CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
22. Rumah Baru


__ADS_3

Menjadi seorang Ibu sekaligus Ayah bukanlah hal yang mudah. Dalam memerankan 2 karakter sekaligus, butuh kekuatan hati dan tenaga ekstra. Seperti yang sedang dilakukan Danira saat ini memerankan 2 karakter tersebut, harus bisa menjaga, merawat, melindungi, mendidik dan menafkahi baby Khalisa seorang diri. Diusia yang masih sangat muda, Danira harus mengemban beban tanggung jawab yang besar. Hidup selalu memilih takdirnya masing-masing, ada yang memikul ada yang melepaskan, Dan sepertinya Danira memilih takdir memikul. memikul amanah yang digariskan untuknya.


" Assalamualaikum..."


Danira keluar dari dalam kamarnya melihat siapa tamu yang datang.


"Selamat pagi Nona ". suara sapaan lembut terdengar dari pintu depan ketika melihat Danira keluar.


"Waallaikumsalam, pagi juga Sarah. Loh kenapa masih berdiri dipintu, ayo masuk ". Suara ramah Danira memecah kecanggungan yang dirasa oleh Sarah.


" Baik nona, sebentar lagi saya masuk, saya masih menunggu beberapa pengawal membawakan yang tempo hari saya maksud". ujarnya kemudian menoleh kearah mobil yang terparkir dihalaman.


Tak berapa lama 2 orang pengawal berjas hitam, masuk dengan membawa tumpukan kertas. " maaf Nona, kami harus meletakkannya dimana". Danira masih terperangah melihat banyaknya tumpukan-tumpukan kertas yang dibawakan oleh para pengawal sampai-sampai hampir menutupi wajah garang mereka.


" Ah ya...!! eemm letakkan diatas meja ini saja dulu". Tanggannya memindahkan pas bunga yang bertengger di meja.


"Baik nona". mereka melakukan sesuai dengan instruksi dari Danira, lalu mereka pamit berlalu pergi. Sarah masuk dan duduk tepat dihadapan Danira hanya dibatasi meja yang sudah penuh dengan kertas-kertas tadi.


Sarah masih memperhatikan Danira, walaupun Sarah tidak bisa melihat ekspresi Danira yang ditutupi Burqanya, Sarah bisa menebak kalau sang nona sedang bingung.


" Nona ini adalah berkas-berkas yang saya maksud kemarin ".


" Jadi semua berkas ini harus saya baca dan tanda tangani ?". masih merasa tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.


"Benar nona, selama hampir 3 bulan anda tidak ada. Saya hanya bisa mengambil keputusan yang benar-benar darurat saja, Selebihnya saya tidak bisa membuat keputusan apapun. Dan berkas tumpukan ini adalah tumpukan tender-tender yang ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita, Tumpukan yang ini adalah stample pemasaran dari tim manajemen marketing, dan yang ini laporan keuangan perusahaan".


Dari balik cadarnya, Danira membuka mulutnya dia benar-benar syok, hari pertama kesibukannya telah dimulai.


" Eemmm...mungkin aku butuh sedikit waktu untuk bisa memahami semua berkas ini, dan kau tau sendiri aku belum memiliki pengalaman dalam bekerja kantoran. Apalagi harus mengambil keputusan."


" Maaf jika nanti aku akan merepotkan mu terus ". Danira mulai merasa tidak enak hati.


Sarah tersenyum mengangguk, " Tidak apa nona, saya disini emang dikhususkan untuk membantu anda, jadi Jangan sungkan".


"Apa kau ingin minum sesuatu, biar aku ambilkan".


" Eehh..!! tidak perlu Nona, seharusnya saya yang menawarkan untuk nona. Bukan sebaliknya".


" Tidak apa, jangan merasa tidak enak seperti itu". Danira berlalu kedapur dan keluar membawakan 1 gelas Teh hangat. Danira memberikan gelas teh itu kepada Sarah.

__ADS_1


" Terima kasih nona, seharusnya anda tidak perlu...!! Sarah sedikit menunduk merasa bersalah, karena Danira yang membuatkan minum untuk-nya.


" Tidak apa-apa, ini hanya teh". Danira tersenyum.


Danira mulai mengambil satu persatu berkas yang ada di meja dan membaca dengan serius.


Ternyata tak terlalu sulit seperti yang dia bayangkan, tanpa bertanya dengan Sarah. Danira sudah memahami isi yang ada dalam kertas itu. Sarah hanya melihat dan mengamati gerakan tangan Danira yang cepat ' Cerdas ' itulah yang ada dibenak Sarah sekarang.


" Maaf Nona, apa anda nyaman tinggal disini..!! Eemm maksud saya apakah anda benar-benar belum ingin pindah ke Mansion anda ?". Pertanyaan Sarah membuat Danira mendongak dan berhenti sejenak dari aktivitasnya ini.


Danira tersenyum kemudian melihat kesekeliling rumah barunya ini." Aku merasa nyaman disini, rumah ini tidak terlalu buruk. Lagi pula aku belum terbiasa tinggal dirumah yang besar dan sedikit orang, walaupun disana ada banyak pelayan, tapi aku belum nyaman dengan semua kemewahan itu". ujarnya jujur sambil membubuhi tanda tanggannya lagi.


Ya...Danira telah pindah, Dia sudah tidak lagi tinggal di Pondok perantara Darul Qur'an hampir 1 Minggu yang lalu. Danira memilih meneruskan amanat sang ayah untuk mengurus perusahaan mereka yang sudah berganti kepemilikan atas nama Danira sendiri. Danira menghubungi Sarah dan meminta disiapkan sebuah rumah sederhana yang ada dipinggiran kota. Awalnya Sarah menyarankan agar Danira tinggal di mansion yang sudah disiapkan khusus untuknya, tapi Danira menolak dengan alasan dia belum terbiasa dengan kemewahan-kemewahaan itu. Sarah tidak memaksa dan hanya menggikuti keinginan nona-nya, dengan syarat Danira harus menerima 1 pelayan untuk membantu Danira. Lalu akan banyak penjaga bayangan yang mengawasi disekitarnya


" Ini semua demi keamanan nona dan nona Khalisa" itulah alasan yang diberikan Sarah.


Danira tidak bisa menolak syarat dari Sarah, dan disinilah dia sekarang. Dirumah yang sederhana hanya ada 2 kamar tidur, rumah tamu, ruang makan, dapur dan 1 kamar mandi, dan dibagikan depan terdapat teras dan juga halaman yang cukup luas.


" Apa nona sudah siap datang ke perusahaan ?". Sarah membuka suaranya lagi, terakhir kali dia bertanya saat Danira memutuskan untuk pindah dan jawabannya belum siap.


Danira diam sejenak, mendongak melihat wajah Sarah yang menunggu jawaban, Danira meletakkan pulpen diatas tumpukan itu lalu menegakkan punggung dan bersandar di kursi duduknya. Danira memainkan jemarinya yang ditutupi sarung tangan.


" Apa kau keberatan,..!! jika aku memintamu tetap berdiri di depanku untuk sementara waktu ? sampai aku siap maju memperkenalkan diriku kehalayak ramai?". Danira mengamati ekspresi Sarah tapi wanita itu tetap seperti biasa tenang dan tegas.


Sarah terseyum dan mengangguk " Tentu nona, saya akan terus berdiri di depan nona sampai kapanpun, tidak hanya sementara. Saya akan selalu berada didekat nona sesuai amanat papa". Sarah berucap penuh dengan keyakinan. Danira bisa melihat ketulusan Dimata Sarah.


"Eemmmm,..apa kau sudah bisa menemukan dimana makam mereka ?". Danira bertanya sambil menundukkan kepalanya, menahan air Dimata yang ingin menerobos keluar.


Sarah bisa mendengar getaran dari suara Danira, Dia menahan tangis.


" Maaf Nona "


" Tidak apa, Jagan minta maaf. Mungkin belum waktunya untuk kita mengetahui dimana tempat peristirahat terkahir meraka. Semoga mereka ditempatkan ditempat yang layak". lolos sudah air mata Danira, walau dia berusaha menahan dengan senyumannya.


" Hhhaahhh"...


" Oh iya...!! Apakah di dekat perusahaan kita ada pusat perbelanjaan atau mall ?". Danira mengalihkan pembicaraannya dia tidak mau terus berlarut dalam kesedihan. Untuk saat ini dia harus fokus ke perusahaannya dulu sambil mencari kebenaran tentang kejadian yang menimpa keluarganya.


" Ada nona,...!! Perusahaan nona dekat dengan sebuah mall ternama dijakarta".

__ADS_1


Danira mengangguk-anggukkan kepala, kemudian mengambil berkas laporan keuangan perusahaannya. Danira mulai membaca dan menganalisa statistik keuangan itu. Dia mulai membanding-bandingkan dengan berkas-berkas dibulan-bulan sebelumnya.


" Sepertinya aman, stabil walau dibeberapa bulan pemasukan ada yang menurun tapi masih bisa ditutupi dengan yang lain". gumamnya sambil terus melihat angka-angka yang berserakan di kertas.


Sarah sedikit mengeryitkan keningnya, menebak-nebak apa yang ingin nona nya lakukan. " Maaf Nona, apa anda ingin berbelanja di mall itu ?, jika iya,...anda tidak perlu membaca laporan keuangan ".


Pertanyaan Sarah membuat Danira tertawa kecil " Tidak...Aku bukan ingin berbelanja, tapi ingin membuka usaha di mall itu ". Jawaban Danira makin membuat Sarah bingung, ' usaha' ...


" Bisakah kau menghubungi pihak pengelola mall itu, ajukan surat penawaran kerjasama. Aku ingin menyewa 1 lantai yang dekat dengan pusat permainan anak-anak".


" Maaf Nona, kalau bole saya tau usaha seperti apa yang ingin anda buka disana, hingga harus mengambil 1 lantai". Sarah benar-benar bingung, Dia tidak bisa menebak apa yang ingin Danira lakukan.


" Nanti kamu akan tau ". tangannya terus bergerak kekiri dan kekanan membuka berkas-berkas itu sambil tersenyum menjawab Sarah.


"Dan...!! Sarah apakah aku boleh meminta bantuanmu lagi". nada bicaranya serius menggambarkan ini penting dan Sarah mengangguk.


" Tentu nona "


Danira tersenyum " Terima kasih, aku akan memberitahu-mu nanti ".


.


.


......................


...Bersambung.......


Ayo... usaha apa ya kira-kira yang ingin Danira buat ? 🤔


Lalu bantuan apa yang Danira butuhkan dari Sarah ...?


Coba tebak dan buat dikolom komentar ya kak!


Terima kasih bagi yang sudah mampir, untuk membaca karya saya.


Tetap Stay menunggu kelanjutannya ya.


Salam sayang dari Author 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2