
Gavino menghentikan mobilnya dipingiran danau buatan. Hamparan air yang tenang, dihiasi dengan air mancur berwarna-warni ditegah-tegahnya. Gavino duduk menyadarkan tubuhnya di kap mobil, dia mengeluarkan satu bungkus rokok, mengambil isinya sebatang, lalu menyalakan pemantik. Gavino tak pernah merekok sebelumnya, ini pertama kali Gavino, menghisap benda bernikotin tersebut.
Angin malam menyapu wajah Gavino, meski wajahnya tampak kusut dan lingkaran hitam terlihat jelas dimatanya, namun tak mengurangi ketampanan dan kharisma seorang Gavino sedikitpun. Gavino duduk termenung dengan pikiran melayang, dia memikirkan ucapan tuan Danu tentang kekasihnya Dan memikirkan dimana keberadaan istrinya saat ini.
Gavino mengembuskan nafas panjang, dengan pandangan lurus kedepan.
" Kau dimana Danira, mengapa begitu sulit bagiku menemukanmu. Apa kau sengaja bersembunyi untuk menghindari ku ?". Gumam Gavino.
" Saya ada disini, apa anda mencari saya ?". tanya Danira, sambil mengambil batang rokok ditangan gavino lalu membuangnya. Gavino menolehkan kepalanya, dan benar dia melihat Danira tegah berdiri disampingnya. Mata Gavino berbinar, dia ingin memeluk Danira, namun suara Danira menahannya.
" Jagan, tetaplah seperti ini. saya lebih nyaman saat kita duduk berdua seperti ini". Ucap Danira, membuat Gavino mengangguk, lalu kembali menatap kedepan.
" Kau kemana saja, mengapa kau bersembunyi dari ku ?, apa kau begitu marah dan membenciku ?". deretan pertanyaan Gavino, membuat Danira tersenyum.
" Saya tidak pernah bersembunyi atau menghindari anda, dan saya juga sudah memaafkan segala kesalahan anda kepada saya. Saya hanya memberi anda waktu untuk berfikir, apakah saya adalah orang yang anda harapkan untuk mendampingi anda selama sisa hidup anda, atau saya hanya sebatas angin lalu saja". ucap Danira lembut, dengan tatapan lurus kedepan.
" Maafkan aku, aku menyadari kesalahanku. dan aku sadar kalau aku memang membutuhkanmu Danira. Maukah kau kemabali kepadaku ?". Tanya Gavino, dengan tatapan menohon melihat Danira. Danira menjawab dengan gelengan kepalanya. membuat Gavino mengeryitkan dahinya bingung.
" Kenapa ?, bukankah tadi kau bilang telah memaafkan aku, lalu kenapa kau tak ingin kembali kepadaku ?".
" Jika anda belum memutuskan pilihan hati anda, berhentilah mengharapakan pernikahan ini. dan bila memang nama saya sudah ada dihati anda, maka Allah akan menuntun anda untuk bertemu dengan saya lagi". Ujar Danira halus.
Mendengar jawaban Danira, Gavino menunduk dan memejamkan matanya sejenak.
" Maaf Danira aku belum bis....!!". Mata Gavino melotot, mencari kekanan dan kekiri. Gavino berdiri memutari mobilnya mencari Danira yang telah menghilang. Gavino mengangkat tangannya, ternyata rokok yang Danira buang masih ada dijarinya.
" Aahhhh sial, apa aku benar-benar sudah gila sekarang, hinga aku berhalusinasi seperti ini. pasti ini gara-gara rokok sialan ini, membuat pikiranku semakin kacau ". Gavino mengomel ambil membuang semua rokoknya. lalu masuk kedalam mobil.
Gavino mengendarai mobil menujuh mansion keluarganya, tak selang berapa lama, mobilnya telah sampai dan berhenti tepat didepan gerbang yang menjulang tinggi itu. Gavino bimbang, haruskah dia masuk, atau kembali ke penthousesnya saja. Dia tau ibunya masih sangat marah kepadanya saat ini. Namun scurity membuka gerbang itu karena tau bila itu adalah mobil mewah milik tuannya. Akhirnya Gavino membawa mobilnya masuk.
" Terima kasih pak ". Ucap Gavino kepada Scurity itu. Membuat pak scurity tercengang, karena tak biasanya tuannya ini mengucapkan kata langkah seperti ini.
Gavino melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion, dan disambut oleh beberapa pelayan yang melihat kedatangannya.
" Selamat malam tuan ". Sapa para pelayan memberi hormat.
" Eehhhmmm...".
" Dimana mami ?".
" Nyonya Besar ada diruang makan tuan ". Jawab salah satu pelayan wanita. Gavino langsung saja berjalan menujuh dimana tempat ibunya berada saat ini. Dia melihat ibunya tengah duduk dimeja makan yang besar itu sendirian, dengan hidangan hampir memenuhi meja.
" Mi ..?". Panggil Gavino, nyonya Calina hanya melirik sejenak lalu kembali fokus kepiring makanannya lagi. Gavino telah berdiri disamping ibunya, ingin menciumnya seperti biasa, namun Ny. Calina dengan cepat menjauhkan kepalanya menghindari Gavino. Gavino yang sadar ini salah satu bentuk aksi protes ibunya, hanya bisa diam, lalu ikut duduk di sana.
" Anda ingin makan malam dengan apa tuan ?". Tanya bik Sri.
" Tidak perlu bik, saya belum lapar". Ujar Gavino, bik Sri hanya mengangguk lalu berdiri ditempat yang sedikit jauh. Gavino mengamati ibunya yang masih terus fokus kepada makannya seakan tak menganggap keberadaan Gavino.
" Apa mami masih marah padaku ?". Tanya Gavino, namun Ny. Calina diam seribu bahasa, hanya menampilkan wajah cemberut.
" Mi..!! aku dan Danira tidak akan pernah bercerai, mami tenang saja ". Ujar Gavino langsung, Ny. Calina tetap diam tak memberi respon apapun. Melihat itu, Gavino menghela nafas pelan.
" Aku sudah menggagalkan permohonan Danira di pengadilan hari ini, jadi dia tidak akan pernah bisa mengajukan gugatan kepadaku sampai kapanpun ". Ujar Gavino lagi memberi tahu. Mendengar itu, Ny. Calina berhenti, meletakkan sendok dan garpu diatas piringnya. Lalu melihat wajah Gavino.
__ADS_1
" Kau serius ?". Ucap Ny. Calina, melihat mata Gavino, mencari kejujuran anaknya.
" Aku sangat serius mami, bila mami tidak percaya, mami bisa datang sendiri kepengadilan dan menanyakan kebenarannya". ujar Gavino meyakinkan ibunya.
" Lalu kenapa kau belum membawa menantuku kembali kesini, bila kau telah berhasil menganggagalkannya ?".
" Eemm..itu, aku..!! Aku belum menemukan tempat persembunyiannya mi ". Jawab Gavino jujur, sambil melihat kesembarang arah.
" Cihhh...kau pikir dia maling, harus bersembunyi. Kau saja yang bodoh, masa pengaruh kekuasaanmu sudah mencapai Asia, menemukan tempat tinggal istrimu sendiri saja kau tidak bisa ". Ketus Ny. Calina kembali bersungut-sungut.
" Kemana orang-orang hebat yang kau miliki itu, apa sudah jadi patung Pancoran semua ?". Ny. Calina sangat kesal dengan alasan yang diberikan putranya.
" Bukan begitu mi, tapi dia seperti dibantu seseorang untuk bersembunyi dariku. Asal mami tau, semua rekaman Cctv jalan yang mengarah untuk mencarinya, itu semua telah disabotase. Danira tidak mungkin bisa melakukan semua itu sendiri bukan, karena dia tidak memiliki kekuasaan apapun. Aku yakin pasti ada seseorang yang melakukan ini untuknya ". Jelas Gavino, dengan tatapan penuh amarah.
" Apa kau mencurigai seseorang ?". Tanya Ny. Calina juga merasa penasaran.
" Awalnya aku mencurigai Doni, tapi setelah melihat dari rekaman terkahir. Sepertinya yang yang membantu Danira pemilik dari Radenayu Group ".
" Pemilik Radenayu Group?, memangnya apa hubungan menantuku dengan pemilik perusahaan itu ?".
" Menurut penuturan orang kepercayaan perusahaan itu, bila Danira adalah sahabat terdekat pemilik Radenayu Group. Tapi aku akan menyelidikinya semuanya ".
" Mami tidak perduli kau ingin melakukan penyelidikan atau apapun itu. Yang mami mau, kau harus membawa menantu dan cucuku pulang kesini dalam keadaan baik dan sehat ". ujar Ny. Calina, bangun dari kursinya bersiap pergi meninggalkan Gavino.
" Cepat makan, setelah itu pulanglah ke penthousesmu. Mami tidak mau berbicara ataupun melihat wajahmu dulu, sebelum kau berhasil membawa mereka kembali ". Ketus Ny. Calina seraya pergi masuk kedalam kamarnya. Gavino menghela nafas pelan, melihat punggung ibunya telah menghilang dibalik pintu.
Tak ingin berbicara, tapi sedari tadi memberikan banyak pertanyaan dan perintah. Batin Gavino. Gavino Bagun dari duduknya, melangkah pergi.
" Tidak bik, nanti saja ".
Gavino masuk kedalam mobilnya, dan mulai menyalakan mesin lalu pergi dari meninggalkan mansion keluarganya. Sepeninggalan Gavino, Ny. Calina membuka pintu kamarnya perlahan, mengintip keadaan diluar.
" Sepertinya Bocah tengik itu telah pergi ". Gumam Ny. Calina pelan. Keluar dari dalam kamarnya .
" Bik...Bik Sri ". Panggil Ny. Calina setengah berbisik dari balik tembok. Bik Sri cilingak clinguk mencari sumber suara.
" Bik...aku disini ". Bik Sri membalikkan tubuhnya, melihat kebalik tembok pembatas antara ruang keluarga dan ruang makan, dia melihat kepala Ny. Calina menyembul sedikit disana. Bik Sri berjalan mendekat.
" Nyonya memanggil saya ". Tanya bik Sri.
" Iya bik, dari tadi saya yang memanggil. Apa si kutu ayam sudah pergi bik ?".
" Tuan Muda sudah pergi dari tadi Nyonya ". Jawab Bik Sri ikut berbisik.
" Kok kamu ngomongnya ikutan berbisik sih bik ?".
" Abis Nyonya juga ngomongnya bisik-bisik, saya kira nyonya juga ingin saya menjawab dengan berbisik ". Mendengar jawaban bik Sri, Ny. Calina mencebikkan bibirnya.
" Apa bibik juga mendengar ucapan kutu ayam tadi ?".
" Ucapan yang mana Nyonya ?". Ujar bik Sri bingung, karena antara ibu dan anak ini berbicara cukup banyak.
" Iisss kau ini, ucapan jika dia telah berhasil menggagalkan rencana Danira ?". ucap Ny. Calina dengan melipat tangannya didepan dada.
__ADS_1
" Oh iya, saya mendegarnya Nyonya ".
" Hubungi orang yang bekerja disana, tanyakan kebenarannya. Apakah yang dikatakan Gavino jujur atau berbohong ". pinta Ny. Calina.
" Tapi Nyonya, ini sudah malam. pasti para pegawai disana sudah pulang ". Jelas bik Sri, tak mungkin dia menghubungi pegawai yang telah habis jam kerja, pikir bik Sri.
" Bik...!!". Ny. Calina melotot, tanda tak ingin dibantah perintahnya.
" Baik Nyonya, tunggu sebentar ". Pasrah bik Sri, lalu mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi seseorang.
" Tidak diangkat Nyonya ". Ujar bik Sri memberi tahu.
" Coba terus, sampai dia mengangkat telponnya ". Titah Ny. Calina. Bik Sri terus mencoba, hingga panggilan ke-6 baru terdengar suara seseorang dari sebrang telpon. Bik Sri segera menyampaikan apa maksud dari panggilannya ini, bik Sri langsung menyalakan loudspiker saat orang itu menjawab semua pertanyaan bik Sri.
Ny. Calina tersenyum Gilang, mendengar penjelasan orang itu. Dia benar-benar senang, berarti Gavino tidak berbohong. pikirnya.
" Terima kasih atas informasinya, maaf telah menganggu waktu anda. Selamat malam ". Ujar bik Sri, lalu mematikan panggilannya.
" Bagaimana Nyon....!!!". Belum sempat bik Sri menyelesaikan kalimatnya, Ny. Calina telah berteriak senang, seperti orang yang habis menanang undian lontre.
" Yuhuuu...YEYyy...". Teriak Ny. Calina kegirangan.
" Akhirnya bik,...anakku tidak menjadi duda, Danira tetap menjadi menantuku bik". Teriak Ny. Calina sambil memegang tangan Bik Sri, lalu melompat-lompat sambil berputar-putar.
" Iya Nyonya, saya ikut senang mendengarnya ". Ujar bik Sri, mengikuti gerakan Ny. Calina.
" Sudah bik, saya capek melompat-lompat seperti ini ". Ny. Calina berucap sambil Ngos-ngosan, begitupun dengan bik Sri.
" Hhuuuuhhhh....!! Aku harus mencari cara, supaya Danira mau menerima kutu ayam itu lagi ".
" Jika menunggu bocah tengik itu bergerak, sepertinya akan menunggu waktu puluhan tahun, jadi harus maminya ini yang menunjukkan jalannya ". Ujar Ny. Calina, Ny. Calina tak habis fikir mengapa bila urusan wanita, Gavino sangat lambat seperti siput.
" Coba hubungi nomor ponsel Danira lagi bik ".
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum kakak-kakak Semua ๐
Maaf ya baru Up, karena kemarin-kemarin author masih demam tinggi dan vertigo. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah lumayan fit, hanya tinggal pusing-pusing sedikit๐
Terima kasih selalu setia mengunggu update-an cerita ini๐
Untuk yang baru gabung, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita author ๐ค
Maaf belum bisa up banyak, author sedang mengumpulkan semua inspirasi yang sempat hilang karena sakit beberapa hari yang lalu ๐๐
Tetap jaga kesehatan ya semua.
Salam sayang dari Author
Saranghae โค๏ธ
__ADS_1