
Danira menarik tangan Gavino keluar dari supermarket. Bila dibiarkan, Gavino bisa saja melakukan hal yang lebih gila. pikir Danira.
Gavino yang sedari tadi dikuasai emosi dan amarah, seketika menjadi tenang tanpa alasan, dia melihat tangannya yang sedang dalam gengaman Danira, dia tau, Danira sedang tidak sadar melakukan hal ini. Bila wanita ini sadar dia tidak akan pernah Sudi bersentuhan dengannya seperti ini. Gavino mengulum senyum, merasa gelenyar aneh dalam aliran darahnya. Danira membawa Gavino masuk kedalam sebuah Cafe yang ada disebrang supermarket itu.
Danira melihat kesana-kemari, mencari meja yang kosong, matanya mengarah kemeja yang ada dipojok cafe, dia berjalan dengan langkah cukup besar.
"Kita duduk disini saja ".
"Apa kita akan duduk sambil berpegangan terus seperti ini". Ujar Gavino, Danira menoleh kebelakang, melihat tangannya menggenggam tangan Gavino, Danira membesarkan matanya, cepat-cepat menarik tangannya lalu mengelap kebaju yang dia kenakan. Melihat apa yang Danira lakukan, membuat Gavino mencebikkan bibirnya.
" Aku sudah cuci tangan, tidak akan ada kuman yang menembus sarung tanganmu". Ketusnya, Danira hanya diam, memilih duduk. Gavino pun ikut duduk dihadapan Danira.
" Kenapa anda melakukan itu, seharusnya anda biarkan saja tak perlu memecat mereka. Lagi pula apa yang mereka bicarakan itu benar adanya, saya memang tidak pantas untuk anda, seperti yang sering anda katakan kepada saya. Jadi kenapa anda harus marah ? ". Danira mulai mengeluarkan unek-unek yang dia tahan sedari tadi. Gavino melirik Danira tajam.
" Mengapa kau malah menyalahkan aku ?, mereka yang bergosip tentang kita, aku tidak suka bila ada yang membicarakan tentang keluargaku". ujar Gavino kembali emosi. Danira menghela nafas pelan.
" Seharusnya anda tidak perlu memecat mereka, bukankah semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Apa lagi anda mengancam tidak membiarkan mereka bekerja ditempat lain, itu keterlaluan. Mereka punya keluarga, punya kebutuhan yang harus mereka penuhi. Jika anda melakukan itu, mereka akan mendapatkan uang dari mana? ".
" Aku tidak perduli, karena itu bukan urusanku. Lagi pula, kenapa kau membela mereka. Orang-orang itu telah membicarakanmu, menjelek-jelekkanmu, bahkan menyumpahi rumah tangga kita, tapi kenapa kau masih membela mereka ?".
" Apa kau tidak bisa membela dirimu sendiri hah, apa seperti ini juga caramu menghadapi orang-orang yang mencemooh dirimu kemarin ?". Ujar Gavino, mencecar Danira dengan banyak pertanyaan, dia kesal melihat Danira yang lemah menurutnya. Danira melihat Gavino, pikirannya mulai menyerbu banyak pertanyaan.
"Anda mengetahui kejadian kemarin ?". Tanya Danira memastikan.
" Tidak ada yang tidak aku ketahui. Mengapa kau diam saja, dan tidak mengatakan apapun kepadaku bila resepsionis dan scurity itu mengusir bahkan mempermalukanmu didepan banyak orang ?".
"Apa....anda memecat mereka juga ?". Bukannya menjawab pertanyaan Gavino, Danira malah balik bertanya.
" Menurut mu ?". Ujar Gavino.
" Kenapa anda kejam sekali, mereka tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka hanya menjalankan tugas, agar tidak ada yang berani datang untuk menipu Anda. Mereka juga tidak tau jika anda telah menikah, jadi wajar saja bila mereka mencurigai saya. lagi pula kan saya yang mereka permalukan, dan saya juga telah memaafkan mereka semua, seharusnya anda bertanya dulu kepada saya, hukuman apa yang pantas untuk mereka. Kenapa anda malah memberi mereka hukuman seberat itu". ujar Danira panjang lebar, dia tak terima bila Gavino mengambil keputusan seperti itu.
" Aku bukan dirimu yang gampang memaafkan kesalahan sekecil apapun itu, apa lagi ini menyangkut keluargaku. Aku tidak bisa, memperkerjakan orang-orang yang tidak profesional. Jadi jangan pernah kau mengajarkan aku bagaimana cara mengambil keputusan ataupun sikap, karena kau tak akan pernah mengerti". Tegas Gavino.
" Tapi setidaknya beri mereka kesempatan satu kali lagi". Danira Masih berusaha minta pengertian Gavino.
__ADS_1
" Jika aku sudah memberi perintah, maka tidak akan pernah bisa berubah". Jawab Gavino, dengan suara datar. Danira hanya bisa menghela nafas panjang.
" Dasar Pria egois ". Cicit Danira, lalu melipat tangannya kedepan dada, membuang pandangannya kearah jalan raya. Dia sangat kesal kepada suaminya, rasanya Danira ingin marah, namun percuma saja, karena Gavino tak akan pernah mendengarkannya.
" Apa katamu ?". Gavino meminta Danira mengulang kata-katanya.
" Saya bilang, anda pria egois, dan keras kepala ". Ujar Danira lagi.
" Ya terserah aku, perusahan-perusahaanku, aku bebas mau melakukan apa saja, dan memecat siapa yang tak aku suka karena aku yang memiliki kuasa". Ujar Gavino santai.
" Iihh sombang sekali anda. Harus anda ingat, bahwa semua yang anda miliki saat ini hanya titipan dari Allah, dan kapanpun Allah mau, DIA bisa mengambil semuanya dari anda tanpa sisa, jadi anda tidak perlu merasa sombong seperti itu, sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang sombong dan tinggi hati ". Jelas Danira mengingatkan Gavino.
" Aku tidak butuh ceramah mu, simpan saja tausiyah mu untuk dirimu sendiri ". Ketus Gavino geram. Danira yang sudah sangat jengkel dengan Gavino, memilih diam kemudian dia berdiri dari duduknya.
" Kau mau kemana ?". Tanya Gavino, melihat Danira berdiri dan mulai mendorong kursinya.
" Saya mau pulang ". jawab Danira singkat.
" Enak saja main pulang, kau harus temani aku makan dulu. Karena tadi aku sudah menemani kau berbelanja, jadi sekarang waktunya kamu menemani aku makan ". Ujar Gavino, bernada perintah.
" Aku tidak mau tau, dan tidak ingin mendengar penolakan. Sekarang kau duduk, kita makan dulu, baru setelah itu kita pulang ". Titah Gavino, yang tak ingin dibantah.
" Saya tidak lapar, jadi anda Makan sendiri saj...!!"
Krukk..
Krukk..
Belum sempat Danira menyelesaikan kalimatnya, perutnya telah mengeluarkan alarm menandakan dia tegah berbohong. Danira menggigit bibir bawahnya, lalu memejamkan matanya merasa malu, karena ucapan dan perutnya tak bisa diajak kerjasama.
Kenapa harus bunyi sekarang sih. Gerutu Danira.
" Perutmu saja berteriak....apa kau masih ingin mengelak sekarang ?". Ujar Gavino tersenyum miring. Danira melihat Gavino geram, dia cemberut memajukan bibirnya. Namun tetap mengikuti perintah Gavino, Danira kembali duduk dikursinya, membuang pandangan keluar tak ingin melihat Gavino yang pasti sedang mengejeknya. pikir Danira.
Gavino memanggil seorang pelayan lalu mulai memilih dan memesan makanan yang mereka inginkan. 20 menit, makanan yang mereka tunggu telah tiba, mata Danira berbinar-binar melihat Spaghetti yang terlah tersaji dihadapannya. Tanpa menunggu lagi, Danira segera mengambil garpu yang ada disisi kanannya dan membaca doa. Namun saat dia ingin menyuapkan mie spaghetti itu kedalam mulut, dia melihat Gavino yang makan kesusahan karena masih memeluk khalisa yang tertidur. Danira berdiri lalu mendekati Gavino.
__ADS_1
" Biar saya saja yang memeluk Khalisa". Pinta Danira lembut, Gavino menyerahkan Khalisa kepada Danira lagi, karena dia tidak bisa makan dengan memeluk bayi. Gavino melihat Danira makan dengan sangat lahap, meskipun dia makan dengan tangan sebelah memegang Khalisa, namun tak terlihat ada kesusahan sama sekali.
Dia benar-benar ibu yang baik dan bertanggung jawab. Batin Gavino, kagum.
Danira tak menghiraukan Gavino yang terus saja memperhatikannya, karena dia sudah sangat kelaparan. Danira memilih menikmati makanannya dibanding berdebat lagi dengan Gavino.
" Hekhem...".
" Bole aku bertanya sesuatu ?". Tanya Gavino, membuka obrolan lagi. Danira masih diam, melihat Gavino sekilas, lalu memasukkan Spaghetti lagi kedalam mulutnya. Kemudian mengangguk.
" Mengapa kau memanggilku dengan sebutan Mas pada saat didepan orang lain saja ?". Gavino mulai melepas pertanyaan yang selama ini ingin sekali dia tanyakan. Gavino selalu mendengar Danira memanggilnya dengan sebutan Mas hanya disaat ada orang lain didekat mereka, tapi jika mereka hanya berdua, Danira hanya memanggilnya dengan sebutan anda. Mendengar pertanyaan Gavino, Danira tak langsung menjawab, dia memilih menghabiskan dulu makanan yang ada didalam mulutnya, kemudian minum. Danira meletakkan garpunya, lalu melihat Gavino yang telah menunggu jawaban Danira.
" Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang istri, untuk melindungi martabat suami saya didepan orang lain. Saya tidak mungkin memanggil anda dengan sebutan nama saja atau juga sebutan 'Anda ' dihadapan orang-orang, karena itu sama saja saya tidak menghargai Anda sebagai suami saya. Saya hanya ingin orang-orang menilai rumah tangga kita baik-baik saja, tak perlu ada yang tau bagaimana didalamnya".
" Saya tidak akan pernah mempermalukan suami saya sendiri sekalipun itu dihadapan ibu anda ". Jelas Danira, memaparkan alasannya. Gavino tertegun mendengar jawaban Danira.
" Kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan itu walaupun hanya ada kita berdua ?". Danira mengeryitkan dahinya mendengar pertanyaan Gavino yang aneh.
Bukankah seharusnya dia sudah tau jawaban dan alasannya. Batin Danira.
" Saya tidak mungkin menggunakan sebutan itu disaat kita berdua seperti ini".
" Memangnya kenapa ?". Tanya Gavino bingung.
" Apa anda lupa dengan kesepakatan yang anda buat, apa perlu saya ingatkan lagi ?".
" Baiklah mungkin anda lupa, biar saya ulang. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan bila kita berdua hanya orang asing yang tak perlu saling mengenal atau mendekatkan diri. Dan itulah yang saya lakukan. Saya akan menghargai Anda apabila ada orang lain saja, setelah itu, ya kembali lagi seperti yang anda inginkan". Gavino terdiam, dia menyadarkan punggungnya dikursi, melihat Danira dengan tatapan yang tidak bisa Danira artikan. Yang danira lihat, hanya wajah datar dan tatapan dingin.
" Lagi pula, pernikahan kita ini kan hanya sementara, sampai anda mendapatkan restu ibu anda untuk menikahi kekasih anda. Setelah itu, kita akan berpisah dan menjalankan kehidupan sepeti sebelum kita bertemu. Anda akan bahagia dengan kekasih anda dan saya pun akan begitu dengan pasangan yang ditakdirkan Allah kelak untuk saya". Ujar Danira dengan senyum getir, membayangkan hal itu terjadi. Sejujurnya Danira tak mengharapkan perpisahan, baginya pernikahan cukuplah sekali. Namun, bila sudah jalan kehendakNYA Danira tak mampu menolak.
Gavino menatap Danira semakin tajam, rahangnya mengeras, dia mengepalkan tangannya, mendengar kata Danira yang akan bahagia dengan 'pasangan yang lain'. Ada rasa tak terima muncul dihatinya, Gavino berdiri secara tiba-tiba, mendorong kursinya dengan kencang, hingga kursi itu terjatuh. Membuat Danira terkejut dan mengalihkan pandangan para pengunjung kepada mereka.
" Kau dengar baik-baik, selama aku masih menjadi suamimu, Kau tidak boleh memikirkan kebahagiaan dengan laki-laki lain. Karena kau masih MILIK KU ". Tekan Gavino tegas dan lantang. Setelah mengatakan itu, Gavino pergi meninggalkan Danira begitu saja.
......................
__ADS_1
...Bersambung.......