CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
47. Sarapan Pagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Gavino telah siap dengan seragam kerjanya, menggunakan kemeja berwarna biru muda, dipadu dengan dasi berwarna hitam, lalu dibalut dengan jas hitam. Dia sedang berdiri didepan cermin menilai satu persatu penampilannya hari ini


" Kau sungguh sempurna". memuji dirinya sendiri. Setelah selesai, dia berjalan menuruni anak tangga, tepat ditangga terakhir, Gavino berhenti melihat jadwalnya hari ini dilayar Tab yang dikirimkan Sonya melalui email. Sedang fokus menggeser layar tab, Gavino merasa dikakinya ada yang mengerayangi, Dia melihat kebawah. Ternyata Khalisa yang sedang merangkak, mencoba berpegangan dikaki jenjang Gavino, ingin berdiri.


Gavino diam, di memelototkan bola matanya, berniat menakut-nakuti Khalisa, supaya pergi dari hadapannya. Namun bukannya takut, Khalisa malah tertawa renyah, seakan sedang digoda oleh Gavino. Khalisa tertawa menampakkan gigi-gigi Nya yang mulai tumbuh, dipipinya terdapat lesung pipi yang membuat bayi itu semakin mengemaskan.


" Hhheemmhhh, kau mau apa, setan kecil". Seakan mengerti dengan ucapan Gavino, dia makin berusaha berdiri.


" Yah..yayayaya...". khalisa bersuara seakan menjawab pertanyaan Gavino, sambil mengangkat-angkat tanggan kirinya keatas, minta digendong.


" Dengarkan aku setan kecil, aku bukan ayahmu". ujar Gavino dengan nada dingin. mendengar itu Khalisa makin mengeratkan pegangannya dan sambil tertawa.


" Aahhh..yah ya". pintanya lagi mengangkat tangannya, dengan kaki sedikit bergoyang-goyang belum stabil.


" Kau mau apa, bergilah kepada ibumu. Aku harus pergi". Khalisa tak menggubris, bayi itu semakin menarik-narik celana Gavino. Gavino berjongkok ingin menggeserkan tubuh bayi berambut keriting itu, namun gerakan Khalisa lebih cepat, Dia memeluk tubuh gavino, dengan tawa riang. Rasa aneh mulai muncul lagi, Gavino tak mengerti beberapa hari ini, aliran darahnya sekan mengalir dengan cepat.


Apa aku mengalami gejala penyakit dalam, sepertinya aku harus cek kedokter. Batin Gavino. Dia mengangkat tubuh gembul Khalisa, lalu menggendongnya. Khalisa melihat wajah dingin Gavino, tangannya menyentuh hidung mancung itu, lalu beralih ke jambang tipis yang mulai tumbuh. Khalisa tertawa merasa geli.


"Apa kau menyukainya setan kecil, hhmmm?".


" Kau beruntung, tangan mungil mu ini telah menyentuh wajah pria tertampan di negri ini".Ujarnya dengan sombong, seakan mengerti Khalisa mengangguk lagu mencium pipi Gavino. Gavino terdiam sejenak. " Ada apa ini, mengapa hatiku seperti merasa sangat senang dicium setan kecil ini". gumam Gavino. Dia menggesek-gesekkan jambang halusnya kepipi cabby Khalisa, itu membuat Khalisa makin merasa kegelian.


Gavino berjalan kearah dapur dengan Khalisa dalam gendongannya, seperti merindukan sosok ayah, Khalisa menyender didada bidang Gavino, nyaman. Gavino melihat Danira sedang sibuk mencuci piring, diatas meja makan telah tersusun makanan untuk sarapan.


" Hekhemm".


Danira membalikkan tubuhnya melihat kearah suara yang berdehem dari belakang. Danira terkejut melihat Khalisa dalam gendongan Gavino, bayi itu terlihat sangat nyaman.


" Mengapa Khalisa ada pada anda?". Danira bertanya sambil membuka sarung tangan plastik yang sedang Dia kenakan, lalu berjalan mendekati Gavino.


" Kau bisa menjaga bayimu atau tidak, bisa-bisa nya kau membiarkan anakmu berkeliaran seorang diri. Bila dia naik tangga dan terjatuh bagaimana ?, aku tidak ingin ikut terlibat dalam hal seperti itu". Omel Gavino, Danira mengambil Khalisa yang ada dalam dekapan Gavino, tapi bayi itu menolak ikut Danira.


" Maaf..!! tadi Khali masih tidur, jadi saya tidak tau kalau dia sudah bisa turun sendiri dari tempat tidur".


" Khali..ayo ikut bunda, Om-nya mau kerja dulu ya". khalisa melihat Danira dan Gavino bergantian, Khalisa menggulurkan kedua tangannya kepada Danira.


" Apa anda ingin berangkat sekarang ?". Danira bertanya lembut, sambil mengendong Khalisa, dan mendudukkannya dikursi bayi. Yang ditanya hanya diam.


" Apa anda ingin sarapan dulu?". tawar Danira lagi. Gavino masih bergeming.


" Baiklah jika tidak mau!!". putus Danira singkat

__ADS_1


Danira menarik kursi untuk dirinya sendiri, lalu menyiapkan sarapan untuk Khalisa. Namun tanpa disangka, Gavino malah ikut duduk dikursi utama, dan mereka saling berhadapan.


" Jika menawari Jagan setengah-setengah, apa kau tidak ikhlas". ketus Gavino, sebenarnya sejak merasakan masakan Danira semalam, Gavino mulai ketagihan dengan kelezatan masakan Danira, apa lagi melihat hidangan yang ada dihadapannya ini. Itu sudah membuat perutnya terasa lapar.


Danira menautkan alisnya, dia merasa aneh dengan beberapa perubahan Gavino, walaupun masih cuek dan dingin, tapi setidaknya Gavino memperlihatkan sedikit kepeduliannya. Pikir Danira.


" Saya pikir, anda tidak akan mau makan masakan saya karena takut diracuni". Sindir Danira . Gavino hanya melihat Danira dengan tampang garang. " Padahal dimakanan anda semalam saya taburi sesuatu". Ujar Danira menjahili Gavino, Perkataan Danira sontak saja membuat Gavino terkejut, dia membulatkan matanya melihat Danira dengan tajam. Danira malah terkikik pelan.


" Saya hanya bercanda, anda terlalu serius. Lihatlah wajah anda menumbuhkan banyak kerutan". Ledek Danira lagi.


" Kau pikir aku sudah tua apa?, dan leluconmu itu sangat tidak lucu. Tak perlu sok akrab seperti itu kepadaku, karena kita tidak sedekat itu". Ketus Gavino, melemparkan kata-kata yang disengaja untuk menyakiti hati Danira. Danira hanya tersenyum tak ingin mengambil hati dari ucapan suaminya.


" Iya saya tau, anda tidak perlu menjelaskannya lagi..!! apa anda tidak bosan berkata seperti itu terus ?, saya yang mendengarnya saja bosan!!. Jawab Danira santai, tanpa beban.


" Anda ingin sarapan dengan apa, Roti atau nasi ?". Tanya Danira dengan lemah lembut.


" Nasi dan lauk itu". Gavino menunjukkan ikan Gurame goreng dan sayur capcai. Ini pertama kalinya Gavino sarapan makan nasi, biasanya dia hanya minum kopi, Roti atau sandwich. Danira mengambil sayur capcai, lalu meletakkan daging ikan gurame. Gavino mengamati cara Danira melayaninya dengan telaten.


" Silahkan". Ujar Danira meletakkan piring yang telah terisi kehadapan Gavino, lalu menuangkan air putih disisi kirinya. Gavino tak merespon, Dia langsung memegang garpu dan sendok nya ingin menyupkan kedalam mulut namun suara Danira menghentikannya. " Baca Doa dulu". Darinya berucap tanpa melihat Gavino, Gavino menurunkan sendoknya yang telah terisi lalu tanpa sadar mengikuti ucapan Danira Bismillahirrahmanirrahim. Ucapnya dalam hati.


Kemudian mulai menyantapnya Enak juga masakan wanita ini. Puji Gavino dalam hati. Gavino sesekali melirik Danira yang dengan sabar menyuapi Khalisa diujung sana.


" Ada apa,...!! mengapa anda melirik saya, saya buka spion yang hanya dilirik-lirik". Goda Danira, yang sadar apa yang dilakukan Gavino.


Ohok..


Ohok..


" Tunggu...!!!"


" Ada apa lagi?"


" Tidak ada, saya hanya ingin mengucapkan selamat menjalankan aktifitas anda, sambutlah pagi anda dengan senyuman dan berdoa. Supaya pekerjaan anda dipermudah dan dilancarkan Oleh Allah. Jagan cemberut seperti itu terus, karena itu akan membuat mood anda rusak".


" Cihhh...sok tau". Gavino mendegus kesal, pagi-pagi sudah mendengar ceramah. pikirnya. Dia berlalu pergi tanpa mengatakan apapun pada Danira. Danira hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


...****************...


Mobil Rolls Royce yang membawa Gavino, telah berhenti tepat di Lobby perusahaannya, Dia berjalan melewati para karyawan yang sedang menyambutnya seperti biasa. Gavino langsung masuk kedalam ruangannya, disusul oleh Sonya dan Sean dari belakang.


Setelah melihat Gavino duduk dengan tenang, Sonya baru maju menyebutkan jadwal Gavino hari ini.

__ADS_1


" Tuan, ...hari ini anda ada pertemuan dengan Direktur dari perusahaan Radenayu Group. Karena kemarin sore anda meminta reschedule ulang, mereka telah mengkonfirmasi pagi ini".


" Eemmm..." Gavino mengangguk kemudian melihat Sean.


" Proposal yang anda minta sudah siap semua tuan, ada diatas meja anda". Sean menunjuk map hijau yang ada diatas meja Gavino. Tak berapa lama Sonya memberitahu lagi, bahwa tamu mereka telah tiba. Gavino memperintahkan Sonya, mempersilahkan mereka masuk. Seorang wanita dan pria masuk bersamaan kedalam ruangan Gavino. Gavino berdiri menyambut mereka, lalu mempersilakan mereka duduk di sofa disisi ruangan.


" Jadi ada maksud apa Tuan Gavino Mengundang kami kesini". Ujar Sarah langsung, tanpa basa basi. Dia tipikal orang yang langsung to the poin, tak suka bertele-tele. Gavino bisa menilai karakter wanita yang ada dihadapannya ini, wanita yang tegas dan penuh wibawah.


" Baiklah...kita langsung saja pada intinya". Ujar Gavino, tak kalah serius. Sean menyerahkan map yang Dia pegang, kepada asisten sarah.


" Seperti yang telah kami ketahui, bahwa perusaahan anda sedang membangun sebuah yayasan sosial terbesar dinegri ini. Jadi kami bermaksud mengajukan proposal ingin menjadi donatur tetap dan penawaran penanaman saham sebesar 50%". Semua orang yang ada didalam ruangan itu tersentak kaget mendengar keinginan Gavino, tak terkecuali Sean. Dia juga tak kalah terkejut mendengar itu, setahunya, Gavino hanya ingin menjadi donatur tetap, bukan menanam saham apalagi angkanya sangat fantastis.


Sarah melihat proposal dan penawaran itu bergantian, lalu melihat lagi keseriusan diwajah Gavino.


" Mengapa anda ingin menanam saham di yayasan itu. Bukankah Anda tau, sampai saat ini pimpinan saya belum memberikan mandat untuk menerima donatur apalagi penanaman saham". terang Sarah, Dia merasa bingung. Bukankah Gavino pengusaha nomor 1 se-Asia, seharusnya dia bisa membuat yayasan sosial lebih besar dari perusahaan mereka. Tanpa repot-repot melakukan pengajuan seperti ini.


" Saya tahu, dan saya telah mendengar hal itu. Tapi bukankah membangun sebuah yayasan sosial sebesar itu membutuhkan dana yang besar pula. Saya pikir apabila kalian menerima pengajuan saya ini, maka akan meringankan perusahaan anda dan mempercepat proses pembangunannya. Saya melihat perusahaan anda dan perusahaan saya sangat cocok apabila kita menjalin kerjasama, melihat kemajuan yang signifikat dari perusahaan anda, saya yakin perusahaan kita akan makin sukses dan besar lagi".


" Saya belum bisa memberikan keputusan setujuh atau tidaknya, karena saya harus menyampaikan maksud anda ini ke pimpinan saya terlebih dahulu".


" Tidak apa, anda bisa membicarakannya dengan pimpinan anda atau jika bisa saya juga ingin bertemu dengan pimpinan anda itu". Gavino mulai mengutarakan niat yang sebenarnya, dan Sarah bisa menangkap maksud dari kata-kata Gavino.


" kalau untuk bertemu dengan Nona, saya belum bisa menjanjikan apapun tuan Gavino. Karena Nona sangat sibuk, dan sangat sulit untuk ditemui". Sarah memberi alasan, Gavino menaikkan salah satu alisnya.


Nona...!! berarti dia seorang wanita. Batin Gavino.


" Saya mengerti". Jawab Gavino singkat.


" Baiklah tuan, saya mohon ijin untuk membawa dokumen yang anda berikan ini".


" Bila sudah tidak ada lagi, saya dan rekan saya undur diri dulu. Bila Pimpinan saya telah memberi jawabannya, saya akan mengkonfirmasi secepatnya kepada anda". ujar Sarah, sambil berpamitan.


" Saya tunggu kabar baiknya, ". jawab Gavino.


" Kalau begitu, kami permisi".Mereka saling berjabat tangan, lalu Sean menghantar mereka hingga keluar dari ruangan Gavino


Saat Gavino ingin bangun dari sofa, Dia melihat seseorang masuk keruangan ya, wajah Gavino langsung berubah masam melihat orang itu. matanya menyelang tak suka.


" Mau apa kau kemari ?."


......................

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2