
Diluar kamar. Danira terus saja gelisah, berjalan mondar-mandir sambil menggigit ibu jarinya. Menunggu dokter Indri yang sedang memeriksa kondisi wanita yang ada didalam. Sejak habis bicara tadi, wanita itu pingsan hingga kini belum sadarkan diri, Itu membuat Danira semakin cemas. Sarah yang melihat keadaan nonanya yang kacau, datang menghampiri Danira.
" Nona ". Sarah menyentuh pundak Danira dari belakang, Danira berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Sarah.
" Maaf Nona, lebih baik nona mengganti pakaian nona dulu, lihatlah pakaian anda basah Dan kotor. Sebentar lagi pasti Khalisa bangun dan ingin digendong anda". Sarah berucap lembut memberi saran.
Danira menundukkan kepalanya melihat apa yang dikatakan Sarah, dan benar saja gamis yang dia kenakan benar-benar kotor dan basah karena berlari tadi. " Iya..!! kau benar rah, aku harus membersihkan badanku dulu, kamu tunggu disini. Jika dokter indri sudah keluar panggil aku ". ujar Danira seraya berlalu masuk kedalam kamarnya., Sarah hanya mengangguk.
Sarah duduk dikursi ruang tamu, sembari menunggu dokter yang masih didalam kamar, tak lama dokter wanita itupun keluar. Sarah berdiri menghampiri.
" Bagaimana dok ".
" Pemeriksaan saya masih sama, jalan satu-satunya hanya dibawa kerumah sakit, saya sudah memasangkan selang infus namun kondisinya sangat lemah". jelas Dokter itu dengan wajah serius. Danira yang berada dibalik pintu kamarnya mendengar ucapan dokter indri, bergegas keluar.
" Rah... telpon ambulance, kita bawa wanita itu kerumah sakit sekarang". ujar Danira yang baru saja keluar dari kamarnya.
Sarah mematung ditempat, matanya tidak bisa berkedip, bahkan untuk menjawab perintah Danira pun terasa keluh. Dokter Indri yang melihat Sarah tak bergerak, membalikkan badannya untuk melihat Danira dan sama halnya dengan Sarah, Dokter Indri membuka mulutnya, bahkan Stetoskop yang dipegang dokter Indri terjatuh kelantai. Mereka merasa takjub dengan apa yang mereka lihat. " Ini teh nya". Bik Marni yang datang dari dapur membawa nampan berisi minuman seketika berhenti ditempat, matanya membesar, nampannya hampir jatuh, melihat itu Danira dengan sigap mengambil nampan dari tangan bik Marni.
" Ada apa, mengapa kalian diam saja". Danira bertanya sambil berjalan menujuh meja, meletakkan nampan yang dipegangnya.
" Masya Allah". hanya itu ucapan yang keluar dari mulut bik Marni.
" Apa ada yang salah denganku". tanya Danira lagi. Namun mereka masih diam mematung seakan tak mendengar suara Danira. yang bergerak hanya bola mata mereka mengikuti kemanapun arah Danira bergerak. Mereka seperti tersihir melihat kesempurnaan dihadapan mereka saat ini.
" Apakah anda nona Danira ". Sarah mengeluarkan suaranya, " Apa anda benar-benar nona Danira". Sarah mengulang pertanyaan yang sama.
Danira yang mendengar pertanyaan aneh Sarah, mengembangkan senyum yang sangat manis membuat ke-3 wanita yang ada dihadapannya makin terpesona cukup dalam.
" Sarah, Dokter , Bik Marni...Sadar ini aku Danira..!! apa kalian tidak mengenali aku hhmmm?". Danira melambai-lambaikan tangan kekiri dan kekekanan didepan ke-3 wanita itu.
" Eehhh ma..ma..maaf nona, saya hanya takjub melihat wajah nona". ucap Sarah jujur dan diangguki oleh bik Marni dan dokter Indri.
Danira memegang wajahnya "Astaghfirullah,...aku lupa memakai cadar ku". ujarnya seraya berlari masuk kedalam kamarnya. Dia langsung mengambil dan memakai cadar dan Burqanya kembali.
Danira keluar sudah dengan penampilannya semula, semua tertutup tak ada yang terlihat.
" Rah...ayo hubungi ambulance sekarang, kok masih bengong ". Danira menyadarkan Sarah yang masih terpaku melihatnya.
Suara Danira membuyarkan lamunan dokter Indri dan bik Marni.
" Ah iya nona, sebentar ". Sarah merasa gugup, hingga beberapa kali salah mengetik nomor telepon.
Dari dalam kamar, terdengar suara tangisan Anak " Sepertinya Khalisa sudah bangun, aku lihat dulu". Danira pergi meninggalkan mereka yang masih setengah sadar.
" Neng,...itu tadi benar wajah non Danira ". tanya bik Marni pada Sarah.
" Iya bik, sepertinya benar ".
__ADS_1
" Kok sepertinya sih neng ?."
Sarah juga bingung mau menjawab apa, dia masih merasa seperti mimpi bisa melihat wajah Danira yang 'Masyaallah indahnya ciptaan Allah' Batin Sarah.
" Dia sangat cantik...aahh tidak !!bahkan cantik saja tidak bisa mengumpamakannya". dokter Indri memberi tanggapan juga.
" Benar " kompak bik Marni dan Sarah.
Setelah menunggu 20 menit, Mobil Ambulance tiba dan para petugas mengangkat tubuh wanita itu keatas Emergency bad dan memasukkan kedalam mobil ambulance.
" Bibik dirumah saja ya, jagain Khalisa. Kasihan dia kalau harus ikut kerumah sakit, tidak baik juga untuk balita".
" Baik Non".
Danira masuk kedalam mobil ambulance dan duduk disamping wanita itu, didampingi oleh dokter Indri.
Sedangkan Sarah menyusul menggunakan mobilnya, Awalnya Sarah menyarankan agar Danira bersama dengannya saja. Namun Danira menolak dia ingin bisa terus melihat keadaan wanita yang Dia tolong tadi pagi.
*
Mobil ambulance berhenti tepat didepan ruang IGD rumah sakit ternama dijakarta, wanita itu segera mendapatkan pertolongan intensif dari para tenaga medis disana. Danira duduk dikursi tunggu didampingi Sarah disebelahnya.
Syafakallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika.
Artinya:
Danira terus memanjatkan doa dalam hatinya, dengan mata yang masih melihat kearah pintu yang tertutup rapat. Tak lama dokter keluar dari dalam menghampiri mereka, Danira dan Sarah berdiri dari duduknya.
" Apakah kalian keluarga pasien ?".
...****************...
Dretzzz
Dretzzz
Ponsel seorang pria berjaket kulit hitam, yang sedang duduk dengan 3 rekannya di bangunan kosong sambil bermain kartu remi berbunyi, Pria itu melihat siapa yang menghubungi, tidak ada nama hanya ada nomer baru.
" Hallo Bos"
" Sisa uang pembayaran untuk kalian sudah saya transfer ". ucap seseorang dari sebrang telpon. Pria itu meminta rekannya untuk mengecek mutasi rekening melalui M-banking, membuktikan kebenarannya. Dia tersenyum senang melihat nominal yang tertera di layar handphone nya.
" Saya juga mengirimkan sesuatu untuk kalian, Mungin sebentar lagi akan sampai". ucapnya lagi, tak lama pintu bangunan diketuk oleh pria berbaju kurir, memberikan Bag yang berisi makanan dan minuman, setelah diterima. Kurir itu mengendarai motornya pergi.
" Terima kasih bos, kirimannya sudah sampai".
" Jika perlu bantuan lagi, katakan saja bos". ujar pria itu, namun sambungan telepon-nya telah dimatikan dari sebrang. Pria itu menganggat bahunya masa bodo.
__ADS_1
" Hari ini kita dapat rejeki nomplok". Pria itu berbicara pada rekan-rekan nya dan mereka tertawa bersamaan.
.
.
.
Ditempat lain, Gavino, Sean dan Kevin sudah sampai dilahan kosong yang luas hanya ditumbuhi semak-semak dan beberapa pohon-pohon pisang. Bayu yang melihat tuannya telah tiba, Dia berjalan menghampiri.
" Tuan". Bayu memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya.
" Dimana tempat kejadiannya ".
"Disana tuan".
Mereka berjalan menujuh lokasi, yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, sampai didekat mobil ibunya, Gavino melihat mayat Arman supir pribadi nyonya Calina terbujur kaku, hanya ditutupi daun pisang. Bayu berjongkok membuka penutup dan memperlihatkan mayat Arman kepada Gavino. Wajah Gavino makin kelam, lebih kelam dari gelapnya malam. Tampak jelas kemarahan Dimata Gavino yang memerah.
" Bagaimana ? ". Gavino bertanya pada Bayu.
" Maaf tuan, jalur ini tidak dipasangi Cctv jadi sedikit sulit untuk kami mengetahui kronologi kejadian, tapi jika dilihat-lihat ini bukanlah perampokan. Tapi kejahatan yang sudah direncanakan, melihat barang-barang Nyonya tidak ada yang hilang semuanya masih utuh". jelas Bayu, menuturkan pendapatnya.
" Apa kau memiliki musuh ?". tanya Kevin melihat Gavino.
" Musuh sudah pasti, aku banyak memiliki pesaing bisnis. Tapi siapa yang telah berani menganggu keluargaku aku tidak bisa menebaknya".
" Sean, minta orang-orang mu mengurus mayat Arman dengan baik". titahnya.
" Baik Tuan".
Setelah meminta kepada beberapa orang untuk mengurus jenazah Arman, Sean melangkah menunduk masuk kedalam mobil, matanya mencari sesuatu, tangannya terulur mengambil dashcam yang ada diatas kaca spion kemudi, Sean keluar menghampiri Gavino. Sean mencoba menghubungkan dashcam ke ponselnya, lalu mulai mencari rekaman perjalanan yang paling akhir dan mereka menemukannya.
Mata Gavino membola, melihat apa yang dilakukan para penjahat itu kepada ibunya, Gavino mengepalkan tangannya, Dia benar-benar marah, Dia seperti hewan buas yang siap mencabik-cabik mangsanya dan meminum darah lawannya.
" Cari mereka sampai ketemu, hari ini juga". titahnya dengan suara menakutkan.
Tanpa menunggu aba-aba Sean telah meminta seluruh anak buahnya mencari palat motor yang ada didalam rekaman, tak menunggu lama anak buah Sean sudah dapat menemukan markas preman-preman itu.Gavino dan yang lain telah tiba di bangunan kosong yang tampak reot.
Gavino langsung menerjang pintu bangunan itu tanpa permisi, tapi alangkah terkejutnya melihat orang-orang yang dia cari. Telah tergeletak kaku di lantai tanah dengan mulut penuh bisa dan wajah membiru.
Bayu masuk, memeriksa keadaan.
" Tuan, mereka semua sudah mati. Sepertinya mereka telah diracuni". Jelas Bayu yang melihat kondisi para penjahat yang mengenaskan.
" BANGSATTTT". Pekik Gavino makin geram.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......