
Dimeja makan, suasana tampak ricuh dengan kehadiran si duo kembar rusuh. Entahlah Gea dan Gio benar-benar tidak bisa dipisahkan, namun bila terlalu dekat maka yang ada hanya keributan dan kegaduhan. Seperti saat ini, mereka bertengkar hanya karena posisi tempat duduk. Gea ingin duduk di samping Danira, Dan begitupun dengan Gio.
" Haiss...apa kalian berdua tidak bisa diam, duduk dan makan dengan tenang. Ya ampun....kepalaku rasanya mau pecah bila melihat kalian selalu begini setiap hari ". Ny. Calina memijit-mijit keningnya yang terasa berdenyut, melihat kelakuan anak-anaknya.
" Dia yang mulai mi, aku diluan yang duduk disini. Tapi coba mami lihat, dia bahkan menjambak rambutku. aku tidak bisa diam saja ". Ujar Gea menunjuk Gio.
" Kau kan adik, kau harus mengalah padaku ".
" Halah, adik beda beberapa detik saja mau merebut tempat dudukku. Tidak bisa !!". Ujar Gea, mengeratkan pegangannya pada kursi yang telah dia dudukki.
" Kau berani padaku hah ?". Gio menyeret Gea beserta kursi hingga sampai keteras belakang.
" Aaaaaakkkhhh...mami, tolong aku ". Teriak Gea cempreng memekakkan telinga, membuat semua orang yang ada disana menutup kuping mereka. Gavino dan Danira yang baru mau turun dari kamar mereka ikut menutup telinga, Gavino wajahnya kembali masam, dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi dibawah sana.
"Hhuuhh... bocah-bocah ini ".
" Kenapa mas, mengapa Gea berteriak seperti itu ?". Tanya Danira yang terkejut mendengar teriakan Gea.
" Pasti sedang memperebutkan hal yang tidak penting ". Jawab Gavino, kembali merangkul Danira mulai menuruni anak tangga. Dan benar saja, sampai diruang makan, Gavino dan Danira melihat kedua adiknya sedang adu kekuatan, saling tarik menarik kursi. Padahal disana kursi sangat banyak.
" GIO....!! GEA...!!". Suara Barinton itu menghentikan kegiatan sang adik dan kakak itu, lalu menoleh keasal suara. Wajah mereka berdua sudah memerah dipenuhi keringat dan rambut sama-sama kusut akibat jambak-jambakan. Mereka berdua serentak melepaskan kursi yang diperebutkan, lalu mengangkat tangan keatas dengan kepala menunduk. Takut.
" Tidak bisakah kalian damai sebentar saja ? Apa kalian berdua tidak lelah ribut terus menerus, hanya karena kursi kalian menjadi seperti orang gila begini ?, itu..itu dan itu semuanya kursi, kenapa kalian suka sekali memperebutkan barang yang tidak penting seperti ini hah ?". Omel Gavino, Danira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak terlalu terkejut melihat keributan seperti ini, karena saat dulu dia dipesantren bahkan lebih ramai dari ini, hanya saja tidak seekstrim yang dilakukan adik-adik iparnya.
" Sampai kapan kalian akan bertingkah seperti anak kecil terus. Kalian berdua itu sudah dewasa, sudah jadi mahasiswa. Masih saja bertingkah menyebalkan seperti ini ". Sungut Gavino, kedua tangannya berada didalam saku celana. Niat hati sudah tak ingin marah-marah, tapi apa daya dia mempunyai dua adik yang selalu menguji kesabaran Gavino yang setipis saringan tahu.
" Kau sih...!!". Bisik Gea.
" Kau sih tidak mau mengalah ". Bisik Gio, mereka kembali saling sikut menyikut, sambil menunduk. Mulut mereka terus saja komat Kamit saling salah menyalahkan satu sama lain.
" Cckkk...mulai lagi. Sudahlah, lebih baik Aku dan Danira makan malam diluar saja ". Ujar Gavino, menarik tangan Danira, mengajaknya pergi.
" JANGAN..." pekik mereka kompak, lalu saling lirik kembali.
" Kami tidak akan membuat ulah lagi, janji ". Ucap Gio, merangkul Gea sedikit mencubit pundak adiknya, Gea mengangguk cepat sambil tersenyum menapakkan gigi rapinya. Gavino melihat adik-adiknya bergantian, tajam.
" Ayo lah kak, jangan bawa kak Danira makan diluar. Bila kak Gavin mau, ya Kaka sendiri saja. Yang penting kakak ipar tetap disini, kami berdua mengambil cuti kuliah 1 Minggu kan ingin bertemu dengan kakak ipar, masa sudah dipisahkan lagi ". Ujar Gio mendekati Gavino, yang terus melihatnya dengan cara mengintimidasi.
" Mas kita makan dirumah saja, Gio benar. Ini pertemuan pertamaku dengan adik-adikmu. Lagi pula mereka baru tiba, tidak baik juga meninggalkan makanan yang sudah tertata dimeja makan, kasihan mami pasti dia ingin kita makan bersama-sama dengannya ". Danira memberi kode dengan memiringkan sedikit kepalanya, agar Gavino melihat kearah Ny. calina yang terlihat bengong menatap mereka ber empat.
" Apa...? kenapa kalian melihatku?, Tidak masalah bila kalian ingin makan malam diluar, aku bisa menghabiskan semua ini sendiri. Tapi tolong bawa sekalian 2 titisan Sun Go Kong ini bersama kalian. Kepalaku sudah hampir pecah melihat pertengkaran mereka sedari tadi ". Ucap Ny. Calina mengambil gelas berisi air putih lalu meneguknya hingga tandas. Dia sampai kehausan melihat tingkah anak-anaknya yang super aktif.
" Bila perlu kirim saja mereka ke Korea Utara, agar ikut wajib militer disana, biar mereka dididik oleh Oppa Kim Jong-Un, mungkin dengan begitu mereka akan menjadi lebih dewasa ". Usul Ny. Calina, sambil meletakkan gelasnya yang kosong.
" Hhuuhh..!! sepertinya aku akan memikirkan usulan mami, mengirimkan mereka ke korea Utara ". Ucap Gavino, melangkah mendekati meja makan, lalu duduk disana. Gea dan Gio membelalakkan mata mereka, mereka tau bila sang kakak telah memberi keputusan, maka semuanya akan terjadi.
" TIDAK....". Pekik mereka serentak.
" Aku tidak mau mami, kak jangan begitu. Kasihanilah aku, aku kan anak perempuan satu-satunya. Kakak bisa mengirim kak Gio saja, jangan aku ". Rengak Gea, sudah memeluk Ny. calina dengan sangat erat.
" Enak saja....!! Kau saja yang dibuang ke segitiga Bermuda sana ". Kesal Gio, berjalan lalu duduk tepat diseberang tempat duduk Danira.
" Mami..., Gio selalu mengancamku begitu, dia terus saja ingin membuangku ". Rengek Gea lagi.
" Oohhh tuhan, mengapa dulu aku bisa memiliki anak-anak seperti ini. Rasanya aku ingin memasukkan mereka kedalam perutku lagi. Supaya hidupku bisa tenang, asam lambungku selalu naik melihat perdebatan mereka terus menerus ". Ucap Ny. calina, memijit-mijit tengkuknya.
" Sudah...Sudah...!! Gea, Gio bisa kita makan dulu. Nanti setelah selesai makan, kalian bisa melanjutkan perdebatan kalian lagi ". Ucap Danira, mulai mengambil piring untuk Gavino. Gea dan Gio terdiam menunduk, entah mengapa mereka merasa takut, padahal Danira berbicara dengan nada rendah dan lembut.
Wah...apa istriku memiliki ilmu sihir, bisa membungkam kedua siluman ini. batin Gavino tercengang, karena adik-adiknya langsung diam tak berkutik.
" Mas mau lauk apa ?". Tanya Danira, yang telah mengisi piring Gavino dengan nasi.
" Udang saus saja ". Ucap Gavino, setelah meletakkan lauk yang Gavino minta Danira menambahkan dengan sayuran diatas piringnya. Lalu meletakkannya tepat dihadapan Gavino.
" Kakak ipar...aku juga mau diambilkan !!". Gio menyodorkan piringnya yang kosong pada Danira dengan tatapan penuh harap. Danira mengambil piring Gio, Gavino melirik Gio dengan tatapan tajam, sedangkan Gio menjulurkan lidahnya pada Gavino.
" Kau mau lauk apa ?". Tanya Danira.
__ADS_1
" Kakak ipar sukanya makan apa ?". Tanya Gio terus mengembangkan senyumnya. Mendengar itu Gavino semakin menyelang tak suka, tanpa bertanya lagi, Danira langsung meletakkan sepotong ayam bakar di piring Gio, lalu meletakkannya didepan Gio.
" Terima kasih kak ". Ucapnya full senyum. Danira hanya mengangguk. Lalu kembali duduk dikursinya. Ny. calina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah putranya yang sedang tebar pesona sejak tadi.
" Kak Gio, berhentilah melihat kak Danira. Tatapanmu membuat kakak ipar menjadi tidak nyaman ". Ucap Gea, sambil mengunyah makanannya. Gio hanya mencebik, lalu kembali memasukkan makanannya kedalam mulut, sambil mencuri-curi pandang pada Danira.
" Gio....!!! Jangan sampai aku mencongkel matamu menggunakan garpu ini ya ". Geram Gavino, yang sedari tadi mencoba menahan emosinya pada Gio.
" Cceekk...memangnya aku melakukan apa ?, aku hanya makan. Kenapa kak Gavin mau mencongkel mataku ". Kesal Gio.
" Kakak ipar, apa tidak ada niatan mau ganti suami saja ?".
Uhuk
Uhuk
Danira terbatuk-batuk mendengar pertanyaan aneh Gio. Semua mata yang ada disana kini menyorot pada Gio.
" Jaga ucapanmu Gio, kau mau lidahmu aku potong hah ?".
" Tuh...kakak ipar lihat kan, kak Gavin itu terlalu kejam untuk kak Danira yang terlalu baik, kak Gavin itu terlalu cuek, dia tidak akan bisa mencintai kak Danira. Mending kak Danira sama Gio ". Ujar Gio, memangku wajahnya diatas kedua telapak tangannya, tersenyum manis pada Danira. Danira tersenyum garing, menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal.
PUK*
Sepotong ayam goreng, telah hinggap ke kepala Gio.
" Ha..ha..ha....". Gea tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gio berubah kesal.
" Kak Gio, bagaimana rasanya dicium ayam goreng ?, makanya kalau mau menggoda istri orang lihat-lihat dulu siapa suaminya. Suaminya modelan beruang kutub bersifat singa begini berani-berani nya kakak godain". Ejek Gea, terus saja tertawa. Dia sangat senang bila Gio tertindas oleh Gavino.
PUK*
Ikan Gurame goreng pun melayang mengenai wajah Gea yang sedang tertawa, seketika Gea terdiam karena terkejut mendapatkan serangan dari Gavino yang sedang menatapnya tajam.
" Rasain...huhuhu..!!". Balas Gio.
" Mereka yang memulainya sayang ". Bila sudah berbicara dengan Danira, sifat pemarah Gavino langsung merendah, berganti dengan nada manja dan lembut. Membuat Gea dan Gio menampilkan wajah geli dan jijik mereka.
" Mi...apa kak Gavin selalu begini bila dihadapan kakak ipar ?". Tanya Gea berbisik pada Ny. calina. Namun masih bisa didengar oleh yang lain.
" Hemmm....dia bahkan seperti anak kucing bila sudah bertemu istrinya. Sifatnya sudah jauh lebih baik, itu hanya berlaku untuk istrinya, bagi orang luar belum tentu ". Jelas Ny. calina santai.
" Iisshh...Kak Gavin kenapa harus berubah sih ". Ucap Gio, bernada kesal.
" Berubah apanya ?". Ketus Gavino.
" Dulukan kakak bilang tidak akan pernah menyukai kakak ipar, tapi kenapa sekarang kakak malah menyukainya ". Gavino dan Danira mengeryitkan kening mereka, lalu saling lirik.
" Apa kak Danira ingin tau, aku pernah mengatakan langsung pada kak Gavin, bahwa aku menyukai kak Danira, bahkan aku berniat ingin menyelesaikan kuliah ku secepatnya agar bisa menikahi kak Danira, saat kalian sudah bercerai. lalu aku akan mengambil saham bagianku dan ingin membangun perusahaan sendiri demi kak Danira, tapi sekarang kak Gavino malah menjilat ludahnya sendiri. Jadi harapanku kandas ditegah jalan". Kesal Gio, melihat Gavino yang juga sedang menatapnya dengan tatapan mengerikan.
" Oohh..benarkah kau mengatakan itu pada kak Gavin ?". Ulang Danira, melirik Gavino yang wajahnya semakin masam. Membuat Danira semakin ingin menggoda suaminya.
" Yaahhh..sayang sekali, padahal dulu mas Gavin benar-benar membenciku, seharunya dia tidak menarik kata-katanya ya Gio ". Ucap Danira, memanas-manasi Gavino yang sedang terbakar cemburu dengan adiknya sendiri.
" SAYANG...!!". Gavino memanggil Danira dengan merapatkan giginya, mata melotot.
" Padahal aku sudah mulai menabung, tidak pernah belanja-belanja lagi, tidak pernah nongkrong di Club lagi, bahkan aku belajar dengan sangat giat supaya cepat selesai kuliah lalu menikah dengan kak Danira. Iihhh malah kak Gavin, berubah pikiran, kenapa Kaka tidak menikah dengan Stevani saja sih ".
BUK **
Lagi-lagi Gio mendapatkan serangan buah apel ke kepalanya, namun kali ini bukan dari Gavino melaikan dari sang mami. Gio memegang kepalanya yang terasa sakit.
" Berhenti menyebut nama wanita jadi-jadian itu didepanku, Cckkkk...mendengar namanya saja membuatku jadi tidak nafsu makan ". Kesal Ny. calina meletakkan sendok dan garpunya.
" Iisshh tidak nafsu makan apanya, mami sudah menambah sebanyak 3 kali, apa itu bisa disebut tidak nafsu makan ?". Sindir Gea, yang sedari tadi melogok melihat maminya menambahkan nasi dan lauk pauk berkali-kali.
" Oh benarkah...mengapa mami tidak merasa ya Gea ". Santai Ny. calina, kembali memakan puding.
__ADS_1
" Kakak ipar, kepalaku sakit dilempar mami ". regek Gio.
" Apa kau ingin kerumah sakit ?". Tanya Danira.
" Iya, bila kau merasa sakit biar aku mengantarmu kerumah sakit JIWA, mau ?". Ujar Gavino menekan nada bicaranya.
" Kakak pikir aku gila apa, segila-gilanya aku pada kak Danira, aku tidak membutuhkan dokter tau ". Kesal Gio, kembali tebar pesona pada kakak iparnya.
" Wah...wah...wah...sepertinya kau memang bosan hidup Gio ". Geram Gavino, mengangkat pisau buah ditangannya.
" MAMIiii....!!".
...****************...
Acara makan malam yang jauh dari kata tenang pun selesai, semua telah kembali kedalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Begitupun dengan Ny. calina, dia telah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian tidur. Saat ingin menarik selimut, pintu kamarnya terbuka....
" Mi...boleh aku masuk ". tanya Gavino, yang kini telah berada didalam kamar ibunya.
" Kau sudah didalam Gavin, kenapa sok-sokan minta ijin segala ". Gavino tak mengubris ucapan ibunya, dia terus berjalan mendekati ranjang sang mami.
" Ada apa ?, tumben sekali kau datang kekamar mami, apa ada hal penting ?". Tanya Ny. calina. Karena seingatnya Gavino paling enggan bila diminta masuk kekamar orang tuanya.
" Tidak ada, aku hanya ingin memberikan ini ". Gavino menyerahkan satu paper bag berukuran sedang kehadapan Ny. calina.
" Apa ini ?".
" Sepertinya bom ". Asal Gavino. Membuat Ny. calina mencebikkan bibirnya. Dia membuka isi paper bag itu, didalamnya terdapat sebuah kotak berwarna biru berbentuk kotak. Ny. calina membuka kotak itu, matanya terbelalak melihat isi yang ada didalamnya.
" Kau memberikan mami ini ?". Ny. calina mengangkat sebuah kalung berlian termahal didunia, kalung dambaan para wanita sejagat raya adalah berlian kuning yang dijuluki dengan julukan ' King Of Diamond '.
Leviev’s Vivid Yellow Diamond Pendant merupakan berlian kuning yang banyak dipuja para wanita se-dunia. Kalung berlian ini memiliki berat 77,12 karat.
Setiap detail kalung berlian ini terdiri dari berbagai macam batu berlian yang sangat langka dan jarang ada di pasaran. Dalam acara lelang, kalung “Leviev’s Vivid Yellow Diamond Pendant” ini berhasil menarik perhatian para konglomerat dunia. Salah satunya Gavino.
Harga kalung ini senilai US$ 10 Juta atau setara dengan Rp 140 miliar. Dan dalam acara lelang itu Gavino lah yang berhasil membawa sang dambaan para wanita itu pulang, Gavino mati-matian memperjuangkan kalung ini khusus untuk ibunya.
" WOW...indah sekali ". Ucap Ny. calina, matanya berbinar-binar, dia tak menyangka bisa memiliki berlian dambaannya.
" Apa mami menyukainya ?".
" Sangat...sangat...sangat suka ". Jawab Ny. calina tanpa melihat Gavino, dia masih terhipnotis dengan benda berkilau yang ada ditangannya.
" Baguslah....kalau begitu aku keluar dulu ". Gavino siap keluar, namun Ny. calina menghentikan langkahnya.
" Tumben kau memberi mami hadiah, biasanya kau selalu memberi mami mentahannya saja ".
" Itu sebagai ucapan terima kasihku ".
" Terima kasih ?, untuk apa ?". Ny. calina bingung.
" Terima kasih karena mami sudah menjodohkan aku dengan Danira, terima kasih telah memilih istri yang sangat sempurna, terima kasih karena memilih wanita yang baik-baik untukku, dan juga terima kasih telah menjadi ibu terbaik bagiku dan Gea, Gio ". Ucap Gavino menatap mata maminya dalam, mendegar jawaban langkah Gavino, membuat mata Ny. calina berkaca-kaca, namun dengan cepat Ny. calina menguasai diri tak ingin menangis didepan putranya.
" Apa kau senang, karena kau pria pertama baginya ?".
" Mami tau ??". Gavino terkejut.
" Tentu...tidak ada yang tidak mami ketahui. Mami hanya minta padamu vino, jaga dia dengan baik, sayangi Danira dengan setulus hatimu. Apapun yang terjadi didepan nanti, ingat jangan pernah kau meninggalkannya, tetap dampingi dia, dia sangat membutuhkanmu. Kau akan melihat sisi lain dari istrimu ". Gavino terdiam, berusaha mencerna dan mengurai tiap kata-kata maminya, ada sesuatu dibalik ucapan Ibunya ini. pikir Gavino.
" Aahhh sudah lah, mami mengantuk. Kembalilah ke kamarmu, jangan buat istrimu terlalu lama menunggu, nanti istrimu di kelonin guling baru tau rasa ". Ujar Ny. calina mengusir Gavino dari kamarnya, dia tak ingin Gavino terlalu banyak bertanya.
" Hhhmmm ". Gavino hanya menanggapi dengan deheman, lalu beranjak pergi.
" Vino...!! sering-sering ya belikan mami seperti ini ". Teriaknya, pada Gavino yang telah menghilang dibalik pintu.
......................
...Bersambung.......
__ADS_1