
Gavino baru saja keluar dari dalam ruang meeting, disusul oleh Sean dibelakangnya. Mereka baru saja mengadakan pertemuan dengan Bapak walikota Jakarta. Hari ini jadwal gavino sangat padat, Dia masih harus menghadiri beberapa pertemuan lagi. Sonya berdiri melihat Gavino berjalan mendekat.
“ Tuan, didalam ada Tuan Kevin dan Tuan Doni, mereka telah menunggu anda dari tadi “. Ujar Sonya memberi tahu. Gavino tak menjawab, dia berlalu begitu saja masuk kedalam ruangannya.
Pintu terbuka, gavino masuk dengan wajah datar melihat Doni yang duduk santai disofa bersama kevin, diatas meja sudah banyak makanan sekaligus minuman. Gavino sudah bisa menebak siapa yang membawa makanan sebanyak ini.
" Mengapa kalian kemari ?, aku sedang sibuk tak bisa berlama-lama". Ujar gavino, masih berdiri ditempatnya.
" Ciihh....sok sibuk sekali kau, kami hanya mampir sebentar. sudah lama tak melihat sahabat arogan kami ini". jelas Kevin, membalas ucapan Gavino yang ketus. Gavino meencebikkan bibirnya.
“Apa kau ingin membuka warung dikantorku vin ?”. Ketus gavino, Berjalan mendekat, tangannya membuka kancing jas yang dia kenakan, lalu mendudukan bokongnya keatas sofa yang kosong.
Kevin hanya terkikik mendengan lelucon garing gavino.
“ Tadi aku sengaja membeli banyak, rencananya aku ingin memberikan kepada sekertaris cantikmu itu, eehh..dia malah menolak, dengan alasan diet. Jadi ya aku bawa saja semuanya masuk”. Jelas kevin, sambil mulut terus menguyah cemilan. Doni hanya diam, duduk bersandar dengan kaki menyilang, dan tangan memegang satu kaleng susu bear brand.
“Kau tidak bosan minum susu itu terus ?, sepertinya kau cocok jadi Duta susu Bear Brand”. Ejek gavino kepada Doni.
“ Iya gavino benar… !! Gambar Beruang yang ada dikalengnya diganti dengan fotomu, lalu iklannya juga diganti dengan wajahmu, namun tetap menggunakan ekor Naga, sepertinya itu akan lebih menarik banyak konsumen”. Ujar kevin sambil tertawa geli membayangkan wajah Doni melekuk liuk dengan ekor naga menjadi tubuhnya.
“ Terus, terus saja mengejekku. Jagan sampai aku gundulkan rambut gondrong mu itu..." Doni melemparkan Bantal sofa kepada Kevin dan juga Gavino, mereka lalu tertawa bersama.
" Enak saja, ini Rambut pembawa keberuntungan. Karena rambut gondrong ku ini, semua wanita bertekuk lutut dihadapanku, bahkan memohon-mohon meminta berkencan denganku". Kevin menyombongkan diri, dengan tangan menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
" Kau yakin semua ?... Apa kau lupa, bila sekertarisku yang didepan masih menolakmu hingga sekarang, bahkan dia selalu menghindar bila melihatmu". Timpal Gavino, semakin mengolok-olok kan Kevin. Doni hanya tertawa sambil memberi kode setujuh dengan ucapan Gavino.
"Lihat saja nanti, akan aku buat dia yang mengejar-ngejar aku, dan tergila-gila kepadaku ". Ucap Kevin, yakin penuh percaya diri.
" Mimpi...". Kompak Doni dan Gavino, mereka tertawa terbahak bahak, sedangkan Kevin hanya mendengus kesal. Mereka bertiga masih asik bercengkrama dan melempar candaan, tiba-tiba pintu terbuka, muncul wanita cantik berpakaian sexy dan modis.
" Hay Honey..". Suara Stevani menghentikan tawa ketiganya, mereka melihat kearah sumber suara, suasana menjadi hening, gelak tawa lenyap seketika. Stevani sejalan berlenggak-lenggok dihadapan ketiga pria itu. Lalu berhenti tepat disamping Gavino.
" Hay Vin, Don". Sapanya kepada Doni dan Kevin. Doni hanya mengangguk sekilas, dan Kevin hanya tersenyum kecil. Gavino tak merespon, hanya diam melihat Stevani dingin.
" Mengapa saat aku masuk kalian semua jadi diam, tadi aku mendengar dari luar kalian sedang tertawa senang. Memangnya kalian membicarakan apa sih, sepertinya seru sekali".
" Tidak ada, kami hanya bercanda biasa". jawab Kevin Singkat. Stevani makin mendekat kepada Gavino, lalu duduk dipangkuan kekasihnya itu, dia mendekatkan wajahnya kewajah Gavino, berniat ingin mencium. Namun dengan cepat Gavino memundurkan kepalanya, Stevani mengeryitkan dahinya, merasa aneh dengan penolakan Gavino.
" Kau tak ingin aku cium honey ?".
" Tidak ". Jawab Gavino singkat
__ADS_1
" Kenapa ?...Biasanya kau tidak pernah menolakku seperti ini ?".
" Disini sedang banyak orang, jaga sikapmu Van ". Gavino memberi alasan, dengan suara dingin dan tatapan tajam. Kevin malas melihat perseteruan pasangan yang ada dihadapannya, dia memilih melanjutkan memakan kuaci yang ada dimeja, sedangkan Doni, memilih membuka ponselnya, tak ingin melihat Stevani yang berpenampilan menjijikan menurutnya.
Stevani melihat kedua sahabat Gavino " Banyak orang ?, Mana ? disini hanya ada kita ber-empat, tak ada orang lain. Sejak kapan kau menjaga image dihadapan mereka".
" Lihatlah bahkan Doni dan Kevin saja asik dengan kegiatannya masing-masing, jadi kau tak perlu malu honey. Bukankah dulu kau juga sering mencumbuiku didepan mereka..hhmm?". Gavino tak merespon, dia mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Kevin yang merasa keberadaan mereka kurang tepat, segera menepuk lutut Doni memberi kode mengajak pergi.
" Bro, sepertinya aku dan Doni harus cabut dulu. Lain kali kami akan kesini lagi". Ucap Kevin berniat pamit.
" Tidak...!!, kalian tetap disini, bila ada yang harus pergi itu bukan kalian berdua, tapi Stevani. Bukankah dia memang sering pergi sesuka hati tanpa pamit dan kabar". Ujar Gavino, matanya melihat Stevani dengan tajam. Kevin dan Doni kembali diam ditempat, sedangkan Stevani terkejut tak percaya mendengar ucapan kekasihnya.
" Apa kau masih marah padaku honey ?".
" Bukankah sudah aku jelaskan kepadamu, bahwa aku ada urusan mendesak, hingga tak sempat pamit ataupun memberi kabar kepadamu. Lagi pula aku juga sudah minta maaf bukan, lalu masalahnya apa lagi ?". Stevani berujar lembut, mengalungkan kedua tangannya di leher Gavino, mencoba mengambil hati Gavino lagi. Dia sudah tau, bahwa Gavino pasti masih marah kepadanya, biasanya jika dia melakukan hal sedikit intim seperti ini, Gavino akan segera luluh dan memaafkannya. Tapi kali ini, perhitungan Stevani salah, Gavino tetap menatapnya dingin, bahkan lebih dingin dari sebelum-sebelumnya.
" Hhhmmm...baiklah !! aku akan meminta maaf sekali lagi. Maafkan aku ya Honey, lain kali aku tidak akan seperti itu lagi. Aku janji". Ucap Stevani, mendekatkan bibirnya ketelinga Gavino, berbicara setengah berbisik dan mendesah. Namun Gavino menjauhkan kepalanya, memberi jawaban dengan dengusan ejekan. Stevani semakin tak percaya, lagi - lagi gavino menunjukan penolakan.
Ponsel Gavino yang berada didalam saku celananya berdering menandakan ada panggilan masuk " Bisa kau Bagun Van, aku ingin mengambil ponselku". Ketus Gavino, Stevani semakin geram, wajahnya merah kesal dengan sikap cuek Gavino. Dia berdiri, lalu duduk disamping Doni. Doni refleks menggeser tubuhnya menjauh kebagian ujung sofa, untung saja dia duduk di sofa yang panjang.
Gavino melihat layar ponselnya, ternyata itu panggilan Vidio call ". Gio, Mau apa dia". Gumam Gavino, lalu menggeser tanda jawab.
Sekarang wajah adiknya telah memenuhi layar ponsel Gavino.
" Bukan, aku tidak ingin meminta uang, yang kemarin masih ada".
" Lalu, jika bukan itu, kau mau apa. Sepatu, handphone baru atau minta pindah Apartemen lagi ?". Gio menghela nafas kasar mendengar pertanyaan-pertanyaan Gavino, dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
" Tidak...!! aku tidak butuh semua itu. Sekarang aku ingin belajar dewasa, aku tidak ingin boros- boros lagi ". Ucap Gio, membuat Gavino menautkan alisnya. Sahabat-sahabat Gavino pun ikut merasa heran mendengar ucapan Gio, mereka yang tau bagaimana sifat Gio, merasa ada yang aneh.
" Hay kak Gavin ". Suara cempreng Gea ikut menyapa dari belakang Gio.
" Nanti dulu Gea, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kak Gavino ". Ketus Gio pada adiknya, lalu mendorong-dorong Gea untuk menjauh.
" Iihh kau ini, aku juga ingin melihat kakak ku tau ". Gea cemberut tak terima, menghentak-hentakkan kakinya duduk lagi dikursi samping Gio.
" Kak aku ingin menanyakan sesuatu padamu ?".
" Heemm ".
" Apa kakak masih tidak menyukai kak Danira ?". Pertanyaan Gio, makin membuat kening Gavino berkerut, dia menikkan satu alisnya. Gio sudah tau jawabannya, dengan wajah yang ditampilkan Gavino.
__ADS_1
" Jika kakak masih tak menyukai kak Danira, berikan saja dia padaku. Biar aku yang menikahinya ". perkataan membuat semua orang yang ada didalam ruangan tersentak kaget.
" Aku akan segera menyelesaikan kuliahku, lalu aku akan meminta saham bagianku, aku ingin membangun perusahaan sendiri. Tak masalah bagiku bila dia janda dari kakakku sendiri. aku akan menerimanya, walaupun dia sudah memiliki anak dari pria lain pun aku tak masalah, aku sanggup menerima sekalipun kak Danira memiliki anak yang banyak ". semua kata-kata Gio membuat Gavino melogo tak percaya.
Plakkk...
Gea memukul kepala Gio " GIO...!! Apa kau sudah gila hah ?, Kak Danira itu kakak iparmu, masa kau ingin menikahi istri kak Gavin, kau benar-benar tidak waras ". Sentak Gea, ikut terkejut dengan keinginan kembarannya ini. Gio mengaduh kesakitan, mengelus belakang kepalanya terasa sakit.
" Ada apa denganmu, apa kau sakit ?". Tanya Gavino, dia benar-benar merasa heran dengan gio yang secara tiba-tiba meminta saham dan istrinya.
" Aku tidak sakit kak, aku serius. Coba kau lihat, apa aku terlihat seperti orang sakit ?". Gio memaju-majukan wajahnya kearah kamera.
" Cihh...jauhkan wajah jelekmu itu". Ketus Gavino. Gio hanya menyengir menampakkan baris gigi putihnya.
" Sudahlah...aku sedang tidak ingin bercanda denganmu".
" Aku sedang tidak bercanda kak, aku serius. Aku ingin menikahi kak Danira, aku janji akan lebih membahagiakannya dibanding kak Gavin ". ujar Gio mantap.
" Berhentilah berkata yang tidak-tidak, kencing saja kau belum lurus, sudah berbicara tentang pernikahan ".
" Aku sudah besar kak, bahkan aku lebih tampan dari kak Gavin, lagipula usiaku dan kak Danira hanya selisih 1 tahun, jadi kak Danira lebih cocok denganku dari pada kak Gavin yang sudah tua". Jelas Gio, menaik- turukan alisnya, tersenyum cool. Gavino mendegus kesal mendengar ucapan Gio yang monohok.
" Sudahlah, aku malas meladeni bocah tengik sepertimu, lebih baik aku matikan saja". Gavino ingin mengakhiri sambungan Vidio callnya, namun teriakan Gea mengentikan jarinya.
" Tunggu dulu kak, aku ingin mengatakan sesuatu ". Ucap Gea, menyela pembicaraan kedua kakak laki-laki nya.
" Apa lagi ?".
" Aku ingin mengatakan, kalau kak Gavin adalah laki-laki paling bodoh sedunia, Kakak lebih memilih wanita tukang selingkuh, dibanding berlian yang berkilau seperti kak Danira ". Ujar Gea monohok, Stevani yang mendengar langsung memelototkan matanya. Gavino hanya memutar bola matanya malas, dia sudah terlalu sering mendengar tuduhan-tuduhan Gea untuk Stevani, Gavino tak mempercayai ucapan Gea. Menurutnya, gea hanya mengucapkan omong kosong karena hasutan sang ibu yang tak menyukai Stevani.
" Asal kakak tau, kak Danira sangat..sangat, sangat cantik, sampai-sampai aku saja wanita juga jatuh cinta kepadanya. Pantas saja kak Gio berani mengatakan ingin menikah dengan kak Danira". Jelas Gea lagi, dengan mata berbinar-binar masih membayangkan wajah dan senyuan indah Danira.
" Apa kalian berdua sudah melihat wajahnya ?". Gavino memastikan. Gea dan Gio mengangguk bersamaan.
Sial...aku yang suaminya, mengapa dia menunjukkan wajahnya dengan orang lain. Batin Gavino.
" Kak Gavin, jika kakak akan menceraikan kak Danira kabari aku ya, aku akan segera pulang untuk menjemputnya, bahkan langsung menikahinya saat itu juga". Ujar Gio lantang, Gavino yang kesal langsung mematikan panggilan sebelah pihak.
" Brengsek...".
......................
__ADS_1
...Bersambung......