CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
129. Undangan


__ADS_3

Seorang pria berperawakan tinggi berisi, kulit sawo matang, tulang pipi tegas, dengan wajah yang ditumbuhi brewok tebal dari area pipi hingga kebawah dagu. Ditambah dengan alis tebal, bola mata bulat hitam pekat, bibir berisi. memancarkan ketegasan nan menawan. Dia berjalan ditegah-tengah gedung Radenayu Group diiringi 4 orang dibelakangnya memegang senjata tajam berupa pedang panjang. Penampilannya yang aneh berhasil menjadi pusat perhatian banyak orang-orang yang ada disana, terutama para karyawan RA Group yang sedang istirahat makan siang.


Pria itu mengenakan pakaian yang tak lazim, dia hanya menggunakan kain batik bercorak coklat dan kuning mas sebatas mata kaki, dipinggangnya juga terdapat ikat pinggang perak peranakan kuno, pahatan merak. Bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka, menampakkan dada bidangnya yang kokoh hanya dihiasi dengan kalung berbentuk sebatas dada, bagian lengan kiri dan kanan yang kekar, dihiasi juga perhiasan seperti gelang dan begitupun dengan pergelangan tangannya.


Lalu dibagian kepala terdapat aksesoris seperti kain yang mengikat namun ada perhiasan seperti Bros kecil yang menempel ditegah keningnya. Begitupun dengan penampilan keempat pria yang ada dibelakangnya, hanya saja yang membedakan adalah dari perhiasan dan panjang kain yang digunakan. Mereka persis seperti pemain film kolosal yang memerankan kisah kerajaan zaman baheula.


^^^" Mereka siapa ?".^^^


^^^" Iya...pakaiannya aneh sekali ".^^^


^^^" Coba lihat, mereka membawa pedang ditangan mereka, iihh...sangat mengerikan . Sekali tebas putus ni kepala !!". Merinding^^^


^^^" Mereka datang dari zaman mana sih ?, sudah zaman modern kok masih ada nggak kebeli baju ya? ".^^^


^^^" Huuss....nanti mereka dengar bisa bahaya, lihat orang yang paling depan. Wajahnya sangar sekali, tapi kalau janggutnya di potong sepertinya tampan juga he..he ".^^^


^^^" Dduuuhhh...badannya bagus, kekar jadi pengen digendong ". Bisik para karyawan wanita.^^^


Para karyawan terus berbisik-bisik melihat pria-pria berpenampilan aneh itu. Banyak yang mengira bila mereka sedang melakukan aksi parade kostum, ada juga yang mengira mereka kurang waras, dan banyak juga yang mengolok-olok penampilan mereka. Namun para pria itu tak perduli, mereka seakan buta dan tuli dengan pandangan dan cibiran orang-orang disekitar mereka saat ini.


" Maaf tuan-tuan, anda ingin kemana dan bertemu dengan siapa ?". Tanya wanita cantik, berkerudung panjang yang tak lain adalah Staff resepsionis RA Group.


" Saya ingin bertemu dengan Raden Ayu ". Singkatnya.


" Maaf, ada keperluan apa?, atau tuan sudah membuat janji sebelumnya ?". Pria itu menatap resepsionis tajam, dia tak suka dengan pertanyaan wanita ini. Hal itu membuat wanita dihadapannya ketakutan.


" Saya utusan dari kerajaan Samudra Brahmacari, membawa pesan dari Raja dan ini harus Raden Ayu sendiri yang menerimanya ". Jawabnya bengis, penuh penekanan dengan nada khas Jawa.


" Tu..tu...tunggu sebentar". Jawabnya gugup, lalu berlalu menghubungi seseorang.


****


Dikantin RA Group, tak kalah hebohnya dengan suasana di Lobby. Bagaimana tidak, para karyawan disuguhkan dengan pemandangan langkah, yaitu keromantisan Sang pimpinan mereka. Gavino dan Danira tegah makan siang dikantin berbaur dengan karyawan lainnya. Awalnya Gavino menolak permintaan Danira ini, namun bukan Gavino namanya bila tidak luluh hanya dengan suara lembut nan menggoda istrinya. Dan disinilah mereka sekarang, duduk saling berhadapan, dengan hidangan makan siang yang sederhana.


Bukan tanpa alasan Danira datang kekantin dan makan disana. Dia hanya ingin memastikan secara langsung semua karyawannya mendapatkan makanan yang baik dan cukup.


Gavino masih memasang wajah kesal, duduk dengan tegap, tangan terlipat didepan dada, merajuk. Bukannya terlihat garang, wajah Gavino malah terlihat makin tampan dan menggemaskan. Membuat hati para kaum hawa yang ada disana semakin meronta-ronta, ingin duduk dipangkuan Gavino, lalu mengelus pipinya kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang Gavino.


" Mas mau makan yang ini ?". Tanya Danira menunjuk makanan di piring Gavino, Gavino menggeleng sambil cemberut memajukan bibirnya.


" Lalu mas mau yang mana ?, apa mau aku pesankan makanan dari luar saja ?". Gavino masih menggeleng, persis seperti bayi yang tegah merajuk. Danira menghela pelan, lalu mulai menyendokkan nasi dan lauk di sendok khususnya.


" Buka mulutnya !!". Ujar Danira, Gavino melirik Danira sekilas lalu membuang muka lagi.


" Mas...!!!". Dengan sebal Gavino melihat Danira lalu membuka mulutnya, memakan makanan yang disuapi istrinya.


" Aku tidak suka ikan kecil ini ". Ujar Gavino sambil mengunyah.


" Ini ikan teri bagus untuk kesehatan tulang, agar tidak mudah keropos ". ujar Danira asal, kembali menyuapi Gavino yang wajahnya masih ditekuk, namun tetap membuka mulutnya.


" Tapi aku tidak suka makan disini sayang, lihatlah....semua orang sedang melihat kita. rasanya aku ingin mencongkel bola mata mereka satu-persatu". kesal Gavino, namun terus menerima suap demi suapan yang Danira berikan.


" Iihhh....tidak boleh kejam begitu mas, wajar mereka melihat. Kan suamiku sangat tampan ". Goda Danira kembali menyuapi Gavino, seketika wajah Gavino menjadi merah, dia mengulum senyum dengan mulut penuh makanan. Entah kenapa setiap kali Danira memujinya hati Gavino selalu saja berbunga-bunga, senang. Membuat Sean dan Sarah membuang pandangan mereka kesembarang arah.


Gavino menggesek-gesekkan kakinya, kebetis Danira dibawah meja. Membuat Danira menendang kaki suaminya pelan, karena merasa geli. Gavino hanya memberikan Danira cengiran kuda, seperti tak melakukan apapun.

__ADS_1


Semua moment romantis itu disaksikan banyak pasang mata yang iri, sebagian dari mereka ada yang merekam secara diam-diam momen menggemaskan itu. Sarah dan Sean yang juga duduk disamping mereka, hanya bisa pasrah menahan geli dalam hati mereka, melihat kemesraan para bosnya.


Sean melihat makanan yang ada didalam piring Sarah, tak ada lauk. Hanya sedikit nasi dan banyak sayuran.


" Anda diet ?". Sean membuka obrolan untuk pertama kalinya. Sarah hanya melirik sekilas, tak berniat menjawab.


" Anda mau ini,?....sejak tadi saya lihat anda hanya memakan sayuran saja ".Sean masih berusaha mengajak Sarah berbicara, menawarkan cumi miliknya, dia engan melihat tuannya yang bertingkah menggelikan itu.


" Tidak...terima kasih ". Singkat Sarah, kembali fokus pada makanya.


Sial....wanita ini lebih dingin gunung es. Batin Sean. Namun Sean tetap saja sesekali melirik Sarah yang duduk berhadapan dengannya.


Tanpa Sean dan Sarah sadari, sedari tadi Gavino dan Danira memperhatikan sikap Sean yang sering mencuri pandang pada Sarah, yang terus saja cuek bebek, atau memang pura-pura tidak tau.


" Sarah vegetarian, itulah mengapa dia hanya memakan sayuran". Jelas danira, yang merasa kasihan karena Sarah tak menjawab pertanyaan Sean.


Oohhh...pantas. Sean hanya ber oh dalam hati. Sambil manggut-manggut. Sedangkan Sarah tetap diam menikmati makanannya, tak memperdulikan orang-orang yang sedang membicarakannya.


Saat mereka tengah asik menikmati hidangan makan siang, diselingi obrolan ringan. Dari Arah belakang, terdengar derap langkah cepat mendekati meja mereka. Gavino melihat Sam, pengawal Danira berjalan kearah danira diikuti oleh orang-orang aneh dibelakangnya.


Siapa mereka, mengapa kostumnya sangat aneh. Apa sedang ada acara perta Helloween?. Batin Gavino, memperhatikan kelima orang yang ada dibelakang Sam. Dan merekapun berhenti tepat tak jauh dari tempat Danira duduk.


" Maaf nona....ada yang ingin bertemu dengan anda ". Ujar Sam, sambil menunduk.


" Siapa ?". Danira menolehkan kepalanya, tanpa melihat Sam.


" Utusan dari kerajaan Samudra Brahmacari". Danira terdiam, menggenggam sendok dan garpunya kencang. Sam, menggeser tubuhnya membiarkan para pria itu maju mendekat kearah Danira.


Apa ini sudah waktunya....Gumam Danira dalam hati.


" Salam, Raden Ayu ". Ucapnya lantang, diikuti oleh keeempat pria yang lainnya. Danira langsung berdiri, dan menggeser posisinya, tak ingin menerima perlakuan yang menurutnya terlalu berlebihan. Melihat Danira berdiri, semua orang yang ada dikantin pun ikut berdiri, termasuk Gavino Sean dan Sarah. Lagi-lagi situasi itu menjadi pusat perhatian, dan hal itu membuat Danira tidak nyaman.


" Waallaikumsalam....berdirilah ". Pria itu menegakkan tubuhnya dengan posisi masih duduk bertumpu menggunakan kedua lutunya, Dia bingung melihat Danira sudah berdiri dan berpindah posisi dari tempatnya tadi.


" Tidak perlu seperti ini padaku, aku juga manusia jadi kalian tidak boleh memberikan penghormatan dengan cara bersujud seperti ini. Kalian hanya boleh bersujud didepan tuhan yang kalian yakini ". Ucapan Danira membuat pria brewok itu mendongak melihat Danira, perasaannya merasakan sesuatu yang lain ketika mendengar perkataan Danira. Gavino yang melihat tatapan pria itu, semakin mengeratkan ngenggaman tangannya pada sang istri. Gavino bisa menebak bila usia pria yang masih duduk dilantai ini sepertinya seumuran dengan dirinya. Gavino memberikan tatapan mengintimidasi.


" Sam....!! antarkan mereka keruang tunggu saja, aku akan menyusul kesana ". Titah Danira pada Sam, yang berdiri tak jauh dari sana. Danira tidak akan membawa orang sembarangan masuk kedalam ruangannya.


" Baik Nona....mari tuan-tuan ". Pria itu bangun, berjalan mundur beberapa langkah lalu mengikuti arah yang ditunjuk Sam.


" Mas lanjut saja makannya, aku tinggal sebentar tidak apa-apa kan ?". Danira meminta ijin suaminya.


" Aku sudah tidak berselera makan, aku akan ikut kau menemui pendekar dari goa hantu itu ".


" Pendekar dari Goa Hantu ?".


" Iya!!..apa kau tidak melihat penampilannya?. Apa di negri dongeng belum ada tukang jahit ?, sampai-sampai mereka datang tidak menggenakan pakaian yang benar".


" Cckkk... tidak tau malu sekali, mau pamer otot didepan istriku. Ototku jauh lebih menarik dan kekar ". Sungut Gavino, hal itu membuat Danira tergelak, apa lagi melihat wajah Gavino yang merah menahan kesal karena cemburu. padahal pria tadi belum mengatakan apapun dan juga tidak melakukan apapun.


" Sepertinya raja yang sekarang masih menganut sistem pemerintahan dan tata cara berpakaian seperti lelulur yang terdahulu ". Tebak Danira, sebenarnya Danira pun terkejut ketika melihat para pria itu datang dengan penampilan yang tak biasa.


" Untung saja mereka datang aku sedang ada disini...!! ". gumam Gavino pelan.


***

__ADS_1


Di ruang tunggu, ruangan yang didominasi kaca, dilengkapi dengan sofa empuk berwarna hijau, dan dibeberapa sudut dihiasi bunga anggrek bulan berwarna putih, unggu.


Danira duduk sedikit menyerong menghadap Gavino, tak ingin terlalu berhadapan dengan orang yang duduk tak jauh darinya. Pria itu maju beberapa langkah menggunakan lutut nya mendekat kearah Danira, kemudian dia menunduk menaikkan kedua tangannya yang telah mengatup, lalu kedua jari jempolnya menempel dikening dan jemari lainnya mengarah kepada Danira. Gavino mengerutkan dahinya melihat apa yang ingin dilakukan pria ini.


" Raden perkenalkan saya Simon, Sekertaris kekeratonan Samudra Brahmacari. Kedatangan saya kemari bermaksud menyampaikan undangan resmi dari Raja, Sultan Agung Malik Cahyendra Brahmacari. Beliau meminta Raden Ayu untuk datang kekeratonan ". Simon menyampaikan maksud dari kedatangannya, lalu mengambil surat resmi yang ditulis diatas kain berwarna kuning. Dia menyerahkannya kepada Danira.


Sarah yang sejak tadi berdiri dibelakang Danira maju mendekat, sambil memasang sarung tangan berwarna hitam. Lalu mengulurkan tangannya, ingin menerima undangan yang ada ditangan Simon.


" Tapi undangan ini harus Raden Ayu sendiri yang menerima dan membacanya ". Ucapnya melihat Sarah sinis.


" Saya hanya ingin memastikan bila yang anda bawa tidak berbahaya untuk nona ". Ketus Sarah, tak kalah sinisnya.


" Kamu pikir saya akan mencelakai Raden ayu?". Kesal Simon, meninggikan nada suaranya.


" Tidak ada yang tau niat hati seseorang ". Sindir Sarah dingin. Sean dan Gavino hanya menyaksikan perdebatan yang sengit dihadapan mereka. Sedangkan Danira mengkat kepalnya melihat Sarah.


" Simon tidak apa, Berikan saja padanya ". Ujar Danira halus. Simon mengalah, menyerahkan surat itu pada Sarah.


Sarah membukanya, Lalu mengeceknya terlebih dahulu, dirasa aman dan tak ada yang mencurigakan, Sarah langsung meletakkannya diatas meja yang ada dihadapan nonanya. Mata Danira langsung tertuju pada stempel emas yang menghiasi undangan itu.


" Maaf, tapi bisakah kamu bangun dan duduk di sofa saja ?".


" Maaf Raden, peraturan kekeratonan, kami tidak boleh duduk satu tempat dengan keluarga bangsawan ". Jawab Simon jujur.


" Tapi ini bukan dikekeratonan, ini di tempatku. Jadi kamu harus mengikuti keinginanku ". Ujar Danira tegas. Simon tampak berfikir, haruskah dia melanggar peraturan yang telah lama dia taati. pikir Simon. Namun mengingat ini perintah Danira, Simon bangun lalu duduk disofa kosong yang ada diseberang Danira.


" Undangan ini saya terima, namun saya belum bisa memberikan jawaban, kapan tepatnya saya bisa datang ". Simon diam sejenak, lalu mengangguk.


" Baik Raden, akan saya sampaikan ini kepada Ndoro Agung".


" Kalau begitu saya mohon undur diri ". Simon ingin memberikan penghormatan, dengan bersujud lagi. Namun buru-buru Danira mencegahnya.


" Bila kamu bertemu saya lagi, saya harap kamu tidak melakukan penghormatan seperti ini lagi padaku. Karena saya tidak suka ". Simon terdiam, bingung harus menjawab apa. Jika Ndoro Agung tau tentang hal ini, bisa-bisa kepalanya dipenggal. pikirnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Simon pergi meninggalkan gedung Radenayu Group bersama pengawal yang lain.


Danira melihat undangan yang ada diatas meja itu, dia tak berniat sama sekali menyentuhnya. Entah mengapa hatinya, merasa tidak nyaman.


" Sayang...". Danira menoleh melihat Gavino, yang masih setia berada disampingnya.


" Mau pulang sekarang ?". Tanya Gavino, dia tau suasana hati istrinya pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini.


" Belum mas, masih ada beberapa laporan yang belum aku periksa ".


" Baiklah...aku akan menemanimu sampai selesai ". Mengelus kepala Danira lembut.


" Sarah...kau simpan saja undangan ini ". Ujar Gavino berlalu keluar dari ruangan itu bersama Danira. Sean yang tadi telah keluar terlebih dahulu karena mendapatkan panggilan telpon, kini berjalan mendekati Gavino buru-buru.


" Tuan.....?". Gavino menoleh melihat Sean. tanpa Sean memberi tahu, Gavino sudah mengerti arti dari tatapan Sean, membuat Gavino menerbitkan seringai tipis. Mereka seakan berbicara melalui telepati.


Gavino kembali melihat Danira.


" Sayang, maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu sampai selesai ".


......................


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2