CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
120. Menghadapinya


__ADS_3

Hari ini Danira memiliki jadwal latihan tembak, karena sudah hampir 2 Minggu Danira tak melakukannya. Dan disini lah dia sekarang, dia sedang berada dilapangan tembak, tempat biasa dia latihan. Dia sedang memfokuskan pandangannya pada titik manekin yang bergerak. Kedua telinganya ditutupin dengan earphone, dan ditangannya terdapat pistol yang sedang mengarah ke titik sasaran. Danira memejamkan matanya sebelah lalu....


DOR*


Peluru yang Danira tembakkan tepat mengenai sasaran, hingga terjatuh. Danira kembali memfokuskan pandangannya, namun dari arah samping Danira mendengar suara kepakan sepatu melangkah mendekatinya terburu-buru.


" Nona....". Sarah yang baru tiba, memanggil Danira dengan nafas yang tidak teratur. Danira berbalik melihat Sarah.


" Ada apa Sarah ?". Tanya Danira, bingung melihat wajah Sarah tampak panik bercampur pucat.


" Tenang kan dulu dirimu, nanti baru ceritakan padaku ". Ucap Danira, menyentuh pundak Sarah, yang masih terengah-engah. Sarah menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


" Maaf nona, saya terlalu terkejut dengan berita yang baru saya terima ".


" Katakanlah...".


" Nona, Villa yang ada di Samarinda sudah diambil alih oleh tuan Gavino, mereka mengubah kepemilikan tanpa berunding pada pihak RA Group". Danira diam sejenak, lalu melanjutkan lagi memusatkan tembakannya.


" Tuan Gavino juga berhasil membuat banyak isu miring tentang resort-resort kita yang ada dibali. Sekarang pengunjung disana mengalami penurunan drastis " Danira masih diam, lalu...


DOR*


Tembakan Danira kembali mengenai sasaran.


" Terus ?". Tanya Danira, mulai memasuki peluru lagi kedalam pistolnya.


" Dan.....!!".Sarah melihat kearah mata Danira, yang kini kembali menghadap kedepan, mengarahkan senapannya untuk yang ketiga kalinya.


" Katakan saja Sarah, jangan ragu ". Ujar Danira, sambil menyipitkan sebelah matanya.


" Tuan Gavino mengancam semua investor agar berhenti memberi bantuan untuk pembangunan yayasan milik anda, dia juga berhasil membujuk tuan Liu menjual saham miliknya, sekarang saham tuan Gavino di yayasan itu sudah mencapai 60%, dan beliau telah mengumumkan untuk menarik semua sahamnya dan ingin menghentikan dana untuk pembangunan yayasan".


BAM**


Pistol yang Danira pegang seketika jatuh kelantai, Danira memutar tubuhnya menghadap Sarah. wajahnya nampak sangat terkejut.


" Dari mana kau mendapatkan berita itu ".


" Berita ini sudah diterbitkan di jejaring sosial dan media cetak nona, bahkan dari pihak Garayudha Company sudah mengkonfirmasi keapsahan tentang ini ". Ujar Sarah, Danira mundur beberapa langkah kebelakang, pandangannya hilang arah, pikirannya melayang-layang entah kemana. Jantungnya berdetak cepat. Danira mengepal tangannya kuat.


Astaghfirullah...apa lagi ini ya Rab..Batin Danira


Danira benar-benar merasa terhimpit oleh tumpukan batu besar, semakin hari permasalahan yang dia hadapi semakin banyak. Berbagai macam teror mulai berdatangan, banyaknya anak perusahaan yang mulai goyang akibat gempuran perusahaan Garayudha Company yang tak lain suaminya, ditambah masalah Aryo yang masih mencari cara menyerangnya, masalah keluarganya yang belum menemui titik terang dan sekarang lagi-lagi suaminya memberi kejutan dengan menarik saham dan menghentikan dana pembangunan yayasan yang sudah sejak lama Danira impikan. Rasanya Danira ingin menyerah, dia ingin meninggalkan semuanya, tapi tak semudah itu bagi Danira, Danira memiliki beban tanggungan dipundaknya, dia harus mempertahankan kewasarasannya agar bisa menyelamatkan banyak orang.


" Nona, anda tidak apa-apa?". Tanya Sarah mendekati Danira, yang kini terlihat lemas.


" Hheeuummhh....!!!". Helaan nafas panjang Danira terdengar jelas.


" Pembangunan itu tidak boleh berhenti rah, bukankah kita sudah mencapai 80%, dan 3 bulan lagi akan diresmikan. Jika proyek ini berhenti, bagaimana dengan nasib anak-anak dan para kaum duafa yang telah menanti tempat itu ". Ucap Danira, menutup wajahnya dengan telapak tangan.


" Bagaimana dengan keuangan perusahaan saat ini ?". Tanya Danira, melihat Sarah.


" Untuk keuangan perusahaan pusat dan beberapa anak perusahaan masih ada yang stabil nona, namun bila anda tetap ingin melanjutkan proyek ini hingga selesai, kemungkinan besar anda harus menjual beberapa properti dan perusahaan anda, lalu menarik dan menggunakan tabungan darurat yang ada ". Jelas Sarah, Danira kembali menghela nafas.

__ADS_1


" Kita tidak bisa menjualnya, karena banyak karyawan yang bergantung di perusahaan-perusahaan itu, belum tentu pimpinan yang baru masih ingin memperkerjakan mereka, dan masalah tabungan aku juga tidak bisa memakainya semauku, karena banyak hak orang lain disana. Kita harus memikirkan peng-gajian karyawan di beberapa resort kita dibali yang hampir tak mendapatkan pemasukan. Tapi aku juga tidak bisa menghentikan pembangunan ini ". Lirih Danira, memejamkan matanya.


Rasanya kepala Danira mau pecah, dia benar-benar pusing memikirkan semua ini. Dikepalanya berputar-putar seperti kaset kusut, bagaimana wajah-wajah anak-anak yatim piatu, tuna netra, tuna rungu dan para kaum duafa yang menyambut riang ketika mendapat kabar bahwa mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Danira juga membayangkan ribuan nasib karyawan-karyawannya, Danira tak bisa membiarkan mereka semua menjadi pengangguran akibat keserakahan suaminya. Danira juga tak bisa menyalahkan Gavino, karena sampai saat inipun Gavino memang belum mengetahui, bila Danira lah pemilik dari perusahaan yang paling dia benci.


Sarah terdiam, dia mengerti kecemasan dan kekhawatiran yang tegah nonanya rasakan, karena dia tau betul bagaimana Danira berjuang membangun yayasan ini.


" Nona...memberhentikan karyawan bukan kah itu hal yang wajar, bila perusahaan yang menaunginya sedang terjadi masalah. dan untuk proyek ini bisa di pend....."


"Sarah ....!!". Potong Danira cepat.


" Saya nona ". Sarah langsung berdiri tegap. menunduk menyadari telah salah berbicara. Meski Danira hanya menyebut namanya dengan melirik tajam saja, Sarah sudah bisa menyadari kemarahan Danira.


" Proyek ini akan tetap berjalan, dan akan tetap diresmikan 3 bulan lagi. Jadwalnya tidak akan pernah berubah ". ujar Danira, melihat Sarah tajam. Dia tidak akan mengubah apapun. Selama ini Danira sudah mengetahui banyak anak perusahaannya yang di goncang oleh orang-orang suaminya, namun Danira masih memilih diam, dan pura-pura tidak terjadi apapun. Tapi disaat sebuah amanah untuk anak-anak yatim piatu dan berkebutuhan khusus di perlakukan seperti ini, Maka Danira sudah tak bisa mentolerirnya lagi.


Danira memejamkan matanya sejenak, dia diam hampir 10 menit tampak berfikir.


" Sarah...siapkan semua dokumen perjanjian kita pada perusahaan Garayudha Company, besok pagi kita akan datang menemui pimpinannya. kirim pesan pada mereka ". Sarah langsung mengangkat kepalanya melihat Danira, terkejut.


" Nona, anda yakin ?, bukankah anda tau bila anda datang kesana sebagai rekan bisnisnya, bukan sebagai seorang istri?, bukankah anda juga tau, apa yang dia inginkan ?". Danira berdiri dari duduknya, memutar tubuhnya menghadap kedepan, melihat manekin yang masih bergerak didepan sana.


" Aku tau...sangat tau, dia menginginkan nyawaku, memang inilah yang dia harapkan, karena dia sudah membaca proyek ini adalah harapanku, dia menggunakan tak tik ini hanya untuk membuatku keluar, dan mendatanginya".


" Aku sudah siap menukarnya, dengan proyek ini. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang itu menjadi terlantar lebih lama, aku akan mendatangi mas Gavino besok, persiapkan semuanya ". Ucap Danira, tegas penuh keyakinan.


" Nona...!!". Danira bisa mendengar kekhawatiran dari suara Sarah, Danira menyerongkan tubuhnya menghadap Sarah.


" Sarah..., aku tau kau menghawatirkan aku. Aku juga tau, perjalanan kita berdua masih sangat panjang untuk mengambil kembali tahta itu, tapi bukankah kita harus menyelesaikannya satu persatu ?, kita selesaikan dulu masalah dengan Garayudha Company, bila aku harus mati disana. Aku harap kau bisa terus mempertahankan semua yang sedang aku perjuangkan ". Ujar Danira, menatap mata Sarah yang telah berkaca-kaca, Danira telah siap menghadapi suaminya, sudah waktunya Gavino mengetahui siapa dia. Danira juga menyadari dia harus segera meluruskan permasalahan kesalah pahaman yang sudah mendarah daging pada Gavino.


" Saya akan tetap memastikan keselamatan anda, karena nyawa anda sangat berharga bagi orang banyak, ingat nona. kehidupan anda sudah dinanti sejak lama oleh rakyat anda ". Danira terdiam, Sarah benar. Meski kerajaannya masih berdiri diantara sistem reformasi dengan hukum dan hak sudah diatur oleh negara, namun kerajaannya masih memiliki pengaruh sangat penting, bahkan diberbagai wilayah masih mempercayai sistem hukum dan aturan dari kerajaan, dan sampai saat ini rakyatnya lebih mempercayai keputusan dari raja. Bisa dibilang kerajaan milik keluarga Danira, adalah kerajaan yang masih bertahan di era modern, dan itu diakui dunia.


" Saat aku tiba disana, pastikan sepuluh keamanan dataku, telah terbuka. Dan ini saatnya semua orang tau bahwa aku masih hidup ".


...****************...


Di perusahaan Garayudha Company.


Gavino sedang bermain lempar anak panah, dengan titik fokus bertulis RA Group, berkali-kali Gavino melempari anak panahnya mengenai sasaran, hal itu membuat Gavino tersenyum sinis.


" Apa kau Sudah pastikan berita itu akan sampai padanya Sean ?".


" Saya yakin saat ini, mereka sudah melihat beritanya tuan ".


" Bagus...!! aku tidak sabar ingin melihat dia datang memohon dikakiku ". ucap Gavino kembali melempar anak pang mengenai sasaran, dengan seringai licik.


Sean merasa tangannya bergetar menandakan adanya pesan. Dia melihat email masuk dalam tab yang dia pegang. Sean membukanya....


" Tuan...".


" Hhhmmm..?".


" Nona Sarah mengirim pesan bahwa pimpinan mereka ingin bertemu dengan anda besok ".


" Ha..ha..ha..ha...Sudah aku duga, bahkan lebih cepat dari yang aku perkirakan ". Tawa Gavino menggema kesisi ruangan, entah mengapa dia merasa sangat bahagia, mendengar mangsanya sebentar lagi akan datang.

__ADS_1


" Siapkan penyambutan untuk kedatangannya besok, sesuai rencana yang telah aku susun ".


" Baik Tuan...!!". Entah mengapa Sean merasa ragu ingin mngikuti keinginan tuannya kali ini, Sean masih merasa pimpinan RA Group ada hubungannya dengan Nyonya mudanya. Namun Sean tidak bisa mengatakannya karena sampai saat ini dia belum bisa menembus sistem keamanan data pimpinan RA Group, bahkan Sean telah meminta beberapa hacker, hasilnya tetap sama, mereka hanya mengatakan butuh waktu yang lama untuk menembus sistem keamanan yang berlapis-lapis ini.


Sean ingin sekali mengatakan kecurigaannya perihal yang sering dia lihat, namun dia tau betul sifat Gavino yang tidak mudah percaya hanya dengan ' katanya ' dan ' Sepertinya '. Dia adalah manusia yang kritis , berbicara dengan Gavino harus butuh data dan fakta yang jelas, tanpa bukti dia tidak akan mudah mempercayainya.


DRETZZ*


Gavino mengalihkan pandangannya kearah ponsel yang bergetar diatas meja, dia melihat ada pesan masuk.


My Wife: Mas aku pulang ke penthouses, aku tunggu kamu disana ya ?, See you❤️


Wajah Gavino yang tadinya terlihat garang, kini berubah menjadi wajah kucing yang menggemaskan. Senyuman kegirangan tampak terukir dibibirnya, tanpa melihat pun Sean sudah bisa menebak siapa si pengirim pesan yang bisa mengubah mood tuannya ini.


Eemmm sepertinya istriku menginginkan waktu berdua saja. batin Gavino senang.


" Sean....aku akan pulang, kau tak perlu mengantarku ". Ujarnya bersemangat, menyambar jasnya yang ada digantungan. Sean melirik kearah jam, baru pukul 05.35 sore.


" Cepatlah menikah, agar kau tau rasa yang sedang aku alami saat ini ". Ujar Gavino menepuk-nepuk pundak Sean yang hanya melihat tuannya dengan wajah datar. Sean segera membukakan pintu untuk Gavino, Gavino menghentikan langkahnya sebentar.


" Lakukan semuanya dengan benar, aku tidak menerima kesalahan sekecil apapun itu ". Ujar Gavino, berlalu pergi meninggalkan Sean yang masih merdiri sambil membungkukkan setengah badannya.


***


Danira yang telah pulang lebih dulu, masuk kedalam kedalam kamar mereka. Dia membersihkan tubuhnya, lalu menujuh lemari pakaiannya, dia membuka pintu lemari lalu menarik 1 buah dress cantik berwarna Gold selutut, dengan panjang tangan setegah lengan.


Danira berdiri didepan cermin, memandang penampilannya, dirasa pas Danira mulai menempelkan bedak tipis diwajahnya, memoleskan lipstik berwana pink, merapikan rambut panjangnya, memberikan aksesoris jepit bermata mutiara dibagian rambut sebelah kiri, dan rambut sebelah kanan diambil sebagian dimajukan kebagian depan. Kemudian Danira mengambil parfum, menyemprotkannya dibagian pergelangan tangan dan bagian leher kiri dan kanan.


Danira menatap dirinya lama didepan cermin, menata hatinya. Melepas semua beban dipundaknya untuk sesaat. Dia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


Dia suamiku, dia suamiku, dia suamiku. Batin Danira. Danira mencoba meredam kekesalan dalam hatinya, tak ingin mencampur adukkan masalah pekerjaan dalam rumah tangganya.


Danira melangkah turun, menunggu kepulangan Gavino diruang tamu.


Gavino berdiri didepan pintu penthousesnya, mencium sebuket bunga mawar merah berukuran sedang ditangannya. lalu menekan sandi pintu.


Klik*


Pintu terbuka, Gavino masuk.


" Sayang Aku pula.....!!". Ucapan Gavino terhenti, matanya terbelalak dengan mulut terbuka. ketika melihat sang Dewi yang berdiri menyambut kepulangannya dengan senyuman indah yang memabukkan. Danira selalu berhasil membuat Gavino terpesona hingga membuat Gavino sulit bernafas.


Plek**


Bunga yang ada ditangan gavino terjatuh, melihat suaminya kembali menjadi patung Danira berjalan dengan anggun mendekati suaminya, lalu mengambil buket mawar yang terjatuh. kemudian Danira menarik tangan Gavino mencium punggung tangan dan telapak tangan suaminya bergantian. Kini mata Danira beralih memandang wajah tampan suaminya, yang masih membisu. Danira mendekatkan wajahnya dan wajah Gavino, lalu....


Cup*


Danira mendaratkan kecupan singkat dibibir Gavino, membuat Gavino kembali bernafas mengerjap-ejapkan matanya. Danira tersenyum manis.


" Sayang ...!!". Panggil Gavino pelan, Danira bisa melihat binar cinta Dimata Gavino. itu membuat Danira sangat bahagia, rasanya Danira tak ingin moment seperti ini berakhir. Dia ingin Gavino selalu mendekap dan menyayanginya dengan penuh cinta.


Tatapan ini masihkah sama, bila kau tau jati diriku sebenarnya mas. Besok ....besok aku akan mengatakan segalanya padamu, tak akan ada yang ditutup-tutupi lagi. Aku berharap kau masih mau menerima dan mencintaiku seperti saat ini. Batin Danira, menatap mata suaminya. Danira benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya saat ini, dia melakukan perannya sebagai seorang istri dengan baik. Tidak menampakkan raut kemarahan ataupun kekesalan pada Gavino, meski dia tau betapa liciknya Gavino terhadap perusahaannya.

__ADS_1


......................


...Bersambung.......


__ADS_2