
Dua Minggu sudah Danira tinggal di penthouses milik Gavino, dan selama 2 Minggu itu juga suaminya tak pernah pulang ataupun datang menemuinya. Danira bisa bernafas lega, Dia tak perlu adu urat untuk berbicara dengan suaminya. Selama 2 Minggu ini, Danira menjalankan hari-hari nya seperti biasa, membersihkan semua sudut ruangan sesuai yang diperintahkan Gavino kecuali kamar dan ruang kerja yang dilarang Gavino. Terkadang Danira suka berfikir, akan seperti apa pernikahannya ini, akan kah berakhir seperti yang dikatakan Gavino atau berlanjut atas kuasa Allah. Danira belum tau jawabannya, dia akan bertahan sekuat dan semampunya, berusaha mempertahankan pernikahan ini sesuai janjinya kepada Ny. Calina dan juga umi Siti.
Danira sudah selesai mencuci sayuran dan buah-buahan yang dia beli di supermarket, dibawah gedung ini. Hari ini Danira ada jadwal kekantor tempatnya biasa, karena Sarah telah menghubunginya ada beberapa berkas yang harus Danira tanda tangani. Semua sudah bersih, Danira menyimpan Sayur-sayuran kedalam lemari pendingin, sebagian buah -buahan Danira simpan juga kedalam lemari dan sebagiannya dia tata diatas piring buah dan meletakkannya diatas meja makan. Danira membuka dan membuang sarung tangan pelastik yang dia gunakan tadi kedalam tong sampah.
Danira masuk ke kamarnya, berganti pakaian lalu menggendong Khalisa, bersiap-siap pergi. Danira telah memesan taksi online seperti biasa. Dan disinilah Danira sekarang, duduk dikursi kebesarannya, membaca semua berkas yang diberikan Sarah lalu menandatanganinya.
Khalisa sedang tertawa riang, bermain dengan para karyawan Danira yang ada disana.
" Rah...bagaimana progress pembangunan yayasan kita". tanya Danira, sambil membaca berkas yang ada ditangannya.
" Alhamdulillah, sejauh ini berjalan dengan lancar nona, pembangunannya sudah mencapai 45%, dan juga banyak sekali permintaan untuk dibukaknya donasi bagi yayasan itu nona. Para pengusaha di negri ini, sudah banyak sekali mengirimkan utusannya meminta kita mengijinkan mereka untuk menanamkan modal kedalam yayasan yang anda buat". Ujar Sarah, Selama ini banyak sekali dari pengusaha-pengusaha baik yang baru, maupun yang telah lama dipuncak kesuksesan meminta kepada Sarah, sebagai Direktur Radenayu Group untuk dibukakan saja, ijin bagi para relawan yang ingin ikut menyumbang atau berdonasi dalam pembangunan yayasan panti asuhan, panti jompo, rumah singgah, sekolahan dan tempat disabilitas lainnya. Karena sampai saat ini, Danira masih menutup akses bagi orang-orang yang ingin menyumbang. Mendengar itu, Danira melihat Sarah sebentar sambil tersenyum.
" Akan aku pikirkan". Ujarnya lembut. " Ini...semua sudah aku tanda tangani, apa ada lagi ?".
" Tidak ada nona, Oh iya, nona Minggu depan anda harus hadir diacara peresmian bangunan baru kantor cabang anda yang disemarang". Sarah memberitahu.
" Apa itu harus ?". tanya Sarah, dia masih belum nyaman bila bertemu orang banyak, apa lagi sampai orang-orang mengetahui siapa dia. Sarah yang mengerti, kegundahan danira mendekat.
" Anda tenang saja nona, semua sudah saya atur, tidak akan ada yang mengetahui anda adalah pemilih perusahaan ini". jelas Sarah, memberitahu bila semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah, kamu atur saja rah".
" Baik Nona". Angguk Sarah paham.
" Khali, kita pulang sekarang yuk nak, sebentar lagi mau ashar". Danira berucap sambil memasang cadar dan Burqanya, kemudian meletakkan Khalisa didalam strollernya.
" Anda akan pulang sekarang nona, biar saya yang antar ya?". tanya Sarah menawarkan.
" Tidak perlu, aku naik taksi online saja, bukankah sebentar lagi kau ada rapat dengan perusahaan Garayudha Company ". Danira menggingatkan, Sarah hanya mengangguk pasrah.
" Baiklah...!! kalau begitu saya pulang dulu ya semuanya".
" Assalamualaikum ". salam Danira kepada suamia karyawannya yang ada disana.
" Waallaikumsalam... hati-hati Nona". Kompak mereka dengan menunduk hormat.
Danira berjalan keluar, namun kakinya terhenti saat berhadapan dengan pasangan yang ada dihadapannya. Mereka saling bertatapan.
Jadi wanita ini kekasih suamiku. Batin Danira. Danira memutuskan tatapannya, ada rasa yang tak nyaman, Dia mulai melangkah berjalan melewati mereka, tak berniat menyapa.
" Rupanya kita berjodoh, lihatlah kita bertemu lagi disini". Stevani melihat sinis kepada Danira, Danira berhenti kembali, masih membelakangi mereka.
__ADS_1
" Iya...!! anda benar nona sepertinya kita memang borjodoh, tapi sayangnya saya berjodoh dengan pria yang ada disamping anda". Ujar Danira dengan lembut namun tegas.
" Beraninya kau menggoda kekasihku, sialan". Stevani mulai emosi, ingin menarik hijab Danira dari belakang. Gavino segera menahan Stevani.
" Apa kau mengenal nya?". Tanya Gavino pada Stevani yang masih bersungut-sungut.
" Honey dia wanita yang telah menabrakku hingga tersungkur waktu itu". jawabnya dengan suara khas yang dimilikinya, lalu dibuat selembut mungkin. Danira yang mendengar jawaban Stevani tersenyum miring, lalu dia memutar tubuhnya menghadap Stevani.
" Anda yakin waktu itu terjatuh karena saya, atau karena hills yang anda gunakan terlalu tinggi ?". Danira berujar santai sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Lalu matanya melihat Gavino yang masih berdiam diri ditempat dengan wajah datarnya.
" Apakah karena wanita ini, suamiku selama 2 Minggu tak pulang kerumah?". ucap Danira santai, Stevani yang ada disamping Gavino membulatkan matanya dengan mulut ternganga tak percaya.
" Jadi...jadi..jadi ini istrimu itu honey?". Stevani bertanya kepada Gavino dengan mata menyelang tajam. Gavino hanya diam, terus menatap Danira tajam.
" Jadi kau wanita penggoda itu hah?". pekik Stevani, emosi melihat wanita yang menjadi istri dari kekasihnya. " Kurang ajar, beraninya kau merebut kekasihku dariku hah, dasar wanita tidak tau diri". teriak Stevani kencang, membuat banyak orang yang berlalu lalang melihat kearah mereka, Gavino malu semalu-malunya.
" Berhentilah berteriak seperti itu, apa kau tidak lihat, semua orang sekarang melihat kita". Ucap Gavino pelan dengan nada ditekan geram.
" Aku tidak perduli, aku ingin menjambak dan mempermalukan wanita perebut ini". Stevani masih dikuasai oleh emosi, yang membuat mata dan wajahnya merah padam. Danira yang melihat itu hanya tersenyum.
" Apa anda yakin ingin mempermalukan saya?, apakah anda tidak takut reputasi diri anda sendiri yang akan jatuh?".
" Istri sah tidak akan pernah kalah dengan wanita Yang hanya berlebel kekasih". Danira berucap dengan sangat santai, seperti tak terpengaruh dengan emosi Stevani.
" Sungguh miris, aku turut bersedih mendengarnya. Astaghfirullah...begitu bangganya anda dengan dosa Yang anda buat, apa anda bahagia dengan kelakuan seperti itu ?, Tidakkah anda punya rasa malu, mengubar aib anda disini ? Allah telah menutup aib anda rapat-rapat agar tak ada satu manusia pun yang tahu perbuatan anda, tapi anda membeberkan semua aib anda, berteriak dengan lantang didengar oleh banyak orang... Nauzubillah. Semoga allah mengampuni dosa-dosa anda dan suami saya". Stevani dan Gavino sama-sama terdiam mendengar penuturan Danira, mereka merasa tertampar dengan kata-kata yang dilontarkan Danira untuk mereka. Stevani mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, dan benar saja semua mata menatap jijik melihatnya. Seketika Stevani merutuki kebodohannya akibat terpancing emosi.
" Dan anda bangga karena anda telah menjalin hubungan selama 7 tahun?, tapi sayang sekali, pemenangnya tetap saya, tetap nama saya yang disebut dan diikrarkan dalam ikatan suci, disaksikan oleh Allah dan para malaikatnya, walaupun sampai saat ini suami saya masih belum sadar dengan kehilafan yang dia lakukan bersama anda" Sindir Danira lagi, dengan melirik Gavino dan menekankan kata suami.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya". Danira berujar sambil maju selangkah lebih mendekat kepada Stevani ". Bertobatlah, selagi nyawa masih ada, selagi pintu ampunan masih terbuka lebar, bertaubatlah...semua agama mengajarkan kebaikan, aku percaya agama yang kau anut pun demikian". ucap Danira lebut dan tulus.
" Mas....saya pulang diluan ya, jika sudah puas main diluar nya, kembalilah kerumah". Sindir Danira halus. Tiba-tiba hati Gavino terasa berdesir, seakan darahnya mengalir deras mendengar Danira memanggilnya dengan sebutan " Mas".
Danira berbalik, menorong Stroller Khalisa melangkah jauh meninggalkan pasangan yang masih mematung ditempat.
" STEVANI....ayo pulang". Gavino menahan suaranya agar tidak berteriak, menarik lengan Stevani kasar. Geram, kesal, malu semua bercampur menjadi satu, rasanya Gavino ingin bersembunyi didalam sedotan saja. Tak Dia pedulikan Stevani yang mengaduh kesakitan.
***
Didepan pintu penthouses nya, Gavino mematung sejenak. bimbang, Haruskan dia masuk atau memilih tidur di kantornya seperti 2 Minggu lalu. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Gavino membuka penutup tombol, dan memasukkan angka pin.
~Kling
__ADS_1
Menandakan pin benar dan pintu itu terbuka, Gavino masuk perlahan, membuka sepatunya dan mengganti dengan sendal rumahan. Dia mengedarkan pandangannya melihat kondisi rumahnya yang makin bersih dan rapih, namun ada yang berubah. Saat Gavino masuk, dia langsung disambut dengan aroma bunga Iris, segar. Tak ada lagi aroma maskulin yang bersarang dirumah ini. Gavino melihat kearah dapur, dia melihat ada banyak buah-buahan tertata rapi diatas meja, dan berbagai macam bumbu dapur ada disana. Itu pertama kalinya dampur penthouses Gavino diisi dengan bahan seperti itu. Karena selama ini Gavino tak pernah memasak.
Gavino mulai melangkahkan kakinya ingin menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai atas, namun kakinya terhenti saat mendengar suara Danira yang mengalun merdu membacakan ayat suci Al-Quran. Bukannya tetap berjalan ke kamarnya, Gavino malah melangkah mendekat kekamar Danira. Dia berdiri tepat dipintu kamar Danira, ingin mengetuk, namun urung.
Setelah selesai mengaji, Danira berniat keluar untuk membuat makanan, perutnya terasa lapar. dia Berjalan sambil mengikatkan, tali ikatan Burqa nya kebelakang lalu membuka pintu kamarnya.
" Astaghfirullah ". pekik Danira, terkejut melihat Gavino duduk dilantai, menyadarkan punggungnya di dinding samping pintu, dengan wajah mendongak keatas, mata terpejam. Wajah Gavino terlihat sangat letih, rambut acak-acakan, pakaian berantakan, namun tetap tampan.
" Anda pulang ?". tanya Danira, mata Gavino terbuka memperlihatkan pupil mata hitam pekat yang melihat Danira. Gavino bangun mengambil jasnya dilantai, lalu melihat Danira sejenak. tanpa mengatakan apapun dia berjalan pergi meninggalkan Danira yang bingung melihat tingkah aneh suaminya.
Apa dia sedang kerasukan, tumben sekali dia seperti itu, Aneh. Batin Danira.
Danira mulai memasak nasi goreng, Aromanya sampai kedalam kamar Gavino, Gavino yang masih berdiri didepan jendela kamarnya merasakan pergerakan cacing-cacing dalam perutnya. lapar.
Gavino menuruni anak tangga, matanya melihat Danira sedang duduk dikursi meja makan, sambil menyupian nasi goreng kedalam mulutnya dibalik kain. Dia berhenti tepat didepan Danira, Danira melihat itu.
" Apa anda mau?". Tawar Danira, mengangkat piringnya. Gavino melihat acuh, hanya mengambil gelas menuangkan air putih.
" Tidak....aku tidak Sudi memakan masakanmu, pasti tidak enak, lagi pula pasti kau telah memasuki racun kedalamnya ". ketus Gavino, sambil meminum air putih hingga tandas. Namun ucapan dan realita berbeda perut Gavino mengeluarkan bunyi, tanda meminta diisi. Danira melihat Gavino tersenyum geli.
" Anda yakin tidak mau ?". Gavino hanya diam, melihat tajam.
" Ya sudah...!! aku habiskan saja". cuek Danira, melanjutkan makannya tak menghiraukan Gavino yang terlihat kesal. Gavino berlalu pergi dengan rasa laparnya, Danira makin merasa aneh dengan tingkah Gavino. Danira fikir Gavino akan membahas masalah tadi sore, tapi...
Selesai makan, Danira menapaki kakinya berjalan menujuh kamar Gavino, dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan air putih hangat. ini pertama kalinya Danira datang lantai ini, Danira mengetuk pintu kamar Gavino.
Tok
Tok
Tok
Gavino membuka pintu dengan raut wajah kesal, tak ada orang hanya ada nampan berisi makanan terletak didepan pintunya dan sebuah kertas posts menempel digelas.
...Makanlah, saya tau anda pasti belum makan tadi sore.Tenang saja, ini bukan makanan sisa. Ini saya baru memasaknya lagi. Dan tidak perlu takut, saya tidak memasukkan racun apapun didalam makanan dan minuman anda....
...Selamat malam....
Gavino merasakan sesuatu yang aneh lagi dihatinya, yang tak pernah Dia rasakan selama ini.
" Ciihhh... pintar sekali dia ingin mencari muka". ketus Gavino, sambil membawa masuk nampan itu kedalam, Gavino tersenyum samar, hampir tak terlihat.
__ADS_1
......................
...Bersambung.......