CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
39. Meninggalkan


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu, membuat yang punya kamar terjaga. Gavino berjalan gontai menujuh pintu lalu membukanya.


" Selamat pagi tuan, maaf menganggu tidur anda..! Saya hanya diminta Ny. Calina untuk memberitahu anda dan istri anda, bahwa Ny. Calina telah menunggu kalian untuk sarapan bersama dibawah". Ujar seorang pelayan wanita, sambil menundukkan kepalanya. Tak berani melihat tuan muda yang arogan.


" Heemmm". hanya itu jawaban dari Gavino, lalu Dia menutup pintunya kembali. Pelayan itu terkejut, karena Gavino menutup pintunya secara tiba-tiba.


Gavino kembali berjalan masuk, mengisi air dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas, Tangannya mengatung diudara, saat melihat keadaan dirinya dalam pantulan kaca ruangan itu. Rambut yang acak-acakan, lingkaran hitam dibawah mata terlihat jelas, kemeja yang digunakan masih pakaian kemarin malam, Gavino terlihat sangat berantakan. " Aahh sial, semua gara-gara perempuan itu. Brengsek...!! kemana dia pergi". umpat Gavino kesal, sejak semalam dia mencari keberadaan Danira, hingga meminta semua anak buahnya mencari sampai kerumah Danira " Maaf Tuan, sejak Nyonya masuk, kami belum melihatnya keluar dari gedung hotel ini".


" Tuan,...Nyonya tidak ada rumahnya, semua tampak kosong bahkan lampu semuanya mati". Itulah beberapa jawaban dari orang-orang Gavino semalam.


Gavino mengusap rambutnya kasar, jika sampai maminya tau kalau semalam Danira pergi entah kemana, bisa dibayangkan oleh Gavino kemurkaan maminya. " Ahh terserah..aku tidak berduli". ujar Gavino sambil berlalu masuk kekamar mandi, membersihkan tubuhnya. Selesai dengan ritual mandinya, Gavino berjalan mendekati lemari, untuk mencari pakaian yang bisa Dia kenakan, pasti maminya sudah menyiapkan pakaian ganti pikirnya. Pintu lemari terbuka, menampakkan isi yang membuat mata Gavino membesar, Jejeran lingerie berwarna-warni dan berbagai macam model ada didalam sana, membuat Gavino menelan ludahnya " Aahhh...sial!! ini pasti kerjaannya mami." cicitnya geram. Gavino dengan cepat mengambil pakaian yang mau dia kenakan, lalu setelah merasa rapi dia beranjak keluar dari kamarnya.


Gavino keluar dari dalam lift, berjalan menujuh restoran hotel tempat ibunya berada, Sepajang perjalanan, para gadis baik itu karyawati hotel, ataupun para tamu, semua berbisik-bisik saat melihat Gavino. Mereka terkagum-kagum melihat ketampanan sang pengusaha muda itu. Gavino tak memperdulikannya, dia terus berjalan, tak memperdulikan tatapan mendamba para wanita. Gavino melihat ibunya tegah sibuk menyuapi balita berkerudung pink diatas kursi khusus balita.


" Pagi mi". sapa Gavino lalu mencium pipi sang mami.


" Pagi juga sayang". Jawab Ny. Calina sambil memalingkan wajahnya melihat sang putra.


" Haduh..pengantin baru, kurang tidur ya, Cek..Cek..Cek..Istrinya jangan di gempur terus dong Vin, kasih jeda. Kasihan Danira". Goda Ny. Calina tersenyum nakal.


" Apaan sih mi...jangan mikir yang aneh-aneh". Kesal Gavino, dengan wajah dingin.


" Loh..mami cuma bicara fakta, tuh mata kamu Sampai hitam begitu, karna apa coba, kalau kurang tidur, apa lagi masih pengantin baru begitu. Kan tidak mungkin, kamu pergi ngeronda Vin". Ejek Ny. Calina lagi, senang melihat wajah putranya merah menahan kesal.


Ny. Calina celingukan melihat kekanan dan kekiri, seperti mencari sesuatu.


" Vino, istri kamu mana ?, kok kamu sendirian turun?, masih tidur ya ?". Kamu sih, jangan terlalu ganas pin, kasihan menantu kesayangan mami". Ny. Calina masih terus berbicara ngawur kidul, sambil melihat kesana kemari. Tak memperhatikan wajah Gavino merah padam, siap menerkam.


" Dia Tidak ada, wanita itu sud....!!!


"Assalamualaikum". Suara lembut nan halus menyapa, dari balik punggung Gavino. Gavino hanya melirik sekilas siapa yang datang.


Dari mana wanita ini, tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang. Tapi baguslah, setidaknya mami tidak akan memutar radio kusut karena wanita ini menghilang. Batin Gavino, Dia menganggakat gelas kopi yang ada didepannya, lalu menyesapnya secara perlahan.


"Waallaikumsalam sayang...!! Mami kira kamu masih tidur sayang, masih kecapean akibat ulah Gavino". Ceplos Ny. Calina, tanpa melihat situasi. Danira mematung ditempat, alisnya bertaut, tidak paham dengan ucapan sang mertua.


" Ayo sini nak, duduk, kita sarapan bersama". Ny. Calina mengajak Danira duduk disisi Gavino, namun Danira sudah berjalan menarik kursi disamping Khalisa.


"Aku disini saja mi, aku rindu sekali sama Khalisa, karena semalam pertama kali aku tidak tidur dengannya". Ujar Danira memberi alasan. Ny. Calina hanya tersenyum mengangguk.


" Khalisa mam apa cantik?, mamam bubur ayam ya?, Khalisa suka?." Pertanyaan-pertanyaan Danira direspon oleh Khalisa dengan celotehan-celotehan khas bayi, Khalisa seakan sedang menceritakan semua apa yang Dia lihat dan makan.


" Ra...ini susunya diminum dulu". Ny. Calina menyodorkan segelas susu putih kehadapan Danira.

__ADS_1


" Terima kasih mi".


Gavino melirik interaksi mereka dari ekor matanya, maminya terlihat sangat bahagia, sejak papanya meninggal ini pertama kali lagi Gavino melihat maminya tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.


" Mami ini koper, punya siapa ?". Danira bertanya pada Ny. Calina, Dia melihat ada 2 koper disamping meja makan. Mendengar pertanyaan Danira, Gavino melihat kearah maminya.


" Oh itu milik mami sayang, hari ini mami mau langsung berangkat ke Eropa. Seharusnya kan mami kesana 2 bulan yang lalu. Namun karena insiden itu, mami batal untuk menjenguk adik-adik Gavino disana". Jawabnya sambil terus menyuapi Khalisa.


" Kenapa mendadak sekali mi?". Suara bariton Gavino menyela.


" Tidak ada yang mendadak Vin, bukannya kamu sudah tau kalau mami memang akan kesana".


"Maksudku kenapa harus pagi ini, kenapa tidak besok atau lusa saja?".


" Adik-adikmu selalu meneror mami sepanjang waktu, makanya mami putuskan hari ini berangkat".


" Berapa lama mami disana?". Danira ikut bertanya.


" Mami belum tau sayang, kamu tenang saja mami tidak akan lama. Sekarang mami tidak bisa jauh terlalu lama dari di gembul menggemaskan ini". ujar Ny. Calina sambil mencubit gemas pipi Khalisa, Khalisa hanya tertawa jenaka merasa geli dengan cubitan dipipinya.


" Mami keberangkatan jam berapa ?, biar aku saja yang mengantar mami kebandara". Tawar Gavino.


" Tidak perlu Vin, mami sudah menghubungi asistenmu Sean, dia yang akan mengantarkan mami. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba ".


" Kerumah kita ?, maksud mami kerumah Utama ?".


" Tentu, memangnya mau kemana lagi ?, Ke penthouses kamu ?...No..No..No, itu penthouses bekas demit, wanita jadi-jadian itu". Ejek Ny. Calina.


" Mami....!! berhenti mengatainya seperti itu, kekasihku wanita baik-baik, tidak seperti...".


Gavino melirik Danira, geram karena ibunya selalu mencela Stevani. Danira merasa nyeri dihatinya, mendengar bagaimana suaminya membela wanita lain tepat dihadapannya dan menunjukkan wajah ketidak sukaan kepada Danira.


"Gavino, berhenti menyebut wanita itu kekasihmu. Ingat sekarang Danira istri kamu, jadi lebih baik lupakan wanita ular itu". Ny. Calina mulai geram, melihat keras kepala putranya.


" Sampai kapanpun aku tidak akan melupakannya, bukankah aku sudah mengikuti keinginan mami untuk menikahi wanita ini. Jadi mami juga harus mengikuti keinginanku".


" Jagan mimpi kamu vino, sampai matipun restu mami hanya pada Danira, menantu mami hanya Danira, tidak akan pernah beganti kepada wanita sundelmu itu...paham". Ny. Calina mulai terpancing emosi, Danira hanya menunduk, matanya mulai berkaca-kaca lagi, dan siap lepas landas. Gavino makin mengeratkan kepalan tinjunya, matanya melihat Danira makin tajam, kebencian dalam dirinya berkali-kali lipat pada Danira. Dia menyalakan semua ini karena Danira. Suasana diruangan itu menjadi senyap, mereka bertiga diam tanpa suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun suara seseorang yang baru tiba, mengalihkan perhatian ketiganya.


" Selamat pagi Nyonya, Tuan ". Sapa Sean yang baru tiba, memberi hormat kepada majikannya.


" Oohh, kau sudah tiba Cepat sekali". Ujar Ny. Calina pada Sean.


" Mengapa kau tidak mengatakan padaku, jika mami akan pergi pagi ini". ketus Gavino, masih dengan emosi yang belum mereda. Sean yang menerima semprotan secara mendadak, menampilkan kebingungan diwajah datarnya.

__ADS_1


" Berhentilah meluapkan emosimu kepadanya, lihatlah muka es baloknya menjadi kaku seperti kanebo kering begitu". Bela Ny. Calina, dengan kata-kata pujian menurut Sean.


" Mami Yang memintanya, untuk tidak memberitahu mu".


" Cihhh...jadi sekarang kalau lebih mematuhi perintah mami, dibanding aku tuan mu hah?". kesal Gavino.


" Maaf tuan, saya tidak bermaksud..". Jawab Sean datar.


" Sudahlah Sean, tak perlu meminta maaf padanya. Ayo kita berangkat sekarang, asam uratku jadi naik bila berlama-lama bicara dengan upil kera ini". Ny. Calina mulai berdiri dari duduknya. Gavino mendengus kesal mendengar jawaban sang ibu.


Danira melihat ibu mertuanya telah berdiri, dia pun ikut bangkit dari kursinya, Dan menghampiri. " Sayang..mami pergi dulu ya nak, kamu jaga diri baik-baik. Ingat pesan mami, kamu jangan lemah, jika Gavino berprilaku semena-mena kepadamu lawan saja, apalagi bila Dia melewati batas kewajaran. Jagan menangis tunjukkan bahwa kamu wanita yang tidak mudah bocah tengik itu tindas...hhmmm". Bisik Ny. Calina ditelinga Danira sambil memeluk dengan erat. Danira hanya menjawab dengan anggukan.


" Mami hati-hati ya disana, jika sudah sampai jangan lupa kabari aku". Ujar Danira lirih.


" Pasti sayang". Ny. Calina melepas pelukan mereka, lalu mencium kening Danira.


Sekarang, pandangan Ny. Calina beralih pada Gavino ". Vin, mami titip menantu dan cucu mami, jika sampai mereka kenapa-kenapa kamu yang akan mami gantung di tiang Monas". Gavino membuang pandangan malas, jengah karena maminya selalu membela Danira. Dia memih diam, tak ingin berdebat lagi.


Ny. Calina mengambil koper yang ada disisi kanan meja, dan mulai menariknya. " Biar saya saja yang membawanya Nyonya". pinta Sean, Ny. Calina memberikan 2 koper itu pada Sean, Dia berjalan mendahului Sean.


" Taun, Nyonya saya pergi dulu". pamit Sean kepada Danira dan Gavino. Kemudian Dia berlalu menyusul Ny. Besar.


***


Sepeninggalan Ny. Calina, Danira dan Sean kembali diam, hanya suara Khalisa saja yang mendominasi.


" Yah..ya.ya.ya". Khalisa melihat Gavino dengan memperlihatkan 2 gigi bagian bawah. Gavino melihat Khalisa bengis " Aku bukan ayahmu, jangan panggil aku seperti itu". bentak Gavino tak suka pada Khalisa. Danira mengangkat kepalanya melihat Gavino geram. Dan yang dibentak malah tertawa senang sambil mengangkat tangannya minta digendong oleh Gavino.


" Khali...gendong sama bunda aja ya ?, Khali tidak bole memanggil Dia Ayah, karena dia bukan ayah Khali. Panggil dia Pakde..". jelas Danira, Khalisa hanya merespon kegirangan.


Apa katanya, pakde ? yang benar saja, apa aku terlihat setua itu...sial. Batin Gavino menggerutu.


" Cepatlah, aku tidak bisa menunggu kau sarapan seperti siput. Aku banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan". Ketus Gavino.


" Anda tidak perlu menuggu saya, Anda pergi saja, dan tinggalkan alamat anda disini, karena saya harus kembali kerumah saya dulu, untuk mengambil barang-barang saya dan Khalisa".


Gavino menatap Danira tajam, dia tak terima, merasa diusir oleh Danira, tanpa suara Gavino mengambil kertas dan pulpen, lalu menuliskan alamat dan melemparkan kertas itu kepada Danira. Dia berdiri dan berlalu pergi tanpa sepata katapun.


Melihat itu Danira menghembus nafas lega, melihat suaminya telah menghilang dari pandangan matanya.


" Astaghfirullah...mengapa dia begitu menyeramkan". Danira bergidik, menggelengkan kepalanya.


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2