CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
34. Persiapan


__ADS_3

Flashback On


Sepajang perjalanan pulang dari Mall, Ny. Calina terus merenung. Memikirkan cara supaya Gavino dan Danira mau menerima perjodohannya. Dia terus saja berfikir, tanpa sadar supir pribadi-nya beruang kali memanggil, memberitahu kalau mereka telah sampai dirumah. Ny. Calina tersadar melihat sekitar, ternyata benar. Mobil yang dia gunakan telah berhenti tepat di depan rumahnya.


Ny. Calina turun dari mobil dan berjalan gontai masuk kerumah, tanpa menyahut apaan dari Bik Sri yang menyambutnya diteras.


Ny. Calina menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, dengan pikiran melayang entah kemana.


Ada apa dengan Nyonya. Batin Bik Sri


" Nyonya".


"Nyonya". Panggil Bik Sri lagi, Namun yang dipanggil masih bergeming, dengan menggigit ibu jarinya dengan wajah tampak berfikir keras.


"Nyonya". Bik Sri menyentuh tangan Ny. Calina. Sontak saja itu membuat Ny. Calina Terkejut.


" Iya bik Ada apa". Ny. Calina berdiri, berwajah panik.


" Maaf Nyonya, dari tadi saya memanggil Nyonya tapi anda tidak mendengar, sepertinya Nyonya sedang banyak pikiran?".


" Ahhh...itu maaf, aku tidak tau kalau kamu ada disini". Jawab Ny. Calina duduk kembali.


" Aku sedang memikirkan cara agar Gavino mau menikah dengan Danira, apa kau punya ide Bik ?". Bik Sri tampak berfikir, lalu dia menggeleng.


" Hahhh...kau ini!!". Mata Ny. Calina melihat Buah-buahan yang tersusun cantik diatas piring keramik dan diantara buah-buahan itu terdapat pisau yang biasa digunakan untuk mengupas dan memotong. terlintas rencana memasuki otaknya. Ny. Calina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, mencari kontak nomor sesorang, kemudian dia menekan tombol panggil.


" Hallo Richard, aku butuh bantuanmu".


" Hai kau ini, bukannya memberi salam terlebih dahulu, saat menghubungiku. Memangnya Bantuan apa lagi yang kau butuh?, Jagan yang aneh-aneh". Jawab pria diujung telpon.


"Apa kau memiliki silikon kulit seperti tangan sungguhan ?".


" Untuk apa, apa tanganmu sudah putus, hingga membutuhkan silikon tangan palsu?". canda pria itu lagi.


" Aku serius...!!". Geram Ny. Calina


" Mana ada aku barang seperti itu, aku ini dokter spesialis kandungan dan penyakit dalam, bukan penjual tangan palsu?".


" Aku tidak perduli...!!pokonya bagaimana pun caranya kamu harus punya barang itu, lalu kamu kirimkan saja kerumahku sekarang, dan Jagan lupa suntikkan darah segar didalamnya, supaya saat aku menyatnya seakan-akan darah asli tanganku". Jelas Ny. Calina, dokter Richar langsung menangkap apa tujuan dari sahabatnya ini meminta tangan palsu itu. Dia menghela nafas kasar.


" Kau benar-benar gila Lina, apa kau ingin menjebak Gavino, supaya Dia menuruti keinginan konyol mu itu ?".


Dokter Richard tidak habis fikir dengan sahabatnya ini. Dokter Richard dan Ny. Calina telah menjalin persahabatan sejak masuk ke Sekolah Menengah Atas, hingga saat ini. Dokter Richard juga sudah menjadi Dokter pribadi bagi keluarga Pradiksa dan bekerja di rumah sakit keluarga itu. Jadi tidak ada yang dokter Richard tidak tau permasalahan Ny. Calina. Termasuk Rencana gilanya ingin menjodohkan Gavino dan Danira.


" Jika cara halus tidak bisa, maka cara ini juga harus dicoba". jawab Ny. Calina santai.


" Terserah kau saja, jika sampai ketahuan aku tidak ikut campur". tegas Dokter Richard.


" Kau tenang saja, kali ini akan berhasil".


" Kau cukup bersiap-siap disana, jika Bik Sri sudah menghubungimu, maka kau harus mempersiapkan semuanya dirumah sakit sebaik mungkin".


Setelah sambungan telpon terputus, 15 menit kemudian pesanan Ny. Calina dari dokter Richard telah tiba. Ny. Calina tinggal menunggu Gavino pulang.


Ny. calina mendengar suara mesin mobil Gavino diluar, Dia segera memberikan kode kepada Bik Sri, agar bersiap-siap dibelakang tembok. Ny. Calina melihat Gavino berjalan dan menapaki anak tangga, Dia mulai melancarkan aksinya meminta Gavino untuk menerima permintaannya, dan sesuai dengan dugaan Ny. Calina, Gavino akan menolak mentah-mentah lalu pergi menghindar. Ketika Gavino menaiki anak tangga, Ny. Calina memasukkan tangan silikon palsu itu kedalam lengan baju panjangnya dibantu oleh Bik Sri.


Bik Sri mulai memainkan perannya, seakan-akan Syok melihat darah yang mengalir dari tangan Nyonya besarnya itu, Dia menangis histeris sambil mengambil tisu, agar gavino tidak terlalu fokus melihat tangan palsu itu.


Flashback off


Setelah dirawat 3 hari dirumah sakit, Nyonya Calina sudah diperbolehkan pulang. Dokter Richard memberikan resep obat kepada Gavino.

__ADS_1


" Vino, ini resep obat mami-mu, dan tolong jaga perasaan mami-mu ya Vin, Jagan sampai dia berbuat nekat seperti ini lagi". Ujar Dokter Richard memberi nasehat kepada Gavino.


" Iya om, terima kasih". Jawab Gavino singkat, tanpa ekspresi.


" Kalau begitu aku dan mami pulang dulu om". pamitnya sambil mendorong kursi roda Ny. Calina menujuh lobby rumah sakit, tempat mobilnya menunggu. Dokter Richard hanya merespon dengan menepuk punggung Gavino, dan mengedipkan matanya kepada Ny. Calina yang berakting dengan wajah sedikit pucat.


Gavino mambantu maminya masuk kedalam mobil dengan hati-hati, Dia duduk disamping Ny. Calina tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya diam dengan melihat keluar jendela.


" Vino". Panggil Ny. Calina pelan. Gavino hanya menoleh melihat maminya.


" Apa kamu marah sama mami nak ?".


" Tidak ?". Jawabnya singkat, sambil menatap keluar jendela lagi.


" Jika kamu keberatan dengan permintaan mami, kamu tid....!!


" Lanjutkan saja sesuai keinginan mami, aku akan menurut ". Jawaban Gavino benar-benar dingin seperti bekuan gumpalan Es.


" Baik lah...kamu akan menikah dengannya Minggu depan, mami akan memulai persiapannya besok". Seketika wajah Gavino menatap tajam kepada maminya, namun sedetik kemudian dia langsung memalingkannya lagi. Gavino tak menjawab, dia benar-benar Engan untuk mengeluarkan suaranya lagi, karena baginya semua akan percuma.


Ny. Calina tersenyum simpul, Dia tau Gavino saat ini ingin marah namun ditahan olehnya. Sejujurnya Ny. Calina bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak. Dia akan menerima dengan siapa saja Gavino ingin menikah, kecuali Stevani. Setelah mengantarkan Ny. Calina kerumah dan memastikan maminya beristirahat. Gavino ijin kembali keperuhaannya.


Didalam kamar Ny. Calina sedang menelpon semua WO yang akan mengurus segala kebutuhan pernikahan Gavino dan Danira Minggu depan.


Ny. Calina juga tak lupa menghubungi calon pengantin wanita, memberitahu hari pernikahan mereka.


***


Danira yang sedang menandatangani beberapa berkas dari Sarah terhenti sejenak, mendengar getar dari ponselnya. Yang tertera nama Ibu Calina.


" Assalamualaikum ibu". Suara lembut menyapa Ny. Calina di sana.


" Bagaimana kabar ibu, ibu masih dirumah sakit ?".


" Alhamdulillah ibu sudah sembuh jadi ibu sudah diperbolehkan pulang ".


" Alhamdulillah...syukurlah kalau begitu, Danira ikut senang mendengarnya, maaf ya Bu, Danira belum sempat menjenguk ibu lagi". Danira merasa tidak enak hati, karena sejak hari terakhir dia menjenguk, dia belum datang kembali melihat keadaan Ny. Calina karena kesibukannya.


" Tidak apa-apa Ra, tidak masalah..Ibu menghubungimu ingin memberitahu, perihal janjimu tempo hari. Ibu sudah menentukan hari pernikahan kalian Minggu depan".


Deg*


Deg*


Jantung Danira berdebar cepat, mendengar penuturan dari Ny. Calina.


Minggu Depan. Batin Danira.


" Maaf ibu, eemmm...itu, apa tidak terlalu terburu-buru?". tanya Danira pelan.


" Tidak nak, niat baik lebih bagus bila disegerakan bukan?".


" Iya...tapi semuanya butuh persiapan Bu". Danira mulai memberi alasan.


" Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu nak, semua sudah siap, kamu tinggal duduk manis saja". jelas Ny. Calina, Danira bisa mendengar suara senang dari seberang.


" Oh iya Ra, nanti yang menjadi wali nikah kamu siapa?".


Pertanyaan dari Ny. Calina membuat Danira tersadar. Astaghfirullah...aku sampai lupa kalau aku sudah tidak punya wali nikah. Batin Danira. Danira mulai bingung, siapa yang akan menjadi wali nikahnya, sedangkan dia tidak tau sama sekali sanak saudara dari pihak ayahnya.


" Kalau masalah wali, nanti Danira kabarin lagi ya Bu". ujarnya sambil terus berfikir.

__ADS_1


" Oh ya sudah, nanti kabari saja ya nak, kamu istirahat, Jagan capek-capek ya, Nanti 3 hari sebelum acara akan ada yang datang menghantarkan semua kebutuhan kamu".


" Ya sudah, ibu hanya ingin mengabarkan itu saja, ibu matikan ya telponnya".


"Assalamualaikum".


" Waallaikumsalam". jawab Danira, seketika wajahnya menjadi lesu tak bertenaga.


Sarah yang sedari tadi, duduk dihadapan Danira hanya mengamati dan mendengar percakapan mereka. Bisa Sarah simpulkan apa maksud dari obrolan mereka itu. Sarah sudah tau rencana pernikahan Nonanya dan Gavino, dia sudah mendengar langsung dari Danira sendiri. Sarah yang tahu siapa Gavino, seorang pengusaha sukses se-Asia bahkan sekarang sedang menembus pasar diluar Asia juga, dia adalah pria Arogan, kejam, dingin dan sombong, semua orang sudah tau itu. Membuat Sarah makin tidak rela jika Danira menikah dengan Gavino.


Sarah melihat wajah Danira yang biasanya, merah merona, hari ini berubah sedikit pucat. Seperti menyimpan beban.


" Nona". panggil Sarah, Danira mengangkat pandangannya melihat kearah Sarah.


" Maaf Nona, jika saya boleh memberi saran, lebih baik nona batalkan saja pernikahan ini". jujur Sarah yang sudah lama ingin mengutarakan pendapatnya ini.


Hhhaahhh....helaan nafas halus Danira terdengar.


" Aku tidak bisa rah, aku sudah berjanji kepada ibu Calina kalau aku akan memenuhi permintaannya". ujar Danira sambil memejamkan matanya.


" Nona, pernikah bukan hanya untuk memenuhi janji nona pada manusia saja, tapi juga pada Tuhan. karena Nona harus menjalankannya seumur hidup nona, apa lagi Nona menjalankan karena keterpaksaan, itu kan membuat nona tidak bahagia".


" Jika nona belum siap, kita masih punya waktu untuk membatalkan semuanya nona, nona tinggal meminta saya untuk datang kesana menyampaikan alasan nona". Ujar Sarah panjang lebar.


Danira membuka matanya, menatap Wajah Sarah dengan lekat-lekat, dia bisa melihat gurat kekhawatiran dan kecemasan di mata Sarah. Danira mengukir senyum indah dibibir Semerah Cherry itu, sangat manis..... siapapun yang melihat senyuman itu akan terhipnotis, seakan waktu berhenti sejenak termasuk Sarah saat ini, matanya terpaku melihat senyuman Danira.


" Tidak rah, ...!! aku tidak bisa membatalkannya begitu saja, Jika aku sudah berjanji, maka harus aku tepati. Setiap ucapan yang keluar dari mulut manusia pasti atas ijin dari Allah, dan insyaallah jawabanku waktu itupun sudah kehendak Allah, kebahagian pasti akan datang dengan sendirinya jika aku menikmati peranku sebagai istri dengan baik".


" Aku juga sudah melaksanakan Solat Istikharah, Insyaallah ...Allah akan memberi petunjuk dan jawaban dari doa-doa ku". jelas Danira dengan suara halus dan lembut, membuat Sarah hanya terpaku ditempat.


Apakah Benar ini Nona Danira ?Bagaimana bisa, seorang Danira yang berusia baru memasuki usia 20 tahun, bisa memiliki jawaban sebaik dan selugas ini. Memang benar kata pepatah, usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Pikir Sarah.


Sarah sering kali tepanah dengan jawaban-jawaban dan ide-ide cemerlang Danira, semua tidak terduga. Danira adalah wanita yang cerdas dan penuh kejutan.


" Baik lah nona, apapun keputusan anda, saya hanya berharap semoga ada selalu dilindungi Dan dilimpahkan kebahagiaan". Doa Sarah tulus.


" Aamiin...terima kasih rah, Doa yang baik juga, akan kembali kepadamu". jawab Danira tersenyum.


......................


...Bersambung.......


Assalamualaikum kakak-kakak Semua 😍


Bagaimana kabarnya hari ini ? semoga kalian sehat selalu ya.


Author mau minta maaf karena kemarin tidak up Bab baru, karena Author sedang kurang enak badan. Alhamdulillah, hari ini author sudah lumayan sehat.


*


Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca Novel ini .


Mohon tinggalkan cinta dan dukungannya dalam bentuk Like, Komen dan Vote nya yah ?


Biar author makin semangat buat ceritanya.


Jangan lupa VOTE nya...Agar lebih banyak yang membaca Novel ini.


Terima kasih


Saranghae ❤️

__ADS_1


__ADS_2