
Ballroom hotel ternama di Ibu kota sudah disulap menjadi taman kristal nan megah, setiap sudut ruangan dihiasi dengan bunga mawar putih, lampu-lampu Kristal menjuntai indah dilangit-langit ruangan itu, meja bundar dan kursi-kursi berwarna Gold sudah tersusun rapi. Siapapun yang melihat akan iri dengan suasana resepsi pernikahan itu, selera Ny. Calina wajib diacungi jempol benar-benar mewah dan elegan. Alunan music merdu, menambah kesan romantis.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan, tak banyak yang diundang, hanya keluarga, kerabat dekat, sabat dan hanya sebagian rekan kerja. Tak ada awak media karena Gavino melarang keras Ibunya mengundang banyak tamu dan media. Kedua pengantin itu, sedari tadi sudah duduk di kursi singgasana mereka dengan jarak cukup jauh.
Danira menggunakan Gaun indah berwarna Maroon berbentuk Princess Cinderella, gaun berbahan Tulle bertabur Glitter dan mutiara, senada dengan hijab yang Danira gunakan. Diatas kepala, Danira bertahta mahkota bertabur permata berwarna Gold dan sebuket bunga mawar putih ditangannya. Penampilan Gavino tak perlu dijelaskan, dia sudah tampan sejak lahir, walaupun tak ada senyuman diwajahnya, tapi pak menyusutkan kadar ketampanan pria itu. Mereka diminta berdiri, menyambut tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
Ny. Calina tegah sibuk menyambangi para tamu, dan teman-temannya, dia benar-benar bahagia.
" Selamat ya jeng, akhirnya Gavino nikah juga".
" Tapi kok, bukan sama wanita yang kita ketemu direstoran waktu itu ya jeng?". Mulut Nur menimpali.
" Apa Gavino selingkuh jeng".tanya jeng Maya.
" Kok mau sih jeng, anaknya nikah sama perempuan Yang ditutup semua gitu, gimana kalau wajahnya jelek atau giginya tongos kan serem jeng".
" Apa jeng Lina tidak takut, jika yang dinikahi Gavino itu ternyata laki-laki juga, seperti berita yang lagi vilar saat ini, pria jadi-jadian menikahi wanita".
Ny. Calina memutar bola matanya malas mendengar ocehan-ocehan geng sosialitanya ini, mereka selalu saja bergosip baik itu didepan atau dibelakang orangnya langsung.
" Aku yang menjodohkan mereka, karena wanita itu adalah pilihanku, otomatis sesuai dengan standar ku". Ujar Ny. Calina membungkam mulut para gengnya. Sejujurnya Ny. Calina saja tidak tau bagaimana rupa menantunya itu, yang jelas bagaimanapun wajah Danira dia akan menerimanya dan selalu menyayangi-nya.
" Guys..kalian lanjut saja menikmati hidangannya ya, aku mau melihat tamu-tamu yang lain dulu". pamit Ny. Calina berjalan menjauh.
Ny. Calina duduk disamping Bik Marni yang sedang menyuapi Balita gembul Khalisa, Baby Khalisa sangat cantik menggunakan Kerudung berwana Gold dan gaun berwarna senada, pipinya yang tembem, senyumnya yang imut membuat siapapun yang melihat ingin menciumnya.
" Hallo cucu Oma yang cantik, montok, gemoy...mamam apa sayang ?". Goda Ny. Calina pada Khalisa
" Mam..mam.mam..aahh". Jawab Khalisa seakan paham dengan pertanyaan Ny. Calina.
" Bik kalau mau makan, biar saya yang jaga Khalisa, kamu pergi saja nikmati makanan yang ada disini". Ujar Ny. Calina Pada Bak Marni.
" Iya Nyonya, terima kasih".
Seorang wanita berjalan menghampiri Ny. Calina, Dia duduk menyilang-kan kakinya, wanita berambut pendek itu merangkul pundak Ny. Calina.
" Tante, coba lihat wajah putramu benar-benar masam, tidak ada senyum kebahagiaan disana". Tata menaikkan alisnya, sebagai kode pada Ny. Calina. Ny. Calina hanya menanggapi dengan ******* nafas kasar.
" Tan...kamu kenal Danira dimana sih?". tanya Tata.
" Memangnya kenapa?".
" Gavino sangat beruntung memiliki istri seperti Danira, yang sangat cantik...aahh tidak lebih dari kata cantik, sopan santunnya bagus, suaranya lembut...ah dia wanita yang sempurna".
__ADS_1
" Andaikan aku yang terlebih dahulu bertemu dengannya, sudah pasti akan aku lamar untuk adikku yang tak berani dengan wanita itu". Jabar Tata panjang lebar bak jalan tol, tanpa jeda. Ny. Calina melihat wajah Tata tajam, menyelidik.
" Dari mana kamu tau kalau menantuku itu cantik?". Tanya Ny. Calina dengan wajah serius.
" Aaiisss....Tante ini, aku kan penata riasnya, jelas aku tau bagaimana wujud menantumu itu, masa Tante lupa sih". Tata memayunkan bibirnya kesal.
" Ahhh iya,...!! ya ampun Tante sampai lupa kalau kamu MUA nya ya...Ha ha ha ha, aduh maafkan Tante, saking sibuknya Sampek lupa. Tapi apa benar yang kamu katakan tadi?".
Tata yang sedang ingin menyuapkan puding ke dalam mulutnya, menurunkan lagi sendok yang berhenti diudara itu ". tentu, apa Tante belum pernah melihatnya?". tanya Tata lagi, Ny. Calina hanya menggelengkan kepalanya.
" Aahh sayang sekali". ejek Tata. Ny. Calina hanya berdecih kesal.
Diatas pelaminan, Dua orang laki-laki tampan Menghampiri pengantin baru yang mulai merasa bosan.
" Wiihhh...Akhirnya kau menikah juga Bro, walau bukan dengan ....!!".
Plakk
Tepukan dibahu Kevin, memutuskan ucapannya. " Apaan sih Don, sakit tau Ngak". kesal Kevin.
" Hargai perasaan kakak ipar yang ada disebelah suaminya ini". ketus Doni yang menyadarkan Kevin, yang hampir membuat kesalahan.
" Maafkan temanku ini nona, mulutnya memang seperti kambing betina". Ujar Doni merasa tak enak hati.
" Tidak perlu minta maaf, seharusnya memang bukan dia yang menjadi pengantinku". ketus Gavino, yang sedari tadi diam kini membuka suaranya namun menyakitkan. Danira melirik sekilas kesuaminya lalu menundukkan lagi pandangannya. Ada rasa sesak mendengar ucapan suaminya ini.
" Kau apa-apaan sih Vin".Ujar Doni tak suka, dengan Gavino yang keterlaluan menurutnya.
"Aku hanya mengatakan fakta, memang apa salahnya !! Wanita ini menghancurkan semua rencana indahku bersama s...!!".
" Stop Vin, kau sudah keterlaluan, ingat sekarang ini dia istrimu dan kekasihmu itu hanya masa lalu". potong Doni cepat, dia sangat geram dengan sahabatnya ini. Kevin yang melihat perdebatan itu mulai mencari jalan tegah. Tak ingin menjadi tontonan para tamu yang mulai berbisik-bisik melihat mereka.
" Oke bro, kita berdua cuma mau ngucapin selamat buat kalian berdua, semoga rumah tangga kaliam selalu damai cepat dikaruniai momongan". ucap Kevin memeluk Gavino, Danira hanya menakup kedua tanggannya didepan dada, membuat Kevin sedikit kikuk karena uluran tangannya tidak berbalas. " Selamat ya kakak ipar". ucapnya pelan sambil menarik tangan Doni turun dari sana.
Danira menggenggam erat bunga yang ada ditangannya, matanya mulai memanas, hatinya sakit mendengar ucapan Gavino, yang secara terang-terangan didepan orang lain menyalahkannya atas pernikahan ini. Danira menahan genangan air mata yang ingin lepas landas, dia tak ingin merusak momen ini, setidaknya untuk saat ini. Gavino membuang tatapan kesembarang arah, dia benar-benar lelah, ingin segera meninggalkan tempat ini. Gavino ingin segera mengaktifkan ponselnya, dan menghubungi kekasihnya. Pasti saat ini Stevani sedang marah besar karena ponsel Gavino tak bisa dihubungi sedari pagi.
Pasangan Suami istri datang mendekati Gavino dan Danira, mereka yang sudah dari pagi mengikuti dan menyaksikan akad dan resepsi keduanya ingin pamit pulang.
" Nak...Umi sama Abah pamit pulang dulu ya". pamit umi Siti yang berdiri dihadapan keduanya.
Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya jebol juga, Danira seperti mendapatkan alasan untuknya menangis. " Umi kok buru-buru sih, kenapa tidak besok pagi saja pulangnya, biar nanti supir yang mengantarkan umi dan Abah". ujar Danira sambil terisak.
" Umi dan Abah memang tidak langsung pulang kepesantren, kami akan menginap dulu dihotel ini, yang sudah disiapkan oleh mertuamu".
__ADS_1
" Tapi setelah solat subuh, kami akan langsung pulang ke pesantren". Jelas umi Siti.
" Nak..kamu harus ingat pesan-pesan umi tadi ya, kamu harus banyak-banyak bersabar". bisik umi yang sedang memeluk Danira, membuat Danir semakin terisak dalam tangisnya.
"Hekhemm...Nak Gavino..!!! Saya titipkan Danira dan Khalisa kepadamu, saya tau kamu pria yang baik. Seperti ucapan saya tadi pagi, karena kamu berani memulai maka kamu juga harus menyelesaikan hingga Finish".
" Saya harap tidak ada kata perceraian, dalam pernikahan kalian ini. Walaupun saya tau, kamu terpaksa. Tapi saya sudah memberikan kamu pilihan, meninggalkan atau menjalankan. Dan kamu sudah melangkah ketahap menjalankan, semoga kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu pilih ini". Ujar Kyai Roslan, berbicara cukup dekat, Dia tak ingin Danira dan umi Siti mendengar pembicaraan mereka.
Gavino yang mendengar itu, hanya diam, memalingkan wajahnya kesembarang arah, mencoba menepis semua perkataan-perkataan kyai Roslan yang benar adanya.
" Neng...Abah pulang dulu ya, jaga dirimu dan Khalisa baik-baik. Serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya Allah yang maha membolak balikkan hati manusia". ujar Abah melihat Gavino dengan tatapan tegas, lalu beralih melihat Danira mengusap pucuk kepala Danira. " Apa Abah mengetahui sesuatu diantara kami". batin Danira menerka-nerka. Danira bisa melihat dari sorot mata Abah yang tak pernah lepas memperhatikan Gavino, terlihat jelas ketidak sukaannya.
"Iya...Abah dan umi hati-hati ya, terima kasih banyak sudah menyempatkan hadir diacara Danira". Ucapnya lirik, sedih karena akan berpisah lagi.
" Sudah sepantasnya orang tua datang, melihat dan merestui pernikahan anakknya".
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Umi dan Abah berjalan menujuh kamar yang sudah disiapkan Ny. Calina khusus untuk besannya. Didalam kamar Abah duduk di sofa, melihat kearah balkon, yang pintunya sengaja dibuka.
" Abah mikirin apa?". tanya umi yang baru keluar dari kamar mandi.
" Tidak ada, Abah hanya merasa lelah saja, walaupun Abah tidak melakukan apapun, tapi saranya lelah sekali". jawab Kyai Roslan pada umi Siti.
" Mungkin karena faktor umur kali bah". Gurau umi.
" Bisa jadi juga mi".
"Eemm..apa Abah melihat, bagaimana ekspresi suami Danira, sepertinya dia tidak menyukai pernikahan ini bah?". Umi yang sedari tadi memperhatikan Gavino, merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan menantunya itu.
" Hhmm...!! mungkin perasaan umi saja, Abah dengar dia memang terkenal dengan wajah dingin dan datar, sepertinya itu benar melihatnya tadi secara langsung". elak Abah, Dia tak ingin istrinya menjadi kepikiran. Karena dia tau betapa sayangnya Umi Siti kepada Danira.
" sepertinya memang begitu.., oh iya !! apa Abah sudah menghubungi Ilham, pasti dia akan syok mendengar Danira telah menikah". Umi yang juga mengetahui perasaan putranya itu kepada Danira, mulai membayangkan betapa hancurnya hati Ilham bila mengetahui pujaan hatinya telah dipinang orang lain.
" Nomor teleponnya tidak aktif, sudah hampir 1 bulan ini Ilham tidak bisa Abah hubungi. Mengenai perasaan Ilham, semoga saja dengan berjalannya waktu dia bisa melupakan Danira".
" Mungkin Danira memang bukan jodoh Ilham". ucap Kyai Roslan sambil merangkul istrinya.
" Padahal umi sangat berharap Danira bisa menjadi menantu umi, dan akan terus tinggal didekat umi. Tapi Allah punya rencana lain, dan tak ada satu manusia pun yang bisa menebak apa yang akan terjadi dihari esok".
" Sudahlah...kita doakan saja yang tebaik untuk anak-anak kita, semoga Danira selalu bahagia dengan rumah tangganya dan Ilham mendapatkan jodoh sesuai dengan pilihan Allah". ujar Kyai Roslan.
......................
...Bersambung......
__ADS_1