
GUBRAK**
Meja yang besar dan panjang telah berubah posisi menjadi terbalik. Saking kencangnya pria itu membantingnya kelantai. Para karyawan yang ada diluar berbisik-bisik membicarakan berita yang baru saja mereka lihat pagi ini. Bahkan semua media cetak maupun elektronik tegah menayangkan kabar yang masih sangat hangat.
PRANG*
PRANG*
Suara pecahan kaca, menggema dalam ruangan berwarna putih itu. Ruangan yang cukup besar yang tadinya rapi dan bersih, kini telah berubah seperti kapal pecah karena amukan manusia yang tengah dikuasai emosi.
"AKKRRKK...!!"
" Aku tidak terima diperlakukan seperti ini, lihat saja. Aku tidak akan menyerah begitu saja, semua ini milikku, milikku. Tidak akan aku biarkan, mereka mengambilnya dariku ". Pekik Pria itu, sorot matanya penuh amarah, kesal dan dendam. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras dia membanting semua barang-barang yang ada didekatnya hingga berhamburan dilantai.
BRAK*
" Aryo....". Pekik seorang wanita paruh baya dengan potongan rambut pendek, berpakaian modis yang baru masuk kedalam ruang kerja Aryo, diikuti 2 orang wanita dibelakangnya.
" Mama....kenap.....".
PLAK**
Setempel lima jari menempel dipipi Aryo, hingga meninggalkan rasa panas dan bekas. Aryo memegang pipinya, lalu melihat wajah ibunya yang merah padam.
" Kenapa mama menamparku ?".
" Kenapa ?, apa mama tidak salah dengar, kamu masih bisa bertanya kenapa ?".
" Harusnya mama yang bertanya, apa yang telah kamu lakukan hingga perusahaan ini bisa ditarik oleh perusahaan lain hah ?, bahkan bukan hanya Shen-Shen Galery dan Shen Diamond saja, tapi juga Rumah, mobil dan semua aset diambil alih oleh mereka, bahkan beberapa aset yang baru mama beli juga diambil. Ini maksudnya apa hah ?, jawab mama Aryo ?". Pekik Hera, yang tak lain ibu Aryo, mertua dari Shena.
DUAR*
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, lagi-lagi Aryo mendapatkan kejutan. Dia pikir hanya perusahaan saja yang diambil alih, namun dia salah, semua harta milik Shena bahkan aset yang dibeli dari penghasilan perusahaan Shena pun tak luput dari sitaan Danira.
" Tidak....tidak...tidak, ini tidak mungkin. Itu semua milikku mah, mereka tidak bisa seenaknya mengambil hakku. Aku yang bekerja keras selama ini, hingga perusahaan ini bisa Semaju sekarang ". Ucap Aryo terlihat berapi-api, semakin frustasi.
" Apanya yang tidak mungkin, bahkan sekarang mama dan adik-adikmu sudah tidak bisa masuk kerumah kami lagi, karena semuanya sudah dijaga oleh orang-orang bertubuh besar dan didepan pagar juga sudah ada plang bertuliskan Rumah ini milik RA Group ". Jelas Hera, berapi-api. Hera yang baru saja pulang dari liburan bersama kedua putrinya, merasa aneh ketika melihat rumah mereka sudah banyak penjaganya bahkan mereka dilarang masuk bahkan menyentuh pagar rumah itu. Dan mereka juga baru mengetahui bila perusahaan yang selama ini menghidupi merekapun sudah diambil alih oleh orang yang tidak mereka kenal. Dan mobil yang mereka kendarai, tiba-tiba diberhentikan dan diambil paksa oleh orang-orang Sarah.
" Apa yang sebenarnya terjadi, siapa orang-orang itu Aryo ?".
" Aku juga tidak tau ma, mereka tiba-tiba datang lalu mengklaim bahwa semua ini milik mereka, aku tidak bisa membantah karena mereka memiliki surat kuasa Shena dan seluruh surat kepemilikan ".
" Aahh wanita itu, sudah mati saja masih menyusahkan kita". Sungut Hera kesal, lalu duduk disofa. Sejak mengetahui bila Shena bukan keturunan Brahmacari, sifat Hera berubah drastis. Dulu dia yang datang, mendekatkan diri kepada Shena, menyanjung bahkan memperlihatkan pada semua orang betapa dia menyayangi Shena melebihi anak-anaknya. Hera Selalu datang kekeratonan, mencari simpati dari keluarga kerajaan, sehingga pinangannya untuk Aryo diterima oleh keluarga kekeratonan, sampai Shena menikah dengan Aryo, Namun ketika dia tau bila Shena tidak akan pernah bisa menjadi penerus tahta selanjutnya, Hera pun berubah. Bahkan dia terang-terangan membenci Shena, Dan mendukung Aryo menikahi kekasihnya yang terdahulu.
Saat Aryo melihat bagaimana Shena disiksa dan hampir mati, aryo pun menceritakan pada ibunya. Namun Hera malah meminta Aryo pura-pura tak pernah melihat, bahkan Hera dan Aryo tak berusaha mencari keberadaan anak yang ada didalam kandungan Shena, padahal itu adalah cucu kandungnya sendiri. Ibu Aryo berfikir, lebih baik Shena dan bayinya mati saja agar semua kekayaan yang Shena miliki tetap dalam kekuasaan mereka. Namun sepertinya kali ini mereka akan menemukan lawan terberatnya.....
Aryo terdiam sejenak, mencoba berfikir dan menerka-nerka siapa yang membuat kehancuran ini. Tiba-tiba terlintas nama seseorang diingatannya.
" Tunggu....".
__ADS_1
" Ada apa ?". Tanya ibu Aryo.
" Aku rasa, masalah ini ada hubungannya dengan Danira ". Ujar Aryo, duduk dikursinya.
" Danira ?, siapa dia ?". Tanya ibu Aryo, menegakkan tubuhnya, penasaran.
" Dia adik Shena, beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya di bandara. Dan dia melihat aku bersama Naya, dia mengatakan bahwa anakku dan Shena ada padanya, aku yakin ini semua pasti ulahnya ".
BRAK**
" BANGSATTTT...mengapa aku baru kepikiran, bila wanita itu ada dibalik semua ini ". Sungut Aryo, yang baru menyadari. Dia semakin mengacak-acak rambutnya, dia pikir pertemuannya dengan Danira tidak akan berdampak apapun, menggingat keluarga istrinya itu telah hancur, tapi ternyata Aryo salah besar.
" Bagaimana mungkin ?, bukankah dia sudah mati lebih dulu ?". Aryo mendesah, lalu melihat kearah luar jendela.
" Tidak....dia disembunyikan oleh keluarganya. Dan aku pun tidak tau apa alasan mereka melakukan itu ". Jelas Aryo, dia tak pernah mengatakan kepada ibunya prihal keluarga Shena yang memalsukan kematian Danira, karena menurutnya itu tidak penting dan sejak awal Aryo memang tidak pernah tertarik ingin masuk keluarga Shena. Namun karena paksaan sang ibu, Aryo tak bisa menolak, ditambah lagi waktu itu dia sedang dilanda pata hati, hingga membutuhkan pelampiasan. Setelah acara pernikah selesai dia dipercaya oleh Shena untuk mengelola perusahaan miliknya, karena Shena memilih ingin menjadi ibu rumah tangga saja, sejak itu ketamakkan dan keserakahan menguasai Aryo.
Hera terperangah mendengar ucapan Aryo, dia tak menyangka bila keluarga besannya memiliki rahasia sebesar ini. Pasti ada suatu dibalik ini semua. batinnya, Hera diam, memikirkan sesuatu, seketika terbit seringai licik dibibirnya.
" Mas Aryo, pikirkan dulu kami akan tinggal dimana hari ini, sedangkan semuanya sudah diambil oleh mereka. bahkan mobil kado ulang tahuku kemarin pun juga diambil ?". Kesal adik Aryo yang bernama Anya. Aryo mendesah, Kepala Aryo rasanya mau pecah. Dia harus memikirkan bagaimana cara mengambil kembali perusahaan Shena, ditambah lagi sejak tadi istrinya selalu menelpon menanyakan kebenaran berita yang telah tersebar, sampai-sampai Aryo menonaktifkan ponselnya.
" Lebih baik kalian dihotel saja dulu, karena aku akan datang keperusahaan itu, aku akan memimbicarakan semua ini kepada pimpinan mereka, dan meminta supaya rumah yang kita tepati tidak diambil. Sampai aku menemukan cara untuk menjatuhkannya ".
" Tidak perlu berfikir terlalu keras putraku, bukankah kau tau bila dia sudah dianggap mati oleh semua orang, sebarkan saja berita ini. Maka semua milik kita akan kembali seperti semula ". Ucap hera dengan pikiran liciknya.
DUBRAK**
Suara pintu yang dibuka secara paksa mengalihkan perhatian keempat manusia yang ada diruangan itu. Pintu telah terbuka lebar.
...****************...
Dikediaman Pradiksa.
Gavino dan sean sedang berada diruang kerja Gavino yang ada di mansion. Sean menyerahkan beberapa dokumen pada Gavino.
" Ini tuan ". Gavino mengambil dokumen yang Sean berikan lalu membukanya, membaca tiap baris yang tertulis didalam kertas itu. Seketika senyum puas terbit dibibir merahnya.
" Bagus Sean, kau memang selalu bisa aku andalkan ". Ucapnya bangga, tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ada ditangannya.
" Aahh...rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin menghancurkan wanita itu sehancur-hancurnya, lalu menggantungnya diatas kandang periliharaanku, hingga tubuhnya tercabik-cabik disantap oleh mereka ". Ucap Gavino menggebu, membayangkan impiannya menghancurkan pimpinan Radenayu Group.
" Apa anda sudah melihat beritanya pagi ini tuan ?". Tanya Sean.
" Heemmm....!!". Angguk Gavino.
" Apa tuan tidak penasaran, mengapa mereka mengambil alih semua perusahaan berlian itu ?".
" Aku tidak perduli dan tidak tertarik masalah mereka, malah aku senang bisa melihat dia memiliki banyak musuh. Bahkan rasanya aku ingin menarik semua musuh-musuh nya bersekutu denganku. Tapi sepertinya aku tidak membutuhkan itu, karena aku mampu menghancurkan dan membunuhnya dengan tanganku sendiri ". Ucap Gavino dengan sorot mata tajam penuh dendam, Sean mengalihkan pandangannya tak ingin melihat Gavino dalam mode ini.
" Bagaimana dengan yayasan yang sedang dia bangun, apa sudah hampir selesai ?".
__ADS_1
" Mungkin sekitar 3 bulan lagi akan selesai tuan, menurut laporan yang saya terima pembangunannya sudah mencapai 80% ". Jelas Sean, Gavino mengangguk-angguk sambil menutup dokumen yang dia pegang.
" Aku ingin kita mulai menghancurkannya dari sini. Karena aku tau ini adalah projek impiannya". Ujar Gavino, tersenyum miring. Sean hanya diam tak menjawab apapun.
" Apa kau sudah memeriksa chip dari telinga pria kemarin ?".
" Sudah tuan, terakhir sinyal chip itu tersambung kesebuah hotel yang ada di Surabaya, sekarang Bayu sedang melakukan penyelidikan kesana. Saya yakin sebentar lagi orang-orang kita akan mendapatkannya ". Jawab Sean, penuh percaya diri. Gavino kembali manggut-manggut.
***
Danira turun dari dalam kamarnya sambil menggendong Khalisa, dia mencari keberadaan Gavino di ruang keluarga, namun sesampainya disana dia tak menemukan siapapun.
" Mas Gavin kemana ?, perasaan tadi masih disini bermain game ". Gumam Danira lalu melirik kearah kolam renang dan taman belakang. Danira melihat bik Sri yang baru masuk dari dapur.
" Bik, apa bibik melihat mas Gavin ?". Tanya Danira.
" Oh tuan muda ada diruang kerjanya Nyonya, bersama tuan Sean ". Jawab bik Sri.
" Oh...!!! apa mami belum pulang bi ?".
" Belum nyonya, biasanya beliau akan pulang dari perawatan menjelang sore ". Danira mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sebelum Ny. calina pergi, Dia sempat mengajak Danira untuk pergi bersama. Namun Danira menolak dengan halus lantaran ada Gavino dirumah, dia tak mungkin meninggalkan suaminya yang rela tidak masuk kantor hanya karena ingin menghabiskan waktu bersama dengannya.
" Ya sudah, makasih ya bik ". Ujar Danira, diangguki oleh bik Sri. Danira membawa Khalisa ketaman belakang, dia akan melepaskan Khalisa disana supaya lebih memperlancar belajar berjalannya. Danira menurunkan Khalisa, lalu membiarkannya merangkak diatas rerumputan hijau. Danira beranjak, mencari jarak agar Khalisa mau bergerak mencoba berdiri.
Khalisa menungging, telapak tangannya menapak diatas rumput, kemudian secara perlahan Khalisa berdiri dengan tubuh bergoyang, lalu perlahan-lahan melangkahkan kakinya untuk pertama kali tanpa pegangan, wajah yang imut semakin mengemaskan ketika dia tertawa menampakkan gigi yang mulai banyak di bagian depan. Danira membolakan matanya, terpaku melihat Khalisa perlahan berjalan mendekatinya. Danira membentangkan kedua tangannya, menyambut Khalisa yang semakin mendekat.
Kak Shena, sekarang anakmu sudah bisa berjalan. Aku menyaksikan langkah pertamanya kak, andai kakak ada disini, pasti kakak akan berteriak bahagia melihat kaki mungilnya sudah bisa menopang tubuhnya sendiri.
Kak aku akan menjaganya, melindunginya dan mendidiknya seperti anak kandungku sendiri. Kakak tidak perlu khawatir, tenanglah disana, di syurga Allah. Batin Danira terharu, hingga dia meneteskan air matanya. Sambil tersenyum melihat Khalisa.
Disaat Danira sedang sibuk bermain dengan Khalisa, dari belakang terdengar suara teriakan seseorang memanggil namanya.
" Kak Danira...?". Teriaknya berlari, sambil melempar koper yang dia pegang, lalu menghampiri Danira. Danira berbalik, menyipitkan matanya melihat siapa yang memanggil. Tanpa aba-aba wanita yang berlari itu langsung memeluk tubuh Danira. Danira diam sesaat, mengingat siapa wanita muda yang sedang memeluknya ini.
" Kakak tidak mau membalas pelukanku ya ?". Tanya wanita itu, tanpa melepaskan Danira. Seakan mengerti kebungkaman Danira, dia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik Danira.
" Kakak lupa padaku, aku Gea kak, adik ipar kakak !!". Ucapnya, membuat Danira terkejut sekaligus merasa tidak enak hati.
" Astaghfirullah...Gea maafkan aku, aku tidak mengenalimu tadi. kapan kau tiba ?". Ucap Danira, kini Danira yang memeluk Gea terlebih dahulu. Gea tersenyum senang membalas pelukan Danira.
" Baru Saja kak, Aahhhh....!! aku senang sekali bisa bertemu dengan kakak secara langsung seperti ini ". Ucap Gea, senang penuh semangat, wajahnya benar-benar tampak sumringah. Saat mereka berdua masih menikmati pelukan, secara tiba-tiba seseorang ikut memeluk Danira dari belakang.
" Kakak ipar....". Ucapnya, Danira mematung mendengar suara pria memeluknya. Kini posisi Danira ada ditegah kedua saudara kembar itu. Danira merasa tidak nyaman, dipeluk oleh pria lain dia ingin melepaskan diri, namun Gea dan Gio memeluk Danira sangat erat. Dan.....
" GIO.....Lepaskan tangan sialanmu dari tubuh istriku ".
......................
__ADS_1
...Bersambung........