CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
85. Perubahan Dadakan


__ADS_3

Jantung Gavino berdebar-debar, hatinya merasa bahagia, bagaikan musim semi membuat bunga-bunga bermekaran. Dia sangat bahagia bisa mendengar suara Danira yang halus dan lembut memanggil namanya lagi. Gavino seakan mendengar alunan biola yang merdu ditelinganya saat mendengar Danira memanggilnya dengan sebutan ' Mas '. Dia mengulum senyum bahagia, salah tingkah.


" Coba kau lihat tingkah bosmu itu, dia seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta saja ". Bisik Ny. Calina pada Sean, Sean hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


" Eemm...Apa kabar ?". Tanya Gavino. Danira mendongakkan kepalanya melihat Gavino.


" Alhamdulillah baik, mas Gavino sendiri bagaimana kabarnya ?".


" Seperti yang kau lihat, aku tidak terlalu baik ". Danira mengeryitkan dahinya mendengar jawaba Gavino, Danira melihat wajah suaminya. Memang terlihat seperti kurang tidur dan kelelahan.


" Apa mas tidak istirahat dengan cukup ?".


" Tidak ."


" Kenapa?, seharusnya mas harus bisa membagi waktu antara bekerja dan istirahat. Supaya mas tetap sehat ". Ujar Danira, menunjukkan rasa khawatirnya.


" Aku tidak bisa istirahat dengan cukup, karena sibuk mencari keberadaanmu. Tapi sepertinya mulai hari ini, aku akan jauh lebih baik-baik saja, karena aku sudah bisa melihatmu lagi dan kau telah kembali ". Jawab Gavino menatap Danira lekat, mendengar itu membuat Danira menunduk tersenyum malu-malu.


Uhuk*


Uhuk*


Uhuk*


Ny. Calina Batuk-batuk Mendengar kata-kata Gavino yang terdengar sangat lebay, sedangkan Sean hanya menunduk mengulum senyum, merasa geli dengan ucapan Gavino. Karena ini tidak seperti Gavino yang biasanya. Gavino melirik maminya sinis, dia tau Ny. Calina tengah mengejeknya.


" Apa dia sekarang ikut kursus ?". Tanya Ny. Calina lagi berbisik kepada Sean.


" Tidak Nyonya, tuan tidak mengikuti kursus apapun ".


" Tapi kenapa dia bisa menyusun kata-kata gombalan seperti itu, membuat bulu kudukku merinding mendengarnya ". Ucap Ny. Calina, menggosok-gosok leher bagian belakangnya. Sean hanya mengangkat kedua bahunya, diapun merasa aneh, sejak kapan Gavino bisa membuai seperti itu.


" Maaf mas, tapi saya datang bukan untuk kembali. Saya datang kesini, karena ada undangan dari mami dan Oma ". Jelas Danira, Gavino dengan cepat melihat maminya, menanyakan kebenaran dari ucapan Danira.


Jadi yang mami sebut aku akan menyesal bila tak ikut, karena ini. Batin Gavino.


" Hekhemm...!! Danira, ayo kita masuk sayang. Mami sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Setelah itu, kita baru siap-siap untuk berangkat kebandara ".


" Sean...Bawa pergi bosmu itu, bukannya tadi dia bilang akan terlam.....!!". Ucapan Ny. Calina langsung dipotong oleh Gavino.


" Ayo kita masuk, aku juga sudah sangat lapar. Bukankah nanti kita akan pergi ke Kalimantan, dan perjalanan kerumah Oma cukup lama, jadi harus mengisi tenaga dulu. Bukan begitu mi ?". Potong Gavino pada Ny. Calina, sambil mengedip-edipkan matanya, memberi kode dengan menemperkan telunjuknya dimulut. Ny. Calina memutar bola mata malas, melihat kelakuan Gavino.


" Tapi tuan, penerb......".


BUG*


Gavino menendang tulang kering kaki Sean.


" Akh...".Sean mengerang, menahan denyutan dikakinya. Gavino menghampiri Sean, lalu merangkulnya dengan erat.


" Cepat ubah arah penerbanganku, aku batalkan perjalanan dinas ke Bangkok hari ini ". Bisik Gavino, membuat Sean menjauhkan kupingnya karena merasa geli.


" Tapi tuan, semuanya telah siap. Mana bisa langsung berubah begitu saja. Dan orang-orang yang dibangkok telah menunggu kedatangan anda ". Jawab Sean, ikut berbisik. Gavino memelototkan matanya, sambil menggigit bibir bawahnya. Memberikan kode ancaman kepada Sean. Sean hanya bisa menghela nafas kasar, mengangguk patuh.


" Ada apa ?, apa anda...ah maksud saya mas tidak ikut kerumah Oma ?". Tanya Danira, yang merasa bingung melihat tingkah ketiga orang didepannya ini. Gavino langsung mengalihkan pandangannya kepada Danira.


" Tentu saja aku ikut, mana mungkin aku tidak ikut kerumah Oma. Bisa-bisa aku dikutuk jadi beruang kutup sama mami nanti. Iya kan mi ?". Ujar Gavino, menaik-turunkan alisnya. Sean dan Ny. Calina saling pandang, lalu menghela nafas serentak.


" Ciihhh...padahal sedari tadi selalu menolak diajak pergi, dengan alasan perjalanan dinas. Eehh sekarang, paling semangat. Dasar gelembung angin ". Sindir Ny. Calina, mengandeng Danira membawanya masuk kedalam mansion. Sean dan Gavino berjalan beriringan mengikuti dari belakang.


" Bagaimana bisa Danira ada disini, apa mami tau tempat tinggalnya selama ini ?, kenapa mami tidak memberi tahuku ?". Tanya Gavino pada Sean pelan.

__ADS_1


" Saya juga tidak tau tuan ". Ujar Sean singkat.


" Cek... apa-apa kau tidak tau...!! tapi sudah lah, yang penting dia sudah ada disini sekarang ". ujar Gavino, mempercepat langkahnya menyusul ibu dan istrinya kedalam.


Haahh...anda menambah daftar pekerjaan saya lagi tuan. Batin Sean.


Mereka telah duduk di kursi masing-masing, biasanya Gavino akan duduk di kursi utama, namun kali ini berbeda. Dia duduk tepat disamping Danira, membuat semua orang yang ada disana merasa aneh dengan perubahan dadakan tuan muda ini.


Kenapa dia duduk disini, biasanya dia tidak pernah mau duduk di sampingku. Aneh kenapa perasaanku jadi deg-degan begini sih....Batin Danira.


" Bukankah kau biasanya duduk disana Vin ?".


" Sepertinya kursi yang ini lebih empuk dari yang disana ".


" Ciihh...alasan, bilang saja bila kau ingin dekat-dekat Danira kan ?". Ejek Ny. Calina lagi, Gavino melihat maminya datar, lalu membuang pandangan kesembarang arah.


" Ada apa ?, kenapa kalian melihatku seperti itu, Apa kalian semua ingin aku pecat hah ?". Ketus Gavino, tak suka dengan tatapan semua orang yang ada disana. Para pelayan menunduk takut, sedangkan Danira mengalihkan pandangannya kepada Sean yang masih berdiri dibelakang Gavino.


" Sean, kenapa kau masih berdiri disana ?, kemarilah, kita sarapan bersama ". Ajak Danira, Sean masih diam lalu melihat Ny. Calina yang memberi kode agar Sean mengikuti keinginan Danira. Sean mengangguk dan melangkah menarik kursi disisi kiri Danira.


" Hemmm...Kau Jagan duduk disana, duduk disamping mami saja, agar seimbang ". Ujar Gavino, tanpa mengalihkan pandangannya dari piringnya yang masih kosong. Sean yang paham, segera memutari meja, lalu duduk disamping Ny. Calina. Ny. Calina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Seimbang...Kau pikir kita sedang makan diatas perahu ?". Ujar Ny. Calina, Gavino mencebikkan bibirnya kesal, karena sang mami sedari tadi selalu mengejeknya. Para pelayan, siap mengambil makanan untuk Tuan dan Nyonya mereka. Namun saat ingin mengambil makanan untuk Gavino, Gavino melotot dan melarangnya.


" Tidak perlu, biar aku sendiri mengambil makananku ". Ujar Gavino, dan lagi-lagi perubahan dadakan ini membuat orang yang ada disana saling lirik. Saat Gavino ingin mengambil makannya, Danira telah berdiri mendahului tangan Gavino.


" Biar saya saja yang mengambilnya untuk mas. ". Gavino tersenyum tipis, namun dengan segera mengembalikan kewajah datarnya.


" Eemm..baiklah bila kau memaksa ". Ucap Gavino, menarik tangannya kembali. Padahal didalam hatinya, bersorak gembira. Ternyata Danira masih perhatian juga padanya. pikir Gavino.


Alhamdulillah....akhirnya aku bisa melihat anak dan menantuku sedekat ini lagi. Meski belum ada keputusan dari Danira, tapi setidaknya aku sudah sangat bahagia melihat mereka seperti ini. Semoga Engkau membuka hati mereka, agar tak ingin berpisah lagi Tuhan. Ucap Ny. Calina dalam hati.


Sepertinya Gavino memang sudah menaruh hati kepada Danira, meski masih gengsi mengakuinya. Tapi aku bisa melihat dari matanya. Aahh....syukurlah, semoga secepatnya Gavino bisa lepas dari wanita jadi-jadian itu. Batin Ny. Calina.


Danira masih fokus dengan makanannya, namun dia merasa ada yang selalu memperhatikannya dari tadi. Danira melirik kesamping, ternyata benar Gavino tengah melihat kearahnya juga.


" Kenapa mas, apa mas Gavino ingin nambah ?". Tanya Danira, Gavino merasa gelagapan, karena tertangkap basah tengah melihat Danira.


" Tidak ". Jawab Gavino , kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Danira tersenyum geli melihat ekspresi gavino, saat ketahuan tegah memperhatikannya tadi. Gavino meletakkan sendok dan garpunya diatas piring.


" Sean, bila sudah selesai langsung keruangan kerjaku ". Ujar Gavino, beranjak dari kursi makan.


" Loh..Vin, kamu mau kemana. Itu makanan masih banyak, kenapa tidak dihabiskan ?". Tanya Ny. Calina, melihat Gavino yang telah selesai.


" Aku sudah kenyang mi ". Jawab Gavino, kembali melirik Danira yang hanya diam tak merespon atau menolah kepadanya. Gavino segera pergi meninggalkan ruang makan, lalu berjalan masuk kedalam ruang kerjanya. Setelah berada didalam ruangan, Gavino mengendurkan dasinya, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya.


" Aahhhh... kenapa aku jadi seperti ini. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan pandanganku bila bersama dengannya. Sial...sial..sial, kau sangat bodoh Gavino, bisa-bisa nya kau selalu mempermalukan dirimu sendiri hari ini. Mulai dari kata-kata yang mengelikan, hingga diam-diam selalu memandangnya. Pasti dari tadi mami memperhatikan kelakuanku. Aaahhhkkk...mami akan semakin mengejekku nanti ". Ujar Gavino, mengomeli dirinya sendiri didepan cermin.


" Mengapa perasaanku terasa aneh seperti ini, dulu saat pertama kali bertemu dengan Stevani, aku tak pernah merasakan debaran begini ".Gavino memegang dadanya, tak bisa dia pungkiri, bahwa hatinya masih berdebar-debar hingga saat ini.


" Apa mungkin, kalau aku....!!".


Tok


Tok


Tok


" Permisi tuan ". Sean mengetuk pintu, membukanya lalu masuk. Sean melihat gavino, berdiri didepan cermin yang full body.


" Bagaimana ?, apa kau sudah melakukan perintahku tadi ?".

__ADS_1


" Sudah tuan ".


" Bagus....!!Oh iya, Nanti kau tak perlu ikut, aku akan membawa mobil sendiri kebandara. Kau cukup mempersiapkan semua perjalan nanti dengan baik. Dan koordinasi kepada pihak bandara di Kalimantan, bahwa aku akan terbang kesana mengunakan pesawat pribadi ".


" Jadi saya tidak perlu ikut anda pergi kesana tuan ?". Ulang Sean memastikan.


" Eemm...!! kau Handle semua pekerjaan selama aku tidak ada disini, Kau hanya boleh menghubungi aku jika ada hal yang mendesak saja. Apa kau paham ?".


" Baik tuan ". Aguk Sean patuh.


" Apa ada lagi tuan ?".


" Kemari...!!" Pinta Gavino, ingin membisikkan sesuatu, dan Sean mengangguk cepat mendengar permintaan tuannya. Lalu dia keluar dari ruang kerja Gavino, setelah pamit memberikan hormat. Gavino mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan kepada seseorang. Setelah menerima balasannya, Gavino mengembangkan senyuman diwajah tampannya.


Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 Pagi, Gavino telah keluar dari ruang kerjanya dan melihat mami dan istrinya sedang mengobrol diruang tamu sambil mencandai Khalisa. Gavino melangkah menghampiri mereka.


" Apa kalian sudah siap semua, bila sudah kita berangkat sekarang ". Ucap Gavino, dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya.


" Sudah ". Jawab Danira dan Ny. Calina serentak.


" Kalau begitu ayo ". Ucap Gavino berjalan mendahului mereka. Ny. Calina dan Danira berjalan dibelakang Gavino. Saat mereka siap masuk kedalam mobil, tiba-tiba Ny. Calina berteriak.


" ASTAGA.....!!!". Teriak Ny. Calina, sambil menepuk jidatnya.


" Kenapa mi ?". Tanya Danira terkejut. Gavino hanya diamelihat maminya.


" Mami ada yang kelupaan sayang, Oma memesan gaun untuk dia kenakan besok malam, sedangkan mami lupa mengambilnya dibutik ". Ucap ny. Calina dengan wajah panik.


" Jadi bagaimana mi ?, apa nanti kita sekalian mampir kebutik mami, mumpung ini masih jam 10 ". Ujar Danira memberi ide.


" No..No..No, Jagan sayang. Sepertinya kalian berdua pergi diluan saja, karena baju Oma ada di butik mami yang berlawanan arah dari jalan ke bandara. Itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama ".


" Tidak apa-apa kan sayang, kamu pergi diluan bersama Gavino, nanti mami dan Khalisa akan menyusul ". Ucap Ny. Calina.


" Tapi mi....!!". Danira tampak berfikir, ada sedikit ragu untuk pergi berdua saja dengan Gavino. Meski Gavino masih berstatus suaminya, namun terkadang Danira masih sering merasakan risih bila hanya berdua dengan laki-laki.


" Mau ya sayang, mami janji setelah mendapatkan gaunnya mami akan langsung meluncur, menyusul kalian kebandara ". Ujar Ny. Calina, memegang tangan Danira. Danira tak memiliki pilihan lagi, selain menyetujui usulan Ny. Calina.


" Baiklah mi ". Cicit Danira pelan. Mendengar jawaban Danira, membuat Gavino tersenyum tipis. Danira masuk kedalam mobil setelah berpamitan kepada Ny. Calina dan mencium khalisa. Gavino mendekati Ny. Calina.


" Aku pamit mi ".


" Ingat...jaga dia baik-baik, Jagan sampai kau membuat kesalahan yang sama Gavin ". Ucap Ny.Calina memberi peringatan dengan nada suara pelan. Gavino mengangkat jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Ny. Calina. Lalu mencium pipi maminya sambil berbisik.


" Thanks mami ".


......................


...Bersambung........


^^^" Mi..!! apa aku boleh pergi bersama Danira, hanya kami berdua terlebih dahulu. Nanti mami menyusul bersama Khalisa. Aku telah mempersiapkan keberangkatan mami di jam berikutnya ".^^^


" Ohh.. jadi kau ingin meninggalkan mami hhmm ?".


^^^" Bukan begitu mi, aku butuh waktu dan ruang berbicara berdua saja dengannya. Aku ingin menyelesaikan permasalahan kami. Boleh ya mi,.... Please?!!".^^^


" Oke....tapi ingat!!, kau tidak boleh menyakitinya lagi. Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk bisa menarik hatinya kembali. Jika kau membuat kesalahan lagi, mami sudah tidak bisa membantumu lagi Gavin".


^^^" Siap mi, aku berjanji, aku akan memperbaiki semuanya ".^^^


...*** Isi pesan Gavino ***...

__ADS_1


__ADS_2