
Seorang wanita dan Pria datang menghampiri pasangan suami istri yang sedang asik memilih barang belanjaan mereka.
" Mas mau yang ini ?". Danira menunjukkan buah Mangga segar pada Gavino.
" Yang mana saja, semua yang kau pilih aku suka ". Jawab Gavino, sambil mengedipkan sebelah matanya. Danira menggeleng pelan, memasukkan berbagai macam buah kedalam Troli.
" Gavino....?". Panggilnya, Gavino dan Danira menoleh serentak melihat keasal suara.
" Tata ?". Sebut Gavino, lalu melihat doni yang ada dibelakangnya .
" Tuh benar kan, mereka Gavino dan Danira. Uhh kamu tidak percaya sih Don ". Sungut tata pada adiknya yang mengikutinya dari belakang.
" Halo Cantik, kamu apa kabar sayang ?, sudah lama ya kita tidak bertemu, terakhir waktu itu kita bertemu saat hari pernikahan kamu dengan Gavino, ya kan ?". Ujar Tata tanpa jeda, Danira tersenyum menerima uluran tangan Tata.
" Iya kak, Alhamdulillah aku baik dan sehat. Kakak sendiri ?".
" Seperti yang kau lihat, sangat baik ". Jawabnya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya, energik.
" Hai Bro, apa kabar ?, sudah lama kita tidak bertemu ". Ujar Doni memberikan tos tinju dengan Gavino.
" Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik ". Jawab Gavino cuek, Doni mengangguk. Pandangannya beralih melihat Danira yang ada didepannya.
" Assalamualaikum Danira, bagaimana kabarmu ?". Bernada ramah, tersenyum.
" Waallaikumsalam salam...Bai...".
" Dia sangat baik, sangat sehat, sangat bahagia sekarang, iya kan SAYANG ? ". Potong Gavino, Menekan kata 'sayang' melihat Doni tajam. Gavino menarik Danira kesisinya, merangkul Danira erat, tanpa sadar Gavino mencengkram pundak Danira sangat keras. Danira merasakan sakit, Dia mengigit bibir bawahnya, menahan suara. Dia tau suaminya sedang dalam mode cemburu. Doni menautkan alisnya heran melihat sikap posesif yang Gavino tunjukkan, sedangkan Tata tersenyum simpul.
Apa mereka memang sudah sedekat ini ?, sejauh mana hubungan mereka berjalan. Mengapa aku sampai tidak tau. Batin Doni, melihat tangan Gavino yang bertengger dipundak Danira, mesra.
" Ciee..Ternyata sekarang beruang kutub sudah bucin sama Danira ya ?". Ejek Tata, meninju lengan Gavino. Gavino hanya diam, namun tatapannya tak melepaskan Doni yang sedari tadi mencoba mencuri pandang pada istrinya.
" Bucin?". Tanya Danira.
" Iya bucin itu singkatan dari Budak Cinta, itu tren anak gaul sekarang ". Ujar tata berwajah sumringah, menjelaskan pada Danira. Danira hanya mengangguk-angguk saja.
" Eemmm pasti kau sudah melihat wajah istrimu yang pari purna bak Dewi matahari yang bersinar terang, kan Gavin ?". Ujar tata tanpa jeda, Gavino memutar bola matanya malas, sejak dulu kakak sahabatnya ini selalu bicara tanpa ada Titik koma, membuat orang yang mendengar merasa lelah.
" Tentu....bahkan lebih dari itu ". Jawab Gavino, tanpa mengalihkan pandangannya dari Doni. Gavino tidak suka cara Doni menatap istrinya.
" Don...kita harus bicara, ikut aku ". Danira menolehkan mengangkat kepalanya melihat Gavino.
Apa yang ingin mereka bicarakan. Kenapa aku jadi takut begini. Batin Danira risau, dia tau saat ini suasana hati Gavino sedang tak baik. Dia takut suaminya membuat keributan.
" Sayang, tunggu disini sebentar. Ta..tolong jaga istriku ". Ujar Gavino mencium kening Danira, lalu berjalan mendahului Doni yang sedang memasang wajah terkejut melihat apa yang barusan Gavino lakukan. Doni menyusul Gavino.
Kini mereka berdiri saling berhadapan, dilorong menujuh toilet. Gavino melihat Doni dengan tatapan mengintimidasi, tangannya dimasukkan kedalam saku celana, sedangkan Doni hanya melihat Gavino dengan tatapan santai, melipat tangannya didepan dada.
" Sejauh mana hubungan kalian ?". Doni membuka obrolan terlebih dahulu, Gavino tersenyum miring.
" Kenapa kau ingin tau sejauh mana hubunganku dengan istriku. Apa aku wajib memberi tahumu ?, aku rasa tidak bukan ?".
" Kenapa kau jadi berubah pikiran, apa kau jatuh cinta padanya karena sudah melihat kecantikan yang dia miliki ?". Ucapan Doni, memancing amarah Gavino, lalu Gavino menarik kera baju Doni, mencengramnya.
" Berengsek....dari mana kau tau tentang wajah istriku hah ?". Geram Gavino, mendorong Doni hingga menempel ke dinding, Doni tersentak.
" Heii santai Bro...!! Apa kau lupa bila tata yang menjadi penata riasnya saat kalian menikah ". Gavino baru ingat bila tata adalah penata rias ternama di negri ini, pasti tata telah mengambil gambar istrinya. Pikir Gavino.
" Aku turut senang melihat kau telah bersikap baik padanya, meski ku akui bila aku cemburu. Namun kau jangan khawatir aku tetap tau diri, aku tidak akan merusak hubungan sahabatku sendiri ". Ujar Doni santai, mencoba melepaskan tangan gavino yang dari lehernya, Gavino mengendurkan cengkeramannya.
" Ciihh..apa kau tidak punya rasa malu, mencemburui pasangan halal orang lain hah ?". Ketus Gavino, kembali melipat tangannya didepan dada.
" Ha..ha..ha...bukankah kau sudah tau bagaimana aku menganggumi istrimu. Bahkan aku sudah sempat melamarnya secara terang-terangan, pasti kau tau itu kan ?". Gavino mencibikkan bibirnya, melihat Doni dengan tatapan elangnya.
" Kau memang bajingan ". Ketus Gavino, Doni semakin tergelak mendengar umpatan Gavino.
" Jaga lah dia dengan baik, jangan pernah kau sakiti lagi. Jika tidak, mungkin aku akan langsung membawanya pergi darimu, lalu menikahinya ".
" Jangan mimpi, buang jauh-jauh perasaanmu untuk istriku. Sampai akhirat pun kau tak akan pernah mendapatkannya". Ujar Gavino, berlalu pergi meninggalkan Doni, yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum.
" Sayang....ayo kita pulang ". Ajak Gavino, menarik tangan Danira.
" Tapi mas, belanjaannya ".
" Hei kau....kemari ". Teriak Gavino, memanggil seorang pegawai supermarket yang sedang menyusun bawang.
" Iya saya tuan ". Jawabnya menunduk, gemetar. Dia sudah tau bila orang yang memanggilnya ini adalah pemilik tempat dia bekerja.
" Urus semua belanjaan istriku, nanti antarkan kerumahku ". Titah Gavino, pegawai wanita itu hanya mengangguk patuh. Gavino beralih melihat tata yang terdiam disamping istrinya.
__ADS_1
" Aku ingin kau menghapus foto istriku dari ponselmu, karena aku tak suka siapapun mengambil gambarnya tanpa seizin dariku ". Ketus Gavino, lalu melirik Doni sekilas. Kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat perbelanjaan itu.
Tata tercengang, lalu dia menoleh melihat adiknya.
" Ada apa dengannya, mengapa dia terlihat sangat kesal sekali ?". Tanya tata bingung.
" Dia hanya sedang cemburu, karena aku menyukai istrinya ". Ujar Doni santai, tanpa beban.
" Hah ?".
PLAKKK*
" Kau sudah gila ya, beraninya kau menyukai wanita yang telah bersuami hah ?, terlebih lagi dia istri sahabatmu". Tata memukul punggung Doni, dia sangat syok mendengar pengakuan manusia disinfektan ini.
" Iya aku memang sudah gila pada Danira, tapi aku tetap waras dengan tidak membawanya kabur dari Gavino ".
" Kau sangat-sangat gila, sepertinya otak dikepalamu harus direndam mengunakan disinfektan yang sering kau gunakan. Agar tidak bernah berangan-angan yang buruk seperti itu ". Ujar tata, dia benar-benar tak percaya dengan pengakuan Doni. Doni mencebikkan bibirnya kesal.
" Tenang saja, aku tidak akan merebut apa yang membuat sahabatku bahagia. Selagi dia tak mengulangi kembali kesalahannya ". Ujar Doni, lalu mendorong troli belanjaan mereka kekasir, sedangkan tata masih tak mengerti makna dari kata-kata adiknya.
***
Sejak keluar dari supermarket hingga kembali ke penthouses, Gavino hanya diam menampilkan wajah datar dan kesal. Danira yang penasaran ingin sekali bertanya, apa yang menyebabkan suaminya menjadi muram begini. Namun diurung, karena dia tak ingin memperkeruh suasana hati suaminya, dia lebih memilih memberikan ruang agar Gavino menenangkan dulu hatinya.
Danira memasuki area dapur, mulai membereskan belanjaan mereka yang telah tiba diantar oleh kurir supermarket. Danira membuka Burqa dan cadarnya, menyimpannya diatas kursi. Sambil bersolawat Danira menata semua yang mereka beli.
Sholallahu 'Ala Muhammad
Sholallahu 'Ala Muhammad
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fauqonuri
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fauqonuri
Anta iksiru waghori
Anta misbahushshururi
Sholallahu 'Ala Muhammad
Sholallahu 'Ala Muhammad
Asyroqol Badru 'Alaina
Fakhtafat Minhul Budur
Mitsla Husnikma Roaina
Qhottuya Wajhas Shururi
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fauqonuri
Anta syamsun anta badrun
Sholallahu 'Ala Muhammad
Sholallahu 'Ala Muhammad
Suara Danira sangat merdu dan menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Saat Danira sedang fokus dengan kegiatannya, tiba-tiba dari belakang Gavino datang langsung memeluk Danira.
" Astaghfirullah....". Danira terkejut, membuat telur yang ada ditangannya terjatuh, pecah. Danira berbalik melihat Gavino.
" Mengapa kau tak menyusulku ?". Tanya Gavino dengan wajah cemberut, memajukan bibirnya. Tangannya melingkar dipinggang Danira.
" Mengapa kau tak bertanya apa-apa padaku, kau malah sibuk sendiri disini ". Sungut Gavino, ekspresinya sangat menggemaskan, seperti seorang anak yang tengah merajuk pada ibunya. Danira tak bisa menahan gelinya dia melihat mimik wajah Gavino yang lucu.
Mengapa sikapnya menjadi manis begini. Gumam Danira dalam hati.
" Jadi mas ingin aku menyusul dan bertanya ?". Gavino menjawab dengan anggukan, bibir masih maju beberapa centi kedepan.
" Maaf ya mas, bukan aku tak perduli. Sebenarnya Danira sedari tadi sangat penasaran, melihat mas Gavin hanya diam dengan wajah dingin ini. Danira ingin bertanya, hanya saja masih menunggu sampai mas Gavin siap menceritakannya, Danira tau suasana hati mas Gavin pasti sedang kesal, Danira tak ingin semakin memperburuknya. Jadi Danira fikir akan lebih baik, bila Danira memberikan mas Gavin ruang untuk sendiri ". Jelas danira halus, meletakkan tangannya didada gavino.
" Apa sekarang mas Gavin sudah mau menjawab bila danira bertanya ?". Gavino mengangguk cepat.
__ADS_1
" Baiklah...apa yang membuat mas Gavin dari tadi diam, wajah ditekuk seperti ini ?". Tanya Danira menatap mata Gavino. Gavino menghela panjang.
" Aku tidak suka cara Doni memandangmu, itu membuat hatiku sangat panas, rasanya aku ingin mencongkel bola matanya hinga keluar, agar dia tak bisa memandangmu lagi, Apalagi dia sudah pernah melihat wajahmu, aku sangat marah dan ingin sekali membunuhnya ". Geram Gavino, kembali mengingat cara Doni melihat Danira. Danira tampak terkejut mendengar ucapan Gavino, bila Doni pernah melihat wajahnya, dimana ?. pikir Danira.
" Pernah Melihat wajahku? Kapan mas ?, rasanya aku belum pernah membuka Cadarku, selain dihadapan para wanita dan mas Gavin ". Ujar Danira heran.
" Tata adalah kak Doni, dia yang mengambil gambarmu secara diam-diam saat kau berada diruangan rias, waktu kita menikah dulu ". Sungut Gavino kesal, wajahnya kembali merah padam. Sejujurnya Danira pun tak terima dengan apa yang dilakukan tata, karena Danira sangat ingat bila waktu itu, dia telah meminta tak ada satupun orang yang boleh mengambil gambarnya ketika tidak menggunakan cadar. Namun Danira tak mungkin menunjukkannya didepan gavino saat ini, yang mana itu akan semakin memancing amarah suaminya yang sedang tertahan.
" Jadi suamiku ini sedang cemburu ?". Goda Danira tersenyum manis pada Gavino. Gavino mencebikkan bibirnya kesal.
" Tentu saja aku cemburu ".
" Apa mas masih meragukan Danira ?". Tanya Danira, Gavino kembali menggeleng sebagai jawaban.
" Mas, aku tidak bisa memaksa orang untuk tidak memiliki perasaan apapun untukku, aku juga tidak bisa memaksakan seseorang untuk tetap menyukaiku. Karena apa, karena setiap manusia memiliki kadar perasaan yang tidak bisa orang lain kendalikan ".
" Tapi yang harus mas Gavino tau, aku tidak akan pernah berpaling dari mas Gavin, aku akan selalu setia pada suamiku, menjaga kehormatan suamiku, tetap menjaga marwahku sebagai seorang istri yang taat dan baik untuk suamiku ". Ucap Danira menatap Gavino, penuh dengan keyakinan dan ketulusan. Bunga-bunga dihati gavino bermekaran, rasa haru dan bahagia memenuhi roga dadanya. Membuat Gavino memalingkan wajahnya, karena tidak sanggup terlalu lama menatap mata Danira, itu selalu membuatnya salah tingkah.
" Apa sekarang suamiku masih kesal ?". Tanya Danira, mencoba menggoda Gavino agar moodnya kembali membaik. Gavino mengulum senyum melihat Danira yang mengedip-edipkan matanya berkali-kali, sangat imut Dimata Gavino. Gavino menarik pinggang Danira, lalu memeluknya.
" Terima kasih ". Gumam Gavino.
" Untuk ?".
" Sudah memilihku sebagai suamimu ". Ucap Gavino, lalu mencium pucuk kepala Danira.
" Danira ..."
" Eemmmhh".
" Lagu apa yang kau nyayikan tadi, liriknya sangat asing ditelinga ku ". Tanya Gavino, sambil menggoyang-goyang tumbuh mereka seperti sedang berdansa.
" Oh itu sholawat mas ".
" Sholawat, lagu apa itu ?". tanya Gavino tak tau.
" Mas Gavin belum pernah mendengar sholawat sebelumnya ?". Tanya Danira, mendongakkan kepalanya.
Cup *
Gavino memberikan kecupan singkat di pipi Danira, lalu menggelengkan kepalanya.
" Yang sering aku dengar hanya lagu kekinian dan juga music didiskotik ". Jawab Gavino, membuat Danira menghela nafas panjang.
" Sholawat itu sebuah doa kita sebagai umat muslim, ditunjukkan untuk Baginda Rasulullah Saw. Sholawat bukan hanya sekedar nyanyian, disetiap Dalam kalimat sholawat banyak mengandung keberkahan, termasuk juga syafaat Nabi Muhammad. Semakin banyak Umat Islam membacakan sholawat, maka ia akan mendapatkan syafaatnya. Selain itu, membaca sholawat juga merupakan amalan yang sangat disukai Allah. Shalawat sangatlah beragam, salah satunya shalawat Jibril, yang Danira lantunkan tadi ". Jelas Danira, Gavino masih mencoba memahami, mengurai tiap kata yang diucapkan Danira. Namun Gavino tetap tak bisa menangkapnya, maklum saja Gavino benar-benar buta tentang agama.
" Danira punya resep supaya mas Gavin bisa menenangkan hati ketika marah ". Ucapnya sambil tersenyum.
" Apa ?". Tanya Gavino, sambil mengelus-elus pipi mulus Danira.
" Mas Gavin harus banyak-banyak beristighfar dan bersholawat, agar hati menjadi tenang. Apalagi jika mas Gavin memperbanyak istighfar dan sholawat setiap hari, hati mas Gavin bukan hanya mendapatkan ketenangan, tapi juga mendapatkan keberkahan-keberkahan lainnya, Seperti diampuni segala dosa-dosa yang telah lalu meski sebanyak buih dilautan lepas, Lalu Allah akan memberikan 10 Rahmat hanya dengan membaca sholawat 1 kali, Allah akan menghapus 10 keburukan setiap kali kita bersholawat, Dan sholawat juga bisa menjadi penghantar doa-doa kita agar dijabah oleh Allah SWT ".
Gavino merasa tertampar mendengar penuturan Danira. Pikiran Gavino kembali mundur, membuka memori-memori kisahnya dimasa lalu. Gavino mencoba menghitung berapa banyak dosa yang telah dia perbuat selama ini, mulai dari banyaknya nyawa yang hilang ditangannya, berapa banyak orang-orang yang sakit hati atas perkataan dan tingkah buruknya, dan juga kisah percintaannya bersama Stevani yang melewati batas. Gavino tertunduk, lemas.
" Mas kenapa ?, apa Danira terlalu banyak bicara ?". Danira kembali heran melihat ekspresi gavino.
" Tidak, aku hanya sedang berfikir. Masih adakah pengampunan bagi manusia yang penuh dosa seperti aku ?". Lesu Gavino.
" Tidak ada yang tidak mungkin mas, Rahmat Allah sangat lah luas, pintu ampunannya masih terbuka lebar. Selagi nyawa masih dibadan, pengampunan Allah masih bisa mas Gavino dapatkan. Allah maha pengampun mas, sebesar apapun kesalahan kita dimasa lalu, bila kita benar-benar menyesali dan bertobat dengan sungguh-sungguh, insya Allah dosa yang banyaknya bagaikan butiran debu dipadang pasir pun mampu Allah ampunkan, itu sangat mudah dan kecil bagi Allah. Allah hanya ingin melihat seberapa keras kita memohon padanya, seberapa besar kita mengharapkan cintaNYA.".
" Mas Gavino jangan pernah berfikir seperti itu lagi, tetaplah berusaha mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah, maka segala kemudahan dan kebahagiaan akan mas Gavino dapatkan ". Ucap Danira, menempelkan kepalanya didada bidang Gavino, Gavino tampak berkaca-kaca, mengelus kepala Danira dengan sayang.
Entah amalan apa yang pernah aku perbuat, sehingga bisa memilikimu.
Aku bahkan jauh dari kata Soleh, karena tata cara solat pun aku tidak tau.
Ternyata Tuhan sangat baik padaku, mengirimkan bidadari surga untuk mendampingiku. Namun apa yang aku balas, aku malah melupakanNYA selama ini, tidak pernah menghiraukan panggilan-panggilan yang diserukan.
Aku sibuk dengan urusan duniawi, hingga lupa dengan kewajiban ku. Tuhan, maukah Engkau mengampuniku. Batin Gavino.
" Danira ...?".
" Ya ".
" Maukah kau mengajari aku caranya beribadah dengan benar, jujur saja aku tidak pernah melakukannya sekalipun dalam hidupku ". Danira mendongakkan kepalanya melihat Gavino, terkejut.
"Ya...mungkin aku tidak akan langsung berubah 100% menjadi baik, tidak akan juga bisa menjadi pria yang Soleh seperti yang diidamkanmu selama ini. Tapi aku akan berusaha, mencoba memperbaiki diri. Aku ingin merasakan bagaimana menjadi imammu saat kau solat ".
" Bagaimana, apa kau bersedia ? ". Mata Danira mengembun, hatinya berdebar senang mendengar keinginan Gavino, Danira tak pernah menyangka suami sombongnya ini memiliki keinginan yang sangat mulia. Danira sangat terharu, tanpa menjawab Danira langsung mengalungkan tangannya dileher Gavino, lalu memeluknya.
__ADS_1
......................
...Bersambung........