dia berbicara dengan pria lain. batin Gavino, merutuki dirinya sendiri.
" Siapa yang peduli kepadamu, aku hanya tidak ingin orang-orang melihatmu dengan pria lain, sedangkan saat ini banyak orang yang tau, kalau kau masih menjadi istriku. Setidaknya tunggu kita resmi berpisah". Elak Gavino
" Siapa yang anda maksud orang-orang?, bukankah banyak orang yang tak mengetahui bila anda telah menikah ? bahkan anda masih sering pergi bersama dengan kekasih anda. Jika anda perduli dengan pandangan orang lain, mengapa anda tidak mengubah kebiasaan anda sendiri. Berhenti bertemu dengan wanita yang bukan istri anda!".
" Anda terlalu egois". Ujar Danira, berlalu masuk kedalam kamarnya, menutup pintu meninggalkan Gavino yang masih mematung ditempat. Gavino baru melihat sisi lain Danira.
" Apa dia menangis ". Gumam Gavino.
" Ahh..terserah..aku tak perduli". Gavino berjalan menjauh dari pintu kamar hotel danira.
__ADS_1
......................
...Bersambung.......