CINTA DIBALIK CADAR

CINTA DIBALIK CADAR
76. CCTV


__ADS_3

Danira telah tiba di mansion miliknya. Dia memilih untuk memulai kehidupannya yang baru disini, dia tak ingin kembali ke rumah lamanya. Karena Gavino pasti akan menemuinya disana, dan mengajukan kesepakatan itu lagi. Pikir Danira.


Kedatangan Danira disambut oleh seluruh pelayan yang bekerja disana, termasuk bik Marni yang terlah berdiri menyambut dengan suka cita dipintu utama.


" Assalamualaikum Nona "


" Selamat datang dikediaman anda ". Kompak mereka semua, memberi hormat.


" Waallaikumsalam, terima kasih semuanya ".


" Nona ". Panggil Bik Marni mendekat, lalu memeluk Danira dan Danira pun membalas pelukan itu, semua pelayan yang ada disana saling lirik melihat apa yang dilakukan bik Marni. mereka memang tau bik Marni pernah melayani danira, tapi mereka tak menyangka bahwa sedekat ini.


" Bagaimana kabar bibik ?". Tanya Danira lembut.


" Alhamdulillah bibik baik dan sehat non, ini semua berkat nona" Jawab bik Marni, tersenyum senang. Dia sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Danira dan Khalisa.


" Silahkan masuk non ". Ajak bik Marni, bergeser memberi jalan kepada Danira.


" Terima kasih bik ".


Danira masuk, diikuti oleh Bik Marni dibelakangnya.


" Oh jadi dia nona yang sering disebut, nona Sarah ?".


" Sepertinya bik Marni akrab sekali dengan nona Danira ?".


" Iya, dulukan bik Marni cukup lama ikut nona dan merawat bayinya, setelah nona menikah, bik Marni dipindahkan sesini ". Ujar pelayan yang lain.


" Berarti nona sudah menikah ?, lalu kemana suaminya, kenapa dia datang hanya dengan anaknya saja ya ?"


" Mungkin suaminya takut kali, melihat penampilannya seperti itu". Bisik para pelayan itu, tanpa mereka sadari Sarah telah berdiri dibelakang mereka yang sibuk memperhatikan Danira yang ada didalam.


" Hekhem....!! Jaga lidah kalian, agar tak melukai orang yang kalian gosibkan. Ingat, setiap gunjingan yang kalian ucapkan, maka pahala kalian akan berpindah keorang yang sedang kalian gosibkan. apa lagi yang kalian gosibkan itu atasan kalian sendiri. dan aku tak menyukai itu, kembali kepekerjaan kalian masing-masing ". Ujar Sarah tegas, membuat para pelayan wanita itu menunduk ketakutan. Tanpa mengatakan apapun lagi Sarah berlalu masuk untuk menemui Danira .


Danira melihat sekeliling mansion miliknya. takjub melihat rumah yang didominasi dengan warna Cream dan list pinggiran keemasan, terdapat juga ornamen-ornamen diatas langit-langit rumah. Tak lupa lampu gantung kristal berukuran besar menjuntai indah diatas tangga. Diruang tamu, Danira disuguhkan dengan pahatan kaligrafi Asmaul Husna, Danira terus melihat-lihat lalu dia berhenti disebuah foto yang pasang diruang keluarganya. Air matanya langsung menetes begitu saja.


Danira menoleh kebelakang, saat mendengar suara langkah terburu-buru. Dia melihat Sarah yang menghampirinya sedikit berlari.


" Assalamualaikum Nona, maaf saya terlambat menyambut Anda ". Ujar Sarah, sedikit ngos-ngosan. Danira segera menghapus air matanya. Lalu berganti senyum.


" Waallaikumsalam, ...tidak apa-apa rah. kenapa kau berlari ?". Tanya Danira, melihat Sarah yang tengah mengatur nafasnya.


" Saya hanya tak ingin anda menunggu terlalu lama nona ".


" Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu telah merawat rumah ini dengan sangat baik, dengan menepatkan pelayan-pelayan yang berkompeten seperti mereka". Ujar Danira, dengan mata terus melihat sekeliling.


" Itu sudah menjadi tugas saya nona". Jawab Sarah.


" Apa kamu sudah melakukan yang aku minta rah ?".


" Maaf nona, apa bisa kita bicara diruang kerja anda saja". Pinta Sarah, melihat para pelayan yang masih ada yang mengikuti mereka. dan Danira paham maksud Sarah.


" Tentu, ayo kamu tunjukkan dimana ruangannya". Ujarnya, karena belum mengetahui dimana posisi ruangan-ruangan dirumah ini.

__ADS_1


Mereka telah masuk kesebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku yang tertata rapi dirak-rak. Sarah dan Danira telah duduk saling berhadapan.


" Saya sudah merekayasa semua CCTV jalan menujuh kesini Nona, jadi anda tak perlu khawatir kalau tuan Gavino akan mengetahui keberadaan anda".


"Terima kasih rah ". Lirih Danira.


" Sarah, bolehkah saya meminta bantuanmu lagi ?".


" Tentu nona, anda jangan sungkan ".


" Tolong persiapkan berkas-berkas pengajuan perceraian saya dan mas Gavino. Besok saya ingin mengantarnya sendiri kepengadilan agama". Sarah diam sejenak, dia yang telah bingung dari awal Danira menghubunginya. Dia merasa sesuatu telah terjadi didalam rumah tangga nonanya ini. Karena dia terkejut saat mendengar Danira meminta pindah ke mansion nya malam ini juga, lalu memintanya menghapus semua jejakanya yang terekam didalam Cctv jalan. Dan ditambah lagi dengan ini....


" Maaf nona jika saya lancang. Kalau saya boleh tau, mengapa nona ingin menceraikan tuan Gavino. Bukankah selama ini, anda selalu berusaha menghindari hal ini ". Tanya Sarah, dia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Danira membuang pandangannya kesembarang arah, lalu menggeleng pelan.


" Tidak apa-apa rah, mungkin kami tidak berjodoh saja. Dan maaf, aku tidak bisa memberi tahumu apa alasannya". Ujar Danira lembut, tak ingin banyak orang mengetahui masalahnya dan Gavino, meski itu Sarah sendiri.


" Saya mengerti nona ". Sarah paham, dia tak akan memaksa lagi, meski rasa penasaran masih menggelayut dihatinya.


" Saya akan menyiapkan dokumennya malam ini, dan besok saya sendiri yang akan mengantar anda kesana ". Danira mengangguk setujuh.


" Apa ada lagi yang anda butuhkan nona ?". Tanya Sarah, Danira tampak berfikir sejenak, kemudian dia teringat sesuatu.


" Ada rah...bisakah kamu memeriksa Cctv yang ada di basment gedung penthouses suamiku, karena aku merasa ada yang mulai mengintaiku. dan aku takut, orang-orang itu sudah tau keberadaanku dan khalisa". Mendengar ucapan Danira, wajah Sarah berubah terkejut.


" Bisa nona, saya akan memastikan semuanya, anda tenang saja".


" Dan...eemm..!!! jika memang itu benar, tolong tempatkan beberapa pengawal untuk menjaga mas Gavino dari jauh, aku takut mereka melukainya karena tau mas Gavino suamiku". ucar Danira pelan, sambil menundukkan kepalanya. Sarah tersenyum samar, dia bisa membaca rasa kekhawatiran Danira pada suaminya, meski nonanya telah mengambil keputusan, tapi dia tetap mencoba melindungi suaminya.


Sepeninggalan Sarah. Danira telah berdiri didepan kaca, yang ada didalam kamarnya, dia membuka Burqa beserta cadar yang dia kenakan. Danira melihat pantulan wajahnya sendiri didalam kaca itu, sembab....wajahnya masih sebab, bekas air matanya pun masih terlihat jelas.


" Maafkan aku mas, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Aku tak ingin, tetesan air mataku menjadi alasanmu masuk neraka. Aku tak ingin kau terus berbuat zalim kepadaku, dan akan menjerumuskan mu kedalam dosa yang lebih besar".


" Aku akan terus mendoakan mu, semoga Allah senantiasa menyertai setiap langkahmu, dan melindungimu dari segala macam mara bahaya". Gumam Danira, dia kembali menitikkan air mata, ada rasa lega karena telah berani mengambil keputusan yang selama ini dia hindari. Namun ada juga rasa bersalah, karena telah berani berkata keras kepada suaminya, apa lagi dia meninggalkan Gavino begitu saja, tanpa mendengar pembelaan apapun dari suaminya.


...****************...


Disisi lain.


Gavino tegah duduk disamping Sean yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kencang. Dia akan menyusul Danira, pasti dia ada dirumah lamanya tebak Gavino.


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam lamanya, mobil yang membawa mereka, telah masuk ke kawasan perkampungan tempat danira dulu tinggal. Mobil mereka berhenti tepat dihalaman rumah itu, Gavino segera turun, tapi .....


" Sean.."


" Saya tuan ".


" Kenapa rumahnya gelap sekali, apa dia belum membayar listrik ?". pertanyaan Gavino kembali membuat Sean kesal.


" Biar saya periksa dulu tuan, nyonya ada didalam atau tidak". ujar Sean, lalu berjalan dan mengintip dibalik kaca, tak ada siapapun. Lebih tepatnya tak terlihat apapun.


BUG*


Gavino meninju lengan Sean.

__ADS_1


" Kenapa kau bodoh sekali, apa kau tidak lihat kaca ini ditutupi gorden". Ketus Gavino, Sean hanya memasang wajah datarnya, padahal didalam hati merutuki kebodohannya, kenapa tidak memperhatikan semua terlebih dahulu.


" Maaf tuan ". Jawabnya singkat.


" Cari siapa pak ". Ujar ibu-ibu yang lewat melihat Gavino dan Sean berdiri didepan rumah Danira. Sean melangkah mendekati ibu itu.


" Kami mencari yang punya rumah ini, apa dia ada disini Bu ?". Tanya Sean sopan.


" Oh Eneng yang pakai baju kedodoran itu ya ?". tanya ibu itu ulang, membuat Sean dan Gavino saling lirik.


" Kenalin saya Bu encum, tetangganya Eneng". Bu encum memperkenalkan dirinya, Sean hanya mengangguk saja.


" Kalau Bapak nyari Enang yang itu mah, kagak pernah datang kemari lagi. Udah lama dah kayaknya. Kalau kagak salah mah, dia pan pindah ikut suaminya ". Jelas Bu encum panjang lebar. membuat Gavino menghela nafas jengah.


" Emang kenapa nyari eneng itu pak ?, Bapak tukang kredit keliling ya ?, Emang si Eneng itu ada punya utang ya pak ?". Deretan pertanyaan ibu itu membuat Sean dan Gavino pusing mendengarnya.


" Tidak Bu, kami ada perlu saja ". Ucap Sean masih mencoba sopan.


" Kalau begitu kam..".


" Ada urusan kok sama bini orang, kagak baek pak, nyari urusan sama bini orang. Mending Bapak cari urusan sama anak perawan aja noh, banyak di gang Ono. Mau model bejimana aja ada, kalau mau mah hayuk, saya anter ". Potong Bu encum, Gavino memelototkan matanya kepada Sean, memberi kode ingin segera pergi.


" Terima kasih atas infonya Bu, kami permisi dulu ". Ujar Sean cepat, berlalu masuk kedalam mobil bersama Gavino.


" Lah tu bocah, dikasih tau malah pegi ". Gumam Bu encum, menggeleng-gelengkan kepalanya.


Didalam mobil, Gavino dan Sean menghela nafas panjang. Lalu mata mereka melihat kearah rumah Danira yang kosong.


" Berarti nyonya tidak ada disini tuan ".


" Aku tau Sean, bahkan akupun ada disini melihatnya langsung ". Ketus Gavino, kesal karena Sean mengulangi hal yang tidak penting. Sean memilih diam, tak ingin membuat bosnya semakin marah.


Gavino mencoba menghubungi nomor ponsel Danira, namun sayangnya hanya suara operator yang berbicara. hal itu membuat Gavino semakin kesal.


" AAHHH...SIAL, bahkan ponselnya pun tak bisa aku hubungi. Kemana dia pergi ". pekik Gavino.


" SEAN...?".


" Saya disini tuan, anda tidak perlu berteriak seperti itu ". Ujar Sean datar. Gavino hanya mencebikkan bibirnya.


" Periksa semua CCTV yang ada di negara ini, kirim anak buahmu untuk mengecek keberadaanya di pesantren. Cari dia sampai ketemu, jika kau gagal....".


" Baik tuan, pasti anda akan memotong gaji saya lagi ". Potong Sean cepat, sudah tau apa yang akan Gavino katakan. Gavino mendegus mendengar jawaban asistennya.


" Eemmm....!!".


Gavino menatap keluar jendela, dengan pikiran terus berkelana kemana-mana. Dia memejamkan matanya sejenak.


"Aku pasti akan menemukanmu Danira, pasti.."!!


......................


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2