CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
55. Mami Mertua


__ADS_3

Didalam kamar Ny. Calina mondar mandir bak setrikaan, dia sedang memikirkan cara agar Gavino dan Danira bisa melakukan hubungan layaknya suami istri. Apa lagi Dia sangat terkejut, mengetahui bahwa menantu dan putranya tidur dikamar yang terpisah, hal itu membuat Ny. Calina naik pitam. Dia benar-benar tak habis pikir, bagaimana jalan pikiran anaknya itu, rasanya ingin Ny. Calina membongkar isi kepala Gavino, lalu menyusun otaknya dengan benar. Saking kesalnya dia kepada Gavino, Ny. Calina memukul Gavino berkali-kali hingga Gavino kabur kedalam kamarnya.


Ny. Calina masih saja berjalan kesana kemari, sambil meletakkan telunjuk didahinya.


"Apa yang harus aku lakukan ?".


" Apa aku harus pergi kegunung Kawi atau pergi kedukun saja. Ahh tidak..tidak, itu terlalu beresiko dan dosa besar. Bisa-bisa aku yang ditaksir genderuo disana...iihhh". Ny. Calina bergidik ngeri.


" Aahhh...apa aku mencari kyai atau ustadz saja, supaya Gavino diruqiah agar jin Stevani keluar dari tubuh gavino". Ny. Calina terus saja berbicara sendiri, berfikir keras.


" Lebih baik aku telpon Richard mungkin dia punya obat yang mujarab". Ny. Calina mengambil handphonenya yang tergeletak diatas nakas lalu menekan nomor sahabatnya itu. Telpon tersambung....


" Chard kau ada obat kuat atau obat perangsang tidak ?, aku butuh sekarang". Ucap Ny. Calina langsung tanpa mengucapkan salam atau basa-basi.


" Bisakah kau menjauhkan ponselmu itu, aku tidak bisa melihat wajahmu. Yang ada hanya kotoran telingamu dilayar". Ujar Dr. Richard kesal dengan sahabatnya yang selalu saja menganggu.


" Aku menelpon biasa bukan Vidio Call Dodol, lagi pula telingaku tidak ada kotorannya, bersih dan jernih".


" Haiss...kau ini, sepertinya usia telah mempengaruhi penglihatanmu. Coba kau lihat layar ponselmu itu, baru mengomel". Ny. Calina melihat ponselnya, ternyata benar panggilan Video call bukan sambungan telpon biasa. Ny. Calina bisa melihat wajah Dr. Richard yang sedang mengejeknya.


" Sorry..sepertinya aku salah menekan tandanya..Ha.ha.ha". Ujar Ny. Calina sambil tertawa merasa lucu.


" Ada apa ?, untuk apa kau obat-obatan seperti itu ?, memangnya kau mau menjebak aki-aki atau berondong menggunakan obat itu ?". Ejek Dr. Richard dengan tampang tengil.


" Idihh...Siapa juga yang mau. Aku sudah tidak berselera dengan para pria, cintaku hanya Alm. Suamiku seorang".


" Ya..ya..ya...aku percaya,, lalu untuk apa kau obat itu, jika bukan untuk kau pakai sendiri?". tanya Dr.Richad lagi, masih penasaran.


" Obat itu akan aku berikan kepada Gavino. Kau tau, Bocah sontoloyo itu belum sama sekali menyentuh menantuku. Bahkan mereka tidak tinggal 1 kamar, aku curiga Gavino tidak mampu melakukannya kepada Danira." Ny. Calina mulai bercerita tanpa jeda, seperti rem blog.


" Sepertinya kau harus kerumah sakit dulu ".


" Aku..,kerumah sakit ?, untuk apa ? aku sehat, kenapa harus kerumah sakit ?". tanya Ny. Calina bingung dengan ucapan Dr. Richard.

__ADS_1


" Untuk melakukan operasi pengangkatan pita suaramu, sepertinya kau lebih cocok tanpa suaramu itu, apa kau tau suaramu itu seperti kenalpot racing yang berisik". Ejek Dr. Richard dengan tawa yang keras. Ny. Calina melihat dr. Richard geram, dengan mata tajam.


" Ohh..bagus...!!!, apa kau mau aku pindahkan kerumah sakit berhantu di Afrika saja hah ?". Ketus Ny. calina kesal.


" Coba saja kalau kau mau, pasti tidak sampai 1 hari kau sudah meminta aku kembali. Karena kau tidak bisa jauh dariku..Hahahaha..".


" Kau terlalu Percaya diri Richard". Ny. Calina semakin kesal.


Dr. Richard menghentikan tawanya, berganti dengan mimik wajah serius melihat Ny. Calina.


" Baiklah, kita kembali ketopik awal. Calina dengarkan aku, Gavino adalah pria normal dia tidak membutuhkan obat-obatan seperti itu. Jika dia belum melakukan dengan istrinya, mungkin karena dia belum siap untuk itu. Lagi pula, coba kau lihat Background menantumu. Danira itu wanita Solehah, Jagan kau buat dia seakan wanita murahan yang di nodai oleh suaminya sendiri dengan obat-obatan seperti itu".


" Biarkan mereka melakukan kewajiban mereka dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan. lagi pula mereka menikah akibat ulahmu, mungkin mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal. Biarkan saja, kau tak perlu ikut campur sejauh itu, selagi masih dalam batas yang wajar ikuti saja. Bila sudah melenceng barulah kau sebagai orang tua masuk untuk menyelamatkan pernikahan anak-anakmu itu". Ujar Dr. Richard panjang lebar menasehati Ny. Calina.


"Ya kau benar...seharusnya aku tidak boleh terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Baiklah aku ikuti nasehatmu. Tapi Ngomong-ngomong dari mana kau belajar bahasa bijak seperti itu, kau seperti topik Hidayat saja". jawab Ny. Calina. Dr. Richard mengerutkan keningnya, mendengar ucapan Ny. Calina.


" Ya ampun Calina...Calina, Topik Hidayat itu Atlet Badminton, bukan pemberi kata-kata motivasi. Sepertinya kebodohan dari zaman sekolah masih terbawa sampai saat ini ya". Dr. Richard terus saja mengejek Ny. Calina, hal itu membuat Ny. Calina bersungut-sungut kesal.


" Sudahlah...aku tidak mau berbicara denganmu lagi, Aku matikan telponnya". Tanpa menunggu jawaban dari Dr. Richard, Ny. Calina telah menekan tombol berwarnah merah, seketika wajah Dr. Richard menghilang dari dalam layar ponsel itu. Ny. Calina meletakkan lagi ponselnya keatas nakas, lalu dia duduk dipinggir ranjang sambil melihat Khalisa yang masih tertidur.


Malam ini Ny. Calina memilih tidur dipenthouses Gavino, dia ingin bermalam dengan Danira dan juga Khalisa, tentu saja permintaan Ny. Calina disambut antusias oleh Danira. Sebab dia belum pernah merasakan tidur bersama dengan ibunya.


" Mami..". suara Danira masuk kedalam kamar, dia berjalan sambil membawa sesuatu ditangannya. Ny. Calina tersenyum melihat Danira, Dia selalu bahagia saat mendengar suara Danira.


" Ini Danira bawakan mami susu jahe, pasti mami lelah dari perjalanan jauh". Danira memberikan segelas susu jahe hangat kepada Ny. Calina dan Ny. Calina menerimanya dengan senang hati.


" Terima kasih sayangku, kau memang putri mami yang paling mengerti". Ucap Ny. Calina lalu mengelus kepala Danira dengan sayang.


"Iya mami, sama-sama".


" Mi..!!". panggil Danira pelan.


" Iya..Ada apa nak ?".

__ADS_1


" Emm...maaf tadi sebenarnya Danira tidak sengaja mendengar pembicaraan mami dengan om Richard di telpon". ujar Danira jujur, dia merasa bersalah karena telah menguping pembicaraan mertuanya, Ny. Calina tampak terkejut namun sedetik kemudian dia mengukir senyumnya kembali.


" Tidak apa-apa nak, seharusnya mami yang minta maaf sama kamu. seharusnya mami tidak pernah memaksa kamu untuk menikah dengan Gavino kutu ayam itu". Sekarang Ny. Calina dirundung rasa bersalahnya, dia merasa telah menjebak Danira dengan menikahkan dia dengan Gavino.


" mami tidak salah, mungkin memang sudah jalannya begini, aku dan mas Gavino ditakdirkan menikah dan bersama. Aku minta maaf atas nama suamiku, jika kami belum bisa memberikan cucu seperti yang mami harapkan. Aku minta mami bersabar, mungkin saat ini hati kami masih belum sepenuhnya bisa menerima keadaan pernikahan ini, tapi mami jangan khawatir, Danira akan berusaha semampu Danira untuk mempertahankan rumah tangga ini. Namun untuk saat ini, biarkan seperti ini dulu ya mi, biar kami saling mengenal satu sama lain dulu, biarkan mas Gavino terbiasa dengan kehadiran Danira dan begitupun sebaliknya". Ujar Danira memberikan pengertian kepada ibu mertuanya. Ny. Calina menggenggam tangan Danira.


" Apa Gavino pernah menyakitimu nak ?". tanya Ny. Calina menyelidik. Danira diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


" Tidak mi, mas Gavino tidak pernah menyakiti Danira, bahkan dia sangat menghormati aku". jawab Danira bohong, dia tak ingin ibu mertuanya sampai kepikiran .


" Jagan berbohong....bila dia tak pernah menyakitimu, bocah tengik itu tidak mungkin meminta pisah kamar seperti ini". Ny. Calina kembali kesal membayangkan wajah putranya.


" Mi....berbeda kamar seperti ini adalah kesepakatan kami berdua, seperti yang Danira uangkapkan tadi bila Danira dan mas Gavino ingin membiasakan diri dulu. Lagi pula ini hanya beda kamar bukan beda rumah. Mami doakan saja supaya rumah tangga kami tetap baik-baik saja". Jelas Danira lembut. Ny. Calina menghela nafas pelan.


" Terima kasih nak, kamu sudah mau menerima Gavino dan bersabar menghadapi segala macam tingkah Gavino, mami tau pasti dia sering mengatakan hal-hal yang membuat kamu sakit hati. Mami mohon tetap bertahan ya nak".


" Apa Gavino pernah melihat wajahmu nak ?". tanya Ny. Calina, hal ini yang sedari tadi ingin dia ketahui, pasalnya dia pun belum pernah melihat rupa sang menantu.


" Belum mi,..maaf Danira bukan bermaksud menutupi terus menerus, tapi Danira ingin mas gavino menerima Danira apa adanya tanpa melihat wajah atau status Danira. Disaat nanti mas gavino telah siap menyerahkan seluruh hatinya, disaat itu Danira sendiri yang akan datang kepadanya, memintanya untuk membuka Burqa dan cadar ini dengan tangan mas Gavino sendiri". Ujar Danira lagi, dan ucapan Danira makin menyentuh perasaan Ny. Calina. Dia makin menyayangi Danira, sangat.


" Terima kasih sayang..terima kasih". ujar Ny. Calina tulus. Danira membalas pelukan Ny. Calina dengan hangat, dia selalu menikmati momen seperti ini, momen dalam pelukan seorang ibu.


" Ya sudah, mami minum dulu susu jahenya nanti dingin sudah tidak enak lagi, lalu kita tidur karena ini juga sudah malam". Ujar Danira memberi tahu. Ny. Calina mengikuti kata-kata Danira, dia mengambil gelas yang dia letakkan diatas nakas lalu mulai meminumnya hingga tandas...


Eeeekkgg...


Ny. Calina bersendawa kencang " Alhamdulillah". ujarnya, lalu matanya beralih melihat Danira yang sedang membuka ikatan Burqanya, dan saat itu juga mata Ny. Calina tak berkedip bahkan mulutnya terbuka lebar dia terkejut sekaligus takjub dengan paras indah sang menantu.


Cantik. Batin Ny. Calina. Ny. Calina terus memandang Danira.


" Astaghfirullah ,...ehh salah maksudnya Subhanallah kamu cantik sekali Danira".


......................

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2